#Catatan 2
Melakoni ketidakwajaran. Menempuh
jalan yang tak wajar, yang tak lazim, bukan perkara mudah. Yang tak wajar
berarti kesendirian. Kecil kemungkinan orang lain tertarik untuk menirunya.
Terlebih lagi di tengah semangat rasa kolektivitas warga perumahan baru. Tahun
2008, Perumahan Bukit Asri II, tempat saya tinggal, masih terhitung baru. Hanya
9 (sembilan) kepala keluarga yang menghuni. Lantaran kebaruannya, maka jiwa
korsa, rasa kebersamaan masih kental. Segalanya dibicarakan dan diangkat
bersama-sama. Seperti masalah air, yang tak lancar, kami bereskan secara
jamaah. Kami datangi ramai-ramai pengembang. Sehingga air pun lancar sampai
sekarang. Belum lagi masalah jalan yang masih becek, akibat belum dipaving. Resolusinya,
kembali kami menggeruduk pengembang.
Kolektivitas menyenangkan.
Segalanya teratasi secara gotong royong. Namun, di balik itu, tetap terselip
rasa tidak nyaman. Jiwa kolektif, mengandaikan kebersamaan yang minus privasi.
Kolektif telah menutup kemungkinan adanya ruang privasi. Urusan remeh sampai
rahasia keluarga, sebab kolektif, jadi rahasia bersama alias semua saling tahu.
Masalah hutang, cicilan rumah, sepeda motor, sampai tunggakan SPP anak, jadi
konsumsi bersama. Saya pribadi tidak nyaman dengan kondisi demikian. Entah
dengan tetangga yang lain, kalau saya termasuk orang yang tidak senang dengan
kebiasaan ngerumpi ngalor ngidul
tiada ujung pangkal, membeberkan aib sendiri, hingga membicarakan kebiasaan
aneh tetangga lain. Meski saya suka ngomong. Istriku bilang, saya termasuk
cerewet, banyak cakap. Sedang istri masuk tipe pendiam.
Saya rasakan awal menghuni
perumahan, serasa hidup dalam kepura-puraan. Hidup dalam ketidaksungguhan.
Tidak apa adanya. Bagaimana mungkin akan apa adanya, kalau segalanya jadi bancaan, jadi bahan omongan se-kompleks
? Saya yang bukan sarjana, jadi ngomong dan membanggakan kampus Undip. Padahal
nyaris saya tak mendapatkan secuil pun ilmu dari kampus tersebut, selain
numpang nama. Persis kondisinya dengan kampus sebelumnya. STIK yang konon telah
melahirkan wartawan, penyiar radio, pakar humas alias marketing, sedikit pun
tak berbekas dalam diriku. Sebagaimana sebelumnya saya katakan, saya drop out dari kampus STIK, ada indikasi
pro status quo, pro pemerintah---tahun 1996 masih era Orde Baru---yang terlihat
dari ketua Sekolah Tinggi tersebut adalah istri dari Walikota Semarang.
Meskipun tidak ada bekas, saya latah membicarakan kampus yang berada dekat GOR
Jatidiri atau sebelahan dengan kampus UNIKA Soegijapranoto. Lantaran keseringan
ngerumpi, dan membanggakan diri sendiri yang senyatanya bukan sesungguhnya diri
sendiri, bikin hati tidak nyaman. Serasa hidup dalam kebohongan.
“Apa enaknya pakai topeng ?”
celetuk istriku suatu saat. Dan memang benar. Sungguh tidak nyaman,
membanggakan diri di balik kepalsuan.
Seakan Tuhan menjawab jerit
rintihan hati, tradisi kolektif, serba bersama lambat laun pudar. Tak sampai
lebih dari dua tahun, kebiasaan bersama-sama itu pun memudar, seiring laju
pertambahan penghuni perumahan yang pesat. 2008 ada sembilan kepala keluarga,
tahun 2010 melesat jadi 37 KK, kini sudah hampir 70, dan akan terus bertambah
hingga 100 KK. Laju yang pesat, kebiasaan kongkow di pos ronda yang sebelumnya
hampir tiap malam, mulai 2010 apalagi saat ini sudah ditinggalkan. Rumah-rumah
sudah banyak yang berbenah, pagar rapat, ber-AC, sehingga penghuni rumah pun
enggan untuk keluar rumah, selain seperlunya saja. Tak lebih dari itu.
Sehari-hari pintu rumah tertutup, pagar terkunci, padahal penghuni, entah istri
atau suami berada di dalam.
Budaya kolektif telah menghilang.
Saya terbebas dari perasaan salah, karena tidak lagi menjalani ritus meronda
tiap malam, membeberkan rahasia pribadi diri sendiri maupun orang lain. Saya
bebas. Tidak ada lagi terbit rasa sungkan, karena diri ini bukan apa-apa, bukan
siapa-siapa. Tidak ada rasa rendah diri, lantaran berbeda secara karir profesi,
kesempatan hidup dan kondisi rumah yang tak kunjung membaik. Budaya kolektif
punah, artinya yang hidup adalah gejala individualis. Gejala sendiri-sendiri,
yang tak memperdulikan kanan kiri. Lantas apakah ini yang terbaik ?
Tetap saja plus minus. Tidak
sepenuhnya baik, pun sebaliknya tidak jelek melulu. Saya menikmati gejala
individualis, karena kita bisa bebas mengekspresikan diri segila mungkin, tanpa
tudingan dan sorotan yang berarti dari mata-mata tetangga. Kita dapat
menentukan arah biduk rumah tangga, tanpa campur tangan dari kanan kiri, yang
kalau sebelumnya selalu usil “kenapa begini, kenapa begitu”. Kita jadi raja
untuk diri sendiri. Tetapi minusnya, kita jadi asosial. Serasa tak ada kawan
seiring untuk dimintai tolong. Urusan air yang tiba-tiba mogok, berhenti
mengalir di salah satu penghuni, misalnya, tidak lagi patut dibicarakan
bersama-sama dan menjadi urusan bersama. Air tidak mengalir ya harus dibenahi
sendiri, kalau tidak sanggup ya musti bayar tukang. Selesai perkara. Gaya hidup
bersama, gotong royong, bukan lagi menjadi santapan pandangan mata sehari-hari.
Lantas bagaimana ? Apa pun
situasi kondisi, tidak ada yang ideal. Tetap hukum plus minus yang berlaku.
Tidak ada yang mutlak sempurna, tidak ada yang 100 % memuaskan hati. Dari sini,
saya jadi belajar, bahwa ternyata bukanlah kesempurnaan hidup yang kita kejar,
bukan kepuasan hasrat yang kita penuhi, melainkan kesungguhan menjalani proses
hidup. Baik kolektif maupun individualis, bukan tujuan, tetapi akibat, sehingga
bukan alasan untuk tidak bersungguh-sungguh dalam menempuh pilihan hidup. Hidup
yang oleh sebagian besar orang, dianggap tak wajar. Tak wajar ? Kenapa tidak ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar