![]() |
| Moga masih ada sisa harapan |
Kepada siapa kita bisa mengadu ?
Pertanyaan ini memang serasa sederhana, namun entah mengapa hingga kini kita
pun kikuk dan tak jelas jawabannya. Seolah sungkan hendak menuding pihak-pihak
berwajib yang nyata-nyata tidak beres dalam menunaikan kewajibannya. Dari sisi
kita pun tak kalah jelasnya, kita telah
imun dari berita-berita ketidakberesan pejabat pemerintah, pejabat negara. Sudah
lazim di telinga tentang tindak penyelewengan, penyalahgunaan wewenang, dan
maling duit negara. Saking imunnya, kita jadi fatalis, pasrah, dan menganggap
fenomena itu sebagai bagian ujian dari Tuhan. Saking enegnya dengan perilaku para
pemegang otoritas, kita hanya bisa menggerundel. Meneriakkan kemuakan
sekeras-kerasnya, namun hanya di hati. Di pendam sendiri.
Entah sabar atau tak peduli,
tipis batasannya. Kita pasrah atau tidak kritis terhadap kebijakan dari atas,
sulit dibedakan. Sebagai awam, saya merasakan betul, betapa menyakitkan setiap
kali mendengar berita tentang perilaku korupsi yang dilakukan oleh pejabat
negeri ini. Sudah banting tulang seharian untuk menghidupi kebutuhan keluarga,
menyisihkan uang untuk bayar pajak, bayar rekening listrik, tetapi muaranya
hanya akan digarong oleh para tikus-tikus kantor, pinjam istilah Iwan Fals
dalam salah satu lagu hitsnya. Coba bayangkan ! Betapa menyesakkan perilaku
koruptif itu.
Bikin lebih sesak lagi, ketika
berita yang ditampilkan di TV adalah adanya kriminalisasi terhadap para
komisioner KPK dari pihak Polri. Bagaimana pun, sekali lagi sebagai awam, di
antara tiga penegak hukum yang ada: Kejaksaan, Polri, dan KPK, nyata-nyata yang
terbukti sanggup menyeret para koruptor ke jeruji penjara hanyalah KPK. Pejabat
negeri ini dari mulai para menteri, anggota DPR, hakim agung di MK, dan komjen
Polri, yang terbukti terima suap maupun gratifikasi, begitu terendus dan
diproses oleh KPK langsung masuk ke tahanan. Publik percaya dengan pejabat
negara yang satu ini. Masyarakat menaruh harapan yang besar pada KPK untuk
mewujudkan impian negeri yang gemah ripah
loh jinawi. Negeri yang baldatun
thoyibatun wa rabbun ghafur. Negeri yang aman sentosa, rakyatnya makmur,
pejabatnya bersih dan amanah. Harapan itu, oleh masyarakat dititipkan ke KPK,
bukan ke Presiden Jokowi yang hanya pintar blusukan dan mengumbar janji. Bukan pula
kepada para menterinya yang ternyata tak setangguh sebagaimana awal dilantik. Untung
masih ada Bu Susi, yang barangkali mutiara yang sengaja di tanam Tuhan di
kabinet kerjanya Jokowi. Untung pula ada Pak Lukman Hakim, sang menteri agama
yang toleran dan berjiwa pluralis. Anies Baswedan ? Entahlah ? Masihkah bisa
diharapkan dari sosok “hebat” itu ?
Bu Susi, Pak Lukman, saya
menganggapnya sebagai mutiara yang dicampakkan Tuhan ke kabinet Jokowi untuk
memberi terang, akibat buram zaman ulah para maling dan lemah integritas pejabat.
Pada saat kampanye, memang saya percayakan sepenuhnya pada Jokowi-JK. Saya
tidak memilih Prabowo, karena di dalam lingkarannya penuh para islamis. Barisan
Prabowo adalah para penganjur Islam galak, Islam syariat, Puritan yang
cenderung menafikan pluralisme. Sebaliknya dalam tubuh Jokowi, berjejer
orang-orang adem yang mengusung Islam Pluralis, sebut saja di sana ada Alwi
Shihab, Anies Baswedan, dan Musdah Mulia. Meski yang terakhir itu –maksud saya
Musdah Mulia—tak terlibat langsung dalam tim transisi yang bikin blueprint masa depan negara ini. Saat
kampanye, Jokowi betul-betul meyakinkan sebagai sosok yang berasal dari bawah
dan bakal memperjuangkan aspirasi wong
cilik. Berkali-kali, ia menegaskan hanya akan tunduk pada konstitusi dan
kehendak rakyat. Pernyataan “tunduk” itu sempat diputar atau ditayangkan beberapa
kali di layar televisi sebagai pengingat buat Jokowi akan janjinya. Seolah terbit
kekhawatiran dari para awak media bahwa Jokowi akan melenceng dan pura-pura
lupa dengan janjinya. Dan ternyata kini, memang Jokowi tidak pura-pura lupa. Ia
benar-benar telah lupa sungguhan dengan sumpah setianya pada kehendak rakyat. Ia
lebih memilih kompromi dengan partai pengusung, lebih taat pada gertakan ketua
partai. Barisan pluralis yang melingkarinya, kini seakan dibuat melongo tak
percaya dengan perubahan sikap Jokowi. Jokowi yang tegas, kini beralih menjadi
Jokowi yang lemah dan tak percaya diri menghadapi gesekan para pengagung
kepentingan.
Nah, kembali ke pertanyaan,
kepada siapa kita akan mengadu ? Kini telah buntu, mengingat di tubuh KPK pun
tak segalak seperti saat diisi Abraham Samad dan Bambang Widjojanto.
Taufiqurahman Ruki, ketua KPK pertama, diharapkan dapat mengisi kekosongan
komisioner, tetapi baru-baru ini malah bikin kesepakatan “barter” dengan Polri.
Saya tak mengetahui kebenaran aroma barter tersebut, namun sebagai awam aroma
busuk jelas tercium menyengat dan menyakitkan nurani. Publik percaya bahwa Budi
Gunawan memang layak tersangka, tapi entah alasan apa tiba-tiba oleh KPK
dilimpahkan kasusnya ke Kejaksaan. Publik kaget dengan pelimpahan kasus itu. Ada
apa ini ? Ada apa dengan KPK ? Ada apa dengan Ruki ? Dan yang pasti, kemana
lagi kita bakal menaruh kepercayaan, setelah berkali-kali kecewa dan tertipu
dengan janji-janji. Kepada presiden ? Jelas tak mungkin. Mengatasi kisruh KPK
vs Polri saja mesti menunggu desakan publik, yang ujungnya adalah kompromi yang
tak memuaskan gelisah rakyat.
Kepada siapa lagi saya akan
mengadu ? Kepada siapa lagi saya akan menaruh kepercayaan ? Pada siapa akan
menitipkan harapan ? Ah rasanya negeri ini memang sudah tak punya pemerintahan.
Sudah tak ada lagi yang namanya presiden, aparat penegak hukum, dan pengayom
masyarakat. Yang berlangsung adalah pembegalan dan preman. Yang memiliki
kenyamanan hidup adalah yang kuat dan berduit, selain itu merupakan korban.

Tulisannya keren, mas Ardie....
BalasHapus