Rabu, 11 Februari 2015

Mengusung Islam Moderat

Tak seperti biasanya, pagi itu, Rakhe nampak sibuk. Ia beres-beres rumah. Buku-buku yang berserakan ditata rapi. Rak buku yang di teras dipindah ke dalam rumah. Isa sempat kaget, kesambet apa ini sang adik, yang tak biasanya rapikan buku. Soalnya selama ini untuk urusan merapikan perabot rumah, menata buku-buku adalah kebiasaan si Isa. Sedangkan Rakhe hanya baca-baca buku saja, dan sesekali menulis opini di blog pribadinya. “Kak ! Buku Ulil yang ‘Menjadi Muslim Liberal’ mana ya ?” teriak Rakhe kemudian, usai memilah-milah buku yang akan digelar di perpustakaan.


“Ooo kalau ga salah di rak belakang di Mushala.” Jawab Isa. “Lho emangnya ada rencana apa ? Ga biasanya kamu beres-beres buku. Atau hanya sekadar cari bukunya bung Ulil ?”

“Eehhh, emangnya hanya Kakak saja yang bisa beres-beres buku ? Aku juga bisa kali...hehehe. Gini, Kak, aku itu kepingin buku-buku kita yang yang beraroma liberal itu kita pajang untuk umum. Selama ini yang tergelar di ruang tamu dan teras itu kan hanya buku-buku ringan. Aku ingin, buku-buku yang mengusung tema pluralis, liberalis, juga ikut kita pamerkan. Gimana OK kan ?”

“Iya...ya...tapi aku masih khawatir dengan animo masyarakat nanti. Bagaimana pandangan mereka nanti ke kita. Apa ga berabe nanti...?”

“Ah Kakak tenang saja. Paling yang ribut hanya itu-itu saja. Mayoritas akan adem ayem saja. Karena mereka juga sebetulnya eneg dengan gaya puritan yang sok paling Islam, paling bener, paling suci, dan ahli waris surga. Masyarakat dah paham kok, Kak. Mana yang selaras dengan nurani, mana yang hanya pintar berdalil ayat...”

“Sotoy kamu...terserah kamulah. Apa baiknya. Saya kan hanya kebagian ngurus wajah ‘of the Book’ kita. Soal isinya apa terserah Rakhe saja...”

“Gitu dong Kakakku, yang baik hati, sopan, dan ti.....”

“Tidak sombong. Gitu to maksudmu....hehehe....”

Telah jadi obsesi Rakhe, yang mengangankan perpustakaan ‘of the Book’ rintisannya bersama sang kakak itu, tak sebatas menyajikan buku-buku ringan, bacaan fiksi, novel remaja. Of the Book, mesti beda, ada visi tema yang fokus mengetengahkan muatan mazhab liberal atau moderat. Mazhab yang jadi klangenannya sejak duduk di bangku SMA dulu. Menurut Rakhe, paham moderat harus terus didengungkan tanpa lelah. Islam yang menggejala ke permukaan akhir-akhir ini adalah model keberagamaan yang anti sosial. Model keberagamaan yang menganggap kedaulatan Tuhan itu hampa udara, tak bersentuh dengan realitas masyarakat. Masyarakatlah yang harus menyesuaikan diri dengan bunyi teks suci, bukan sebaliknya ayat yang harus menyelaraskan makna dengan selera manusia. Ya, itulah aliran puritan yang kini menguasai opini Islam di media. Aliran Islam yang telah sanggup menguasai alam sadar masyarakat bawah. Masyarakat bawah yang konon dianggap sebagai pemegang tradisi dan menjadi basis dakwah kaum Nahdliyin, kini pindah haluan meninggalkan kebiasaan leluhur dan menetap dalam pangkuan puritan.

Di sinilah pentingnya paham moderat di sorong ke permukaan. Paham yang menjunjung kemanusiaan, hak asasi manusia, paham kebebasan, dan kemajemukan. Paham yang mengusung kedaulatan manusia. Rakhe berpikir, hanya dengan mendorong moderatlah, maka paham yang menjunjung literal akan ada pembandingnya. Adanya moderat, maka puritan tak sendiri dalam memahami teks Tuhan. Sebagai pemegang otoritas keagamaan, puritan ada yang menyandingi. Sehingga masyarakat akan dapatkan pemahaman yang berimbang, tak berat sebelah, hanya paham puritan saja.

“Kalau menurut Kak Isa, apakah moderat bisa bertanding melawan puritan ? Sebab yang kita tahu, puritan didukung oleh pendanaan yang kuat, kemudahan media sebagai sarana dakwahnya. MTA contohnya, kelompok itu kini telah menguasai radio dakwah di negeri ini. Bahkan sekarang malah telah merambah media televisi. Dalam menjual paham puritan, MTA tak mendapatkan perlawanan yang berarti dari kalangan tradisi. Kalangan tradisi yang awal kelahiran Muhammadiyah sebagai kelompok masyarakat awam yang mayoritas, kini berubah menjadi kalangan elite tertentu dan minoritas. Masyarakat awam saat ini adalah masyarakat yang melek budaya, anti klenik, anti ziarah, dan condong pada pengumpulan kapital. Hal ini senada dengan gaya hidup kaum puritan, yang cenderung borjuis.”

“Persis, aku juga melihat bahwa pergerakan kaun moderat, tak segampang sebagaimana kaum puritan. Kaum puritan mendapat sokongan dana yang begitu mudah, mendapat dukungan dari mayoritas masyarakat, mendapat kucuran bantuan kebijakan politik dari beberapa kepala daerah. Selain Aceh, ada beberapa daerah seperti Tangerang, Tasikmalaya, Pandeglang, dsb, yang telah menerbitkan perda syari’ah. Daerah-daerah tersebut hendak menerapkan islamisasi ruang publik. Ruang publik yang semestinya ramah, akan dijadikan ajang marah. Ajang penerapan hukum potong tangan, hukum cambuk.”

“Maka dari itu, Kak Isa. Kenapa aku ngotot pingin menjadikan ‘of teh Book’ kita ini sebagai pustaka yang fokus pada eksternalisasi Islam moderat. Kita fokus saja pada satu hal ini. Kasihan Islam, yang akan terus jadi olok-olokan dunia, karena tidak satunya antara doktrin dengan perbuatan. Islam didengungkan sebagai agama rahmat bagi semesta alam, namun yang terjadi dipermukaan adalah kekerasan atas nama Tuhan. Perda-perda yang memasung kebebasan individu. Perda-perda yang memangkas kebebasan berekspresi, beragama dan berkeyakinan. Bahaya kan ? Jelas saya tak mengangankan Islam puritan yang berkuasa dan jadi rujukan otoritas kebenaran. Saya tak rela, Barat memandang Islam dari out put kaum puritan.”

“Aku,” tambah Rakhe lagi, “akan berusaha mempromosikan Islam moderat. Setidaknya kini lewat ‘of the Book’. Harapan saya, ‘of the Book’ akan berderet sejajar bersama kelompok-kelompok gerakan kebebasan sipil, yang menyerukan gagasan-gagasan toleransi dan kemajemukan.”

“Of the Book adalah aksi kita menyorongkan gagasan Islam moderat. Of the Book merupakan persemaian kita dalam menghayati Islam ramah, bukan Islam marah. Begitu Kakakku....”[]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar