![]() |
| Reading Kuntowijoyo selanjutnya disingkat RK |
Reading Kuntowijoyo,
demikian akhirnya saya menyebutnya. Awal, saya mengukirnya sebagai Reading Group
Kuntowijoyo, namun guna memudahkan pelafalan sekaligus penyingkatan, saya lebih
sreg dengan menghilangkan kata group. Maka jadilah reading kuntowijoyo yang
disingkat menjadi RK. RK yang
ketiga, Sabtu 11 April 2015 sukses dilangsungkan. Masuk subbab baru “cita-cita
transformasi Islam”, RK yang ketiga ini dihadiri 13 peserta (terhitung diluar diriku dan istriku).
Ya, secara kuantitas terus menaik, dari empat, sepuluh, dan kemudian tiga belas. Secara kualitas juga meningkat,
terlihat dari durasi waktu diskusi yang panjang (pukul 21.00 - 00.05).
RK dibuka dengan
pembacaan puisi “pabrik” dan “waktu” oleh Rina Sunia. Si cakep Rina berhasil
menyihir peserta lainnya termenung menghayati bait-bait Kuntowijoyo yang
merekam deru debu industrialisasi. Berduyun manusia memadati jalanan mengisi
waktu demi efektif dan efisiensi mesin-mesin pabrik. Sebuah gambaran yang
menegaskan telah terjadinya teknokratisme. Usai perform puisi Kunto, RK
dilanjutkan dengan pembacaan superlelet sebagaimana yang sudah-sudah.
“Cita-cita Transformasi Islam” lanjutan dari subbab “Visi Teologis Islam”
(Zully, yang dapat giliran membacakan), di mana Kunto dalam lanjutannya
ini mengenalkan idiom Humanisme Teosentris. Kunto menyebutnya
sebagai dasar paling sentral nila-nilai doktrin Islam. Al-Qur’an, dalam
awal-awal Al-Baqarah menyitir trilogi: Iman—Shalat—Zakat, yang senada dengan
formasi Iman—Ilmu—Amal. Iman yang merupakan ranah kesadaran ketuhanan, bermuara
pada zakat atau amal sebagai ujud kesadaran kemanusiaan. Sedang shalat atau
ilmu merupakan jembatan penghubung antara kesadaran ketuhanan dengan kesadaran
kemanusiaan. Penengah antara yang bersifat abstrak dengan yang bersifat
konkret. Kesadaran ketuhanan itu abstrak, sebagaimana terbaca dari
rumusan-rumusan iman. Sedang amal saleh itu konkret. Iman dan amal adalah dua
kenyataan, yang pertama mendasari yang kedua. Untuk mendapatkan dorongan dalam
diri, agar sanggup menselaraskan iman dengan amal, tiada jalan lain kecuali
dengan kegiatan penghubung, yaitu shalat atau berilmu.
Humanisme Teosentris,
atau kesadaran kemanusiaan dan kesadaran ketuhanan, menjelaskan bahwa pusat
keimanan Islam adalah Tuhan, namun ujuang aktualisasinya adalah manusia. Tauhid
merupakan pusat orientasi nilai, pada saat yang sama, manusia adalah tujuan
transformasi nilai. Menurut Kunto, Islam adalah agama yang gelisah sepanjang
mengenai problem yang menimpa manusia. Problem serius kemanusiaan menurut
Al-Qur’an dalam tafsiran Kunto adalah kemiskinan. Orang yang tak peduli
terhadap kehidupan orang miskin, kelak bakal menghuni neraka. Jadi logislah
kenapa zakat diwajibkan. Zakat fitrah –yang umum kita kenal—adalah perbuatan
kemanusiaan, yang dimaksudkan untuk membersihkan puasa. Padahal puasa merupakan
perbuatan Ilahiah. Artinya kekurangan yang bersifat Ilahiah dapat ditebus
dengan perbuatan kemanusiaan.
Demikianlah, Islam
merupakan humanisme teosentris, ada kontinuitas antara perbuatan Ilahiah dengan perbuatan kemanusiaan. Kalau orang tidak
kuat berpuasa, gantinya dengan membayar fidyah,
memberi makan fakir-miskin. Tidak akan berarti ibadah mahdhah seseorang jika tak berlanjut pada perbuatan baik pada
sesama manusia.
Ringkasnya,
humanisme teosentris serasa penting, mengingat umumnya
umat Islam masih bersikap menyebelah. Yang aktif sebagai penegak kemanusiaan,
semisal: aktivis HAM; kesataran gender; demokrasi; dsb berdiri dalam oposisi
biner dengan “aktivis masjid” yang emoh
bersentuhan dengan yang serba duniawi. Aktivis kemanusiaan hanya melulu bersinggungan
dengan masalah-masalah manusia, sebaliknya yang “sok Ilahiah” juga merasa
“pasti” surga lantaran saban hari intim
dengan Tuhan dan berjarak dengan detak “najis”
kehidupan
dunia.
| Saat "pabrik" dan "waktu" dibacakan oleh Rina |
Setelah menyelesaikan 8 alinea awal dari total 18 alinea, RK
ketiga itu diakhiri dengan pembacaan cerpen “Burung Kecil Bersarang di Pohon”.
Pembacaan cerpen dimaksudkan sebagai penandasan doktrin humanisme teosentris.
Cerpen tersebut dibaca bergiliran, Waluyo; Meta; dan Bowo. Cerpen yang
dimaksudkan sebagai continuum
kesadaran ketuhanan dengan kesadaran kemanusiaan. Dilukiskan seorang imam
masjid, yang mahaguru tauhid di sebuah universitas, bersih pakaiannya berjalan
melewati pasar hendak menjadi imam dan khatib shalat Jum’at. Berkecamuk dalam
benaknya tentang orang-orang pasar yang tak bergegas mengingat Tuhan. “Betapa kotornya orang-orang
pasar itu”, pikir sang Imam tua.
Tetapi kemudian ia terhenti, mendengar tangisan seorang anak kecil yang
menunjuk-nunjuk ke sebuah pohon dengan burung yang bercicit. Karena kasihan, si
Imam lalu memanjat pohon. Akibatnya, ia tiba di masjid ketika jama’ah shalat
Jum’at telah bubar. Namun demikian, ia justru merasa telah mendapat pencerahan.
Seakan Tuhan telah mengingatkannya tentang utamanya terlibat urusan
kemanusiaan. Sang Imam yang kakek tua ini merasa mendapatkan pencerahan bahwa
ia tak boleh absen untuk ikut menuntaskan masalah kemanusiaan.
Kesadaran ketuhanan
yang transenden mesti berlanjut pada imanensi kesadaran kemanusiaan. Dan begitu
sebaliknya. Akhirnya tepat pukul 00.05 RK selesai. Oleh Hasan Fuady,
koordinator RK, pembacaan teks Kunto ditutup. Seterusnya acara bebas ngobrol ngalor-ngidul menuntaskan perdebatan
yang terhenti sembari santap nasi goreng bikinan Rahma, istriku. Ya RK alias
Reading Kuntowijoyo yang lumayan menyita waktu. Hehehe...seolah-olah mereka
itu, habis kerja keras seharian, sehingga waktu diskusi sedemikian mahal. Seakan
eman, kalau obrolan malam itu
berlangsung singkat.
So, temans...sebagai tetua, pintaku satu saja: Istiqomahlah!!! Istiqomah bareng RK.
Istiqomah menegakkan humanisme teosentris. Istiqomah dalam menegaskan
kebajikan.
| jelang akhir RK pukul 00.05, Minggu dini hari |

woww...sampai begadang juga ya mas ardii...
BalasHapusiyo...Mbak. Konco-konco lagi kesambet..
Hapus