Telah disebutkan bahwa mitos
ialah abstraksi dari yang konkret. Menghindari yang konkret, memasuki yang
abstrak. Kesadaran nilai, iman, dan
pengertian-pengertian itu abstrak,
merupakan sisi dalam, penting untuk pengembangan awal, membentuk kepribadian. Membentuk
kepribadian, membangun diri musti dari yang abstrak, yaitu kesadaran nilai. Bukan
terlebih dahulu dengan yang konkret, kepentingan material. Tetapi giliran
melayani kepentingan sosial, menolong kebutuhan orang lain, atau hendak berbuat
kebajikan, sisi luar yang konkret, kebutuhan ekonomilah yang diperlukan. Yang abstrak
tidak dibutuhkan lagi. Dari sini jelas, saat apa musti berlaku abstrak, dan
kepada siapa musti menawarkan yang konkret. Abstrak adalah ranah dalam,
membentuk pribadi, membangun internal, sedang yang konkret adalah penawaran
nilai perolehan kepada eksternal, pada orang lain. Abstrak untuk internalisasi,
mencipta realitas subjektif dan realitas simbolik, sementara yang konkret untuk
eksternalisasi, mencipta realitas objektif.
Keduanya perlu, tidak bisa
dihilangkan, atau dibuang salah satunya. Asal sesuai tempat dan kebutuhan untuk
apa, internalisasi atau eksternalisasi. Kembali masalah mitos. Kita akan
terjebak dengan perilaku mitos, jika tidak sanggup memilah kapan internalisasi,
dan kapan eksternalisasi. Mitos terjadi lantaran ketika berhubungan dengan
ranah publik, justru menampilkan hal-hal yang abstrak. Menghadapi kenyataan
yang konkret, malah lari menghindar memasuki lorong diri yang abstrak. Kalau dalam
bahasa agama, yang abstrak itu iman dan tawakal, sedangkan yang konkret itu
islam dan takwa. Iman merupakan sisi dalam, tidak kelihatan. Tawakal itu untuk
diri sendiri, tidak untuk dipamerkan ke luar. Ketika bersinggungan dengan
kenyataan sosial, musti dengan islam, dengan bertakwa, sehingga wajar kalau
disebutkan, ukuran tinggi rendah seseorang pada kualitas takwanya bukan tawakal.
Lantaran Iman musti bermuara pada amal, berujung pada takwa.
Dari sinilah gamblang, bahwa
ironis kalau umat Islam itu berperilaku secara mitos. Berjarak dengan yang
konkret, persoalan-persoalan real yang membelit bangsa. Ironi kalau menghindar
dari permasalahan yang melanda negeri ini. Krisis demi krisis yang sedang mendera
republik ini tidak untuk dihindari melainkan dihadapi, diselesaikan. Tetapi cara
menanggapi masalah, tetap dengan cara-cara yang santun, tidak dengan jalan
kekerasan, brutal, apalagi sampai menghilangkan hak hidup orang lain. Selain masalah
iman, yang jelas tak bisa ditawar, lantaran itu yang utama dalam membentuk jati
diri, umat Islam juga berkepentingan dengan hal-hal yang real, hal yang konkret,
yang berupa material. Disebutkan dalam surat An-Nisa’ ayat 75, bahwasanya Tuhan
menegur, “Kenapa kalian tidak berjuang di Jalan Allah dan membela kaum tertindas....”
Jalan Allah, kesadaran
ketuhanan, jelas merupakan masalah keimanan. Dan hal itu tidak memadai untuk
Islam, kiranya tidak berlanjut dengan melakukan kebajikan, amal shalih, yang
disimbolkan dengan istilah “membela kaum tertindas”, sebagai kesadaran
kemanusiaan. Kesadaran ketuhanan dan kemanusiaan tersebut dibaca dalam satu
tarikan napas, artinya dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Dalam ayat
lain, disebutkan bahwa martabat manusia itu adalah iman dan amal shalih.
Dengan berpegang pada prinsip
tersebut, kiranya perilaku mitos tak akan berlangsung pada kehidupan umat
Islam. Epistemologi Islam adalah epistemologi relasional. Ada relasi antara
Tuhan dan kepentingan sosial. Yang ukhrowi dan duniawi, yang abstark dan yang
konkret. Ibadah mahdhoh musti
bersambung dengan ghoiru mahdhoh. Shalat
yang diawali dengan takbiratul ikhrom,
membesarkan asma Tuhan akan sempurna jika ditutup dengan salam “assalamu ‘alaikum wa rahmatullah” tengok
kanan dan kiri, yang maknanya menyapa realitas sosial. Puasa juga demikian,
diwajibkan untuk menjalankan satu bulan penuh, selain sebagai tanda syukur atas
rahmat Tuhan, juga untuk membentuk kesadaran sosial. Ibadah Haji, haji
seseorang akan dikatakan mabrur, jika
sanggup mengentaskan yang berkesusahan memasuki tangga sosial yang sepadan
dengan dirinya.
Dengan demikian, perilaku
mitos akan hilang, jika kita bersetia dengan prinsip-prinsip etika teks suci. Yakni
ada kesinambungan antara iman dengan amal shalih, keadaan dengan kenyataan. Akhirnya
wallahu a’lam....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar