Tak seperti biasanya, pagi itu,
Rakhe nampak sibuk. Ia beres-beres rumah. Buku-buku yang berserakan ditata
rapi. Rak buku yang di teras dipindah ke dalam rumah. Isa sempat kaget, kesambet apa ini sang adik, yang tak
biasanya rapikan buku. Soalnya selama ini untuk urusan merapikan perabot rumah,
menata buku-buku adalah kebiasaan si Isa. Sedangkan Rakhe hanya baca-baca buku
saja, dan sesekali menulis opini di blog pribadinya. “Kak ! Buku Ulil yang
‘Menjadi Muslim Liberal’ mana ya ?” teriak Rakhe kemudian, usai memilah-milah
buku yang akan digelar di perpustakaan.
“Ooo kalau ga salah di rak
belakang di Mushala.” Jawab Isa. “Lho emangnya ada rencana apa ? Ga biasanya
kamu beres-beres buku. Atau hanya sekadar cari bukunya bung Ulil ?”
“Eehhh, emangnya hanya Kakak saja
yang bisa beres-beres buku ? Aku juga bisa kali...hehehe. Gini, Kak, aku itu
kepingin buku-buku kita yang yang beraroma liberal itu kita pajang untuk umum.
Selama ini yang tergelar di ruang tamu dan teras itu kan hanya buku-buku
ringan. Aku ingin, buku-buku yang mengusung tema pluralis, liberalis, juga ikut
kita pamerkan. Gimana OK kan ?”
“Iya...ya...tapi aku masih
khawatir dengan animo masyarakat nanti. Bagaimana pandangan mereka nanti ke
kita. Apa ga berabe nanti...?”
“Ah Kakak tenang saja. Paling
yang ribut hanya itu-itu saja. Mayoritas akan adem ayem saja. Karena mereka juga
sebetulnya eneg dengan gaya puritan yang sok paling Islam, paling bener, paling
suci, dan ahli waris surga. Masyarakat dah paham kok, Kak. Mana yang selaras
dengan nurani, mana yang hanya pintar berdalil ayat...”
“Sotoy kamu...terserah kamulah.
Apa baiknya. Saya kan hanya kebagian ngurus wajah ‘of the Book’ kita. Soal
isinya apa terserah Rakhe saja...”
“Gitu dong Kakakku, yang baik
hati, sopan, dan ti.....”
“Tidak sombong. Gitu to
maksudmu....hehehe....”
Telah jadi obsesi Rakhe, yang
mengangankan perpustakaan ‘of the Book’ rintisannya bersama sang kakak itu, tak
sebatas menyajikan buku-buku ringan, bacaan fiksi, novel remaja. Of the Book, mesti
beda, ada visi tema yang fokus mengetengahkan muatan mazhab liberal atau
moderat. Mazhab yang jadi klangenannya sejak duduk di bangku SMA dulu. Menurut
Rakhe, paham moderat harus terus didengungkan tanpa lelah. Islam yang menggejala
ke permukaan akhir-akhir ini adalah model keberagamaan yang anti sosial. Model
keberagamaan yang menganggap kedaulatan Tuhan itu hampa udara, tak bersentuh
dengan realitas masyarakat. Masyarakatlah yang harus menyesuaikan diri dengan
bunyi teks suci, bukan sebaliknya ayat yang harus menyelaraskan makna dengan
selera manusia. Ya, itulah aliran puritan yang kini menguasai opini Islam di
media. Aliran Islam yang telah sanggup menguasai alam sadar masyarakat bawah.
Masyarakat bawah yang konon dianggap sebagai pemegang tradisi dan menjadi basis
dakwah kaum Nahdliyin, kini pindah haluan meninggalkan kebiasaan leluhur dan
menetap dalam pangkuan puritan.
Di sinilah pentingnya paham
moderat di sorong ke permukaan. Paham yang menjunjung kemanusiaan, hak asasi
manusia, paham kebebasan, dan kemajemukan. Paham yang mengusung kedaulatan
manusia. Rakhe berpikir, hanya dengan mendorong moderatlah, maka paham yang
menjunjung literal akan ada pembandingnya. Adanya moderat, maka puritan tak
sendiri dalam memahami teks Tuhan. Sebagai pemegang otoritas keagamaan, puritan
ada yang menyandingi. Sehingga masyarakat akan dapatkan pemahaman yang
berimbang, tak berat sebelah, hanya paham puritan saja.
“Kalau menurut Kak Isa, apakah
moderat bisa bertanding melawan puritan ? Sebab yang kita tahu, puritan
didukung oleh pendanaan yang kuat, kemudahan media sebagai sarana dakwahnya. MTA
contohnya, kelompok itu kini telah menguasai radio dakwah di negeri ini. Bahkan
sekarang malah telah merambah media televisi. Dalam menjual paham puritan, MTA tak
mendapatkan perlawanan yang berarti dari kalangan tradisi. Kalangan tradisi
yang awal kelahiran Muhammadiyah sebagai kelompok masyarakat awam yang
mayoritas, kini berubah menjadi kalangan elite tertentu dan minoritas.
Masyarakat awam saat ini adalah masyarakat yang melek budaya, anti klenik, anti
ziarah, dan condong pada pengumpulan kapital. Hal ini senada dengan gaya hidup
kaum puritan, yang cenderung borjuis.”
“Persis, aku juga melihat bahwa
pergerakan kaun moderat, tak segampang sebagaimana kaum puritan. Kaum puritan
mendapat sokongan dana yang begitu mudah, mendapat dukungan dari mayoritas
masyarakat, mendapat kucuran bantuan kebijakan politik dari beberapa kepala
daerah. Selain Aceh, ada beberapa daerah seperti Tangerang, Tasikmalaya,
Pandeglang, dsb, yang telah menerbitkan perda syari’ah. Daerah-daerah tersebut
hendak menerapkan islamisasi ruang publik. Ruang publik yang semestinya ramah,
akan dijadikan ajang marah. Ajang penerapan hukum potong tangan, hukum cambuk.”
“Maka dari itu, Kak Isa. Kenapa aku
ngotot pingin menjadikan ‘of teh Book’ kita ini sebagai pustaka yang fokus pada
eksternalisasi Islam moderat. Kita fokus saja pada satu hal ini. Kasihan Islam,
yang akan terus jadi olok-olokan dunia, karena tidak satunya antara doktrin
dengan perbuatan. Islam didengungkan sebagai agama rahmat bagi semesta alam,
namun yang terjadi dipermukaan adalah kekerasan atas nama Tuhan. Perda-perda
yang memasung kebebasan individu. Perda-perda yang memangkas kebebasan
berekspresi, beragama dan berkeyakinan. Bahaya kan ? Jelas saya tak
mengangankan Islam puritan yang berkuasa dan jadi rujukan otoritas kebenaran. Saya
tak rela, Barat memandang Islam dari out put kaum puritan.”
“Aku,” tambah Rakhe lagi, “akan
berusaha mempromosikan Islam moderat. Setidaknya kini lewat ‘of the Book’. Harapan
saya, ‘of the Book’ akan berderet sejajar bersama kelompok-kelompok gerakan
kebebasan sipil, yang menyerukan gagasan-gagasan toleransi dan kemajemukan.”
“Of the Book adalah aksi kita
menyorongkan gagasan Islam moderat. Of the Book merupakan persemaian kita dalam
menghayati Islam ramah, bukan Islam marah. Begitu Kakakku....”[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar