Kamis, 12 Februari 2015

Paham Bhinneka

Agenda bersama Of the Book, bikin Rakhe makin mantap dengan obsesinya tentang kontekstualisasi Islam. Ia tak muluk dengan rencananya itu. Awal ini yang ia lakukan adalah mengumpulkan bahan bacaan yang berhubungan dengan gagasan kebebasan beragama dan berkeyakinan. Ia telah dapatkan puluhan judul buku yang berkaitan dengan Islam moderat. Buku-bukunya Khaled Abou El Fadl, salah satu favoritnya, selain tentunya Ulil Abshar, dan tokoh-tokoh Paramadina. Isa, sang kakak, telaten menemani Rakhe dalam mewujudkan obsesinya. Berkaitan dengan ide gagasan, kakak adik itu memang tak ada perbedaan. Keduanya sama-sama memuja pluralisme dan anti puritanisme. Bedanya hanya masalah style. Isa lebih sabar dan tenang ketimbang Rakhe dalam menghadapi persoalan. Isa juga cenderung nrimo alias pasrah atas sesuatu yang kurang berkenan. Sedang Rakhe, keras kepala tak mau mengalah atas keyakinan yang dipercayainya. Pasangan kakak beradik yang saling melengkapi.


Of the Book, obsesi mereka berdua, yaitu sebuah perpustakaan keluarga yang didayagunakan untuk lingkungan sekitar, dengan menyajikan bahan bacaan yang tak umum. Tak umum karena lazimnya taman baca atau perpustakaan desa akan menyediakan buku-buku yang berhubungan dengan “kebutuhan” masyarakat sekitar. Of the Book, tidak berangkat berdasar kebutuhan masyarakat sekitar, melainkan kepingin menggiring opini masyarakat tentang paham kemajemukan. Oleh karena itu, wajarlah kalau mereka berdua tak ingin mendaftarkan Of the Book ke dinas pendidikan sebagai TBM maupun ke KPAD sebagai pojok baca atau perpustakaan desa. “Biar saja kita tak dikenal oleh aparat pemerintah, karena yang utama kemanfaatan kita di masyarakat,” itu yang dikatakan Rakhe ke Isa.

“Sebetulnya yang kita lakukan ini kan membantu pemerintah to, Kak. Jadi untuk apa kita mesti melaporkan aktivitas ‘of the Book’ ke Dinas Pendidikan, kalau ujungnya hanya akan menyenangkan para pemangku kebijakan itu saja. Sedangkan masyarakat saja hingga kini tak menikmati sepenuhnya dari langkah ‘of the Book’. Masyarakat sekitar kita ini masih cuek, apatis dengan kehadiran ‘of the Book’. Mereka belum menganggap penting atas tradisi baca. Belum menganggap perlu atas adanya buku-buku yang dapat dibaca secara gratis. Tapi tenang saja, Kak ! Adikmu ini insya Allah akan terus bersemangat, meski masyarakat apatis, dan negara menutup mata. Toh yang penting bagi kita adalah sampainya gagasan kebebasan beragama dan berkeyakinan kepada masyarakat, baik anak-anak, para kawula muda, maupun para orangtua. Yang utama bagi kita itu kan buku-buku ‘of the Book’ dibaca oleh tetangga lingkungan. Udah cukup, itu saja kan?”

“Yupz, sepakatlah...”

“Jangan cuma bilang sepakat dong, Kak ! Komentar apalah yang bisa menggairahkan pemikiranku.”

“Ya kamu tahu kan, kakakmu ini tak sebaik dirimu dalam memberikan argumentasi. Kakakmu tak secanggih kamu dalam beretorika. Jadi ya mending mengiyakan saja setiap omonganmu. Tapi OK kok. Kuakui kamu itu cerdas dan berkarakter. Wawasanmu tak kalah denganku yang sudah seabreg buku kulahap. Pokoknya jempol empat dech untuk adikku..hehehe....”

Beruntung memang Rakhe memiliki Ahimsa, nama lengkap Isa, yang selalu berada disampingnya untuk meneguhkan dan membantu Rakhe wujudkan impian-impiannya. Rakhe yang cepat menangkap persoalan dan tak jarang sering grusa-grusu, dibantu oleh kakaknya yang telaten mengurai benang ruwet masalah.

Of the Book, yang merupakan kependekan dari Conference of the Book, mereka dedikasikan untuk merawat kebiasaan baca masyarakat lingkungan. Mereka meyakini kebiasaan baca masyarakat negeri ini sebetulnya tidak rendah. Problem literasi yang melanda negeri, bukanlah aliterasi, minat baca kurang, tetapi iliterasi yaitu kemampuan memahami bacaan yang kurang. Dari analisa itulah yang kemudian memantapkan mereka untuk lebih fokus pada pengadaan buku yang berbobot, bukan buku-buku how to. Buku berbobot yang mereka maksudkan adalah yang buku-buku yang masih ada erat hubungannya dengan gagasan kemajemukan, toleransi, dan keterbukaan. Dan hal itu tidak mesti buku-buku nonfiksi. Tak sebatas buku-buku ilmiah karya disertasi, sebab fiksi pun tetap relevan dengan ambisi Rakhe, sepanjang gagasan utama yang tersaji adalah kemajemukan.

Meskipun yang mereka angankan adalah gagasan toleransi dan pluralisme, bukan berarti tema selain itu tak berbobot. Cuma ini masalah prioritas. Baik Rakhe maupun Ahimsa, berpikir bahwa yang masih jadi ganjalan kehidupan di negeri ini adalah paham kemajemukan yang tak merata. Hal itu diperkuat dengan makin mengemukanya dakwah Islam puritan. Islamisasi ruang publik, bagi Ahimsa dan Rakhe, tak mencerminkan etikat baik dari kaum islamist itu untuk menjaga kemajemukan Republik Indonesia. Indonesia adalah negeri gado-gado. Di sini semuanya ada, dan sama-sama berhak menikmati dan mengekspresikan kediriannya secara bebas. Jadi semangat yang diusung kaum puritan yang memaksakan model penafsiran literal tak sejalan dengan semangat nenek moyang menancapkan paham ‘bhinneka tunggal ika’.

Akhirnya, bersama of the Book, Rakhe benar-benar bisa beraktualisasi diri. Ia ujudkan impiannya.  

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar