Bermula dari kesepahaman yang
sama soal pentingnya memelihara tradisi baca, menghargai karya tulis buku, maka
lahirlah gagasan tentang Conference of
the Book. Gagasan yang diprakarsai oleh kakak adik, Isa dan Rakhe itu
mengadaptasi dari salah satu judul buku Khaled Abou El Fadl “Musyawarah Buku”,
Serambi, 2002. Kakak beradik itu, menempati rumah tipe 29, sebuah perumahan
sederhana yang persis di lereng Gunung Ungaran, Kota Ungaran, Kabupaten
Semarang. Baik Isa maupun Rakhe, tak mengangankan Conference of the Book (of the Book) itu sebagai lembaga swadaya
masyarakat, meski konsen pada pemeliharaan tradisi baca di tengah masyarakat. Of
the Book juga bukan jenis lembaga pendidikan informal, yang kini marak di
masyarakat, yang lagi demam ramai-ramai bikin Taman Bacaan Masyarakat (TBM)
maupun Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Of the Book belum terdaftar
dan memang dari Isa maupun Rakhe sendiri, sama sekali tak menginginkan
menjadikan ‘of the Book’ sebagai TBM apalagi PKBM. Of the Book sebatas gagasan saja
yang sesekali bikin aksi kecil-kecilan tentang pemeliharaan tradisi baca. Aksi yang
berangkat dari keprihatinan mereka berdua atas semangat baca anak-anak
lingkungan sekitar yang tak terkelola dengan baik, akses baca buku yang kurang.
Sebagai aksi, barangkali mirip dengan kinerja perpustakaan, yaitu melayani
pinjam dan baca buku. Tetapi untuk disebut sebagai perpustakaan jelas belum
memadai, lantaran koleksi buku yang tersedia di markas ‘of the Book’ masih
terhitung sedikit, masih dibawah seribu judul.
Merunut dari belakang, ‘of the
Book’ ada, sebetulnya dari celetukan ringan Rakhe, yang gemas dengan pola
layanan perpustakaan yang kerap terjebak dengan formalitas. Waktu layanan yang
terbatas, lantaran menyesuaikan jam dan hari kerja. Dan syukur, hal itu sudah
diatasi oleh KPAD Kab. Semarang yang menambah jam layanan hingga pukul 20.00.
Lumayanlah. Ada kemajuan jam layanan, yang tak terbatas lagi dengan normal jam
kerja. Walaupun akan lebih baik lagi kalau hari Minggu pun buka. Mengingat
masyarakat yang kepingin baca buku,
tak terbatas pada orang-orang yang tak punya jam kerja tetap. Sulit dinafikan, atas
asumsi bahwa layanan KPAD yang hanya buka pada hari dan jam kerja, mengandaikan
para pemustaka yang disasar adalah orang-orang yang memiliki senggang waktu
luas. Para pemustaka adalah orang-orang yang memang tak mempunyai jam kerja
kantoran maupun karyawan instansi manapun alias orang bebas.
Rakhe melihat kondisi TBM pun tak
beda jauh dengan perpustakaan dalam layanan, malah lebih parah dari arahan
juklak dan juknis yang ditetapkan oleh Instansi Pendidikan, yang hendak
meluweskan sakralitas perpustakaan. Kehadiran TBM, sebetulnya hendak membantu
perpustakaan yang kurang bisa menjangkau
lebih dalam hingga ke segenap rumah-rumah penduduk, mulai tingkat terendah RT.
Kemudahan TBM, mematok batas minimal buku yang mesti dimiliki tak lebih dari
500 judul, seyogianya bisa dimaksimalkan dengan menyajikan bacaan-bacaan yang
berbobot. Rakhe yang beberapa kali berinteraksi dengan para pengelola TBM,
merasa perih, mengingat passion mereka
tak beda dengan mafia proyek. Sikat dana sana sini, tetapi tak berlanjut dengan
peningkatan kualitas minat baca.
“Kak, kalau menurutku kok, ‘of
the Book’ kita itu memang tak perlu ikut-ikutan rayahan dana dari pemerintah.”
“Iya Rakhe, Kakak sepakat. Kita
berdua ini kan memang bukan potongan proyektor...hehehe.”
“Proyektor ? Istilah apa lagi itu..”
“Iya proyektor. Ahli proyek alias
spesialis proposal...hahahaha.”
Sebetulnya kalau hanya pintar
bikin proposal saja tak jadi soal. Tapi yang menggemaskan adalah tidak adanya
korelasi antara membanjirnya dana anggaran dengan peningkatan kualitas bahan
bacaan. Rakhe yang suka blusukan itu, kerap menjumpai TBM-TBM hanya memajang
buku-buku yang tak mutu. Buku tipis, isinya pun juga tak menggairahkan
pemikiran. Bagaimana coba. Bayangkan saja, buku-buku berbobot semisal
Caping-nya Goenawan Mohamad, atau tetraloginya Pramoedya Ananta Toer, nyaris
tak terjumpai di banyak TBM yang ada. Buku Atheis-nya Akhdiat K Mihardja, juga
tak ada. Kerap yang terjumpai adalah buku-buku tips dan modul kejar paket A, B,
dan C.
“Oiya Kak Isa, bagaimana kalau ‘of
the Book’ kita itu bikin acara klab baca Kuntowijoyo. Saya sederhana saja sih.
Sudah banyak yang membahas Pramoedya, masih banyak yang meneruskan pemikirannya
Cak Nur, Cak Nun dan Goenawan Mohamad, serta tokoh-tokoh besar lainnya. Tapi
coba, siapa yang peduli dengan pemikiran Kuntowijoyo ? Komunitas mana yang
telah mencoba mengkaji serius tulisan-tulisan Pak Kunto ?”
“Hmmmm...iya juga ya. Bagus itu
Dik. Terus menurutmu kapan kita mulainya ?”
“Kapan ya .....hehehehe.”
“Udah gini saja dech, Dik.. Kita
serius saja dengan rencana awal yang saban bulan sisihin uang buat beli buku
baru. Rencana kita yang pingin
menghadirkan bahan bacaan yang berbobot.”
“Lho Kak Isa.. Gini... klab baca
itu nanti justru bisa mempermudah kita untuk mendapatkan buku-buku yang bagus.”
“Maksudmu ???”
“Iya....dengan adanya kegiatan
rutin dan jelas kemanfaatannya itu. Cepat atau lambat, kita akan dapatkan
apresiasi dari orang lain.”
“Wuaduuhhh...belum-belum sudah
ngarep kaya’ gitu. Gimana sih kamu itu ?”
“Hehehehe....Kakak.....”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar