Minggu, 11 Januari 2015

Mencintai Tuhan, Mencerminkan Sifat-sifat-Nya

#Catatan 14

Nabi Muhammad mengisyaratkan banyak sekali amalan-amalan yang bisa kita kerjakan dalam rangka meneguhkan eksistensi diri. Termasuk raut muka yang penuh senyum, tak bermuka masam pada siapa saja, bisa merupakan amalan yang mengokohkan eksistensi. Namun hal itu tentu saja kita lakukan dengan tulus bukan kepura-puraan. Demikian juga dalam bertuhan. Sebagaimana dalam catatan sebelumnya, bisa saja kita rajin beribadah ritual, tak ketinggalan membayar zakat, puasa ramadhan, hingga ibadah haji, namun kita terjebak pada penipuan diri. Kita show of force tentang kebajikan padahal sebatas pemujaan diri seraya berpura-pura peduli. Itulah pentingnya introspeksi dan pengenalan diri secara kritis.


Pengenalan diri secara kritis memungkinkan seseorang hati-hati atas diri sendiri maupun terhadap orang lain. Ia tak akan mudah menghakimi apakah seorang penyembah sungguh-sungguh dan tulus tunduk kepada satu-satunya Tuhan atau justru menyembah beberapa Tuhan. saya masih kerap mendapati, kelompok muslim yang gemar menuduh sesama muslim sebagai kafir, sebagai musyrik, pelaku bid’ah, dan sebagainya. Lantaran dianggap telah kafir, bisa saja mereka terusir dari kampung halaman hingga nyaris terjadi pembantaian atas nama “tauhid”. Sebut saja, bagaimana nasib saudara-saudara Ahmadiyah dan Syiah, yang kerap menerima perlakuan yang tak manusiawi. Ahmadiyah dikafirkan, dipaksa keluar dari tubuh Umat Islam. Demikian juga syiah. Syiah yang subur di Iran, Yordania, tetapi di negeri pancasila ini mendapat perlakuan yang tak lebih dari binatang. Mereka diusir, tempat ibadah dibakar, seakan sebagai manusia najis, yang tak berhak hidup berdampingan dengan mayoritas muslim.

Padahal, sepahaman saya, tak ada orang atau institusi yang berhak menilai atau menghakimi kesalehan orang lain. Tak ada satu pun yang mengetahui dan layak mencap serta menilai kedekatan setiap insan kepada Tuhan. Alangkah sombongnya, orang yang seakan mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati seseorang. Alangkah arogannya yang seolah mengetahui apa yang dipikirkan Tuhan atas diri seseorang. Mengetahui makna dan maksud Tuhan yang tertera dalam teks kitab suci. Merasa paling berhak menafsirkan teks suci, merasa paling layak masuk surga, hingga menganggap selain dirinya adalah najis dan pasti neraka. Merasa paling diridhai Tuhan, dan menganggap selain Islam tak sempurna dan akan menempati keraknya neraka.

Sungguh, saya dan siapa pun saja, adalah fana, tak abadi, dan tak memiliki kemutlakan kebenaran. Manusia tak akan pernah sanggup mencapai kesempurnaan seperti yang dimiliki Tuhan. Bahkan sekelas nabi pun, tetap nisbi, tak sempurna. Nabi tidak punya hak untuk merasa tahu apa yang ada di dalam hati manusia. Menghukum, memberi vonis salah, kafir, merupakan hak Tuhan. Yang bisa kita usahakan hanyalah bersungguh-sungguh tanpa kenal lelah untuk membumikan nilai-nilai kebertuhanan. Yang bisa kita kerjakan adalah menginternalisasi akhlak Tuhan, sedekat mungkin meniru perilaku Tuhan.

Pengetahuan tentang diri sangat penting dalam membangun hubungan dengan Tuhan. Man arafa nafsahu, faqad arafa rabbah, “siapa mengenal diri, maka akan mengenal Tuhan.” Dalam khasanah tasawuf, sering dinukilkan, yang benar-benar mengenali dirinya, ia akan menemukan bahwa realitas sejati dan nyata tak lain adalah Tuhan. Dengan jalan mengingat Tuhan secara kontinu dan sistematis, latihan spiritual yang tekun, orang akan menyingkap substansi sejati yang berkilauan di dalam pengalamannya. Sehingga ia akan ma’rifatullah, kenal Tuhan. Asyik dalam bertuhan. Tetapi dari kesemuanya itu, yang terpenting adalah memelihara integritas diri manusia dan keagungan Tuhan. Dan hal ini tak mudah.

Sebagaimana di atas dan dalam catatan sebelumnya, tanpa introspeksi diri yang kritis, yang bersungguh-sungguh, mustahil akan mengenali diri. Sehingga mustahil adanya, pemeliharaan integritas diri dan pengagungan Tuhan. Resiko penonjolan diri sangat terbuka lebar. Pembenaran hasrat dan keinginan buruk, sangat mungkin terjadi. Seorang sufi, yang tak hati-hati, bisa terperosok dengan tanpa sadar menjelmakan Tuhan menjadi sekadar membenarkan ambisi dan keinginannya untuk menonjolkan diri. Atas nama Tuhan, atas perintah-Nya, dengan mudahnya kita bisa melakukan pembodohan, menyuruh orang lain melakukan keutamaan, sementara diri sendiri masih enggan mengerjakannya.


Ringkasnya, tunduk pada Tuhan berarti memahami dan mencintai. Memahami diri dan memahami Tuhan dan mencintai dengan seutuhnya, tanpa pamrih. Apa yang dikehendaki Tuhan dari manusia adalah mencintai, bukan lantaran Tuhan butuh cinta manusia, melainkan karena melalui cinta kepada Tuhan manusia akan terangkat ke tataran pencapaian moral yang lebih tinggi, dan dengan demikian mereka akan dapat menyerap sifat-sifat Tuhan. Mustahil, mendaku diri mencintai Tuhan, tetapi perilakunya gagal mencerminkan beberapa sifat Tuhan. Tidak mungkin dikatakan mencintai Tuhan, sekiranya ia tidak bisa menampilkan sifat kasih sayang, sabar, pengampun, dan indah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar