Agenda bersama Of the Book, bikin
Rakhe makin mantap dengan obsesinya tentang kontekstualisasi Islam. Ia tak
muluk dengan rencananya itu. Awal ini yang ia lakukan adalah mengumpulkan bahan
bacaan yang berhubungan dengan gagasan kebebasan beragama dan berkeyakinan. Ia telah
dapatkan puluhan judul buku yang berkaitan dengan Islam moderat. Buku-bukunya
Khaled Abou El Fadl, salah satu favoritnya, selain tentunya Ulil Abshar, dan
tokoh-tokoh Paramadina. Isa, sang kakak, telaten menemani Rakhe dalam
mewujudkan obsesinya. Berkaitan dengan ide gagasan, kakak adik itu memang tak
ada perbedaan. Keduanya sama-sama memuja pluralisme dan anti puritanisme. Bedanya
hanya masalah style. Isa lebih sabar dan
tenang ketimbang Rakhe dalam menghadapi persoalan. Isa juga cenderung nrimo alias pasrah atas sesuatu yang
kurang berkenan. Sedang Rakhe, keras kepala tak mau mengalah atas keyakinan
yang dipercayainya. Pasangan kakak beradik yang saling melengkapi.
Of the Book, obsesi mereka
berdua, yaitu sebuah perpustakaan keluarga yang didayagunakan untuk lingkungan
sekitar, dengan menyajikan bahan bacaan yang tak umum. Tak umum karena lazimnya
taman baca atau perpustakaan desa akan menyediakan buku-buku yang berhubungan
dengan “kebutuhan” masyarakat sekitar. Of the Book, tidak berangkat berdasar
kebutuhan masyarakat sekitar, melainkan kepingin
menggiring opini masyarakat tentang paham kemajemukan. Oleh karena itu,
wajarlah kalau mereka berdua tak ingin mendaftarkan Of the Book ke dinas
pendidikan sebagai TBM maupun ke KPAD sebagai pojok baca atau perpustakaan
desa. “Biar saja kita tak dikenal oleh aparat pemerintah, karena yang utama
kemanfaatan kita di masyarakat,” itu yang dikatakan Rakhe ke Isa.
“Sebetulnya yang kita lakukan ini
kan membantu pemerintah to, Kak. Jadi untuk apa kita mesti melaporkan aktivitas
‘of the Book’ ke Dinas Pendidikan, kalau ujungnya hanya akan menyenangkan para
pemangku kebijakan itu saja. Sedangkan masyarakat saja hingga kini tak
menikmati sepenuhnya dari langkah ‘of the Book’. Masyarakat sekitar kita ini
masih cuek, apatis dengan kehadiran ‘of the Book’. Mereka belum menganggap
penting atas tradisi baca. Belum menganggap perlu atas adanya buku-buku yang
dapat dibaca secara gratis. Tapi tenang saja, Kak ! Adikmu ini insya Allah akan
terus bersemangat, meski masyarakat apatis, dan negara menutup mata. Toh yang
penting bagi kita adalah sampainya gagasan kebebasan beragama dan berkeyakinan
kepada masyarakat, baik anak-anak, para kawula muda, maupun para orangtua. Yang
utama bagi kita itu kan buku-buku ‘of the Book’ dibaca oleh tetangga
lingkungan. Udah cukup, itu saja kan?”
“Yupz, sepakatlah...”
“Jangan cuma bilang sepakat dong,
Kak ! Komentar apalah yang bisa menggairahkan pemikiranku.”
“Ya kamu tahu kan, kakakmu ini
tak sebaik dirimu dalam memberikan argumentasi. Kakakmu tak secanggih kamu
dalam beretorika. Jadi ya mending mengiyakan saja setiap omonganmu. Tapi OK
kok. Kuakui kamu itu cerdas dan berkarakter. Wawasanmu tak kalah denganku yang
sudah seabreg buku kulahap. Pokoknya jempol empat dech untuk adikku..hehehe....”
Beruntung memang Rakhe memiliki
Ahimsa, nama lengkap Isa, yang selalu berada disampingnya untuk meneguhkan dan
membantu Rakhe wujudkan impian-impiannya. Rakhe yang cepat menangkap persoalan dan
tak jarang sering grusa-grusu, dibantu
oleh kakaknya yang telaten mengurai benang ruwet masalah.
Of the Book, yang merupakan
kependekan dari Conference of the Book, mereka dedikasikan untuk merawat
kebiasaan baca masyarakat lingkungan. Mereka meyakini kebiasaan baca masyarakat
negeri ini sebetulnya tidak rendah. Problem literasi yang melanda negeri,
bukanlah aliterasi, minat baca kurang, tetapi iliterasi yaitu kemampuan
memahami bacaan yang kurang. Dari analisa itulah yang kemudian memantapkan
mereka untuk lebih fokus pada pengadaan buku yang berbobot, bukan buku-buku how
to. Buku berbobot yang mereka maksudkan adalah yang buku-buku yang masih ada
erat hubungannya dengan gagasan kemajemukan, toleransi, dan keterbukaan. Dan hal
itu tidak mesti buku-buku nonfiksi. Tak sebatas buku-buku ilmiah karya
disertasi, sebab fiksi pun tetap relevan dengan ambisi Rakhe, sepanjang gagasan
utama yang tersaji adalah kemajemukan.
Meskipun yang mereka angankan
adalah gagasan toleransi dan pluralisme, bukan berarti tema selain itu tak
berbobot. Cuma ini masalah prioritas. Baik Rakhe maupun Ahimsa, berpikir bahwa
yang masih jadi ganjalan kehidupan di negeri ini adalah paham kemajemukan yang
tak merata. Hal itu diperkuat dengan makin mengemukanya dakwah Islam puritan. Islamisasi
ruang publik, bagi Ahimsa dan Rakhe, tak mencerminkan etikat baik dari kaum
islamist itu untuk menjaga kemajemukan Republik Indonesia. Indonesia adalah
negeri gado-gado. Di sini semuanya ada, dan sama-sama berhak menikmati dan
mengekspresikan kediriannya secara bebas. Jadi semangat yang diusung kaum
puritan yang memaksakan model penafsiran literal tak sejalan dengan semangat
nenek moyang menancapkan paham ‘bhinneka tunggal ika’.
Akhirnya, bersama of the Book,
Rakhe benar-benar bisa beraktualisasi diri. Ia ujudkan impiannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar