Selasa, 06 Januari 2015

Masalah Mitos

Telah disebutkan bahwa mitos ialah abstraksi dari yang konkret. Menghindari yang konkret, memasuki yang abstrak.  Kesadaran nilai, iman, dan pengertian-pengertian  itu abstrak, merupakan sisi dalam, penting untuk pengembangan awal, membentuk kepribadian. Membentuk kepribadian, membangun diri musti dari yang abstrak, yaitu kesadaran nilai. Bukan terlebih dahulu dengan yang konkret, kepentingan material. Tetapi giliran melayani kepentingan sosial, menolong kebutuhan orang lain, atau hendak berbuat kebajikan, sisi luar yang konkret, kebutuhan ekonomilah yang diperlukan. Yang abstrak tidak dibutuhkan lagi. Dari sini jelas, saat apa musti berlaku abstrak, dan kepada siapa musti menawarkan yang konkret. Abstrak adalah ranah dalam, membentuk pribadi, membangun internal, sedang yang konkret adalah penawaran nilai perolehan kepada eksternal, pada orang lain. Abstrak untuk internalisasi, mencipta realitas subjektif dan realitas simbolik, sementara yang konkret untuk eksternalisasi, mencipta realitas objektif.


Keduanya perlu, tidak bisa dihilangkan, atau dibuang salah satunya. Asal sesuai tempat dan kebutuhan untuk apa, internalisasi atau eksternalisasi. Kembali masalah mitos. Kita akan terjebak dengan perilaku mitos, jika tidak sanggup memilah kapan internalisasi, dan kapan eksternalisasi. Mitos terjadi lantaran ketika berhubungan dengan ranah publik, justru menampilkan hal-hal yang abstrak. Menghadapi kenyataan yang konkret, malah lari menghindar memasuki lorong diri yang abstrak. Kalau dalam bahasa agama, yang abstrak itu iman dan tawakal, sedangkan yang konkret itu islam dan takwa. Iman merupakan sisi dalam, tidak kelihatan. Tawakal itu untuk diri sendiri, tidak untuk dipamerkan ke luar. Ketika bersinggungan dengan kenyataan sosial, musti dengan islam, dengan bertakwa, sehingga wajar kalau disebutkan, ukuran tinggi rendah seseorang pada kualitas takwanya bukan tawakal. Lantaran Iman musti bermuara pada amal, berujung pada takwa.

Dari sinilah gamblang, bahwa ironis kalau umat Islam itu berperilaku secara mitos. Berjarak dengan yang konkret, persoalan-persoalan real yang membelit bangsa. Ironi kalau menghindar dari permasalahan yang melanda negeri ini. Krisis demi krisis yang sedang mendera republik ini tidak untuk dihindari melainkan dihadapi, diselesaikan. Tetapi cara menanggapi masalah, tetap dengan cara-cara yang santun, tidak dengan jalan kekerasan, brutal, apalagi sampai menghilangkan hak hidup orang lain. Selain masalah iman, yang jelas tak bisa ditawar, lantaran itu yang utama dalam membentuk jati diri, umat Islam juga berkepentingan dengan hal-hal yang real, hal yang konkret, yang berupa material. Disebutkan dalam surat An-Nisa’ ayat 75, bahwasanya Tuhan menegur, “Kenapa kalian tidak berjuang di Jalan Allah dan membela kaum tertindas....”

Jalan Allah, kesadaran ketuhanan, jelas merupakan masalah keimanan. Dan hal itu tidak memadai untuk Islam, kiranya tidak berlanjut dengan melakukan kebajikan, amal shalih, yang disimbolkan dengan istilah “membela kaum tertindas”, sebagai kesadaran kemanusiaan. Kesadaran ketuhanan dan kemanusiaan tersebut dibaca dalam satu tarikan napas, artinya dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Dalam ayat lain, disebutkan bahwa martabat manusia itu adalah iman dan amal shalih.

Dengan berpegang pada prinsip tersebut, kiranya perilaku mitos tak akan berlangsung pada kehidupan umat Islam. Epistemologi Islam adalah epistemologi relasional. Ada relasi antara Tuhan dan kepentingan sosial. Yang ukhrowi dan duniawi, yang abstark dan yang konkret. Ibadah mahdhoh musti bersambung dengan ghoiru mahdhoh. Shalat yang diawali dengan takbiratul ikhrom, membesarkan asma Tuhan akan sempurna jika ditutup dengan salam “assalamu ‘alaikum wa rahmatullah” tengok kanan dan kiri, yang maknanya menyapa realitas sosial. Puasa juga demikian, diwajibkan untuk menjalankan satu bulan penuh, selain sebagai tanda syukur atas rahmat Tuhan, juga untuk membentuk kesadaran sosial. Ibadah Haji, haji seseorang akan dikatakan mabrur, jika sanggup mengentaskan yang berkesusahan memasuki tangga sosial yang sepadan dengan dirinya.


Dengan demikian, perilaku mitos akan hilang, jika kita bersetia dengan prinsip-prinsip etika teks suci. Yakni ada kesinambungan antara iman dengan amal shalih, keadaan dengan kenyataan. Akhirnya wallahu a’lam....  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar