#Catatan 14
Nabi Muhammad mengisyaratkan
banyak sekali amalan-amalan yang bisa kita kerjakan dalam rangka meneguhkan
eksistensi diri. Termasuk raut muka yang penuh senyum, tak bermuka masam pada
siapa saja, bisa merupakan amalan yang mengokohkan eksistensi. Namun hal itu tentu
saja kita lakukan dengan tulus bukan kepura-puraan. Demikian juga dalam
bertuhan. Sebagaimana dalam catatan sebelumnya, bisa saja kita rajin beribadah
ritual, tak ketinggalan membayar zakat, puasa ramadhan, hingga ibadah haji, namun
kita terjebak pada penipuan diri. Kita show
of force tentang kebajikan padahal sebatas pemujaan diri seraya
berpura-pura peduli. Itulah pentingnya introspeksi dan pengenalan diri secara
kritis.
Pengenalan diri secara kritis
memungkinkan seseorang hati-hati atas diri sendiri maupun terhadap orang lain. Ia
tak akan mudah menghakimi apakah seorang penyembah sungguh-sungguh dan tulus
tunduk kepada satu-satunya Tuhan atau justru menyembah beberapa Tuhan. saya
masih kerap mendapati, kelompok muslim yang gemar menuduh sesama muslim sebagai
kafir, sebagai musyrik, pelaku bid’ah, dan sebagainya. Lantaran dianggap telah
kafir, bisa saja mereka terusir dari kampung halaman hingga nyaris terjadi
pembantaian atas nama “tauhid”. Sebut saja, bagaimana nasib saudara-saudara
Ahmadiyah dan Syiah, yang kerap menerima perlakuan yang tak manusiawi. Ahmadiyah
dikafirkan, dipaksa keluar dari tubuh Umat Islam. Demikian juga syiah. Syiah yang
subur di Iran, Yordania, tetapi di negeri pancasila ini mendapat perlakuan yang
tak lebih dari binatang. Mereka diusir, tempat ibadah dibakar, seakan sebagai
manusia najis, yang tak berhak hidup berdampingan dengan mayoritas muslim.
Padahal, sepahaman saya, tak ada
orang atau institusi yang berhak menilai atau menghakimi kesalehan orang lain. Tak
ada satu pun yang mengetahui dan layak mencap serta menilai kedekatan setiap
insan kepada Tuhan. Alangkah sombongnya, orang yang seakan mengetahui apa yang
tersembunyi di dalam hati seseorang. Alangkah arogannya yang seolah mengetahui
apa yang dipikirkan Tuhan atas diri seseorang. Mengetahui makna dan maksud
Tuhan yang tertera dalam teks kitab suci. Merasa paling berhak menafsirkan teks
suci, merasa paling layak masuk surga, hingga menganggap selain dirinya adalah
najis dan pasti neraka. Merasa paling diridhai Tuhan, dan menganggap selain
Islam tak sempurna dan akan menempati keraknya neraka.
Sungguh, saya dan siapa pun saja,
adalah fana, tak abadi, dan tak memiliki kemutlakan kebenaran. Manusia tak akan
pernah sanggup mencapai kesempurnaan seperti yang dimiliki Tuhan. Bahkan
sekelas nabi pun, tetap nisbi, tak sempurna. Nabi tidak punya hak untuk merasa
tahu apa yang ada di dalam hati manusia. Menghukum, memberi vonis salah, kafir,
merupakan hak Tuhan. Yang bisa kita usahakan hanyalah bersungguh-sungguh tanpa
kenal lelah untuk membumikan nilai-nilai kebertuhanan. Yang bisa kita kerjakan
adalah menginternalisasi akhlak Tuhan, sedekat mungkin meniru perilaku Tuhan.
Pengetahuan tentang diri sangat
penting dalam membangun hubungan dengan Tuhan. Man arafa nafsahu, faqad arafa rabbah, “siapa mengenal diri, maka
akan mengenal Tuhan.” Dalam khasanah tasawuf, sering dinukilkan, yang
benar-benar mengenali dirinya, ia akan menemukan bahwa realitas sejati dan
nyata tak lain adalah Tuhan. Dengan jalan mengingat Tuhan secara kontinu dan
sistematis, latihan spiritual yang tekun, orang akan menyingkap substansi
sejati yang berkilauan di dalam pengalamannya. Sehingga ia akan ma’rifatullah, kenal Tuhan. Asyik dalam
bertuhan. Tetapi dari kesemuanya itu, yang terpenting adalah memelihara
integritas diri manusia dan keagungan Tuhan. Dan hal ini tak mudah.
Sebagaimana di atas dan dalam
catatan sebelumnya, tanpa introspeksi diri yang kritis, yang
bersungguh-sungguh, mustahil akan mengenali diri. Sehingga mustahil adanya,
pemeliharaan integritas diri dan pengagungan Tuhan. Resiko penonjolan diri
sangat terbuka lebar. Pembenaran hasrat dan keinginan buruk, sangat mungkin
terjadi. Seorang sufi, yang tak hati-hati, bisa terperosok dengan tanpa sadar
menjelmakan Tuhan menjadi sekadar membenarkan ambisi dan keinginannya untuk
menonjolkan diri. Atas nama Tuhan, atas perintah-Nya, dengan mudahnya kita bisa
melakukan pembodohan, menyuruh orang lain melakukan keutamaan, sementara diri
sendiri masih enggan mengerjakannya.
Ringkasnya, tunduk pada Tuhan
berarti memahami dan mencintai. Memahami diri dan memahami Tuhan dan mencintai
dengan seutuhnya, tanpa pamrih. Apa yang dikehendaki Tuhan dari manusia adalah
mencintai, bukan lantaran Tuhan butuh cinta manusia, melainkan karena melalui
cinta kepada Tuhan manusia akan terangkat ke tataran pencapaian moral yang
lebih tinggi, dan dengan demikian mereka akan dapat menyerap sifat-sifat Tuhan.
Mustahil, mendaku diri mencintai Tuhan, tetapi perilakunya gagal mencerminkan
beberapa sifat Tuhan. Tidak mungkin dikatakan mencintai Tuhan, sekiranya ia
tidak bisa menampilkan sifat kasih sayang, sabar, pengampun, dan indah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar