Sabtu, 06 Desember 2014

Akhirnya Jadi Narasumber !

di alun-alun Bung Karno, Ungaran, 4 Desember 2014

Beberapa hari ini saya absen dari dunia blog. Target yang saya pancangkan, setiap hari satu tulisan, kandas. Tanggal 1-2 Desember, kedatangan seorang karib dari Sragen, yang minta ditemani untuk keliling Kota Semarang. Tanggal 3-6 Desember, mengikuti Pelatihan Peningkatan Kapasitas Pengelolaan TBM di Gedung PP PAUDNI, Jl. Diponegoro No. 120 Ungaran. Sehingga praktis, tak bisa bebas menyentuh layar laptop untuk menuangkan uneg-uneg alias gerundelan. Dan kini, kesempatan itu ada. Kembali saya bebas bermain kata. Saya ingin menyuarakan rasa mangkel yang sebelumnya tersumbat, karena padatnya jadwal pelatihan. Saya ingin menghempaskan kekesalan, yang ternyata akhirnya  berujung pada pemantapan diri. Mantab untuk berdamai dengan kelemahan, kekurangan, hingga kelebihan TBM.


Siang itu, Rabu, 3 Desember 2014, Adalah Gol A Gong telepon saya, bahwa ia akan meluncur ke Ungaran. Ia dapat undangan untuk jadi narasumber acara TBM di PP PAUDNI. Acara yang diprakarsai oleh Direktorat Pendidikan Masyarakat (Dikmas) Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Menengah RI, sebagai bekal bagi para pengelola TBM se-nusantara. Acara yang konon, khusus diperuntukkan bagi para pengelola TBM yang habis peroleh dana bantuan penguatan lembaga dari pemerintah. Pukul 16.00, Gol A Gong check in di lokasi acara.  Senang, sudah pasti, karena kedatangan penulis beken, yang sebulan sebelumnya juga telah mampir dan memberi bekal kepenulisan ke Komunitas Penulis Ungaran. Tapi, rasa senang sontak berubah jadi kaget, mangkel, alias jengkel, ketika ia mengatakan bahwa saya mesti ikut jadi salah satu pengisi materi, menggantikan narasumber yang berhalangan hadir, pada acara tersebut. “Ini sudah disetujui sama Pak Direktur Dikmas”, jelasnya pada saya, yang masih bengong tak percaya. Ya, tak percaya, atas pertimbangan apa, yang tiba-tiba saja, tanpa konfirmasi sebelumnya, saya mesti ngomong di hadapan 170 peserta dari utusan 33 propinsi. “Udah Die, kamu bisa. Kamu kan Ketua Forum TBM Kabupaten Semarang !” kembali ia coba yakinkan saya.

Rabu malam, saya temani ia ngobrol di kamar, yang memang ia telah menyengaja agar saya satu kamar dengannya. Tampak ia begitu antusias “menjerumuskan” saya, untuk jadi bintang panggung. Hal yang selama ini saya hindari. Memang, saya biasa atau tak asing dengan forum-forum diskusi atau bedah buku. Tapi jelas berbeda dengan saat itu. Diskusi-diskusi yang biasa saya ikuti, entah sebagai peserta maupun pemrasaran, jumlah peserta yang hadir tak lebih dari 50 orang. Dan  meskipun sebagai pemrasaran, saya pun tak terbebani untuk bikin tulisan presentasi. Sedangkan malam itu, seorang Gong berharap, agar saya membuat tulisan dalam power point untuk bisa meyakinkan peserta. Duuh….bakal berkucuran keringat dingin itu besok.

Sekitar pukul 00.00, Kang Gong ijin istirahat. Sendirian, saya melamunkan apa yang mesti saya tuliskan untuk paparan esok. Dalam jadwal, saya akan memaparkan materi “TBM, sebagai Sekolahnya Menulis”, Kamis, 4 Desember 2014, pukul 14.00 – 16.30. Sedang Kang Gong, akan menyampaikan “orasi tur literasi” pada jam pagi, sebelum saya. Saya buka laptop. Saya paksakan untuk berpikir keras, coba bikin coretan-coretan, tentang apa saja yang pantas disampaikan. Namun, ampun tak kunjung ketemu,  stressing point yang patut untuk disampaikan. Hingga pukul 03.45, jelang Subuh, sembari tetap mematung depan laptop, belum ada kepastian paparan yang saya tulis. Setiap kali menorehkan kata, saat itu pula tombol delete, saya pencet, dan hilanglah. “Duuuh…pusiiing”, batin saya mengutuk diri yang tiba-tiba tampak sangat bloon, bodoh, minder, dan krisis akut percaya diri. Kepala pening, mata masih enggan dipejamkan, padahal semalaman tak menyentuh ranjang dan bantal guling.

Usai salat subuh, kembali berjibaku dengan layar laptop, agar materi yang bakal saya sampaikan dapat secepatnya dituntaskan. Seakan berburu dengan terbit matahari, bahan paparan pun terselesaikan. Saya baca ulang dan ulang, sembari membayangkan tatapan audiens peserta pelatihan. Saya bayangkan para peserta itu nanti akan paham dan setuju dengan setiap pilihan kata yang keluar dari lisan. Saya bayangkan mereka bakal antusias mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Dirasa telah cukup, saya pergi mandi dan bersiap mengikuti forum pelatihan.    

Kamis pagi, saya mengikuti materi pertama, yang disampaikan oleh pemangku PP PAUDNI, Dr. Ade Kusmiadi, M.Pd, yang memaparkan “model layanan TBM untuk mengembangkan budaya baca”. Beliau memaparkan perihal idealitas TBM dan kondisi kekinian masyarakat yang belum bersahabat dengan budaya baca. Masyarakat masih mempertahankan tradisi tutur. Saya yang duduk di kursi depan berdampingan dengan Gol A Gong, coba membandingkan materi Dr. Ade dengan materi yang pagi sebelumnya telah saya siapkan. Dan ternyata ada banyak persamaan, entah karena kesamaan rasa atau memang dari saya sendiri yang belum sanggup menguasai materi yang hendak disampaikan. Belum selesai Dr. Ade menuntaskan paparannya, saya ijin keluar untuk pergi ke kamar. Saya berpikir, saya mesti merubah bahan materi yang telah tersusun, agar selaras dan tak tumpang tindih atau hanya akan mengulang-ulang materi yang sudah disampaikan pemateri sebelumnya.

Dalam kamar, seorang diri, coba revisi tulisan yang akan saya tuturkan ke peserta. Saya hapus tulisan yang mengandung pokok pikiran yang senada dengan yang telah dipaparkan oleh Dr. Ade Kusmiadi, M.Pd. Saya tak berharap ada pengulangan, yang justru makin mengerdilkan diri sendiri. Saya tak ingin dianggap amatir, bodoh, atau kurang pengalaman dihadapan ratusan peserta itu. Peras otak, saya berpikir keras, agar tak mengecewakan audiens, khususnya Gol A Gong.  Edisi revisi pun selesai.

Saya kembali ke aula pelatihan. Ternyata, Gol A Gong, sudah berdiri di mimbar sedang unjuk kebolehan. Ia cerita seputar perjalanannya menyusuri Anyer-Panarukan, menaklukan kota demi kota dengan senjata literasi, dengan aji-aji kepenulisan. Meski sebelumnya, saya telah mengikuti kemana pun ia tur literasi, tentu saja pas di Jawa Tengah, tetap saja rasa penasaran dan tak bosan ingin selalu mendengar sang legend “Balada Si Roy” itu berorasi. Terlebih lagi, usai Kang Gong memaparkan materinya, adalah giliran saya yang maju ke panggung sebagai bintang baru. Gol A Gong selesai pukul 13.00. Kemudian kita semua istirahat hingga pukul 14.00.

Detik-detik jelang pukul 14.00, serasa berjalan cepat. Hati dag-dig-dug tak karuan. Minder, takut tak diperhatikan, terus meneror perasaan. Bersama peserta, saya ikut makan siang. Lauk bandeng presto, dan sayur asem-asem, ternyata tak sanggup mengundang selera saya untuk menikmati acara makan siang itu. Suasana makan siang yang cair dan penuh canda tawa, tak mengendorkan syaraf grogi saya. Pikiran yang menggelayut, yang telah menenggelamkan selera makan, tak lain masih seputar bahan presentasi yang sebentar lagi akan dipaparkan. Salat Dhuhur, saya lakukan dengan khusyuk, sekhusyuk-khusyuknya, tidak sebagaimana biasa saya lakukan. Salat Rawatib, salat sunah pengiring salat wajib, pun tak lupa saya jalankan, untuk menambah rasa percaya diri.

Tepat pukul 14.00, saya sudah mematut diri dalam aula, mendahului peserta yang sepertinya enggan untuk cepat-cepat memasuki ruangan. Lafal-lafal doa, terus saya lantunkan. Bacaan-bacaan yang tak biasa saya dendangkan, dalam aula itu, terus mengiring perasaan yang kian kencang getaran dag-dig-dug-dernya.  Inilah sejarah bagiku ! Ini hari kebangkitanku”, jerit hati yang saya sematkan, untuk memotivasi diri. Saya duduk di deretan terdepan, kursi empuk yang memang disediakan untuk narasumber. Satu demi satu peserta memasuki ruangan, dan butuh setengah jam, seluruh peserta hadir dalam aula. Kemudian sosok asing masuk dan duduk di sebelah saya. Saya masih kikuk untuk menyapanya, saya tak mengenalnya. Bambang, moderator dari penyelenggara (dikmas pusat), membuka acara untuk masuk ke session materi ketiga, yang dalam jadwal adalah materi “TBM, sebagai Sekolahnya Menulis”, dan saya sebagai pemrasarannya.

Detak jantung kian mengencang, serasa sorot tajam mata peserta menguliti saya. “Bismillah saya bisa”, doa yang mengiring, sambil menunggu sang moderator memanggil saya untuk maju ke panggung. Sang moderator, uluk salam, memperkenalkan saya dan Gutama ke peserta. Ternyata seseorang yang duduk disebelah itu, bukan orang sembarangan. Adalah Gutama. Ia mantan atau pensiunan kepala PAUDNI Pusat, Jakarta. “Berhubung di tengah-tengah kita ada Pak Gutama, maka kita persilakan beliau untuk menceritakan pengelamannya.” Jelas moderator kemudian. “Beliau ini lama berkecimpung di dunia pendidikan nonformal-informal. Jadi tidak salah kalau siang ini kita optimalkan beliau ya !” tambah lagi, dan perasaan lega pun langsung menyusup ke kedalaman relung jiwa saya. Saya tak jadi presentasi. Rasa kecewa juga turut merayap, serasa sia-sia saya begadang semalam, senam jantung, mata tak sedia dipejamkan. Saya coba bersikap tenang, tidak gusar, dan barangkali ini memang takdir, karena sebelumnya terus terang saya memang merasa tidak siap. Dan Pak Gutama lah jawabannya.

Saya ikuti paparan Gutama hingga selesai, pukul 16.30. Sebelum ikut bubar istirahat sore, saya maju ke depan, dekati Pak Bambang untuk minta kejelasan status narsum yang kadung melekat dan mengganggu pikiran ini. Oleh beliau, saya tetap akan mengisi materi “sekolah menulis”, tapi waktunya Jum’at pagi, karena Kamis malam jadwal Muhsin Kalida, ketua Forum TBM Yogyakarta. “Duuuh, saya tetap mengisi ya !!!” batin saya mengutuk.

Di kamar istirahat, Gol A Gong, mengajak saya jalan-jalan sore. “Nanti malam jadi kan teman-temanmu ke sini ?”
Jadi Mas, nanti akan datang, Penulis Ungaran, dan Ambarawa.” Ya, dari malam pertama injakkan kaki di Gedung PAUDNI, saya umumkan ke teman-teman perihal kedatangan Gol A Gong. Saya berasa, agar kedatangannya, kian menambah gairah semangat teman-teman untuk hasilkan karya tulis. Yang telah konfirmasi untuk hadir ialah Maria Utami, Penulis Ambarawa, dan Aditya, dari Ungaran.

Kami jalan ke Alun-alun Bung Karno, tempat keramaian Kota Ungaran, tepat persis pinggir Jalan Tol Semarang-Bawen. Saya menganggap, jalan-jalan tersebut sebagai persiapan mental, lantaran esok pagi, saya tetap diperlakukan sebagai narasumber. Panjang lebar, kami ngobrol seputar FTBM, Rumah Dunia, dan tak ketinggalan pula tentang alun-alun Ungaran yang dirasa eman, karena luas tapi belum maksimal pemanfaatannya. Sontak terbayang, sebuah gelaran buku-buku yang gratis dipinjam, dan dibaca di area alun-alun ini. Ya semisal Minggu Membaca. Misalkan saya yang nantinya melakukan, kira-kira adakah teman-teman penggiat lainnya yang akan menemani ? Apakah teman-teman Penulis Ungaran, juga sedia nimbrung, dan meramaikan gelaran Minggu Membaca ? Ah, pertanyaan-pertanyaan yang juga tiba-tiba menyelinap, sembari mendengarkan Gol A Gong menuturkan kegiatan Rumah Dunia yang memaksimalkan area publik.  

Kamis malam, 4 Desember 2014, Maria Utami dan Aditya datang ke PP PAUDNI. Saya turut menemani mereka curhat tentang novel yang layak baca, layak terbit. Gol A Gong, telaten menjelaskan, bahwa sebagai pemula, tidak usah berpikir untuk buru-buru menerbitkan buku, selagi bahan materinya belum matang. Kuatkan saja dulu karakter tokohnya, pilihan kata, dan sebagainya. Ada tambahan wawasan, pikir saya. Meski dalam hati, saya tetap gusar, lantaran posisi narasumber terus menghantui. Esok pagi, saya akan presentasi. Bahan presentasi ? Harus saya tinjau lagi, supaya menarik. Saya berpikir, kesetiaan menemani teman-teman itu, mendengarkan mereka curhat dengan Gol A Gong, tak ada ruginya. Bisa saya jadikan bahan untuk materi esok pagi.

Sekitar pukul 21.30 acara curhat selesai. Kawan-kawan penulis mohon diri, ijin pulang. Tak lama kemudian Gol A Gong menyusul istirahat. Dan sendiri lagi. “Ah mending saya pulang, istirahat di rumah..”, pikir saya.

Hanya butuh sepuluh menit perjalanan, saya sampai rumah. Saya ingin cepat-cepat istirahat, badan terasa capek, mata sudah tak kuat lagi untuk begadang. Tanpa kompromi tempat, saya tertidur di atas sajadah, karena sudah kebiasaan untuk senantiasa sunah dua rekaat sebelum berangkat tidur. Dini hari, saya terbangun. Saya melirik jam dinding, ternyata sudah pukul 03.00. Ambil wudhu, biar segar, dan dua rekaat tak ketinggalan, kemudian kembali menatap layar laptop. Saya ingin menyempurnakan bahan presentasi, yang kemarin urung dipaparkan.

Tidak sebagaimana hari sebelumnya, Jum’at dini hari itu, terasa hati siap jadi narasumber. Saya ingin Gol A Gong melihat dan mengkritik kekurangan saya dalam memaparkan. Saya ingin ia tak kecewa, karena telah mempertaruhkan saya dihadapan kepala dikmas, bahwa saya juga layak jadi narasumber. Usai salat subuh, saya rubah semua materi di power point. Saya bikin materi baru. Saya ingin menuturkan ada apa dengan menulis ? Kenapa mesti di TBM ? Dan bagaimana peran pengelola ? Passion apa yang mesti dikembangkan dalam diri pengelola, agar sekolah menulis itu sebuah kenyataan, bukan angan.

Pukul 07.00, saya mengantar Ahimsa sekolah, sekalian meluncur ke PP PAUDNI. Jum’at pagi, jum’at yang bersejarah, hari yang membanggakan. Sesampai di lokasi, para peserta sedang menikmati hidangan sarapan pagi, sebelum berhambur masuk ke aula pelatihan. Saya pilih langsung ke kamar, untuk kembali menengok layar laptop, coba baca ulang materi.

07.30, peserta sudah menyesaki ruang aula. Bersama Gol A Gong, saya duduk di depan. Dan satu lagi, Reni, pendongeng asal Bandung juga turut di deretan terdepan. Hati berdegup, berarti, pagi ini saya kembali urung maju sebagai narasumber. Dan benar, si Bambang, lagi-lagi yang jadi moderator, menjelaskan bahwa materi kelima adalah terampil mendongeng. Materi yang sangat relevan bagi TBM, dimana mayoritas pembaca loyalnya adalah anak-anak. Reni, ini kopdar perdana bagi saya dengannya, yang sebelum-sebelumnya sebatas asyik bercengkerama di facebook. Saya kenal Reni, pendongeng centil, punya talent yang sanggup menyihir pendengar jadi takjub dan menaruh kagum yang amat sangat kepadanya.

Saya kebagian jatah waktu, setelah Reni, yaitu sekitar pukul 10.00 pagi. Dibanding hari sebelumnya, Kamis, hari Jum’at ini, saya merasa lebih nyaman. Saya merasa sudah siap untuk tampil ke depan sebagai narasumber. Saya perhatikan setiap gerik dan gestur wajah Reni. Ya hitung-hitung untuk menambah referensi, menambah wawasan bagaimana seorang narasumber yang sedang memainkan perannya di panggung. Pukul 09.45, pesan singkat mampir ke hape jadul saya. Dan ternyata si “Kos Dodol” Dedew, alias Dewi Rieka yang ingin jumpa dengan Gol A Gong. Senang juga hati ini, Dewi Rieka, karib di Komunitas Penulis Ungaran akan datang di PP PAUDNI. Artinya, selain Gol A Gong, akan ada Dewi yang bakal ikut menyaksikan performance saya di panggung pelatihan.

Dewi Rieka, yang “kece” datang. Saya antar ia untuk ketemu dengan Gol A Gong, yang duluan ijin keluar untuk istirahat di wisma narasumber. Sebagaimana biasa, Gol A Gong selalu menyuntikkan asupan semangat ke teman-teman. Tips sehat sebagai penulis, nutrisi yang menumbuhkan agar tak patah asa untuk terus-menerus menulis. Sekitar pukul 10.00, Gol A Gong, meminta saya ajak Dewi ikut ke dalam arena pelatihan. Karena waktu manggung saya sebentar lagi berlangsung. Di tengah perjalanan menuju aula, berpapasan dengan Kikiy, rencana moderator yang akan mendampingi saya di podium. Ia memberi tahu, kalau ada perubahan waktu bagi saya, yang sedianya pukul 10.00 beralih ke pukul 14.00. “Duuuh, kenapa nasibku selalu diundur ?!” rutuk batin saya kemudian.    

Saya bakal kehilangan rasa, karena otomatis Gol A Gong tak jadi ikut menyaksikan saya sebagai bintang kejora baru dalam ranah pemateri. Gol A Gong, pukul 12.00 akan meluncur ke Serang, Banten. Dewi Rieka pun juga pasti urung ikut melihat saya. Tapi sudahlah ! Tak jadi apa. Toh ini baru permulaan. Kemudian saya sama Dewi kembali ke ruang istirahat untuk melanjutkan bincang-bincang yang terputus dengan Gol A Gong. Jelang pukul 11an, Rani, salah satu penggiat Penulis Ungaran nongol dan ikut nimbrung. “Jangan banyak tanya ! Langsung saja menulis…”, pesan Gong ke kami sebelum bubaran.

Akhirnya ! Jadilah Narasumber

Dalam salat Jum’at, saya terus melantunkan doa, agar saya bisa dan tak mengecewakan banyak pihak. Tepat pukul 14.00, panitia mengumumkan ke segenap peserta agar segera memasuki ruangan, lantaran acara akan dimulai. Saya sudah berada dalam ruang bersama Pak Kiky, menunggu peserta penuh.

Kikiy, sang moderator, menjelaskan betapa pentingnya materi ini, dan kemudian menyerahkan waktu sepenuhnya kepada saya. Saya mulai, dengan membacakan bait-bait puisi. Saya ingin mengawali materi, dengan mencitrakan diri, bahwa menulis tak harus menjadi penulis, tapi menuliskan bait-bait renungan pun bisa. Saya lanjutkan materi dengan menjelaskan bahwa menulis itu merupakan upaya mendokumentasikan diri pribadi agar dikenang sepanjang waktu. Seorang Kartini, yang hidup di zaman feudal Jawa abad XIX, hingga sekarang kita kenal lantaran punya “habis gelap terbitlah terang”. Pramoedya Ananta Toer, pun demikian, kita mengenalnya karena ia punya karya Tetralogi Buru. Dan banyak lagi contoh.

Menulis bisa untuk menyambung waktu. Masa lalu, masa kini, dan masa depan tak terputus, karena ada karya tulis yang terbaca oleh setiap generasi dalam setiap kurun waktu. Menulis juga menyehatkan, karena kita bisa menumpahkan uneg-uneg, menuangkan perasaan yang menghimpit, menyuarakan gerundelan dan sebagainya.

Kenapa di TBM ? Itu pertanyakan yang kemudian saya ajukan ke peserta. Kenapa mesti TBM ? TBM akronim Taman Bacaan Masyarakat, jelas tak terpisahkan dengan tradisi menulis. Bacaan, yang dari kata Baca mengandaikan ada karya tertulis. Jadi TBM itu hulunya baca, maka mesti berhilir pada tulis. TBM, juga jadi pemangku tanggung jawab, karena pendidikan formal kita gagal menumbuhkembangkan peserta didik agar akrab dengan tradisi baca dan menulis. Peserta didik yang kita saksikan selama ini, hanya pintar untuk menjawab pertanyaan soal-soal ujian, namun tidak dibiasakan untuk menuliskan pertanyaan, tidak dibiasakan menuliskan kegelisahan, maupun keinginannya. Pendek kata, lantaran sekolah formal gagal mengakomodir tradisi menulis, dus otomatis TBM yang dicetak sebagai program maupun lembaga informal, mesti menanggung amanat tersebut.

Paparan, saya tutup dengan menegaskan passion sebagai pengelola, agar si pengelola siap menjadi atmosfir inspiratif. Pengelola tidak patut menuntut pemustaka agar rajin membaca dan mulai menulis, sementara dirinya sendiri bukanlah pembaca yang tekun, bukan pula penulis yang gemar menuliskan gerundelannya dalam diary. Pengelola tak lain merupakan pemberi inspirasi. TBM juga mesti menyediakan sarana belajar menulis. Ada program kegiatan semisal kelas menulis, atau bengkel menulis. Tidak hanya itu, TBM juga merupakan pagelaran ide-ide. Artinya, koleksi bacaan yang dimiliki TBM mesti mulai dibenahi dengan memperhatikan kualitas isi buku. Tak sekadar asal banyak buku, namun abai dengan mutu, bukanlah tindakan yang patut di pelihara, selagi tetap ingin menjadikan TBM sebagai sekolahnya menulis.

Sesi tanya jawab, dapat saya atasi, tak ada aral yang berarti, karena rata-rata hanya berkutat masalah tips menulis dan bagaimana membudayakannya ke anak-anak, terutama anak kandungnya sendiri. Acara pun selesai. Tepat pukul 16.30, moderator menutup session saya. Syukur, dan lega, saya telah tuntaskan amanat. Meski rada kecewa, karena sang Gong, tak jadi ikut menilai kebolehan saya. Begitu pula Dewi Rieka, yang saya harap dapat ikut mengkritik, ternyata mesti pulang awal sebelum saya memaparkan materi “TBM sekolahnya menulis” itu. Tapi sudahlah…..

***

Jum’at malam, pelatihan resmi ditutup oleh Direktorat Jenderal Dikmas, Dr Wartanto. Sabtu pagi, kita bubar, saling sayonara, dan……. 

6 komentar:

  1. Hihihi Alhamdulillah, ngga demam panggung kan Mas Ardi, kereeen..moga abis ini pada semangat yaa mulai menggiatkan menulis di TBM masing2, aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Demam sih ga, cuma muatan materi yang sy ga siap...tapi btw, iya semoga virus menulis menyebar ke TBM-TBM....
      Oiya kapan kita ngumpul ?

      Hapus
  2. Wah,kopdar KPU besok narasumbernya Mas Ardi juga nih!!blognya udah canggih begini penampilannya..huhuhuh..pengen juga punyaku dibikiin lebih shopisticated!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. waduuuh .....afida ini ayak-ayak wae..hehehe

      Hapus
  3. alhamdulillah...enak mana mas jadi NST pa peserta???

    BalasHapus
  4. Kalo bisa foto NST nya di upload mas nambah bobot hehehe

    BalasHapus