Minggu, 30 November 2014

Ahimsa & Rakhe, Semoga !

pas di pameran buku [dok Ardie]

“Yah, beliin buku tentang angkasa !” rengek Ahimsa yang mengetahui kalau ada pameran buku di Gedung Korpri Ungaran. “Besok Minggu atau Senin ya, Nak ! Pas tanggal muda..”, sahut Rahma, istriku, kemudian. Memang dalam memenuhi kebutuhan anak-anak yang berhubungan dengan urusan keuangan, saya serahkan sepenuhnya kepada sang istri. Saya sama sekali tak pegang uang, dan memang tak ingin memegangnya. Saya paling tak bisa menahan diri untuk berlaku hemat. Kalau pas butuh saja minta kepadanya, seperti untuk beli premium, anggaran “dinas luar”, atau sekadar untuk tombo pingin nongkrong di angkringan. Lha, termasuk saat itu, dimana sang sulung merengek minta dibelikan buku. Sontak saya melirik ke istri untuk meresponnya.

Sabtu, 29 November 2014

Yang Tak Terbanding & Serupa


“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar…”, itu bunyi surat Fusilat [41]: 53. Kalam Tuhan yang menandaskan bahwa ada 3 dimensi yang menyelimuti atau mengiring kehidupan kita. Tiga dimensi tersebut: pertama, dimensi struktural, segenap penjuru, atau alam semesta. Dari mulai yang terkecil, tumbuhan, binatang, manusia hingga bintang-bintang di langit, galaksi-galaksi adalah ranah struktural. Ranah yang dapat diatasi oleh kekuatan akal, yang kemudian melahirkan pengetahuan objektif. Kedua, dimensi situasional. Dimensi ini tidak dapat dipahami dengan akal. Situasi hati, yang sedang sedih, senang, bangga, jatuh cinta, akal mandeg tak berjalan untuk memahaminya. Dimensi situasional, merupakan pekerjaan hati, maka bersifat subjektif. Ketiga, dimensi proses. Dimensi yang ketika akal dan hati sudah tak sanggup memahaminya. Kapan kita akan meninggal, bagaimana nasib kita esok hari ? Besok pagi, berapa kali kita akan dicaci maki orang lain ? Berapa kali kita akan mengalami perasaan suka ? Akal dan perasaan absen dari dimensi proses.

Jumat, 28 November 2014

Pahami Saja Identitas Diri Sendiri !


Menulis apa pun. Pokoknya menulis. Itulah yang kini, ingin saya anut. Soal menulis apa, tak penting. Karena yang penting menulis, bukan soal apa yang mau ditulis. Nah, persis dengan saat ini. Saya belum punya gambaran, soal apa yang mau diangkat.  Barangkali, hal ini efek dari ketidaklulusan kuliah di kampus, beberapa tahun silam, sehingga tak punya bahasan spesial yang dikuasai. Saya tak punya keahlian khusus yang bisa dibanggakan. Tak punya materi bahasan istimewa yang dapat didiskusikan. Selama ini yang terjadi adalah mengalir saja. Ibarat air, yang akan selalu berjalan ke tempat yang lebih rendah, demikian pula saya, yang selalu ingin menguasai materi wacana yang sedang ramai dibicarakan. Namun demikian, ternyata tetap ada batasnya. Sebagaimana hidup di muka bumi, yang serba terukur dan terbatas, kalau ditilik, setiap kali saya menulis, awal yang belum tahu akan kemana, endingnya pasti tak jauh dari humaniora. Bicara tentang diri, bagaimana memahami diri, dan bagaimana berkomunikasi yang tak melukai diri-diri yang lain.

Kamis, 27 November 2014

"Merayakan Indonesia" Mata Najwa


Pejabat Pemerintah Tidak "Jaim"

Ada yang menarik dari acara Mata Najwa MetroTV tadi. Acara yang dikemas sebagai cara “merayakan Indonesia”, menghadirkan banyak bintang tamu, seperti Presiden Jokowi, wapres Jusuf Kalla, mantan wapres Budiono, Ibu Megawati, dan Ahok. Najwa Shihab, sang tuan rumah, tampil anggun, lebih feminin, meski tetap “angker” kalau mengajukan pertanyaan ke bintang tamu. Namun tidak seperti biasa, dalam acara tadi, para bintang tamu, selain Pak Jokowi, dan Ibu Mega, diminta berperan sebagai host layaknya Najwa Shihab. Wapres dan mantan wapres saling tanya jawab. Mereka berdua, bak sahabat karib, saling ledek, penuh canda tawa. Kemudian yang tak kalah seru, ketika yang berperan sebagai Najwa, Ahok. Basuki Tjahaya Purnama, atau lebih akrab di sapa Ahok, giliran mewawancarai Ibu Megawati. Ahok tampil mengesankan, ceplas-ceplos, kaya kelakar. Ia tak canggung menggoda Ibu Mega, dan Pak Jokowi, sehingga tawa membuncah dari audiens yang menyesaki rumah Mata Najwa.

Literasi: Syahadat Kita


Peneguhan Identitas Diri, Pengakuan Keberagaman

Hari ini saya di rumah. Si bungsu Rakhe, sedang tak enak badan. Keceriaan yang biasa menghias tingkahnya, kini lesu, lemah. Bukan lagi ceria, tapi pucat dan cekal-cekil batuk. Ia mengaduh, giginya sakit. Meski sebetulnya bukan giginya yang masalah, melainkan gusi yang sedang diributi jamur. Tapi, sudahlah. Saya sudah putuskan untuk tak pergi meninggalkan rumah. Undangan menghadiri pameran buku, batal saya penuhi. Pidato dr Mundjirin, yang sedianya ingin saya rekam, sebagai data testimoni pejabat, soal perhelatan buku, gagal saya lakukan. Ya, tak apalah. Masih ada kesempatan, di lain waktu, dalam pameran yang berbeda.

Rabu, 26 November 2014

Pameran Buku: Awal Kota Literasi


Pamer itu kata kerja, yang kira-kira artinya: menunjukkaan sesuatu yang dimiliki kepada orang lain. Namun konotasi yang tak bisa dihapus dari usaha menunjukkan itu adalah sifat sombong. Seakan pamer sama dengan sombong. Dan kita mafhum, memang demikian, pamer itu sombong. Tapi beda dengan kata pameran, yang merupakan kata benda, yang dimaksudkan sebagai pertunjukan hasil karya seni, hasil produksi, dan sebagainya. Pameran merupakan unjuk karya, dan mengandaikan banyak pengunjung akan hadir, berbondong kerubuti panggung pertunjukan. Nah, besok pagi, kita akan disuguhi pameran buku di Gedung Korpri, Jl. Gatot Subroto, Ungaran.  

Selasa, 25 November 2014

Pengetahuan Atawa Sebagai Ilmu


“Hanya makan ketika lapar dan berhenti makan sebelum kenyang”, merupakan ilmu pengetahuan dari Rasulullah SAW, yang masih sangat relevan hingga kini. Malah situasi yang membelit saat ini, bakal terurai, sekiranya sedia menilik pengetahuan tersebut. “Hanya makan ketika lapar”, mengandaikan segala sesuatu musti berdasar kebutuhan bukan keinginan. Kebutuhan itu tahu akan batas. Ada keterbatasan, ada ketidakbebasan, yang melekat erat pada sesuatu, yang kiranya dilanggar akan muncul efek negatif, yang merugikan. Hal ini tidak hanya terkait soal makan dan kapasitas lambung atau perut saja, melainkan bisa ditarik ke masalah-masalah mikro maupun makro lainnya. Soal pengaturan uang keluarga, manajemen belajar anak-anak, home industri, manajemen perusahaan, hingga persoalan negara seperti hubungan eksekutif-legislatif, tentang hak interpelasi, KMP vs KIH, dan sebagainya.

Rakhe Belum Sekolah

Rakhe, dan Ahimsa [dok Ardie]

Belum mau sekolah. Ya, mau bagaimana lagi, itulah si Rakhe, bungsu yang kini sudah 4 tahun. Ia masih asyik menikmati kesendiriannya di rumah. Sama sekali belum tertarik untuk mengikuti jejak teman-teman sebayanya yang sudah pada pakai seragam PAUD. Saban harinya, hanya dihabiskan dengan bermain lego, puzzle, pasir, tanah lumpur, nonton TV. Sesekali minta dibacakan buku, namun masih terhitung jarang. Bermain dengan teman-teman sebaya, juga jarang ia lakukan. Giliran yang sulung pulang sekolah, baru ia dapatkan teman main. Timbul rasa kasihan. Saya tak tega, dan takut ia bakal asosial, di kemudian hari. Saya takut ia akan mendapati kesulitan, akibat kurang pergaulan. Saya takut, kelak ia akan dikucilkan dan susah dapatkan sahabat karib.

Senin, 24 November 2014

Senin (bukan) Teror


Tidak ada maksud mengutuk hari. Bagaimana pun setiap hari, setiap waktu adalah suci. Tak ada waktu yang tak suci. Yang bermasalah adalah perlakuan kita atas waktu. Persis itu pula dengan hari ini, hari Senin. Senin dari kata al-isnain, bahasa Arab, yang artinya dua. Jadi sebetulnya hari Senin itu adalah hari kedua. Cuma dalam tradisi kita, merupakan hari pertama. Hari yang menakutkan, penuh ketegangan, tidak bisa santai. Hari pertama masuk kerja, setelah sehari atau dua hari sebelumnya menikmati masa libur. Hari horor, sebab musti melakukan lompatan dari sebelumnya yang mengalami cita rasa sebagai manusia, beralih dan masuk ke dunia serba otomat.

Minggu, 23 November 2014

Memang Tidak Gampang



 Rakhe ,  Ahimsa. [dok Ardie]
Memang tidak gampang. Itu yang kini saya rasa, saat menjalani peran sebagai, ayah, sebagai orangtua, buat 2 jagoan, Ahimsa dan Rakhe. Si sulung Ahimsa, usia 8 tahun, berarti telah memasuki tahap 7 tahun kedua, bahwa anak adalah “pembantu”. Usia tersebut, anak dalam proses pembelajaran mengenal aturan. Anak sudah bisa kita mintai tolong untuk membantu pekerjaan kita, tentunya tetap dalam kapasitas kemampuannya. Yang bungsu Rakhe, usia 4 tahun, masih berada dalam tahap “raja”, yang menuntut orangtua untuk melayaninya.

Sabtu, 22 November 2014

Sabtu (2)


Pasar : Titik Beda & Titik Temu

Pasar Batik Pekalongan [dok Ardie]

Pasar, sebagaimana makna lain dari kata pekan, sederhananya ialah pertemuan penjual dengan pembeli. Penjual menyajikan barang-barang kebutuhan, kemudian ditawarkan kepada pembeli. Barang-barang yang hadir di pasar, langsung jadi komoditi, hadir untuk dipertukarkan. Pembeli, yang sebab terdesak oleh kebutuhan akan barang, barter kepada penjual dengan uang. Disini jelas, pasar jadi wahana orang-orang bertemu, dengan fungsi yang berbeda, sebagai penjual, sebagai pembeli. Pasar, juga merupakan perkumpulan barang untuk dipertukarkan. Pasar pula, kita jadi tergila-gila, mabuk duit. Tanpa uang, proses barter, tak terjadi. Tanpa duit, onggokan benda dan barang-barang, jadi tak bermakna, tak punya nilai.

Sabtu (1)

Pekan : Raih Harga Diri

Sabtu in, lazimnya disebut akhir pekan. Pekan adalah kata benda yang bisa diartikan, selain minggu (7 hari), sebagai pasar. Tinggal mau pakai yang mana, sesuai status sosial kita di masyarakat, dan kebutuhannya. Kita yang dari kalangan merdeka, bukan orang karir, yang tak punya kejelasan profesi, cenderung memahami pekan sebagai pasar. Sedang yang dari golongan karir, kerja kantoran, umumnya akan memaknai akhir pekan itu sebagai hari. Setelah 6/5 hari berturut-turut, fisik mereka diporsir di tempat kerja, maka hari ketujuh, sebagai hari akhir. Selama bekerja karir, seakan diri bukan manusia, diri telah menjadi robot, sehingga akhir pekan, serasa telah menemukan kediriannya sebagai manusia.

Jumat, 21 November 2014

Kenangan Bareng Gol A Gong

bersama KPU [Komunitas Penulis Ungaran]--dok Ardie

Sore itu, 18 Februari 2014, bersama Pahala Kencana, saya melaju ke Serang, Provinsi Banten. Seumur-umur, baru pertama kali, pergi jarak jauh dengan naik bus, karena dalam kesempatan yang berbeda, lebih nyaman naik kereta api. Barangkali saya termasuk sosok ‘jadul’, jarang bepergian yang berjarak  lumayan jauh---keluar Jawa Tengah---, kalaupun “terpaksa” pergi, ya dengan naik kereta api, tidak dengan naik bus. Sedang jarak tempuh yang hanya seputar wilayah Jawa Tengah, cukup dengan sepeda motor, lebih irit, seraya bebas bisa istirahat dimana saja sesuka hati.

Menimbang TBM


“Ber-TBM merupakan perluasan ruang sebagai upaya menyusuri lorong kemungkinan diri hingga tuntas memahami yang hakiki.”

(i)

Dari dapur Teh Heni (Ketua Forum TBM Wilayah Jawa Barat), saya dapatkan cerita tentang Bu Santi (Pengelola Rumah Baca Ujung Berung). Adalah Bu Santi, yang mengikhlaskan seluruh aset rumah pribadinya untuk jadi rumah baca. Sementara Bu Santi beserta keluarganya tinggal di rumah kontrakan.

Hierarki Ber-Syahadat


Bermula dari kehendak Tuhan yang menjadikan manusia sebagai wakil-Nya di muka bumi (Al-Baqarah [2] : 30), maka korelasi hubungan Tuhan dan manusia pun menarik untuk jadi bahan renungan. Hadir sebagai wakil Tuhan dengan sendirinya tertuntut tanggung jawab  untuk selalu bertindak atas nama-Nya. Ini sebuah  kesadaran untuk memberadabkan bumi, yaitu menyebarkan sifat-sifat Tuhan ke seluruh permukaan bumi.

Insentif buat Pengelola TBM ?


Adalah Rakai, pendatang baru di ranah jagad literasi. Lengkapnya Rakai Pranatyastama. Nama itu diberikan oleh kedua orangtuanya, dengan harapan dia bisa menjadi hamba yang tak canggung untuk menebar kebajikan dalam kondisi apa pun. Ternyata memang demikian. Rezekinya kecil, martabat dan peran dirinya di tengah lingkungan kecil pula. Meskipun demikian dia selalu merasa beruntung di dalam hidupnya di dunia. Bahkan dia sering mengira dirinya tergolong orang yang paling bermanfaat dan pastinya bakal disayangi Tuhan. 

Selamat Tinggal FTBM Kab. Semarang !

pelantikan FTBM Kab. Semarang (dok Ardie)

Bukunya yg br sj dilaunching ya ? Psrtanya minimal brpa ? Coz teman2 FTBM sprtinya ora iso dijagakke.” Demikian bunyi pesan singkat yang saya terima dari sekretaris FTBM Kabupaten Semarang sore tadi. Sebelumnya saya meminta tanggapan ke sekretaris, agar FTBM mengagendakan acara bedah buku. Kebetulan ada seorang penulis, tinggal di Yogya, yang sedang launching buku terbarunya, dan kini pas mampir ke kota Ungaran. Mumpung pikir saya. Tapi mau bagaimana lagi, kalau organ organisasi tidak bisa diharapkan untuk saling jalin kerjasama, ya, pesimis dan pesimis yang terjadi.

Kamis, 20 November 2014

Reading Group, Wahana Bertanya

diskusi di Masjid Diponegoro Tembalang (dok Ardie)

Adalah Belanda yang telah bercokol selama 350 tahun di bumi nusantara, ternyata malah mendulang sukses melahirkan generasi-generasi tangguh dan cerdas. Sebut saja, Kartini yang cuma tamatan SD, sanggup menyusun kalimat dengan runtut dan nalar logika yang hebat. Tan Malaka, Soekarno, Hatta, Sjahrir, Agus Salim, Chairil Anwar, dan sekian deret pejuang-pejuang yang begitu terasa ketinggian intelegensi mereka, meski hanya sampai jenjang SMA dan sedikit yang sarjana, sanggup mengantar Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan. Sutan Sjahrir yang tidak sampai lulus sarjana, tetapi bisa menyorong Indonesia meraih pengakuan internasional setelah berpidato dalam forum terhormat di Sidang Keamanan PBB.

Tagar#Jateng Membaca




para deklarator Jateng Membaca (dok Ardie, 19/11-'14)
Jawa Tengah membaca dideklarasikan. Adalah Gol A Gong, penulis legendaris “Balada Si Roy”, sekaligus Ketua Umum PP Forum TBM, mendesak pengurus Forum TBM Jawa Tengah agar segera mendeklarasikan Jateng membaca. Jabar Membaca, dan Jatim Membaca jauh-jauh hari sudah dideklarasikan, tinggal Jawa Tengah yang belum. Gayung bersambut, Ketua Forum TBM Jawa Tengah serta beberapa pengurus wilayah dan daerah, terima ajakan sang ketua umum Forum TBM tersebut. Rabu, 19 Nopember 2014, teman-teman TBM Jawa Tengah itu, datang berbodong memanfaatkan acara pelatihan menulis novel filmis yang diselenggarakan oleh Penerbit Indiva, di Ruang Seminar Masjid Nurul Huda UNS, dengan pembicara tunggal Gol A Gong, sebagai momentum untuk pencanangan Jateng Membaca.

Selasa, 18 November 2014

Ungaran Suka Menulis


Ungaran Suka Menulis (USM) adalah cara saya meyakinkan diri, sebagai penghuni kota, agar Ungaran tak membisu. Memang terkesan bombastis, tapi biar saja, toh tidak ada jeleknya kalau diusahakan. Tapi kenapa harus Ungaran ? Apakah tidak takut bakal kena delik pasal rasialis, ego sektoral, sektarian, atau ashabiah ? Apakah tidak akan mengarah pada sikap eksklusif ? Anti keberagaman, minim toleransi ? Terus kenapa tidak pilih kata kerja membaca ? Kenapa musti menulis ? Apakah menulis lebih mentereng ketimbang membaca ?

Borobudur (bukan) Karya Jin





Terduduk di teras rumah, sembari menenteng buku “Borobudur & Peninggalan Nabi Sulaiman”, Rakhe sesekali menatap semburat teja yang mencat angkasa. Ada kecamuk yang bergemuruh di dadanya. Dia tidak terima dengan argumen dan opini yang dipaksakan ke tengah area publik oleh KH Fahmi Basya.  Akhir-akhir ini Rakhe memang jadi uring-uringan sejak menemukan buku karya sang kiai ini. Beruntung ada Ahimsa, sang kakak tercinta yang selalu menyediakan diri untuk menjadi objek sasaran gundah dan dongkolnya. Ahimsa tahu bahwa adiknya ini memang sangat haus pengetahuan, sehingga dia berusaha selalu berada disampingnya untuk melayani Rakhe beradu argumen.

Senin, 17 November 2014

Al-Qur'an, sarat Simbol


Lagi-lagi ‘syariat Islam’ bikin sensasi. Belum hilang ingatan kita tentang hukum cambuk bagi pendosa “zina”, tentang larangan seorang perempuan yang duduk mengangkang saat membonceng sepeda motor. Ya, syariat Islam itu memang seksi. Syariat Islam yang semestinya menjadi ranah privat umat Islam secara individual, kini dipajang  dan dipamerkan keluar ke ranah publik. Sontak saja langsung diserbu dan menjadi santapan mata media. Syariat Islam telah diyakini oleh sebagian kalangan sebagai representasi perintah Tuhan yang sudah jelas dan final, sehingga tidak butuh lagi dipermasalahkan melainkan suka memakainya sebagai way of life atau tidak.

Kenyataan Diri, Sikap Terhadap Kenyataan


Tahun 2014 sebentar lagi kita tinggalkan, dan altar 2015 sudah menunggu. Kita patut bersyukur tahun 2014 ini, tak banyak peristiwa yang menodai kerukunan dan kemajemukan negeri ini. Semoga pula pesta akhir tahun nanti, yang sebelumnya diawali dengan perayaan Natal, tidak memungut jatuh korban jiwa sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Riak-riak dari sebagian kecil elite Islam yang mengusung wacana pengharaman ucapan Selamat Hari Raya Natal, moga mereda, dan lebih mengutamakan keharmonisan hidup bersama sebagai sesama penghuni negeri. Umat Islam sanggup menenggang rasa, sanggup menahan diri dari ambisi untuk show of force.

Pencabutan Subsidi BBM


Subsidi BBM dicabut. Presiden Joko Widodo, akhirnya mengumumkan, bahwa pemerintah telah menetapkan kenaikan harga BBM. Harga solar dari Rp 5.500 jadi Rp 7.500,- dan premium dari Rp 6.500,- menjadi Rp 8.500,-. Penetapan yang tak mengenakan, penetapan yang bakal menyulut gejolak di masyarakat. Harga BBM naik, biasanya akan diikuti dengan kenaikan harga-harga barang dan jasa lainnya. Sehingga pemerintah sebelumnya selalu tarik ulur dalam mengambil keputusan soal BBM. Seakan pemerintah takut tidak populer, takut jatuh martabatnya, jika sampai berani mencabut subsidi BBM. Dan semoga, Presiden baru kita itu teguh dalam mengambil keputusan. Meski mengambil langkah yang tak populer, menetapkan kebijakan yang mengundang kontra.

Sabtu, 15 November 2014

Merdeka Manusiawi: Penguasaan Semesta Diri


Tak ada maksud untuk membalik waktu, mundur ke belakang. Saya sebatas mengungkapkan gerundelan, kenapa Soekarno, Hatta, Sutan Sjahrir dan para generasi saat itu, begitu cerdas, cekatan, piawai dalam memahami kompleksitas permasalahan bangsa. Apakah mereka itu memang sudah ditakdirkan tercetak sebagai generasi unggul ? Kalau takdir, kenapa hal itu merata, hampir setiap orang yang hidup pada zaman itu, adalah bibit unggul ? Mereka itu masih muda, berstatus mahasiswa, ada yang tamatan SMA, SMP, bahkan cuma tamatan SD, namun penuh keyakinan diri, dan mampu menjalankan operasional perjuangan membela rakyat tertindas.

Bung Hatta Yang Sederhana


Sederhana, bersahaja, itulah gambaran sosok Bung Hatta, seperti yang dituturkan para putri beliau dalam acara Mata Najwa, Metro TV. Saya melihat tayangan ulang Mata Najwa, tadi (15/11-’14), sembari menahan haru dan linangan air mata. Haru, betapa luar biasa sosok itu. Bak cerita dalam epos Mahabharata, jejaka Hatta baru akan menikah, kalau Indonesia sudah merdeka. Sumpah yang menggetarkan, yang tak kalah dahsyatnya dengan sumpah setianya tokoh Bisma. Sumpah yang menunjukkan integritasnya sebagai manusia Indonesia, yang mengesampingkan kepentingan pribadi demi kepentingan negara. Dan si Bung ini membuktikan ucapannya. Ia baru mempersunting Rahmi, dalam pesta yang sederhana, di Yogya 1946.

Hamba & Wakil-Nya

Rakhe, Rahma, dan Ahimsa ... [dok Ardie]

Saya lahir dari keluarga Muhammadiyah. Besar dari Rahim IRM (Ikatan Remaja Muhammadiyah), dan sayang memang, tak bisa melanjutkan ke jenjang IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), tapi setidaknya, kini saya kerap mengikuti kegiatan-kegiatan Muhammadiyah, tingkat daerah maupun wilayah. Meski Muhammadiyah, saya anti Wahabi Salafi. Dan menurut saya, Muhammadiyah bukan Wahabi, kalau menilik sejarah KH Ahmad Dahlan yang menghargai tradisi intelektual, pro pendidikan ala Belanda, dan tasawuf. Padahal tasawuf, doktrin perantara, rasionalisme, ajaran syiah, Barat, dan praktek inovasi “bidah’ lainnya, merupakan hal yang dibenci alias haram bagi gerakan Wahabi..

Konspirasi ?


Terus terang, hingga saat ini saya belum bisa sepenuhnya memahami “konflik” Barat, Amerika, dan Islam. Entah sebab saya ini orang awam, dan sungguh beruntung saya terlahir sebagai orang awam, sehingga “rada polos” tak begitu percaya adanya konflik permanen, pandangan bipolar tentang Barat (dengan Amerika-nya) versus Timur (negeri-negeri berkembang termasuk Islam). Lebih menyulitkan lagi bagi saya bahwa Barat  itu Kristen, Barat itu Yahudi. Jadi konflik yang ditimbulkan sebenarnya antara Kristen bersama Yahudi versus Islam…Waduh makin tak masuk akal bagi common sense saya !

Jumat, 14 November 2014

Jum'at


Perasaan Jum’at hari ini, sebagaimana, jum’at-jum’at yang telah lalu, adalah alokasi waktu yang sempit untuk segala aktivitas.  Tidak seperti hari-hari di luar Jum’at, yang “tak terbentur” dengan kewajiban berjamaah di masjid, maka hari Jum’at, kita yang muslim, mesti berhenti dan menanggalkan tanggung jawab sosial mulai pukul 11.30 WIB. Ini istimewanya hari Jum’at.

Literasi Lokal


Perubahan adalah sifat alam yang telah kita ketahui adanya. Namun tidak setiap orang siap untuk melakukan perubahan, baik internal maupun eksternal. Ketika ada yang siap melakukan perubahan, ternyata pola transformasinya juga tidak mesti sama. Ada yang mulai dari internalisasi, baru kemudian eksternalisasi. Ada pula yang sebaliknya, mulai dari eksternalisasi, kemudian baru mundur ke belakang menengok ke diri sendiri.  Ada yang tidak kedua-duanya sekaligus, yaitu hanya berkutat pada internalisasi saja tanpa eksternalisasi. Pun sebaliknya, eksternalisasi tanpa internalisasi. Lantas mana yang tepat ? Hehehe…..ini masalah selera. Selera bahwa perubahan itu “by me” atau “as me”. By me, maksudnya saya membuat perubahan tapi ‘di sana’, bukan untuk diri saya. Sedangkan as me, saya adalah perubahan itu sendiri.

Usai Launching Komunitas Penulis Ungaran


Terbit harapan. Itu kira-kira yang terasa, usai pengukuhan Komunitas Penulis Ungaran, 23 Oktober 2014, di Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah (KPAD) Kabupaten Semarang oleh kepala KPAD, Nelly Rahamawati, SH. M.Hum. Setidaknya dari para anggota Komunitas Penulis Ungaran, menaruh harapan besar, bahwa kegiatan-kegiatan yang berbasis buku bakal semarak. Kegiatan literasi seperti pelatihan menulis, peluncuran buku, bedah buku, lomba mengarang cerita pendek, dan pembacaan puisi, akan jadi ritual utama yang mengiring acara-acara perhelatan kota maupun pesta rakyat yang biasa diselenggarakan saat HUT Kota Ungaran.

Kenduri Literasi, Jawa Tengah Menulis


Kenangan Menuju Kenduri Literasi 2014

Bermula dari obrolan ringan di sebuah kakilima dekat Rumah Dunia Serang, Kenduri Literasi 2014 pun digelar. Adalah Kang Agus M Irkham yang beroleh kiriman paket buku Tunas Integritas dari KPK bingung bagaimana semustinya paket buku-buku tersebut tersebar. Sementara saya sendiri juga masih diselimuti rasa gundah sebab janji hutang yang belum terbayar. Janji pada Ibu Ida Fitri Lusiana yang hendak mengadakan bedah buku di TBM Ibnu Hajar akhir tahun 2013, namun hingga pesta Jambore TBM 2014 bulan Februari belum tertunaikan. Bak  gayung bersambut, terbitlah gagasan untuk menyelenggarakan pelatihan menulis yang didahului dengan acara bedah buku, selanjutnya paket buku Tunas Integritas akan dijadikan sebagai tanda terima perolehan peserta dari pelatihan.

Harga Ijazah


Sedemikian relevankah gelar akademis dengan peningkatan kualitas mutu pendidikan ? Sedemikian luar biasanya sematan gelar dengan haluan pendidikan anak-anak. Jebolan sekolah formal itu dengan sendirinya akan lebih “ampuh” ketimbang yang kursus-kursus. Sekolah formal lebih mahir daripada yang hanya sebatas mengikuti pelatihan-pelatihan. Lantas apa sih esensi pendidikan ? Apa itu mengajar ? Apa yang mesti diajarkan ? Apa betul sekolah formal dari mulai TK hingga perguruan tinggi itu lebih relevan ketimbang seminar, atau workshop-workshop yang diselenggarakan komunitas swasta ? Terus terang saya belum bisa sependapat, ada benang lurus antara rentetan gelar dengan kemampuan. Barisan pangkat dengan kemauan.

Teori Vs Praktek


Sudah jadi kepahaman bersama, bahwa dalam hidup ini terdapat dua kutub ekstrim yang susah disandingkan, malah cenderung saling menegasikan. Dua kutub tersebut adalah kutub struktur dan kutub situasi. Kutub struktur berdiri pada orientasi keruangan yang hendak melumpuhkan keganasan alam. Target mereka adalah penguasaan sumber daya dengan mengoptimalkan kekuatan intelegensi. Sedang berdiri pada kutub lain adalah kutub situasi, yaitu kemampuan mengantisipasi waktu demi nama besar dan penguasaan opini sosial.

Shalat Vs TV


Tidak sebagaimana biasa yang hanya bertahan kurang-lebih 30 menit, dalam dua hari ini, serasa istimewa karena bisa bertahan lama duduk di depan layar laptop. Anak-anak sudah asyik merajut mimpi sedari awal waktu. Kemungkinan mereka capek bermain lego, bermain balok…

lagi asyik main balok.... [dok Ardie]

Usai Bangun Tidur

Rakhe, Ahimsa.....dua jagoanku, dua matahariku [dok Ardie]


Ritual usai bangun tidur. Duduk di pintu menatap halaman luar, kaki ditekuk, tangan kiri menyangga dagu, dan sorot mata sayu. Penampilan memelas yang seakan-akan ingin menandakan duka yang tak kunjung akhir ini, telah jadi sajian harian, sembari santap pagi. Itulah anak saya yang kedua, Rakhe, 4 tahun, yang sampai saat ini belum mau masuk sekolah Play Group. Teman-teman sebaya sudah pada berseragam sekolah, ia masih asyik dengan kesendiriannya. Bermain lego, pasir dan buka tutup buku, yang kesemuanya ia lakukan sendiri.

Naik Bus


Sebenarnya saya tak biasa bepergian jarak jauh dengan naik bus. Apalagi kalau sekadar Semarang – Solo, Semarang – Yogya, atau Semarang – Kebumen, biasa saya tempuh dengan naik sepeda motor. Bahkan liburan Lebaran, bersama anak istri untuk menunaikan hajatan mudik, juga saya tempuh dengan sepeda motor butut itu. Bukan berarti anti atau phobia dengan bus. Tidak, sama sekali tidak.

Kasta


Saya mengenal organisasi selalu diisi oleh 4 (empat) kasta. Namun kasta disini tidak berdiri vertikal yang hierarkis. Kasta yang saya maksudkan sejajar, saling menopang, saling dukung, yang keberadaannya bukan berdasar kelahiran biologis melainkan upaya penghayatan diri. Hilang salah satu, denyut organisasi jadi hambar.

Agama Sepanjang Masa

AGAMA DI SISI TUHAN

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam….” (Ali Imran <3> : 19)

“Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.” (Ali Imran <3> : 85)

Serba Hitungan


Serba hitungan atau serba angka, itu yang tebersit awal kali coba menelisik ritual shalat. Pertama berhadapan dengan angka 5, 5 kali sehari semalam dalam menjalani yang wajib maupun bagian dari 5 rukun penegak agama. Seakan dalam ketetapan yang serba hitungan. Demikiankah ? Adalah ketetapan, adanya 5 jari tangan, baik kanan maupun kiri. Sehingga kita bersepakat, akan disebut tak sempurna atau suatu kelainan ketika misalkan mendapati 4 atau 6 jari. Angka 4 menunjuk kekurangan, sedang 6 sebagai kelebihan. Baik kekurangan maupun kelebihan bukanlah kewajaran sehingga tak disebut sempurna. Kiranya itu pula ketetapan 5 waktu yang disyariatkan sebagai kewajiban, bahkan sebagai tanda amal kebajikan wujud kepasrahan (kemusliman) kita dihadapan-Nya.

Garis Pemikiran


Tak terasa, ternyata lumayan lama saya absen dari menuliskan edisi curhat di group tercinta ini. Barangkali kendala utama absen adalah masalah kemampuanku menulis yang masih mualaf alias pas-pasan. Saya masih belepotan merangkai kata yang enak dibaca dan pesan yang terselip bisa sampai ke sidang pembaca.  Seiring absen dari bersua ria dengan para sahabat dan handai tolan penggiat TBM/literasi, terngiang lontaran pertanyaan yang kerap kudapati ketika jumpa “fans” di pinggiran daerah, kenapa perlu bikin TBM ?

La Kalo untuk TBM yang cuma eksis di facebook, piye?????


Menanggapi pernyataan seseorang, yang lantas menarikku untuk menjadikannya sebagai judul curahan hati.

Saya berpikir, apa pun wujudnya, membuat TBM, Rumah Baca, Sanggar Buku <dan seabreg sebutan lainnya> merupakan upaya seseorang untuk memahami dan menggarap diri. Bikin taman baca adalah upaya mengokohkan eksistensinya di tengah lingkungan, sehingga sekecil apa pun usaha, sepanjang itu dilakukan sebagai upaya sadar, jauh lebih bermakna ketimbang yang sudah kadung besar tapi tak mengakar.

Adalah Atmosfir

ngobrol bareng Teh Heni Murawi, Gubernur FTBM Jabar [dok Ardie]


Dari dapur Teh Heni (Ketua Forum TBM Wilayah Jawa Barat), saya dapatkan cerita tentang Bu Santi (Pengelola Rumah Baca Ujung Berung).

Adalah Bu Santi, yang mengikhlaskan seluruh aset rumah pribadinya untuk jadi rumah baca. Sementara Bu Santi beserta keluarganya tinggal di rumah kontrakan..

Minat & Keterampilan Membaca ?


TBM: Menjaga Minat & Keterampilan Membaca

Sebagai bagian dari awak kapal penggiat TBM, saya rasa fenomena krisis membaca di kalangan generasi muda sudah parah. Membaca yang saya maksudkan bukan sekadar bisa membunyikan huruf-huruf. Sebab bisa menyuarakan huruf barulah tahap membaca yang paling dasar. Berikutnya musti bisa memahami makna bacaan. Sanggup menceritakan ulang, menuliskan kembali, atau berdiskusi dan berargumentasi tentang isi bacaan. Di sana sini, saya sering menjumpai remaja-remaja ABG yang asyik ber-gadget ria, ngerumpi omong kosong tentang serial sinetron, dan ber-ngeband untuk menghabiskan waktu senggang. Makin sedikit generasi muda yang meminati karya sastra berkualitas. Oplah buku-buku ‘serius’ mengalami tren menurun. Dan akan lebih celaka lagi, kalau anak-anak yang tidak terampil dan atau tidak suka membaca ini merasa diri mereka “baik-baik saja”, tidak merasa punya masalah dengan kemampuan membaca, dan tidak merasa perlu bantuan untuk memperbaikinya.

Memelihara Semangat

padahal minat baca anak-anak itu sangat luar biasa...[dok Ardie]

Bukan perkara yang mudah untuk menjaga diri agar tetap dalam kondisi semangat. Sebab jiwa semangat itu terbit dari letupan hati yang sudah dari sononya memang tersabda untuk kadang naik kadang turun. Jiwa semangat menaik, ketika dalam keadaan kondisi emosi yang stabil. Jauh dari gaduh kepentingan dan keinginan yang hanya bertopang pada alat. Mampu menyusun dan menjalankan kehendak untuk menjaga prestasi. Pendek kata, semangat terjaga ketika sanggup memilah antara keinginan dengan kehendak. Sanggup menepis keinginan dengan mengutamakan kehendak.

Living Books di TBM ?


Wabah TBM bak cendawan di musim hujan. Kehadirannya persis dengan awal maraknya PAUD, yang hampir setiap orang, yayasan, atau instansi seakan berlomba hendak membentuknya. Dari yang bentuk sederhana hingga bangunan mewah dan megah. Yang kecil sebatas pemanfaatan ruang tamu, teras rumah atau garasi hingga yang berhektar tanah bak area outbond. Ada TBM yang dikelola mandiri oleh individu masyarakat, oleh sebab kecintaannya yang mendalam atas buku dan pemberdayaannya. Tidak sedikit pula yayasan sosial, lembaga belajar, hingga para anggota dewan turut mendirikan TBM di area publik.

Organisasi Mitra ???


Kata ‘mitra’ bisa berarti teman atau sahabat. Juga bisa diartikan kawan kerja, atau pasangan kerja. Sedang ‘organisasi’ merupakan kesatuan atau kelompok kerja sama yang terdiri atas bagian-bagian untuk tujuan tertentu. Kalau digabung jadi ‘organisasi mitra’ yang bisa dipahami sebagai pasangan kerja dari suatu kesatuan dengan institusi atau lembaga lain untuk memecahkan masalah bersama. Nah, FTBM disebutnya sebagai organisasi mitra PNFI Pemerintah. FTBM adalah rekan kerja sama pemerintah dalam menangani persoalan minat baca tulis masyarakat. Karena sebagai rekan kerja, berarti tak ada kasta, dan siapa menguntungkan siapa, serta siapa yang dirugikan. Prinsip setara dan saling menguatkan, saling meneguhkan, jadi modal utama kerja sama.

Kamis, 13 November 2014

Usai RAKOR Forum TBM Jateng


di ruang makan PP PAUDNI Ungaran (dok ardie, 07/11-'14)

Arti kata Evaluasi dalam kamus Bahasa Indonesia adalah penilaian. Jadi evaluasi data TBM berarti penilaian atas data keberadaan TBM. Kemarin, 6 – 7 Nopember, Forum TBM Jawa Tengah bersama Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Tengah mengadakan Rakor Evaluasi Data TBM di PP PAUDNI Ungaran. Saya membayangkan dalam rapat koordinasi kemarin itu, setidaknya akan ada 7 sesion. Session pertama, sharing tentang sejarah TBM. Di sini akan diperbincangkan tentang asal muasal dan ideal TBM. Session kedua, TBM dalam kacamata Dinas Pendidikan. Session ini akan dibentangkan tentang kedalaman pendidikan nonformal, penjelasan program dan lembaga serta posisi TBM dalam PNF. Session ketiga, TBM dalam interpretasi Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah. Bersama kantor perpustakaan, kita bakal diajak berselancar untuk memahami UU No 43 tahun 2007, wa bil khusus bab tentang TBM. Session keempat, Relevansi TBM dalam peningkatan budaya baca-tulis. Session kelima, curah pendapat tentang kondisi TBM kekinian. Session keenam, cross check validitas keberadaan TBM. Dan terakhir session ketujuh, Rekomendasi kepada Pembina Forum TBM (Dinas Pendidikan dan Kantor Perpustakaan), Pengurus Wilayah, dan Pengurus Daerah.

Memungut Hikmah Dari "Yang Biasa"


Hingga hari ini saya masih mempertahankan buku Totto-Chan sebagai salah satu buku favorit yang tersimpan di rak perpustakaan keluarga. Malah termasuk deretan buku yang tak dipinjamkan, hanya boleh baca di tempat. Kenapa demikian ? Di dalamnya akan kita temui tentang paparan sekolah unik yang barangkali di tempat kita masih jadi impian, jadi harapan oleh  banyak kalangan. Meski sudah bertebaran sekolah-sekolah alternatif di sekitar kita, tetap saja keunikan sekolah Tomoe masih menawan hati. 

Tetsuko Kuroyanagi <sang Totto kecil> menandaskan bahwa “yang harus ditakuti di dunia fana ini ialah jenis orang-orang yang tidak mengerti  keindahan walaupun memiliki mata, tidak mendengarkan irama musik walaupun memiliki telinga, tidak memiliki kebenaran walaupun memiliki hati….”

Perbedaan, Silaturahim, hingga Perpustakaan

Risalah "Pasukan Matahari"


Realitas kita adalah realitas perbedaan. Mungkinkah hidup tanpa perbedaan ? Mungkinkah penciptaan, perkembangan dan kemajuan tanpa perbedaan ? Mungkinkah interaksi sosial dan saling berkenalan satu sama lain bakal terjadi tanpa perbedaan ? Sekiranya tidak berganti dan berlainan niscaya tak ada regenerasi dan perkembangan. Sekiranya manusia tidak berbeda satu sama lain, niscaya tidak mengenal diri sendiri. Sekiranya tidak berbeda tingkat dan kesempatan, niscaya kejenuhan dan kejemuhan bakal melanda kehidupan. Sekiranya pendapat dan nalar tidak berbeda, niscaya kejumudan merajalela. Jadi, perbedaan itulah yang melahirkan makna, melahirkan nilai, dan juga rahmat.

Selamatkan Dari Puritanisme !

Musyawaran Buku di Gubugku, ....agar tidak bungkam !!! (dok. 11/2013)


Saya merasa beruntung berkesempatan menikmati euphoria presiden baru. Euphoria dimana-mana. Rakyat bebas menyuarakan hak, yang masing-masing kepala pasti tak sama. Itu hal yang wajar. Menyuarakan politik adalah hak. Hak yang dari kata haqq punya dua makna: ia berarti hak, dan juga bisa berarti kebenaran. Sebagaimana yang kita ketahui, hak bersuara atau hak berpendapat telah dikukuhkan dalam UUD ’45, yang artinya siapa pun hingga negara tak diperbolehkan membatalkan atau menghilangkannya dari diri seseorang. Bahkan Tuhan pun tidak akan mencabut sebuah hak yang dimiliki oleh seseorang kecuali jika orang yang memiliki hak tersebut memutuskan untuk membatalkan atau melepaskan haknya.

Rabu, 12 November 2014

Gaduh

Cak Nun & Kiai Kanjeng



Gaduh. Itu gambaran sekilas ketika pertama kali mendengar Kiai Kanjeng manggung. Alhamdulillah Beberapa kali saya sering mendapat kesempatan untuk melihat langsung Kiai Kanjeng bersama Cak Nun tampil di halaman parkir Masjid Baiturrahman Semarang. Kiai Kanjeng kerap datang mengisi acara rutin dialog kebudayaan Gambang Syafaat yang diselenggarakan tiap tanggal 25  bulan masehi oleh remaja masjid itu. Entah alasan apa yang saya tak tahu, saya menyukai sajian musik Kiai Kanjeng yang gaduh itu. Ada kegembiraan yang meluap ketika kegaduhan Kiai Kanjeng beroperasi. Kegaduhan Kiai Kanjeng seakan-akan mengungkapkan energi penyaluran semangat perjuangan. Seakan meneriakan napas perang terhadap kesunyian.

Pola Pendidikan

ngobrol bareng seputar "keberagaman" di gubug cintaku



Setidaknya ada dua pola pendidikan yang kita kenal, yaitu: 1) agar peserta didik kelak bisa dimanfaatkan, dan 2) yang berorientasi kepada kemanusiaan. Yang pertama, sebuah sistem pengajaran yang diarahkan pada kebutuhan hidup real, seperti mencari nafkah, membangun usaha, bisa bekerja di industri bisnis, jadi pegawai sipil, dsb. Sedang yang kedua, sistem pengajaran yang merujuk pada konsep klasik Yunani atau Arab, manusia yang bernilai penuh, manusia ideal atau insan kamil. Pengajaran pada sistem yang kedua ini pertama-tama bermaksud hendak membentuk manusia yang berkebudayaan utuh, yang mengenal segala keagungan dan keterbatasan manusia, melalui pengenalan kepada dunia gagasan-gagasan, ide-ide, bentuk-bentuk seni budaya, dsb.

Zaman Edan


Rahma, Ahimsa, Rakhe, dan aku


Nak, damai selalu dan bahagialah kalian ! Di tengah zaman edan saat ini, hanya yang waras yang selamat. Hanya yang eling dan waspada yang bakal menikmati keberuntungan. “Mengalami zaman gila, ikut gila tidak tahan, kalau tidak ikut gila, tidak dapat bagian. Dan sebahagia-bahagianya orang yang lupa, masih lebih bahagia yang sadar dan waspada”, itu nasihat dari Pujangga Ranggawarsita. Nasihat yang terbit pada awal abad XIX, namun seakan makin gamblang relevansinya dengan situasi yang mengepung kita saat ini. Orang gandrung pada materi, kemasyhuran, reputasi, jabatan, dan lain sebagainya. Para anggota dewan yang terhormat, kurang bisa memberikan teladan bagi jutaan pemilih. Pemilik modal yang menguasai TV, tidak peka dengan kemunduran moral akibat tayangan yang hanya berdasar rating. Dan, kamu di sekolah, tak pernah diajarkan sejarah tentang asal muasal serta dinamika dimana kita kini mukim. Ah, piye to iki…

Berada Untuk Bermakna

Hingga detik malam ini, saya belum bisa memejamkan mata. Bergelayut pikiran, pelbagai beban tanggungan yang belum tuntas. Dari mulai hutang piutang yang tak kunjung lunas, janji belikan mainan dan buku pada Isa dan Rakhe yang belum terpenuhi, hingga tanggungan sosial yang tak terelakkan. Hmmm…konon dikatakan bahwa hidup sekadar mampir ngombe (singgah sekadar untuk minum). Seakan rambu-rambu dari para sesepuh, bahwa hidup jangan jadi alasan sebagai beban. Jangan dijadikan alasan untuk berkeluh kesah, mengumbar galau, sedih tiada ujung, lantaran usia kita untuk menghuni muka bumi ini tidaklah lama. Ada batas waktu.

bersama Bismillah, saya kepingin


Bismillah, atas nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Coba terus menggali kesadaran bahwa hingga kini masih mendapati kemudahan atas banyak hal. Kemudahan sebagai orangtua yang dapat  terus menyuapi perasaan kasih ke kehidupan anak-anak. Kemudahan sebagai suami yang bisa bercengkerama dan menghibur istri, hingga kemudahan sebagai bagian dari anggota masyarakat dengan sedikit derma ala kadar. Sekali lagi atas nama Allah yang agung, seraya menepis perasaan galau yang juga tiba-tiba sering ikut nimbrung, kembali duduk depan layar sekadar ingin berbagi album kenangan.