Minggu, 03 Mei 2015

Reading Group yang Keempat

reading group di Alun-alun lama Ungaran


Reading group Kuntowijoyo keempat kembali digelar, Sabtu 2 Mei 2015, di Ungaran. Mundur 1 minggu dari jadwal semestinya, Sabtu 25 April 2015. Terpaksa diundur, sebab saya masih ada acara dolan di Yogyakarta. Barangkali karena diundur, maka gelaran reading kemarin pun hanya dihadiri 5 orang inti (saya sendiri, Hasan Fuady, Zully, Noor Rahman, dan Meta alias Zahratunnisa), sebab yang lain juga bertabrakan dengan agenda lain. Meskipun yang hadir tak banyak sebagaimana yang kedua dan ketiga, kiranya tak mengurangi kualitas pembacaan, dan pemaknaan. Malah serasa lebih intens. Hal itu terlihat, durasi waktu yang kami lakukan sangat panjang, hampir 3,5 jam. Kami bisa berefleksi panjang lebar terkait urgensinya cara pandang, dan tahapan sistematis Kunto tentang  kesinambungan Iman-Ilmu-Amal.

Kamis, 30 April 2015

Merasakan Tuhan

menyusuri setapak, merangkai cinta-Nya [dok: kebun durian montong Kalisidi]


Saya terus termangu dengan penggalan ayat “Kemanapun kamu menghadap di sanalah wajah Allah...” Sebuah penggalan ayat yang menuntut konsekuensi logis pada perilaku yang mengarah pada-Nya. Perilaku yang tentunya tidak bertentangan dengan aturan main-Nya. Perilaku yang disukai-Nya, perilaku yang dalam perkenan-Nya. Perilaku yang lazim kita kenal sebagai akhlaqul karimah. Saya termangu sebab tak gampang menghadirkan rasa bertuhan. Menghadirkan kebertuhanan, menghadirkan kesadaran bahwa kita sedang dikepung oleh Tuhan. Tidak ada  lorong tersembunyi yang sanggup menyembunyikan diri ini dari pandangan-Nya. Saya termangu, seakan ayat tersebut  menggema keras di gendang telinga, menghardik diriku yang tak kunjung membaik. Mengkritik proses ketuhanan yang tak selaras dengan kemajuan zaman. Usia dunia yang kian mendekat pada penghancuran total (kiamat), namun kesadaran bertuhan justru kian pudar.  

Tinggal Hitungan Jari

Lima yang mengawal Pelatihan Ngeblog


Tinggal menghitung jari, “Pelatihan Blog” bakal dilaksanakan.  Sebagai pribadi jelas saya tak ingin membuang kesempatan emas ini. Kesempatan untuk me-make over blog pribadi, mempercantik tampilan wahana nongkrong sepanjang malam itu. Ya, kini tak sebatas hiburan, blog telah berhasil mengalihkan perhatian dari selfie-selfian dan narsis ala abege ke ranah yang lebih serius. Blog telah berhasil menggiring amunisi menulis saya kepada tema atau wacana khusus. Lantaran blog pula, sedikit banyak telah berhasil melemaskan jemari dalam menjahit huruf-huruf. Kiranya tak perlu berbusa-busa lagi untuk menuliskan betapa perlu dan pentingnya blog. Sudah berlimpah keterangan yang mendedahnya. Dalam kesempatan berbahagia ini, saya ingin berbagi kesan saja sekilas persiapan acara pelatihan.

Senin, 20 April 2015

Jaga Diri & Keluarga

Rakhe, Rahma, dan Ahimsa


 “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka....” demikian penggalan arti dari surat At-Tahrim [66] ayat 6. Sabda Tuhan yang lumayan mengganggu pikiran, terutama bagiku selaku kepala rumah tangga yang dipercaya oleh-Nya dengan titipan dua bocah, Ahimsa dan Rakhe. Bak teror dari langit, ayat tersebut terus terulang dan menyergap kesadaranku, bahwa ada yang mesti diperankan dalam berkeluarga. Keluarga yang merupakan paduan dari dua suara yang beda, laki-laki dan perempuan,  hakikatnya sebagai aktualisasi diri dalam ber-Tuhan. Kalam Ilahi tersebut seakan jadi penegas bahwa sebelum berpikir dan berperilaku yang besar, terlebih dahulu mesti sanggup membereskan yang kecil. Kecil, lingkup diri dan keluarga, merupakan landasan bagi yang besar. Dasar untuk mengarungi samudera biru, menunaikan tugas yang lebih berat dan besar selanjutnya.

Sabtu, 18 April 2015

Darurat Pornografi, Lantas bagaimana Kita ?

saat ngumpul di rumahe Dewi Rieka


Pagi itu, Minggu 19 April 2015, sebagaimana biasa di hari libur, bersama anak istri, saya habiskan udara pagi di Alun-alun Bung Karno Ungaran. Hari libur, hari keriuhan, masyarakat tumplek blek jadi satu memadati lapangan alun-alun. Pelbagai atraksi bebas para tetua muda hingga balita jadi satu. Senam ibu-ibu, silat perisai diri, anak yang berlarian dengan sepatu roda, mini sepeda, para penjaja kuliner, hingga kerumunan kecil para aktivis Hizbut Tahrir. Nah, yang terakhir itu, yang cukup menarik. Kerumunan beda, tak lazim bagi kebanyakan yang merindu kebebasan. Bebas melepas penat. Beberapa aktivis HTI [Hizbut Tahrir Indonesia], itu jelas serasa beda. Mereka tak menawarkan ekspresi pelepas penat, melainkan galang kesadaran. Ya, kesadaran tentang merebaknya situs-situs cabul.

Senin, 13 April 2015

Humanisme Teosentris: Catatan Reading Kuntowijoyo ke-3


Reading Kuntowijoyo selanjutnya disingkat RK



Reading Kuntowijoyo, demikian akhirnya saya menyebutnya. Awal, saya mengukirnya sebagai Reading Group Kuntowijoyo, namun guna memudahkan pelafalan sekaligus penyingkatan, saya lebih sreg dengan menghilangkan kata group. Maka jadilah reading kuntowijoyo yang disingkat menjadi RK. RK yang ketiga, Sabtu 11 April 2015 sukses dilangsungkan. Masuk subbab baru “cita-cita transformasi Islam”, RK yang ketiga ini dihadiri 13 peserta (terhitung diluar diriku dan istriku). Ya, secara kuantitas terus menaik, dari empat, sepuluh, dan kemudian tiga belas. Secara kualitas juga meningkat, terlihat dari durasi waktu diskusi yang panjang (pukul 21.00 - 00.05).

Selasa, 07 April 2015

Dewi Rieka, Inspirator KPU



Dewi Rieka, suhu sekaligus inspirator KPU



Saya pernah menggunakan istilah bintang guna melukiskan kehadiran tokoh-tokoh inspiratif dari masa lalu. Kenapa bintang ? Dan apa hubungannya dengan masa lalu ? Jarak bumi ke bintang-bintang tak bisa diukur hanya dengan menggunakan satuan ukur biasa (cm, m, dan km). Para astronom bersepakat menggunakan satuan ukur khusus, yaitu tahun cahaya. Cahaya adalah sesuatu yang memiliki gerakan tercepat di alam semesta. Dalam satu detik, cahaya dapat bergerak sejauh 300.000 km. Satu tahun cahaya berarti cahaya yang bergerak selama satu tahun, yaitu  sejauh 9,46 triliun km. Jarak bintang paling jauh yang kini “kebetulan” sudah diketahui (artinya, kemungkinan yang belum diketahui masih banyak), adalah 11 miliar tahun.  Bayangkan betapa jauhnya, perjalanan cahaya selama jangka waktu 11 miliar tahun yang lalu untuk hari ini sampai ke lensa mata kita. Padahal umur manusia, rata-rata tak lebih dari 100 tahun.

Bintang-Bintang Yang Mengilhami


Rakhe, bungsuku yang lagi memamerkan Kuntowijoyo



Bicara inspiartor, berarti saya mesti mengurutkan deretan sosok atau tokoh. Inspirator, orang yang mengilhami, sosok yang menggerakkan hati untuk mencipta, erat kaitannya dengan idola. Saya mesti memilah dari sekian banyak orang-orang yang jadi pujaan hati. Mengeliminasi tak sedikit orang-orang yang telah menyuntikkan pemahaman, semangat untuk melakukan sesuatu. Dalam mendeteksi ketokohan, saya menggunakan simbol bintang. Bayangkan saja, kita duduk termenung di malam hari yang cerah. Bintang gemintang bertaburan menghias langit. Bintang-bintang tersebut ada yang berjarak ribuan juta tahun cahaya dari muka bumi. Saking jauhnya, wajar saja kalau yang sampai ke mata kita tinggal kerlap kerlipnya yang nyaris tak kelihatan. Kehadiran bintang sebagai simbol dari masa lalu, sebagai simbol kehadiran sosok-sosok inspiratif yang tak sezaman dengan kita, yang barangkali sebagian kini telah menghuni tanah kubur. 

Jumat, 03 April 2015

Asal dulu ....



Dari pendekatan bahasa, akhiran “wan” pada kata Pustakawan akan menunjukkan maksud :

  1.  Orang yang ahli dalam bidang Pustaka 
  2.  Orang yang mata pencahariannya atau pekerjaannya dalam bidang Pustaka  
  3.  Orang yang memiliki “sifat khusus”

Kita pilih kata Pustaka bukan Perpustakaan untuk maksud penjelasan a) dan b) karena bentukan katanya nyambung. Pustaka --- Pustakawan. Sekaligus pingin menunjukkan bahwa sebutan dan kerja Pustakawan tidak musti identik dengan Perpustakaan. Dan ternyata hal ini juga diakomodir oleh UU No 43 th 2007 pasal 29 ayat 1 bahwa tidak semua Tenaga Perpustakaan adalah Pustakawan.
Nah, saya pingin urun rembug “memiliki sifat khusus” dari diri Pustakawan, yang oleh Pak Blasius disebutnya telah menggenggam sifat Kepustakawanan. Beliau menandaskan bahwa Kepustakawanan itu pada dasarnya adalah: 1) panggilan hidup, 2) semangat hidup, 3) pelayanan, dan 4) kegiatan profesional. Barangkali Pustakawan yang mengacu diri sebagai Kegiatan Profesional itulah yang kita lihat sebagai tenaga perpustakaan, yang ahli dalam katalogisasi, klasifikasi dsb.
Namun spirit Kepustakawanan yang melakoni sebagai Panggilan Hidup, Semangat Hidup, dan Pelayanan/Pengabdian bisa saja mengada pada siapa pun saja yang mendermakan diri dalam literasi, meski tidak bekerja profesional sebagai tenaga perpustakaan. Bisa jadi hanya seorang Penyuka Buku, Penyuka Filsafat, Pegiat TBM, Pekerja Seni dsb, namun kesehariannya diabdikan untuk memasyarakatkan pustaka/buku….
Pripun kalau demikian ? Mohon petunjuk !
Dan sahabatku semua sesama penyuka dan pekerja literasi, setujukah ? Atau ada opini yang lain ?

Rabu, 01 April 2015

Sekilas Tentang Kuntowijoyo



 
buku-buku karya Kuntowijoyo

Saya ingin menukilkan sekilas tentang Dr. Kuntowijoyo, yang saya sadur dari Jurnal Ulumul Quran No. 4, Vo. V, tahun 1994 dan dari beberapa bukunya, terutama yang “Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi”. Bukan maksud untuk mengkultuskannya, namun sebatas mengorek sosok Kunto yang kini nyaris terlupakan. Kuntowijoyo lahir di Bantul, Yogyakarta, 18 September 1943, yang kemudian dibesarkan di Ngawonggo, Ceper, Klaten. Masa kecil Kunto dihabiskan di bawah gencarnya serangan Belanda yang bermaksud menguasai kembali Indonesia. “Seumur itu saya ingat bahwa saya sering tidur di gua, dan sekali-sekali mendengar letusan bom; kakek dan ayah sering tidak pulang,” katanya mengenang sebagaimana termuat dalam Jurnal Ulumul Quran. Pada 1950 ia menempuh pendidikan dasar di Sekolah Rakyat Negeri Ngawonggo.

Senin, 30 Maret 2015

Memburu Yang Jati



 
suasana Reading Group Kuntowijoyo (Sabtu, 28/3-'15)

Sabtu, 28 Maret 2015 telah berlalu. Namun saya belum bisa menghilangkan lintasan peristiwa, dan  semangat kawan-kawan yang berjibaku itu. Sabtu adalah hari menjadi manusia, demikian saya sering menyebutnya. Dan kenyataan memang demikian. Sebagian penghuni kompleks dimana saya tinggal, Sabtu, dan terutama malam Minggu, merupakan waktu melepas penat atau menanggalkan sesaat kondisi dirinya yang terpaksa jadi subordinat dari sistem raksasa. Selain hari Sabtu dan malam Minggu, mayoritas menempuh diri sebagai manusia mesin, yang berjalan bak robot, tak boleh lelah dan mesti tepat waktu serta berlaku hukum efesien. Entah dengan kawan-kawanku itu. Apakah mereka juga telah terjebak dengan sindrom Sabtu ? Saya tidak tahu pasti. Namun hari itu memang sangat membekas, setidaknya bagi diriku.

Minggu, 29 Maret 2015

Reading Group Kuntowijoyo


reading group kuntowijoyo (II)



Berangkat dari omong-omong dengan seorang kawan, Hasan Fuady, tentang kecenderungan minat baca dan diskusi yang kurang terawat di kalangan mahasiswa, terutama yang aktivis, maka lahirlah komunitas ini. Kenapa mesti Kuntowijoyo ? Ada beberapa alasan yang melatarbelakanginya. Pertama, minat saya yang lumayan cukup terhadap tokoh Muhammadiyah yang satu ini. Kuntowijoyo, konon dikatakan sebagai sosok yang komplet, multitalenta. Ia dikenal sejarawan. Juga budayawan. Sastrawan, serta cendekiawan muslim. Banyak buku yang telah ia lahirkan. Dari yang riset ilmiah; analis politik, agama, sosial, dan budaya. Ia juga membuat novel, naskah drama, cerpen, puisi, dan fabel.

Rabu, 25 Maret 2015

Mau Jadi Penulis Apa ?



bareng GM dalam acara World Book Day di Yogya



Mau jadi penulis apa ? Pertanyaan yang tak mudah langsung terjawab di awal tulisan ini. Tak mudah karena belum sungguh-sungguh berpikir untuk berkarir sebagai penulis. Pengalaman menulis terjadi lebih disebabkan by implication dan bukannya by choice. Oleh sebab bersinggungan dengan para penggiat literasi, aktivis TBM, dan para pencita buku, saya jadi berkarib dengan literasi. Saya ketularan untuk mencintai buku, akrab dengan dunia baca. Lantaran berasyik masyuk dengan penggiat buku, jadi terbiasa dengan tradisi diskusi, musyawarah buku, dan debat adu argumen. Bahkan tak jarang, terpaksa bergilir menjadi pemrasaran, pembedah isi buku, dan tukar wawasan bersama kawan-kawan aktivis mahasiswa. Hal yang mustahil saya dapatkan andai  berdiam diri dalam keluarga saya di desa. Jadi menulis, bukan sebab pilihan, tapi keterpaksaan. Terpaksa menulis untuk pantas-pantas layaknya seorang pemrasaran, demi “keunggulan” paparan presentasi. Itu pun sebatas poin-poin pemikiran, bukan karya utuh tulisan artikel ilmiah.

Selasa, 17 Maret 2015

Tentang The Miracle of Shalat

Catatan Pertama
mengungkap kedahsyatan energi shalat

Saya ingin menuntaskan baca buku itu. Seorang kawan, Lilik, penggiat literasi Salatiga, entah ada maksud apa, tiba-tiba saja menghadiaiku buku “The Miracle of Shalat”. Buku karya KH. Muhammad Sholikhin itu diterbitkan oleh Penerbit Erlangga tahun 2011. Memang bukan buku baru, tapi kiranya tetap menarik, karena mengungkap makna dan filosofis Shalat. Menariknya lagi, ketika saya tunjukkan ke Rahma, istriku, ternyata sang penulis buku ini adalah seniornya dulu di kampus Syariah IAIN Walisongo Semarang. Karuan saja, saya segera ingin melahap buku tersebut.

Senin, 16 Maret 2015

Yang Sejahtera dan Cerdas


panggilan hidup...semangat hidup...laku pelayanan

Ada yang menggembirakan dalam pertemuan Kopdar V KPU, Senin, 16 Maret 2015 di rumah Hani Widya. Menggembirakan pertama, karena ternyata kawan-kawan di komunitas penulis itu masih bersemangat untuk berkumpul. Berkumpul untuk melestarikan canda ria, saling tukar motivasi. Berkumpul yang tak lagi tebar gunjingan, dan gosip murahan ala artis ibukota, melainkan saling meneguh untuk serius menggarap diri. Saya suka istilah menggarap diri untuk menelisik denyut aktivitas para kawan di KPU, lantaran subjek dan objek komunitas adalah diri-diri yang tergabung dalam group. Menggarap diri, karena fokus pada pengembangan kualitas masing-masing diri sendiri, yang unik, tiada kembaran. Dalam KPU itu, seakan haram kalau sampai ada upaya penyeragaman. Penyeragaman hanya berlaku, agar masing-masing kita bisa menulis, tetapi kadar muatan karya tulis diserahkan kepada masing-masing kepala.

Sabtu, 14 Maret 2015

Taman Serasi, Surganya Keluarga Muda


bersama di taman serasi

Satu lagi tempat favorit di Ungaran yang kerap saya kunjungi, yaitu Taman Serasi. Taman Serasi yang lebih dikenal dengan sebutan Taman Unyil, tampaknya oleh pemerintah daerah hendak dijadikan sebagai ikon taman Kota Ungaran. Benar tidaknya “penampakan” itu, saya tidak tahu. Sebab hal ini lebih tepat sebagai harapan saya pribadi saja, yang mendambakan lahan hijau di tengah kota. Lahan hijau yang menyerap pekatnya asap kendaraan, meredam sengatan panasnya matahari, begitu pentingnya untuk kota kecil ini. Kalau di Kota Semarang, ada Taman KB, yang merupakan jantung kota atlas. Nah, Taman Serasi, jantung Kota Ungaran, kenapa tidak !

Jumat, 13 Maret 2015

Kampoeng Kopi Banaran yang Alami

Taman Bermain anak-anak

Hehehe....saya tuliskan ini. Saya coba menuliskan sesuatu yang sebetulnya saya tidak begitu menguasai, baik teknik penulisan maupun isi. Ya, adalah sahabat sekaligus guru, Dewi Rieka, yang memberikan tantangan buat saya dan kawan-kawan se-komunitas. Memang tantangan yang ia berikan tepat. Tepat karena memang sudah sepatutnya para genk komunitas itu biasa menorehkan coretan, apa pun itu dengan pelbagai konten. Saya menerima tantangannya. Meski, sekali lagi, saya tak menguasai bahan-bahan yang mesti dituliskan. Pekan ini, tulisan yang mesti disetorkan adalah seputar obyek wisata.

Selasa, 03 Maret 2015

Kepada Siapa Kita Bisa Mengadu ?



Moga masih ada sisa harapan
Kepada siapa kita bisa mengadu ? Pertanyaan ini memang serasa sederhana, namun entah mengapa hingga kini kita pun kikuk dan tak jelas jawabannya. Seolah sungkan hendak menuding pihak-pihak berwajib yang nyata-nyata tidak beres dalam menunaikan kewajibannya. Dari sisi kita pun tak kalah  jelasnya, kita telah imun dari berita-berita ketidakberesan pejabat pemerintah, pejabat negara. Sudah lazim di telinga tentang tindak penyelewengan, penyalahgunaan wewenang, dan maling duit negara. Saking imunnya, kita jadi fatalis, pasrah, dan menganggap fenomena itu sebagai bagian ujian dari Tuhan. Saking enegnya dengan perilaku para pemegang otoritas, kita hanya bisa menggerundel. Meneriakkan kemuakan sekeras-kerasnya, namun hanya di hati. Di pendam sendiri.

Jumat, 13 Februari 2015

Air Yang Tak Mengalir

Air sumur artetis komplek perumahan tempat Rakhe tinggal sudah dua hari ini tak mengalir. Petaka bagi segenap penghuni perumahan, terlebih lagi Rakhe, yang tak memiliki bak tandon air di rumahnya. Kalau Jakarta dan kota-kota besar lainnya saat ini sedang terkepung air banjir, tidak demikian di tempat Rakhe. Rakhe harus menghemat air di bak kamar mandinya. Ya, sebetulnya bagi Rakhe pribadi tidak begitu ribet, karena ia memang jarang mandi. Tapi bagaimana dengan Ahimsa, yang tak tahan keringat nempel, dan sehari mesti mandi dua kali ? Bagaimana pula dengan beberapa tetangganya yang senasib dengannya yang sama-sama tak memiliki bak tandon ?

Kamis, 12 Februari 2015

Paham Bhinneka

Agenda bersama Of the Book, bikin Rakhe makin mantap dengan obsesinya tentang kontekstualisasi Islam. Ia tak muluk dengan rencananya itu. Awal ini yang ia lakukan adalah mengumpulkan bahan bacaan yang berhubungan dengan gagasan kebebasan beragama dan berkeyakinan. Ia telah dapatkan puluhan judul buku yang berkaitan dengan Islam moderat. Buku-bukunya Khaled Abou El Fadl, salah satu favoritnya, selain tentunya Ulil Abshar, dan tokoh-tokoh Paramadina. Isa, sang kakak, telaten menemani Rakhe dalam mewujudkan obsesinya. Berkaitan dengan ide gagasan, kakak adik itu memang tak ada perbedaan. Keduanya sama-sama memuja pluralisme dan anti puritanisme. Bedanya hanya masalah style. Isa lebih sabar dan tenang ketimbang Rakhe dalam menghadapi persoalan. Isa juga cenderung nrimo alias pasrah atas sesuatu yang kurang berkenan. Sedang Rakhe, keras kepala tak mau mengalah atas keyakinan yang dipercayainya. Pasangan kakak beradik yang saling melengkapi.

Rabu, 11 Februari 2015

Mengusung Islam Moderat

Tak seperti biasanya, pagi itu, Rakhe nampak sibuk. Ia beres-beres rumah. Buku-buku yang berserakan ditata rapi. Rak buku yang di teras dipindah ke dalam rumah. Isa sempat kaget, kesambet apa ini sang adik, yang tak biasanya rapikan buku. Soalnya selama ini untuk urusan merapikan perabot rumah, menata buku-buku adalah kebiasaan si Isa. Sedangkan Rakhe hanya baca-baca buku saja, dan sesekali menulis opini di blog pribadinya. “Kak ! Buku Ulil yang ‘Menjadi Muslim Liberal’ mana ya ?” teriak Rakhe kemudian, usai memilah-milah buku yang akan digelar di perpustakaan.

'Of the Book'

Bermula dari kesepahaman yang sama soal pentingnya memelihara tradisi baca, menghargai karya tulis buku, maka lahirlah gagasan tentang Conference of the Book. Gagasan yang diprakarsai oleh kakak adik, Isa dan Rakhe itu mengadaptasi dari salah satu judul buku Khaled Abou El Fadl “Musyawarah Buku”, Serambi, 2002. Kakak beradik itu, menempati rumah tipe 29, sebuah perumahan sederhana yang persis di lereng Gunung Ungaran, Kota Ungaran, Kabupaten Semarang. Baik Isa maupun Rakhe, tak mengangankan Conference of the Book (of the Book) itu sebagai lembaga swadaya masyarakat, meski konsen pada pemeliharaan tradisi baca di tengah masyarakat. Of the Book juga bukan jenis lembaga pendidikan informal, yang kini marak di masyarakat, yang lagi demam ramai-ramai bikin Taman Bacaan Masyarakat (TBM) maupun Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Of the Book belum terdaftar dan memang dari Isa maupun Rakhe sendiri, sama sekali tak menginginkan menjadikan ‘of the Book’ sebagai TBM apalagi PKBM. Of the Book sebatas gagasan saja yang sesekali bikin aksi kecil-kecilan tentang pemeliharaan tradisi baca. Aksi yang berangkat dari keprihatinan mereka berdua atas semangat baca anak-anak lingkungan sekitar yang tak terkelola dengan baik, akses baca buku yang kurang. Sebagai aksi, barangkali mirip dengan kinerja perpustakaan, yaitu melayani pinjam dan baca buku. Tetapi untuk disebut sebagai perpustakaan jelas belum memadai, lantaran koleksi buku yang tersedia di markas ‘of the Book’ masih terhitung sedikit, masih dibawah seribu judul.

Jokowi Jangan Kau Ragu

Situasi politik yang mengelilingi kehidupan negeri ini makin panas. Dan ini yang akan jadi test case bagi Jokowi dalam memimpin Indonesia, baik sebagai kepala negara maupun kepala pemerintahan. Bila ia gagal bertindak tegas mengatasi kisruh KPK Vs Polri, maka kepercayaan surplus publik sebelum ia menduduki istana akan berbalik jadi surplus ketidakpercayaan. Publik yang sebelum pemilu menaruh harapan besar ke pundaknya, nanti berbalik akan mencabut kepercayaannya. Kisruh yang membelit dua institusi penegak hukum itu telah menyita perhatian Rakhe akhir-akhir ini. Rakhe meyakini kasus yang kini mendera KPK adalah rekayasa sistematis untuk menghancurkan aparat hukum yang teguh melawan mafia koruptor. Bagaimana pun, KPK adalah yang terpercaya ketimbang Polri maupun kejaksaan dalam melawan perilaku koruptif. Tradisi suap dan gratifikasi telah jadi rahasia umum, tumbuh subur di tubuh polri dan kejaksaan, tapi tidak demikian dengan KPK.

Senin, 09 Februari 2015

Dakwah MTA


Arus dakwah MTA (Majlis Tafsir Al-Qur’an) kian gencar saja. Sudah tak terbendung, terus meluas hampir seantero negeri. Binaan MTA dimana-mana. Siaran radio dakwahnya yang sebelumnya hanya bisa diperdengarkan untuk warga Solo Raya, kini sudah relay di kota-kota besar Indonesia. “Prestasi” yang patut diapresiasi. Nah, tak terkecuali dengan Rakhe. Sosok perantau yang tak pernah diam di satu tempat. Selalu berpindah dari majlis ke majlis, mazhab, dan terakhir kelompok keyakinan. Rakhe yang seorang perantau, dan kini ia merasa mantap telah menemukan pelabuhan terakhirnya, yaitu ikut berderet bersama kelompok muslim moderat.

Kamis, 05 Februari 2015

Visualisasi Pancasila

Garudaku, masihkah gagah di angkasa sana ?
Kumbakarna, adik Rahwana, menunjukkan kesetiannya pada Alengka. Ia yang punya kebiasaan tidur lama, bikin prajurit Alengka kesulitan untuk membangunkannya, sebelum maju perang melawan pasukan kera Sri Rama. Dan Kumbakarna mati di medan laga di tangan Laksmana. Kematian Kumbakarna, kematian yang setengah tak diharapkan oleh para bidadari surga. Ya, Kumbakarna, raksasa yang berhati putih, yang bersumpah setia untuk membela Alengka dari ancaman kehancuran. Kumbakarna gugur tidak dalam rangka memihak Rahwana, melainkan Alengka yang nyaris hancur. Kumbakarna selama hidupnya tak bersepakat dengan kebijakan Rahwana, namun ia rela mati demi negeri Alengka. Dalam konteks kita, ia sosok yang “right or wrong is my country.”

Sabtu, 31 Januari 2015

Melawan Korupsi, Mulai dari yang Kecil

Pernah suatu pagi, dalam perjalanan naik sepeda motor dari Sragen ke Ungaran, ketika masuk kota Salatiga ada operasi razia kendaraan motor samping pos polisi. Langsung hati berdetak kencang, karena pada saat itu saya belum ber-SIM. Sudah tanggung, mau memutar balik tidak mungkin karena satu arah. Hanya bisa pasrah. Rapal doa-doa tak henti seiring jalan sepeda yang kian mendekat dengan rombongan polisi. Polisi muda mendekat dan barangkali karena melihat raut muka saya yang tegang, dia tampak ramah saat meminta saya untuk menunjukkan kelengkapan surat-surat. Ramah dan memberi hormat, namun tetap saja saat itu saya jengkel padanya. Jengkel mengutuk diri, lantaran tak memiliki SIM. Jengkel kenapa saya tak waspada kalau mau ada operasi. Jengkel kenapa saya tidak mengulur waktu menunda keberangkatan, sehingga selamat dari sergapan polisi. Jengkel kenapa saya tidak tiba di tempat operasi itu satu jam sebelumnya. Campur aduk kesal menyalahkan diri yang terus berkecamuk, sembari menunjukkan STNK dan KTP.

Kamis, 29 Januari 2015

Semoga BW Terbebas

Sebetulnya saya tak begitu menyukai perdebatan politik. Politik dan pelbagai intrik yang mengelilinginya, bukan ranah keseharianku. Saya bukan politisi, terlebih lagi seorang pejabat publik yang kental aroma trik dan permainan uangnya. Ayah dan ibu saya juga dari kalangan jelata, yang jelas sama sekali buta dengan isu-isu yang laris dalam pemberitaan. Terlebih istriku, malah eneg mendengarnya. Ringkasnya, kami sekeluarga bukan dari kalangan berada yang berasal dan menggemari politik. Tetapi, entah kenapa jluntrungannya, ketika akhir-akhir ini marak dalam pemberitaan tentang perseteruan KPK versus Polri, saya dan istri, tiba-tiba saja jadi mania mengikuti acara debat dan talk show yang mengetengahkan pertarungan dua institusi tersebut. Saya jadi intens menikmati sajian perbincangan yang mengupas sebab musabab “cicak vs buaya” jilid III. Acara “Satu Meja” Ira Koesno, “Mata Najwa” Najwa Shihab, “Kompasiana” Cindi Sistyarani, mendadak jadi program favorite istri. Sehingga anak-anak terpaksa mengalah dari kebiasaan melototi “On the Spot” Trans 7. Sebuah program acara yang menampilkan keunikan, keanehan, dan keajaiban-keajaiban alam maupun peristiwa.

Senin, 12 Januari 2015

Fasad Fi Al-Ardh, Musuh Islam

#Catatan 16

Terkait kebebasan beragama, masih menjadi isu yang sensitif di negeri khatulistiwa ini. Kebebasan beragama dan kepercayaan, terasa mewah dan tak terjangkau oleh kalangan luas umat Islam. Turunan dari kebebasan beragama dan kepercayaan adalah pluralisme, yaitu penghargaan atas keragaman keyakinan, keunikan agama. Sebetulnya masalah keberagaman, kemajemukan bukan hal baru bagi masyarakat yang menghuni negeri ini. Sedari awal, Indonesia merupakan negeri yang majemuk, terdiri dari etnis, suku, bahasa, dan kepercayaan yang beragam. Para pendiri bangsa ini mengakui hal itu, dan Pancasila merupakan wujud dari keragaman tersebut. Pancasila adalah objektifikasi dari segenap agama yang ada. Pancasila, dengan terhapusnya tujuh kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” diganti menjadi “Yang Maha Esa”, mempertegas keberadaannya yang bukan monopoli Islam. Nilai-nilai dari setiap agama terwakili oleh kelima sila Pancasila. Bahkan dalam UUD 1945, masalah kebebasan beragama sangat ditekankan.

Minggu, 11 Januari 2015

2015, Semoga

#Catatan 15

Kita menginjakkan kaki pada angka tahun 2015. Upaya menyerap sifat-sifat Tuhan, kemudian mencerminkan dan aktual sebagai kenyataan, kiranya yang patut terus kita usahakan. Segenap ikrar, sumpah setia, terutama pada diri sendiri, telah terukir dalam relung sanubari masing-masing. Serius mengenali diri, tiada henti membaca makna di balik fenomena, dan mengenali wajah Tuhan, akan terus menjadi proses introspeksi diri yang akurat. Termasuk si faqir ini. Sedari awal, saya memaparkan catatan-catatan ini, tak lain karena kepingin ikut menggenapkan diri masuk ke dalam deretan para pengusung gagasan Islam Moderat. Meminjam istilah dari Khaled Abou El Fadl, dalam buku terbarunya “Selamatkan Islam dari Muslim Puritan” (Serambi, 2006), terdapat dua jenis Islam: Islam Moderat dan Islam Puritan. Dalam buku tersebut, Khaled menunjukkan terbelahnya Islam dalam dua kutub ketika menanggapi isu: Tuhan dan tujuan penciptaan, watak hukum dan moralitas, pendekatan terhadap sejarah dan isu kemodernan, demokrasi dan hak asasi, interaksi dengan non-Muslim dan konsep keselamatan, jihad dan terorisme, serta (terakhir) peran perempuan dalam Islam.

Mencintai Tuhan, Mencerminkan Sifat-sifat-Nya

#Catatan 14

Nabi Muhammad mengisyaratkan banyak sekali amalan-amalan yang bisa kita kerjakan dalam rangka meneguhkan eksistensi diri. Termasuk raut muka yang penuh senyum, tak bermuka masam pada siapa saja, bisa merupakan amalan yang mengokohkan eksistensi. Namun hal itu tentu saja kita lakukan dengan tulus bukan kepura-puraan. Demikian juga dalam bertuhan. Sebagaimana dalam catatan sebelumnya, bisa saja kita rajin beribadah ritual, tak ketinggalan membayar zakat, puasa ramadhan, hingga ibadah haji, namun kita terjebak pada penipuan diri. Kita show of force tentang kebajikan padahal sebatas pemujaan diri seraya berpura-pura peduli. Itulah pentingnya introspeksi dan pengenalan diri secara kritis.

Introspeksi Kritis Atas Diri

#Catatan 12

Meniru akhlak Tuhan itu terkait dengan pemahaman tentang Tuhan dan tujuan penciptaan. Sekadar mengulang, tujuan penciptaan manusia tak lain adalah ibadah. Sebagian kalangan memahami ibadah sebagai praktik ritual. Sehingga totalitas ketundukan pada Tuhan diwujudkan dalam bentuk praktik ritual. Semakin ketat dan sempurna dalam menjalankan ritual, dianggap telah meraih kesempurnaan ibadah. Yang otomatis dekat dengan Tuhan dan kelak bakal mendapatkan hadiah surga. Lantaran ketundukan pada Tuhan bergantung pada praktik ritual yang benar, ketundukan tidak dimungkinkan bagi orang-orang yang tidak menerima Islam. Oleh karenanya, hanya dengan menjadi muslim, seseorang mendapatkan kesempatan untuk tunduk pada Tuhan.

Awal Untuk Meniru Akhlak Allah

#Catatan 11

“Berakhlaklah kamu dengan akhlak Allah.” Begitulah sabda Nabi Muhammad SAW, yang seakan hendak menegaskan pertanyaan bagaimana dan apa rujukan akhlaqul karimah ? “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu dapat menyeru, karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (Asma’ul Husna)” (Al-Isra’ [17]: 110). Menyeru atau lazim diterjemahkan berdoa di sini adalah menarik sifat atau dapat juga suatu perbuatan Allah ke dalam diri kita. Mereplika perilaku Tuhan ke dalam diri untuk aktual menjadi orangnya Tuhan. Jadi meng-Allah. Dalam idiom Jawa disebutkan “Ngalah luhur wekasane”, yang konon kata ngalah bukan dari kata kalah, melainkan dari kata nga-Allah yang berarti menuju ke Allah. Yang berarti manunggal atau menyatu diri dengan perilaku Tuhan.

Sabtu, 10 Januari 2015

Agama Budi Pekerti

#Catatan 10

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam” (Ali Imran [3]: 19) dan ayat “Sungguh yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa” (Al-Hujurat [49]: 13). Kalau disandingkan “agama” dengan “yang paling mulia di antara kamu”, jelaslah bahwa agama merupakan sisi luaran atau yang kelihatan dari manusia. Dari dalam diri manusia yag tersembunyi dan merupakan rambu-rambu yang akan selalu mengingatkannya adalah hati nurani. Hati nurani ialah kepribadian seseorang. Dus dengan demikian agama, sesungguhnya merupakan pelembagaan hati nurani. Hati nurani yang privat, individual, dan tersembunyi, yang menandakan kepribadian, oleh adanya pelembagaan, yaitu agama, menjadi terbuka, menyentuh publik. Sehingga saya tak sepakat kalau dikatakan bahwa agama itu urusan pribadi. Padahal tidaklah demikian. Yang pribadi itu hati nurani. Yang akan mengontrol manusia secara pribadi itu suara hati nurani.

Humanitarianisme

#Catatan 9

Humanisasi dari kata humanis, dari kata latin humanus yang berarti bersifat manusiawi, sesuai  dengan kodrat manusia. Jadi humanisasi artinya memanusiakan manusia; menghilangkan “kebendaan”, ketergantungan, kekerasan, dan kebencian dari manusia. Dalam pandangan humanistis, manusia itu bermartabat luhur, dan berpotensi tinggi. Namun demikian, bagi beribu, mungkin berjuta manusia, tertutup oleh keadaan serba kekurangan, kemiskinan, tertekan, tertindas, dan terbelenggu. Sehingga potensi dan keluhuran manusia menjadi suram. Kondisi sosial telah berhasil menenggelamkannya. Bahkan dewasa ini, dengan kemajuan era digital, serba online, keluhuran manusia kian tercabik, kemiskinan dan kesenjangan kian meluas.

Jumat, 09 Januari 2015

Kiblat Shalat Humanisasi

#Catatan 8

Adalah teks suci Al-Isra’ [17] : 1, “Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami.”, merupakan penegasan akan perlunya melakukan safari internal. “Allah memperjalankan hamba-Nya”, menunjukkan subjek kehidupan ini adalah Allah. Allah sebab segala sesuatu di alam semesta. Allah yang memperjalankan, dan kita (segenap para hamba) diperjalankan. Allah subjek, kita adalah objek. Pada “malam hari”, artinya dunia tempat kita berpijak dalam kondisi gelap, tidak jelas petanya. Sebagai objek tiada cara yang patut dilakukan selain menurut dengan kehendak sang subjek, agar selamat sampai tujuan.

Kamis, 08 Januari 2015

Menarik Ego Umat

#Catatan 7

Pagi selalu menjanjikan harapan. Seiring cahaya matahari yang mengintip di ufuk, saat itu pula impian-impian semalam buyar, dan hendak diwujudkan. Mewujudkan impian, menyatakan cita-cita. Dan itu dimulai pagi hari. Ya, pagi memang menjanjikan. Setiap kita bersiap untuk mengukur ruang, bersafari eksternal menumpang waktu. Safari eksternal ? Safari atau perjalanan melongok keluar, berlepas dari ikatan diri untuk menghimpun dan menawarkan perolehan. Safari eksternal adalah wujud empati sosial kita, dari institusi terkecil keluarga hingga meluas yang bersinggungan dengan political society. Safari eksternal merupakan eksternalisasi maupun objektifikasi atas keyakinan internal yang tertanam dalam di kedalaman sanubari kita.

Semesta Diri


#Catatan 6

Dalam serial epik Mahabharata, sering dibicarakan tentang harga diri. Seorang Bisma, demi menjaga martabat Santanu dan Hastinapura, rela membujang seumur hidup dan menarik diri dari kedudukan putra mahkota. Pandawa lima putra Pandu, juga demikian. Mereka selalu mengalah oleh perilaku curang saudara mereka Kurawa, rela mengasingkan diri ke hutan, membangun tahta Indraprasta. Karna, Raja Angga, tak kalah istimewa dengan Arjuna. Karna, meski berpihak pada Duryodhana, tetapi ia tahu betul bahwa memegang kata-kata, sekalipun harus bermusuhan dengan saudara-saudaranya, harus dijaga seutuh hidup hingga ajal menjemput. Itulah serial Mahabharata, yang versi asli India, jauh lebih menggugah ketimbang versi Jawa. Saya dan istri menuntaskan serial tersebut, tak jarang, kami sering kali terpaksa menitikkan air mata, lantaran haru dengan ceritanya yang menghentak perasaan. Ibu Kunti, yang bertahun-tahun menjaga rahasia, tentang identitas asli Karna, demi nama baik Pandawa, anaknya,  dan Pandu, suaminya. Ya, Ibu Kunti sedia bertahun-tahun dalam kesakitan sebagai pendosa.

Rabu, 07 Januari 2015

Martabat Kita: Iman dan Amal

#Catatan 5

Sachiko Murata dalam bukunya “The Tao of Islam” memaparkan secara apik perihal peran dan fungsi hamba dan wakil Tuhan. Dijelaskannya bahwa Tuhan Yang Esa dapat dilihat dari dua sudut pandang, pertama, kejauhan dan ketakterbandingan Tuhan. Kedua, keserupaan dan kedekatan-Nya. Dalam kejauhan dan ketakterbandingan Tuhan, manusia beserta seluruh makhluk yang menghuni jagad raya itu adalah hamba-hamba-Nya dan mesti tunduk pada kehendak-Nya. Sementara berkaitan dengan keserupaan dan kedekatan-Nya, manusia memiliki peran khusus yang harus dimainkan. Manusia diciptakan dalam citra Allah, sehingga hanya manusia saja yang mempunyai kualitas ciptaan sekaligus pencipta. Manusia memiliki sifat-sifat seperti semesta, tetapi juga memiliki kehendak layaknya Tuhan. Oleh karenanya, hanya manusia sajalah yang sanggup menjadi wakil (khalifah) Allah di muka bumi.

Hamba Sekaligus Wakil-Nya

#Catatan 4

Kesungguhan dalam menggunakan nalar, akal sehat atau common sense, merupakan  jalan yang tepat dalam menggarap diri, menanggapi semesta, berinteraksi sosial, dan menyambung hubungan dengan Tuhan. Akal sehat tiada lain merupakan puncak anugerah Tuhan yang diberikan hanya untuk makhluk sebaik-baik ciptaan-Nya, yaitu kita umat manusia. Dunia binatang, sebaik-baik anugerah dari-Nya berupa hadirnya dorongan nafsu. Dunia tetumbuhan, berupa kemampuan untuk tumbuh, beregenerasi. Sementara benda-benda mati, batu, pasir, udara, air, hingga bintang-bintang di angkasa, galaksi-galaksi, hanya memiliki potensi, memiliki muatan nilai keberadaan, yang suci, murni. Benda-benda mati itu suci, potensi di baliknya masih bebas nilai, tergantung sifat si pemakainya.

Bara Api Common Sense

#Catatan 3

Perilaku individualis, yang mementingkan diri sendiri, tidak memperdulikan kondisi orang lain, praktis menggejala di komplek Perumahan Bukit Asri II, dua tahun setelah saya tinggal menjadi salah satu penghuni tetapnya. Memang plus minus, sebagaimana sebelumnya saya katakan. Individualis, kata sifat yang berarti ‘perorangan’, ‘pribadi’, yang mengandaikan perorangan memiliki kedudukan utama. Setiap kepentingannya merupakan urusan yang tertinggi. Sekali lagi, tidak hitam putih, tetapi yang tepat adalah plus minus. Ada kelebihan sekaligus kekurangan yang menghinggapinya.

Selasa, 06 Januari 2015

Hukum Plus Minus

#Catatan 2

Melakoni ketidakwajaran. Menempuh jalan yang tak wajar, yang tak lazim, bukan perkara mudah. Yang tak wajar berarti kesendirian. Kecil kemungkinan orang lain tertarik untuk menirunya. Terlebih lagi di tengah semangat rasa kolektivitas warga perumahan baru. Tahun 2008, Perumahan Bukit Asri II, tempat saya tinggal, masih terhitung baru. Hanya 9 (sembilan) kepala keluarga yang menghuni. Lantaran kebaruannya, maka jiwa korsa, rasa kebersamaan masih kental. Segalanya dibicarakan dan diangkat bersama-sama. Seperti masalah air, yang tak lancar, kami bereskan secara jamaah. Kami datangi ramai-ramai pengembang. Sehingga air pun lancar sampai sekarang. Belum lagi masalah jalan yang masih becek, akibat belum dipaving. Resolusinya, kembali kami menggeruduk pengembang.

Melakoni Ketidakwajaran

#Catatan 1

Kacamata disini, saya maksudkan sebagai catatan yang mencoba menekuni apa-apa yang sudah dan sedang terjadi, dengan perangkat lensa cara pandang yang menormalkan atau mempertajam penglihatan. Tentu saja, lensa cara pandang ini bersifat subjektif. Tidak bisa dijadikan acuan objektif sebagai teori yang tepat untuk semua. Subjektif tersebut, sebagai wujud keterbatasan saya dalam memandang persoalan, sehingga, barangkali hanya tepat untuk saya dan keluarga, bahkan bisa jadi hanya pas untuk diri saya sendiri. Semoga dalam keterbatasan ini, secara ilmu maupun cara pemaparan, tetap ada manfaatnya. Kalau pun tidak bermanfaat, semoga saja tidak mengundang masalah. 

Ayo, nikmati saja, sembari nongkrong dimana pun saja kita berada. Sembari menikmati sajian keadaan maupun kenyataan yang melanda masing-masing kita. Usah risau dengan yang akhir, apa pun itu, termasuk dalam mencandai catatan ini. 

Masalah Mitos

Telah disebutkan bahwa mitos ialah abstraksi dari yang konkret. Menghindari yang konkret, memasuki yang abstrak.  Kesadaran nilai, iman, dan pengertian-pengertian  itu abstrak, merupakan sisi dalam, penting untuk pengembangan awal, membentuk kepribadian. Membentuk kepribadian, membangun diri musti dari yang abstrak, yaitu kesadaran nilai. Bukan terlebih dahulu dengan yang konkret, kepentingan material. Tetapi giliran melayani kepentingan sosial, menolong kebutuhan orang lain, atau hendak berbuat kebajikan, sisi luar yang konkret, kebutuhan ekonomilah yang diperlukan. Yang abstrak tidak dibutuhkan lagi. Dari sini jelas, saat apa musti berlaku abstrak, dan kepada siapa musti menawarkan yang konkret. Abstrak adalah ranah dalam, membentuk pribadi, membangun internal, sedang yang konkret adalah penawaran nilai perolehan kepada eksternal, pada orang lain. Abstrak untuk internalisasi, mencipta realitas subjektif dan realitas simbolik, sementara yang konkret untuk eksternalisasi, mencipta realitas objektif.

Senin, 05 Januari 2015

2015 Tanpa Mitos

Tahun 2015 ! Kaki kita kini sudah menjejakkan langkah di tahun 2015. Ada kisah yang sudah terlewat pada tahun sebelumnya. Lenyap tak berbekas hingga memasuki tahun yang berbeda. Namun ada juga yang terselip, masih terus mengekor, setia bertahan hingga sekarang. Saya mencatat salah satu yang menyelip itu adalah “mitos”. Tahun-tahun sebelumnya, warna budaya dan politik negeri ini tidak jauh dari mitos. Budaya naga dina, hari kurang baik, bercokol kuat di benak masyarakat, terutama Jawa, lebih spesifik lagi Jawa Tengah, masuk yang lebih khusus, Solo sekitarnya.