#Catatan 10
“Sesungguhnya agama di sisi Allah
ialah Islam” (Ali Imran [3]: 19) dan ayat “Sungguh yang paling mulia di antara
kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa” (Al-Hujurat [49]: 13). Kalau
disandingkan “agama” dengan “yang paling mulia di antara kamu”, jelaslah bahwa
agama merupakan sisi luaran atau yang kelihatan dari manusia. Dari dalam diri
manusia yag tersembunyi dan merupakan rambu-rambu yang akan selalu
mengingatkannya adalah hati nurani. Hati nurani ialah kepribadian seseorang. Dus
dengan demikian agama, sesungguhnya merupakan pelembagaan hati nurani. Hati
nurani yang privat, individual, dan tersembunyi, yang menandakan kepribadian, oleh
adanya pelembagaan, yaitu agama, menjadi terbuka, menyentuh publik. Sehingga
saya tak sepakat kalau dikatakan bahwa agama itu urusan pribadi. Padahal
tidaklah demikian. Yang pribadi itu hati nurani. Yang akan mengontrol manusia
secara pribadi itu suara hati nurani.
Sedang agama, tak sekadar urusan
pribadi. Kehadirannya merupakan sebuah institusi nurani yang otomatis akan
melibatkan banyak orang, akan mengaitkan satu persoalan dengan persoalan lain,
demi mendapatkan solusi bersama. Agama di sisi Tuhan adalah Islam, kepribadian
di sisi-Nya ialah takwa, maka gamblanglah bahwa Islam tiada lain dari
pelembagaan takwa. Islam sama dengan takwa. “Wahai orang-orang yang beriman !
Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati
kecuali dalam keadaan muslim” (Ali Imran [3]: 102). Lantas apa itu takwa ?
“Maka apakah orang-orang yang
mendirikan bangunan (masjid) atas dasar takwa kepada Allah dan keridaan-Nya itu
lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang
runtuh, lalu (bangunan) itu roboh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka
Jahanam? Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”
(At-Taubah[9]: 109). Sebuah gambaran dari teks suci, bahwa dasar hidup ada dua,
yaitu: takwa dan selain takwa. Kembali ke pertanyaan apakah takwa itu ? Takwa
ialah kesadaran yang mendalam bahwa Allah selalu hadir dalam hidup kita.
Kesadaran bahwa Allah beserta kita, Allah menyertai kita, Allah mengawasi kita
dan Allah memperhitungkan perbuatan kita. “Dan Dia bersama kamu di mana saja
kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa saja yang kamu kerjakan” (Al-Hadid
[57]: 4).
Kesadaran selalu bersama dan di
awasi oleh Allah, akan melahirkan perbuatan yang selaras dengan kehendak-Nya.
Dengan sendirinya akan terbimbing pada budi pekerti luhur. Selalu berbuat baik,
al-akhlaq al-karimah. Sabda Nabi:
“Sebaik-baik dari kalian adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. Yang
berarti takwa adalah akhlaq karimah, kemanfaatan diri pada pihak lain. Kalau
disebutkan Islam sama dengan takwa, artinya Islam sama dengan budi pekerti
luhur atau akhlaqul karimah.
“Sungguh, manusia berada dalam
kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta
saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran”
(Al-‘Asr [103]: 2-3). Disebutkan manusia dalam kerugian atau merujuk teks
sebelumnya, yang berarti, tidak dalam kondisi berada di sisi-Nya, kecuali yang
bertakwa, yaitu: yang beriman, berbuat kebajikan, dan saling menasihati dalam
kebenaran maupun kesabaran. Dengan demikian kian jelas, bahwa muatan akhlaqul
karimah itu tiada lain adalah iman, amal shalih, dan saling nasihat-menasihati.
Kembali menilik ayat 19 surat Ali
Imran, dapatlah kita baca sebagai: Sesungguhnya agama di sisi Tuhan ialah yang
menawarkan budi pekerti luhur. Hal itu selain merujuk pemaparan di atas, juga
dikaitkan dengan kehadiran Kanjeng Nabi Muhammad SAW. “Sungguh, telah ada pada
(diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang
mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat
Allah” (Al-Ahzab [33]: 21). Teladan yang bagaimana ? “Dan Kami tidak mengutus
engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam”
(Al-Anbiya’ [21]: 107). Dalam sabdanya, beliau juga menyebutkan bahwa “aku
tidak diutus kepada kalian selain untuk menyempurnakan akhlaq”. Menyempurnakan akhlaq atau budi pekerti bukan
untuk membawa agama baru. Bukan menyiarkan agama baru. Dengan begitu, saya
memastikan, setidaknya dalam diriku dan keluarga kecil saya, bahwa Islam yang
dimaksudkan dalam teks suci Al-Qur’an adalah akhlaqul karimah. Sekali lagi,
Islam adalah budi pekerti luhur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar