#Catatan 4
Kesungguhan dalam menggunakan nalar, akal sehat atau common sense, merupakan jalan yang tepat dalam menggarap diri, menanggapi semesta, berinteraksi sosial, dan menyambung hubungan dengan Tuhan. Akal sehat tiada lain merupakan puncak anugerah Tuhan yang diberikan hanya untuk makhluk sebaik-baik ciptaan-Nya, yaitu kita umat manusia. Dunia binatang, sebaik-baik anugerah dari-Nya berupa hadirnya dorongan nafsu. Dunia tetumbuhan, berupa kemampuan untuk tumbuh, beregenerasi. Sementara benda-benda mati, batu, pasir, udara, air, hingga bintang-bintang di angkasa, galaksi-galaksi, hanya memiliki potensi, memiliki muatan nilai keberadaan, yang suci, murni. Benda-benda mati itu suci, potensi di baliknya masih bebas nilai, tergantung sifat si pemakainya.
Kesungguhan dalam menggunakan nalar, akal sehat atau common sense, merupakan jalan yang tepat dalam menggarap diri, menanggapi semesta, berinteraksi sosial, dan menyambung hubungan dengan Tuhan. Akal sehat tiada lain merupakan puncak anugerah Tuhan yang diberikan hanya untuk makhluk sebaik-baik ciptaan-Nya, yaitu kita umat manusia. Dunia binatang, sebaik-baik anugerah dari-Nya berupa hadirnya dorongan nafsu. Dunia tetumbuhan, berupa kemampuan untuk tumbuh, beregenerasi. Sementara benda-benda mati, batu, pasir, udara, air, hingga bintang-bintang di angkasa, galaksi-galaksi, hanya memiliki potensi, memiliki muatan nilai keberadaan, yang suci, murni. Benda-benda mati itu suci, potensi di baliknya masih bebas nilai, tergantung sifat si pemakainya.
Akal sehat tersebut bersanding
dengan nurani, sehingga mengarah pada kebajikan, mengarah pada sumber
pengetahuan, sumber kehidupan, yakni Tuhan. Maka tidak ada ceritanya,
orang-orang yang bersetia memegang nurani dan akal sehat, itu bisa berbuat yang
tak senonoh, berbuat yang menjauh dari Tuhan. Lantaran hakikat perbuatan baik
itu milik-Nya. Oleh karenanya, manusia dengan sendirinya pasti senantiasa ingin
berbuat baik, menebar kebajikan, memberikan manfaat pada yang lain. Orangtua ingin
selalu memberikan yang terbaik buat anaknya. Seorang suami pasti akan berbuat
yang sebaik mungkin demi kebahagiaan sang istri, pun sebaliknya. Singkat kata, hakikat
manusia pada tindak laku baiknya, karena itu merupakan tindakan Tuhan.
Dalam kenyataan, kita saksikan
ada manusia yang sanggup berbuat durjana, korupsi, mencuri uang negara ? Itu
bukan perbuatan Tuhan yang bertajalli dalam diri manusia, melainkan perbuatan
binatang, yang memperturutkan hawa nafsunya, dan bertajalli dalam raga manusia.
Perbuatan yang berdasar insting, hasrat keinginan, merupakan puncak anugerah
Tuhan untuk hewan atau binatang, bukan untuk manusia. Sehingga kalau sekiranya
manusia melakukan tindak kejahatan, melakukan kecurangan, menuruti dorongan
nafsu tanpa pertiimbangan suara nurani, hakikatnya ia bukan lagi sosok manusia,
tetapi turun martabatnya setara dengan binatang. Oleh Tuhan dalam teks
suci-Nya, disetarakan dengan hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi, dan
dikatakan sebagai orang-orang yang lengah (Al-A’raf [7] :179).
Tindak ketidaksucian,
mengutamakan diri sendiri, enggan berbagi dan tabu untuk memenangkan orang lain,
sekali lagi, bukanlah watak asli manusia yang cenderung hanif, cenderung pada
kebenaran. Akal sehat mengarah pada Tuhan, sebagaimana bunga-bunga dan dedaunan
yang senantiasa mengarah pada cahaya matahari. Dorongan nafsu akan selalu
mengalihkan perhatian kita dari keagungan Tuhan, lantaran dorongan nafsu bukan
puncak anugerah buat manusia. Dorongan nafsu adalah kendaraan hewan yang
dihadirkan oleh-Nya buat melayani kebutuhan manusia, sebagaimana
tumbuh-tumbuhan dan benda mati anorganik yang juga ada untuk memenuhi hajat hidup
manusia. Sementara kita umat manusia, bukan ada untuk melayani kebutuhan
mereka, warga semesta alam (cipataan selain manusia—benda mati, tumbuhan, dan
binatang), tetapi mengelolanya untuk pijakan menuju Tuhan. Dari sini jelaslah,
bahwa umat manusia itu berada di tengah persis di antara semesta alam dan
Tuhan. Terhadap alam semesta, manusia adalah wakil Tuhan untuk mengatur proses
tumbuh kembangnya, meneliti muatan yang dikandung di dalamnya, dan sebagainya. Terhadap
Tuhan, manusia adalah hamba-Nya, pesuruh yang mendapat mandat dari warga
semesta, mengadukan segala kebutuhan buat kelangsungan hidup dan keberadaan mereka.
Itulah sikap hidup umat manusia
yang semestinya. Sebagai wasit yang berdiri persis di tengah antara Tuhan dan
semesta raya. Berada di tengah-tengah melayani kebutuhan Tuhan dan melayani
kebutuhan semesta. Kebutuhan Tuhan ? Ya, kebutuhan-Nya, yang tak lain adalah
kelangsungan hidup seluruh makhluk ciptaan-Nya. Menunaikan hak Tuhan adalah mengambil
peran Tuhan, menjadi wakil-Nya. Peran Tuhan adalah memenuhi janji-Nya yang akan
selalu mendengar dan mengabulkan doa-doa hamba-Nya. Dengan demikian menunaikan
hak-Nya, tak lain adalah memenuhi kebutuhan setiap makhluk cipataan-Nya. Saban hari,
tidak lupa kita sirami tanaman-tanaman depan rumah, kasih makan secukupnya
hewan ternak yang jadi tanggungan kita, memberikan uang receh pada setiap
peminta yang mengetuk pintu rumah kita, dan siap menyingsingkan lengan baju
kala ada tetangga yang membutuhkan pertolongan.
Melayani kebutuhan Tuhan sama
dengan mendermakan diri untuk kelangsungan hidup warga semesta. Melayani kepentingan-Nya
adalah menjalankan peran kekhalifahan, wakil Tuhan di muka bumi. Terus bagaimana
dengan melayani kebutuhan makhluk atau warga semesta ? Sama saja, yaitu
meneruskan titah Tuhan untuk mereka, yang berupa kesanggupan kita untuk selalu
menyisihkan yang kita miliki untuk mereka. Yang kelebihan harta, menyisihkan
hartanya untuk yang kekurangan. Kelebihan ilmu, menularkan pengetahuannya buat
yang lain. Yang kelebihan tenaga, selalu siap mengulurkan tenaga bantuan demi
kelangsungan stabilitas hidup pihak lain, dan begitu seterusnya. Pendek kata,
memaksimalkan akal sehat sama artinya dengan menunaikan hak Tuhan sekaligus hak
warga alam dan sosial. Menggunakan common
sense sama dengan menunaikan kewajiban sebagai hamba dan wakil-Nya. Itulah !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar