Sabtu, 10 Januari 2015

Agama Budi Pekerti

#Catatan 10

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam” (Ali Imran [3]: 19) dan ayat “Sungguh yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa” (Al-Hujurat [49]: 13). Kalau disandingkan “agama” dengan “yang paling mulia di antara kamu”, jelaslah bahwa agama merupakan sisi luaran atau yang kelihatan dari manusia. Dari dalam diri manusia yag tersembunyi dan merupakan rambu-rambu yang akan selalu mengingatkannya adalah hati nurani. Hati nurani ialah kepribadian seseorang. Dus dengan demikian agama, sesungguhnya merupakan pelembagaan hati nurani. Hati nurani yang privat, individual, dan tersembunyi, yang menandakan kepribadian, oleh adanya pelembagaan, yaitu agama, menjadi terbuka, menyentuh publik. Sehingga saya tak sepakat kalau dikatakan bahwa agama itu urusan pribadi. Padahal tidaklah demikian. Yang pribadi itu hati nurani. Yang akan mengontrol manusia secara pribadi itu suara hati nurani.


Sedang agama, tak sekadar urusan pribadi. Kehadirannya merupakan sebuah institusi nurani yang otomatis akan melibatkan banyak orang, akan mengaitkan satu persoalan dengan persoalan lain, demi mendapatkan solusi bersama. Agama di sisi Tuhan adalah Islam, kepribadian di sisi-Nya ialah takwa, maka gamblanglah bahwa Islam tiada lain dari pelembagaan takwa. Islam sama dengan takwa. “Wahai orang-orang yang beriman ! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim” (Ali Imran [3]: 102). Lantas apa itu takwa ?

“Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunan (masjid) atas dasar takwa kepada Allah dan keridaan-Nya itu lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu (bangunan) itu roboh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahanam? Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (At-Taubah[9]: 109). Sebuah gambaran dari teks suci, bahwa dasar hidup ada dua, yaitu: takwa dan selain takwa. Kembali ke pertanyaan apakah takwa itu ? Takwa ialah kesadaran yang mendalam bahwa Allah selalu hadir dalam hidup kita. Kesadaran bahwa Allah beserta kita, Allah menyertai kita, Allah mengawasi kita dan Allah memperhitungkan perbuatan kita. “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa saja yang kamu kerjakan” (Al-Hadid [57]: 4).

Kesadaran selalu bersama dan di awasi oleh Allah, akan melahirkan perbuatan yang selaras dengan kehendak-Nya. Dengan sendirinya akan terbimbing pada budi pekerti luhur. Selalu berbuat baik, al-akhlaq al-karimah. Sabda Nabi: “Sebaik-baik dari kalian adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. Yang berarti takwa adalah akhlaq karimah, kemanfaatan diri pada pihak lain. Kalau disebutkan Islam sama dengan takwa, artinya Islam sama dengan budi pekerti luhur atau akhlaqul karimah.
“Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran” (Al-‘Asr [103]: 2-3). Disebutkan manusia dalam kerugian atau merujuk teks sebelumnya, yang berarti, tidak dalam kondisi berada di sisi-Nya, kecuali yang bertakwa, yaitu: yang beriman, berbuat kebajikan, dan saling menasihati dalam kebenaran maupun kesabaran. Dengan demikian kian jelas, bahwa muatan akhlaqul karimah itu tiada lain adalah iman, amal shalih, dan saling nasihat-menasihati.

Kembali menilik ayat 19 surat Ali Imran, dapatlah kita baca sebagai: Sesungguhnya agama di sisi Tuhan ialah yang menawarkan budi pekerti luhur. Hal itu selain merujuk pemaparan di atas, juga dikaitkan dengan kehadiran Kanjeng Nabi Muhammad SAW. “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah” (Al-Ahzab [33]: 21). Teladan yang bagaimana ? “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam” (Al-Anbiya’ [21]: 107). Dalam sabdanya, beliau juga menyebutkan bahwa “aku tidak diutus kepada kalian selain untuk menyempurnakan akhlaq”.  Menyempurnakan akhlaq atau budi pekerti bukan untuk membawa agama baru. Bukan menyiarkan agama baru. Dengan begitu, saya memastikan, setidaknya dalam diriku dan keluarga kecil saya, bahwa Islam yang dimaksudkan dalam teks suci Al-Qur’an adalah akhlaqul karimah. Sekali lagi, Islam adalah budi pekerti luhur.      



Tidak ada komentar:

Posting Komentar