#Catatan 7
Pagi selalu menjanjikan harapan. Seiring
cahaya matahari yang mengintip di ufuk, saat itu pula impian-impian semalam
buyar, dan hendak diwujudkan. Mewujudkan impian, menyatakan cita-cita. Dan itu
dimulai pagi hari. Ya, pagi memang menjanjikan. Setiap kita bersiap untuk
mengukur ruang, bersafari eksternal menumpang waktu. Safari eksternal ? Safari
atau perjalanan melongok keluar, berlepas dari ikatan diri untuk menghimpun dan
menawarkan perolehan. Safari eksternal adalah wujud empati sosial kita, dari
institusi terkecil keluarga hingga meluas yang bersinggungan dengan political society. Safari eksternal
merupakan eksternalisasi maupun objektifikasi atas keyakinan internal yang
tertanam dalam di kedalaman sanubari kita.
Safari eksternal yang mulai dikerjakan seiring pagi merekah, akan berdampak
positif, jika dimulai dengan safari internal yang memadai. Safari eksternal
akan menimbulkan ekses yang tidak sehat terhadap lingkungan sekitar, kalau safari
internalnya kedodoran. Safari internal, dalam catatan sebelumnya, saya
menyebutkan sebagai semesta diri, yaitu tekad yang membaja, disiplin yang keras
dan tak kenal lelah dalam menggarap diri sendiri. Semesta diri merupakan
kegemaran berkontemplasi, berefleksi, dan berkoeksistensi dengan akhlak karimah
terhadap siapa dan apa saja. Safari internal alias semesta diri itu, lazim dikenal atau disimbolkan sebagai perjalanan malam. Hal ini menyiratkan bahwa semesta diri adalah perjalanan kontemplasi memahami kenyataan diri, yang konon sering dikerjakan pada malam hari. Semesta diri tak lain ialah pembentukan
diri secara akurat, yang disertai kerelaan hati dalam bersinggungan dengan
Tuhan Yang Esa. Ia menyerahkan totalitas
hidup pada Allah. Menggarap diri adalah senantiasa menghadirkan Tuhan dimana
pun ia berada. Kondisi apa pun, dalam suka maupun duka, perasaan dan pikirannya
bersambung dengan Allah. Kondisi demikian, agama menyebutnya tawakal. Kondisi yang
tak sedetik pun berlepas dari ikatan dengan-Nya.
Totalitas pengabdian pada Allah,
mengantarkan sang individu pada rahasia iman. Dapat merasakan manisnya iman,
nikmatnya beriman. Ia tak lagi canggung atas situasi kehidupan, karena
sepenuhnya percaya bahwa Allah berada di balik kenyataan yang menghampar
dihadapannya. Tidak ada lagi rasa ketakutan, khawatir atas kehidupan, lantaran
ia yakin Allah tidak akan tinggal diam, tak akan meninggalkannya sendirian. “Sesungguhnya
yang berkata, Tuhan kami adalah Allah, dan kemudian tetap istiqomah, maka tidak
ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (Al-Ahqaf [46]:
13).
Totalitas dalam pengabdian
kepada-Nya, juga akan mengantar sang penempuh pada aktualisasi diri yang tanpa
motif selain perintah Tuhan. Ia akan kehilangan motif pribadi, bahkan nyaris
dalam hidupnya tak punya cita-cita, tak memiliki target atas penghidupan di muka
bumi ini. Dalam terminologi Jawa terkenal dengan idiom “manunggaling kawula
gusti”, menyatunya seorang hamba dengan Tuhan, atau “mati sajeroning hurip”,
telah sanggup meninggalkan dunia sebelum meninggal dunia. “Fana fi iradatillah”,
tenggelam dalam kehendak Tuhan. Muhammad Zuhri, guru sufi dan pengasuh
Pesantren Budaya Barzakh yang wafat 2011, dalam buku karyanya “Langit-Langit
Desa” menuturkan : “Kehidupan adalah kematianmu dari segala damba, bila
kesadaranmu telah menggapai makna hidup yang sebenarnya. Maka capailah
kematianmu jika hatimu telah rela. Karena mati dan rela satu wujudnya meski dua
tampaknya di lorong pikiranmu.”
Sang guru, Muhammad Zuhri, menandaskan
bahwa hakikat hidup tiada lain ialah sebuah kematian. Lantaran yang dilihatnya
hanya “wajah Tuhan”, kemauan Tuhan. “Kemana saja dirimu menghadap, di sana
terdapat wajah Allah..” (Al-Baqarah [2]: 115). Kondisi seseorang yang telah
sanggup menyaksikan wajah Allah, persis dengan keadaan orang yang telah
meninggal. Ia akan tampil tanpa mempertahankan martabat dan harga dirinya lagi.
Ia tak akan bersandar dengan apa-apa yang telah dimilikinya, baik harta maupun
ilmu pengetahuannya. Ia juga tak lagi terpesona oleh apa pun, tidak pula
meminta sesuatu pun, dan bahkan tak pernah mengadukan duka pribadinya pada
orang lain. Ia telah mendapatkan Tuhan, sehingga segala tindak tanduknya bukan
lagi oleh kemauannya sendiri, melainkan berlandaskan perintah Tuhan. “...Apa
yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri...” (Al-Kahfi [18]: 82).
Dengan demikian, sang penempuh
dunia diri, yang telah menyandarkan dalam kesadarannya bahwa hanya Allah, Tuhan
Yang Maha Agung. Allah Maha Besar, selainnya kecil dan fana. Yang ia saksikan
adalah wajah di balik wajah, makna di balik makna. Semua sebab telah gugur di depan
mata Sang Kuasa. Oleh karenanya, tiada lagi perbuatan yang layak ia lakukan,
selain menelaah isyarat-isyarat, berita dan perintah Tuhan di balik
benda-benda, fenomena dan peristiwa-peristiwa di dalam setiap langkah
pengabdiannya. Setiap kaki melangkah, setiap kali menyapa kenyataan, dalam
benaknya, hanya selalu terlintas pertanyaan “perintah Tuhan apa lagi ini ?”, “apa
yang Tuhan kehendaki dariku ?” Demikianlah
semesta diri. Itulah menyaksikan wajah Tuhan, yang hanya dapat terjadi jika
seseorang tersebut telah mati. Artinya telah selesai dengan masalah dirinya. Totalitas
menggarap diri untuk menanggalkan ego pribadi. Kemudian bersiap memenuhi
panggilan untuk mengurusi masalah yang lebih besar, yaitu masalah umat dan
semesta. Pendek kata, menarik ego semesta dalam diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar