Kamis, 08 Januari 2015

Menarik Ego Umat

#Catatan 7

Pagi selalu menjanjikan harapan. Seiring cahaya matahari yang mengintip di ufuk, saat itu pula impian-impian semalam buyar, dan hendak diwujudkan. Mewujudkan impian, menyatakan cita-cita. Dan itu dimulai pagi hari. Ya, pagi memang menjanjikan. Setiap kita bersiap untuk mengukur ruang, bersafari eksternal menumpang waktu. Safari eksternal ? Safari atau perjalanan melongok keluar, berlepas dari ikatan diri untuk menghimpun dan menawarkan perolehan. Safari eksternal adalah wujud empati sosial kita, dari institusi terkecil keluarga hingga meluas yang bersinggungan dengan political society. Safari eksternal merupakan eksternalisasi maupun objektifikasi atas keyakinan internal yang tertanam dalam di kedalaman sanubari kita.


Safari eksternal yang mulai dikerjakan seiring pagi merekah, akan berdampak positif, jika dimulai dengan safari internal yang memadai. Safari eksternal akan menimbulkan ekses yang tidak sehat terhadap lingkungan sekitar, kalau safari internalnya kedodoran. Safari internal, dalam catatan sebelumnya, saya menyebutkan sebagai semesta diri, yaitu tekad yang membaja, disiplin yang keras dan tak kenal lelah dalam menggarap diri sendiri. Semesta diri merupakan kegemaran berkontemplasi, berefleksi, dan berkoeksistensi dengan akhlak karimah terhadap siapa dan apa saja. Safari internal alias semesta diri itu, lazim dikenal atau disimbolkan sebagai perjalanan malam. Hal ini menyiratkan bahwa semesta diri adalah perjalanan kontemplasi memahami kenyataan diri, yang konon sering dikerjakan pada malam hari. Semesta diri tak lain ialah pembentukan diri secara akurat, yang disertai kerelaan hati dalam bersinggungan dengan Tuhan Yang Esa.  Ia menyerahkan totalitas hidup pada Allah. Menggarap diri adalah senantiasa menghadirkan Tuhan dimana pun ia berada. Kondisi apa pun, dalam suka maupun duka, perasaan dan pikirannya bersambung dengan Allah. Kondisi demikian, agama menyebutnya tawakal. Kondisi yang tak sedetik pun berlepas dari ikatan dengan-Nya.

Totalitas pengabdian pada Allah, mengantarkan sang individu pada rahasia iman. Dapat merasakan manisnya iman, nikmatnya beriman. Ia tak lagi canggung atas situasi kehidupan, karena sepenuhnya percaya bahwa Allah berada di balik kenyataan yang menghampar dihadapannya. Tidak ada lagi rasa ketakutan, khawatir atas kehidupan, lantaran ia yakin Allah tidak akan tinggal diam, tak akan meninggalkannya sendirian. “Sesungguhnya yang berkata, Tuhan kami adalah Allah, dan kemudian tetap istiqomah, maka tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (Al-Ahqaf [46]: 13).

Totalitas dalam pengabdian kepada-Nya, juga akan mengantar sang penempuh pada aktualisasi diri yang tanpa motif selain perintah Tuhan. Ia akan kehilangan motif pribadi, bahkan nyaris dalam hidupnya tak punya cita-cita, tak memiliki target atas penghidupan di muka bumi ini. Dalam terminologi Jawa terkenal dengan idiom “manunggaling kawula gusti”, menyatunya seorang hamba dengan Tuhan, atau “mati sajeroning hurip”, telah sanggup meninggalkan dunia sebelum meninggal dunia. “Fana fi iradatillah”, tenggelam dalam kehendak Tuhan. Muhammad Zuhri, guru sufi dan pengasuh Pesantren Budaya Barzakh yang wafat 2011, dalam buku karyanya “Langit-Langit Desa” menuturkan : “Kehidupan adalah kematianmu dari segala damba, bila kesadaranmu telah menggapai makna hidup yang sebenarnya. Maka capailah kematianmu jika hatimu telah rela. Karena mati dan rela satu wujudnya meski dua tampaknya di lorong pikiranmu.”

Sang guru, Muhammad Zuhri, menandaskan bahwa hakikat hidup tiada lain ialah sebuah kematian. Lantaran yang dilihatnya hanya “wajah Tuhan”, kemauan Tuhan. “Kemana saja dirimu menghadap, di sana terdapat wajah Allah..” (Al-Baqarah [2]: 115). Kondisi seseorang yang telah sanggup menyaksikan wajah Allah, persis dengan keadaan orang yang telah meninggal. Ia akan tampil tanpa mempertahankan martabat dan harga dirinya lagi. Ia tak akan bersandar dengan apa-apa yang telah dimilikinya, baik harta maupun ilmu pengetahuannya. Ia juga tak lagi terpesona oleh apa pun, tidak pula meminta sesuatu pun, dan bahkan tak pernah mengadukan duka pribadinya pada orang lain. Ia telah mendapatkan Tuhan, sehingga segala tindak tanduknya bukan lagi oleh kemauannya sendiri, melainkan berlandaskan perintah Tuhan. “...Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri...” (Al-Kahfi [18]: 82).


Dengan demikian, sang penempuh dunia diri, yang telah menyandarkan dalam kesadarannya bahwa hanya Allah, Tuhan Yang Maha Agung. Allah Maha Besar, selainnya kecil dan fana. Yang ia saksikan adalah wajah di balik wajah, makna di balik makna. Semua sebab telah gugur di depan mata Sang Kuasa. Oleh karenanya, tiada lagi perbuatan yang layak ia lakukan, selain menelaah isyarat-isyarat, berita dan perintah Tuhan di balik benda-benda, fenomena dan peristiwa-peristiwa di dalam setiap langkah pengabdiannya. Setiap kaki melangkah, setiap kali menyapa kenyataan, dalam benaknya, hanya selalu terlintas pertanyaan “perintah Tuhan apa lagi ini ?”, “apa yang Tuhan kehendaki dariku ?”  Demikianlah semesta diri. Itulah menyaksikan wajah Tuhan, yang hanya dapat terjadi jika seseorang tersebut telah mati. Artinya telah selesai dengan masalah dirinya. Totalitas menggarap diri untuk menanggalkan ego pribadi. Kemudian bersiap memenuhi panggilan untuk mengurusi masalah yang lebih besar, yaitu masalah umat dan semesta. Pendek kata, menarik ego semesta dalam diri. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar