#Catatan 9
Humanisasi dari kata humanis, dari kata latin humanus yang berarti bersifat manusiawi, sesuai dengan kodrat manusia. Jadi humanisasi artinya memanusiakan manusia; menghilangkan “kebendaan”, ketergantungan, kekerasan, dan kebencian dari manusia. Dalam pandangan humanistis, manusia itu bermartabat luhur, dan berpotensi tinggi. Namun demikian, bagi beribu, mungkin berjuta manusia, tertutup oleh keadaan serba kekurangan, kemiskinan, tertekan, tertindas, dan terbelenggu. Sehingga potensi dan keluhuran manusia menjadi suram. Kondisi sosial telah berhasil menenggelamkannya. Bahkan dewasa ini, dengan kemajuan era digital, serba online, keluhuran manusia kian tercabik, kemiskinan dan kesenjangan kian meluas.
Humanisasi dari kata humanis, dari kata latin humanus yang berarti bersifat manusiawi, sesuai dengan kodrat manusia. Jadi humanisasi artinya memanusiakan manusia; menghilangkan “kebendaan”, ketergantungan, kekerasan, dan kebencian dari manusia. Dalam pandangan humanistis, manusia itu bermartabat luhur, dan berpotensi tinggi. Namun demikian, bagi beribu, mungkin berjuta manusia, tertutup oleh keadaan serba kekurangan, kemiskinan, tertekan, tertindas, dan terbelenggu. Sehingga potensi dan keluhuran manusia menjadi suram. Kondisi sosial telah berhasil menenggelamkannya. Bahkan dewasa ini, dengan kemajuan era digital, serba online, keluhuran manusia kian tercabik, kemiskinan dan kesenjangan kian meluas.
Dari menit awal, jelas Islam
punya kepentingan untuk mengembalikan martabat dan keluhuran manusia itu. Islam berkepentingan dengan humanisasi,
oleh karena itu saya memberanikan untuk mendefinisikan kiblat shalat adalah
humanisasi, bukan ketuhanan atau tauhid. Ketuhanan atau tauhid sudah dengan
sendirinya, bahwa manusia memang berorientasi pada sesuatu yang tinggi dan
ghaib. Siapa pun dia dan agama apa pun itu, akan selalu mengarahkan umat
manusia untuk meyakini adanya dzat penguasa. Islam nenyebutnya Allah. Dalam
Islam, tujuan hidup adalah pengabdian sepenuhnya kepada-Nya (Az-Zariyat[51]:
56). Dan wujud dari pengabdian itu tiada lain adalah berbuat kebajikan terhadap
sesama umat manusia. Tujuannya Allah, namun arah aktualisasinya adalah umat
manusia. “Barang siapa yang mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah
dia mengerjakan kebajikan” (Al-Kahfi [18]: 110).
Ada kontinuitas antara perbuatan Ilahiah dengan perbuatan kemanusiaan.
Sebut saja, zakat fitrah, perbuatan kemanusiaan, membebaskan sesama dari
belenggu kemiskinan, dimaksudkan untuk membersihkan puasa, yang merupakan
perbuatan Ilahiah. Orang tidak kuat
berpuasa, sebagai gantinya adalah membayar fidyah,
yaitu memberi makan fakir miskin. Islam adalah agama yang tak bisa dipisahkan
dengan laku menegakkan humanisasi, pembelaan terhadap yang kekurangan. Orang
yang tak peduli terhadap kehidupan ekonomi orang miskin, diancam Tuhan dengan
neraka, sebagai pendusta, penipu agama (baca surat Al-Maun). “Dan mengapa kamu
tidak mau berjuang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah
(tertindas)...” (An-Nisa’ [4]: 75).
Penegasan adanya humanisasi, juga
bisa kita rasakan dari basmalah, bismillahi rahmanirahim. Kalimat pembuka
dari setiap perbuatan baik kita. Ar-Rahman,
Mahapengasih, berupa anugerah fasilitas dan aset dari Tuhan untuk memenuhi
kebutuhan hidup manusia. Ar-Rahim,
Mahapenyayang, aset fasilitas yang telah dimilikinya, mesti diteruskan dengan
mengulurkannya kepada pihak lain. Menawarkan fasilitas itu sebagai tanda telah
dimilikinya rasa cinta kasih, telah memiliki rahim. “Tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang memiliki
kasih sayang” (hadis). Seseorang yang memiliki cinta kasih, tidak akan
membiarkan yang dia cintai dalam keadaan lapar, bodoh, dan teraniaya.
Memberikan cinta kasih, menawarkan aset diri yang dimilikinya, adalah ujud
nyata dari sifat ar-Rahim. Ar-Rahman, dari Tuhan, bermuara pada Ar-Rahim, yang melibat orang lain untuk
menyatakan kasih sayang. Ar-Raham tak akan bermakna, tidak bernilai kalau tak
berujung dengan Ar-Rahim. Fasilitas harta yang melimpah, ilmu pengetahuan yang
luas, dan tenaga fisik yang kuat, kiranya tak akan punya makna keberadaan, jika
tidak digunakan untuk memberantas kemiskinan, kebodohan, dan ketergantungan.
Nilai keimanan seseorang, tidak
dilihat dari ritual ibadah mahdhah,
tidak dari rutinitas shalat yang tak pernah ketinggalan, melainkan dari
kepduliannya untuk memperbaiki kondisi hidup manusia. Yaitu kondisi manusia
yang terhisap, tertindas, dan tersingkir. Seorang mukmin akan memiliki makna
keberadaan dengan keterlibatannya pada tindak humanitarianistis. Memberi dana
kepada rumah yatim piatu, berbuat amal bagi kaum miskin, menjadi orangtua asuh,
mendidik keterampilan kepada kawula muda, atau sebatas menyediakan ruang
tamunya untuk layanan belajar gratis. Pendek kata, Islam merupakan agama
humanitarian. Agama yang gelisah dengan kesenjangan. Rukun Islam yang lima itu,
akan bermuara dengan orientasi pada pengentasan kesenjangan. Ikrar sahadat ada
dua nilai kepentingan yaitu Allah dan Rasul. Allah sebagai tujuan, dan Rasul
sebagai referensi sosok yang abul yatama,
bapak kaum yatim. Shalat, pun demikian, bermuara pada salam, menegakkan keselamatan
dan kesejahteraan pada lingkungan sekitar. Lebih-lebih zakat, sebagai ibadah
sosial yang hendak memberantas kemiskinan. Puasa, sebagai pengendapan kesadaran
akan kekurangan orang lain. Dan terakhir haji, akan disebut mabrur, jika
sanggup membebaskan belenggu kesenjangan yang terjadi di lingkungannya.
Jadi Islam adalah
humanitarianisme.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar