Rabu, 07 Januari 2015

Hamba Sekaligus Wakil-Nya

#Catatan 4

Kesungguhan dalam menggunakan nalar, akal sehat atau common sense, merupakan  jalan yang tepat dalam menggarap diri, menanggapi semesta, berinteraksi sosial, dan menyambung hubungan dengan Tuhan. Akal sehat tiada lain merupakan puncak anugerah Tuhan yang diberikan hanya untuk makhluk sebaik-baik ciptaan-Nya, yaitu kita umat manusia. Dunia binatang, sebaik-baik anugerah dari-Nya berupa hadirnya dorongan nafsu. Dunia tetumbuhan, berupa kemampuan untuk tumbuh, beregenerasi. Sementara benda-benda mati, batu, pasir, udara, air, hingga bintang-bintang di angkasa, galaksi-galaksi, hanya memiliki potensi, memiliki muatan nilai keberadaan, yang suci, murni. Benda-benda mati itu suci, potensi di baliknya masih bebas nilai, tergantung sifat si pemakainya.


Akal sehat tersebut bersanding dengan nurani, sehingga mengarah pada kebajikan, mengarah pada sumber pengetahuan, sumber kehidupan, yakni Tuhan. Maka tidak ada ceritanya, orang-orang yang bersetia memegang nurani dan akal sehat, itu bisa berbuat yang tak senonoh, berbuat yang menjauh dari Tuhan. Lantaran hakikat perbuatan baik itu milik-Nya. Oleh karenanya, manusia dengan sendirinya pasti senantiasa ingin berbuat baik, menebar kebajikan, memberikan manfaat pada yang lain. Orangtua ingin selalu memberikan yang terbaik buat anaknya. Seorang suami pasti akan berbuat yang sebaik mungkin demi kebahagiaan sang istri, pun sebaliknya. Singkat kata, hakikat manusia pada tindak laku baiknya, karena itu merupakan tindakan Tuhan.

Dalam kenyataan, kita saksikan ada manusia yang sanggup berbuat durjana, korupsi, mencuri uang negara ? Itu bukan perbuatan Tuhan yang bertajalli dalam diri manusia, melainkan perbuatan binatang, yang memperturutkan hawa nafsunya, dan bertajalli dalam raga manusia. Perbuatan yang berdasar insting, hasrat keinginan, merupakan puncak anugerah Tuhan untuk hewan atau binatang, bukan untuk manusia. Sehingga kalau sekiranya manusia melakukan tindak kejahatan, melakukan kecurangan, menuruti dorongan nafsu tanpa pertiimbangan suara nurani, hakikatnya ia bukan lagi sosok manusia, tetapi turun martabatnya setara dengan binatang. Oleh Tuhan dalam teks suci-Nya, disetarakan dengan hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi, dan dikatakan sebagai orang-orang yang lengah (Al-A’raf [7] :179).

Tindak ketidaksucian, mengutamakan diri sendiri, enggan berbagi dan tabu untuk memenangkan orang lain, sekali lagi, bukanlah watak asli manusia yang cenderung hanif, cenderung pada kebenaran. Akal sehat mengarah pada Tuhan, sebagaimana bunga-bunga dan dedaunan yang senantiasa mengarah pada cahaya matahari. Dorongan nafsu akan selalu mengalihkan perhatian kita dari keagungan Tuhan, lantaran dorongan nafsu bukan puncak anugerah buat manusia. Dorongan nafsu adalah kendaraan hewan yang dihadirkan oleh-Nya buat melayani kebutuhan manusia, sebagaimana tumbuh-tumbuhan dan benda mati anorganik yang juga ada untuk memenuhi hajat hidup manusia. Sementara kita umat manusia, bukan ada untuk melayani kebutuhan mereka, warga semesta alam (cipataan selain manusia—benda mati, tumbuhan, dan binatang), tetapi mengelolanya untuk pijakan menuju Tuhan. Dari sini jelaslah, bahwa umat manusia itu berada di tengah persis di antara semesta alam dan Tuhan. Terhadap alam semesta, manusia adalah wakil Tuhan untuk mengatur proses tumbuh kembangnya, meneliti muatan yang dikandung di dalamnya, dan sebagainya. Terhadap Tuhan, manusia adalah hamba-Nya, pesuruh yang mendapat mandat dari warga semesta, mengadukan segala kebutuhan buat kelangsungan hidup dan keberadaan mereka.

Itulah sikap hidup umat manusia yang semestinya. Sebagai wasit yang berdiri persis di tengah antara Tuhan dan semesta raya. Berada di tengah-tengah melayani kebutuhan Tuhan dan melayani kebutuhan semesta. Kebutuhan Tuhan ? Ya, kebutuhan-Nya, yang tak lain adalah kelangsungan hidup seluruh makhluk ciptaan-Nya. Menunaikan hak Tuhan adalah mengambil peran Tuhan, menjadi wakil-Nya. Peran Tuhan adalah memenuhi janji-Nya yang akan selalu mendengar dan mengabulkan doa-doa hamba-Nya. Dengan demikian menunaikan hak-Nya, tak lain adalah memenuhi kebutuhan setiap makhluk cipataan-Nya. Saban hari, tidak lupa kita sirami tanaman-tanaman depan rumah, kasih makan secukupnya hewan ternak yang jadi tanggungan kita, memberikan uang receh pada setiap peminta yang mengetuk pintu rumah kita, dan siap menyingsingkan lengan baju kala ada tetangga yang membutuhkan pertolongan.


Melayani kebutuhan Tuhan sama dengan mendermakan diri untuk kelangsungan hidup warga semesta. Melayani kepentingan-Nya adalah menjalankan peran kekhalifahan, wakil Tuhan di muka bumi. Terus bagaimana dengan melayani kebutuhan makhluk atau warga semesta ? Sama saja, yaitu meneruskan titah Tuhan untuk mereka, yang berupa kesanggupan kita untuk selalu menyisihkan yang kita miliki untuk mereka. Yang kelebihan harta, menyisihkan hartanya untuk yang kekurangan. Kelebihan ilmu, menularkan pengetahuannya buat yang lain. Yang kelebihan tenaga, selalu siap mengulurkan tenaga bantuan demi kelangsungan stabilitas hidup pihak lain, dan begitu seterusnya. Pendek kata, memaksimalkan akal sehat sama artinya dengan menunaikan hak Tuhan sekaligus hak warga alam dan sosial. Menggunakan common sense sama dengan menunaikan kewajiban sebagai hamba dan wakil-Nya. Itulah !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar