| reading group di Alun-alun lama Ungaran |
Reading group
Kuntowijoyo keempat kembali digelar, Sabtu 2 Mei 2015, di Ungaran. Mundur 1
minggu dari jadwal semestinya, Sabtu 25 April 2015. Terpaksa diundur, sebab
saya masih ada acara dolan di Yogyakarta. Barangkali karena diundur, maka
gelaran reading kemarin pun hanya dihadiri 5 orang inti (saya sendiri, Hasan
Fuady, Zully, Noor Rahman, dan Meta alias Zahratunnisa), sebab yang lain juga
bertabrakan dengan agenda lain. Meskipun yang hadir tak banyak sebagaimana yang
kedua dan ketiga, kiranya tak mengurangi kualitas pembacaan, dan pemaknaan. Malah
serasa lebih intens. Hal itu terlihat, durasi waktu yang kami lakukan sangat
panjang, hampir 3,5 jam. Kami bisa berefleksi panjang lebar terkait urgensinya
cara pandang, dan tahapan sistematis Kunto tentang kesinambungan Iman-Ilmu-Amal.
Reading group yang
keempat jadi berasa, teman-teman menginginkan dilangsungkan di tempat terbuka. Dan
Alun-alun (lama) Ungaran pilihannya. Mumpung kondisi malam yang cerah,
sekaligus alun-alun merupakan simbol jantung kota, pusat keramaian. Reading group
dimulai pukul 21.00 ditengah sorot pandang mata aneh dari para pengguna
alun-alun. Aneh, karena lazimnya, apalagi malam Minggu, alun-alun dipadati oleh
orang-orang yang melepas penat, bergerombol ngobrol ngalor-ngidul, seiring sorongan pelbagai penganan kuliner malam khas
Ungaran. Dengan fasilitas penerangan lampu HP, deretan huruf-huruf teks
Kuntowijoyo dibacakan. Meta yang kebagian jatah untuk membacakan meneruskan
subbab “Cita-cita transformasi Islam”. Per alinea terbaca, kami kupas semampunya,
lagi-lagi di tengah keriuhan malam alun-alun yang padat manusia. Sekitar 1,5
jam pembacaan dan pemaknaan selesai. Diskusi berlanjut dengan pendalaman
pemikiran terkait perubahan sosial yang mengacu pada cita-cita transformasi
Islam yang dipaparkan Kunto. Kami berlima ditambah dua orang sahabat yang
datang telat, mencoba mengorek lebih dalam maksud paparan Kunto. Kami diskusi, ngobrol serius,
sembari seruput kopi kaki lima ala alun-alun.
| peserta bertambah dua orang |
Di tengah asyik
diskusi, ini yang menegangkan, ada dua orang mabuk yang beradu mulut dan nyaris
baku hantam. Kami coba tak mempedulikannya. Kami tahu dua orang tersebut memang
sedang mabuk. Dari ocehannya yang ngawur, berdiri sempoyongan, jelas mereka
dalam kondisi tak terkendali. Kami terus saja ngobrol serius tentang “perubahan
sosial”, seakan tidak ada yang terjadi di tengah riuh rendah malam jantung kota
Ungaran itu. Namun keseriusan tak berlanjut. Ocehan kasar dua pemabuk yang tak
kunjung reda, cukup menyita perhatian. Tengok kanan kiri, orang-orang pun sudah
pada beringsut pergi. Bulu kuduk kami, terutama saya mulai siaga. Saya tak
ingin dua pemabuk itu merusak harmoni diskusi rutin. Lagian suasana alun-alun,
seiring malam yang kian menepi menuju pagi, mulai lengang. Keriuhan manusia berkurang.
Tenda-tenda penjaja kuliner banyak yang sudah bongkar istirahat. Akhirnya saya
putuskan untuk pindah tempat. Persis pukul 23.45, reading group pindah tempat
ke gubug mungilku.
Sesampai di rumah,
Rahma istriku sudah istirahat. Sebelumnya ia memang tidak ikut ke alun-alun,
karena dua jagoanku sudah pada tidur, kasihan kalau ditinggal pergi. Saya bangunkan
istri. Saya minta kepadanya untuk bersiap bikin sajian teh manis sebagai
pendukung diskusi yang tertunda. Kami lanjutkan obrolan. Kami lanjutkan berefleksi
atas Kunto yang sepertinya kian merangsek ke sungsum. Metode transformasi yang
tertuang: teologi—filsafat sosial—teori sosial—perubahan sosial, serasa berat
kami sangga. Perdebatan teologi hingga kini, kami rasa tak kunjung usai, malah
kian seram dengan maraknya kelompok radikal. Kelompok yang menjunjung teks suci
secara literal minus rasionalitas. Kelompok yang tak menginginkan wacana filsafat
berkembang.
| akhirnya pindah ke gubugku...... |
Kami berkesimpulan,
proyek besar Kunto mesti diteruskan. Memikirkan metode transformasi nilai Islam
yang berbasis teori sosial. Sebuah teori yang diturunkan dari filsafat sosial. Filsafat
yang mengacu pada paradigma Al-Qur’an dan Sunah. Filsafat yang coba menggali
makna-makna dari teks suci umat Islam. Kunto mendesak, bahwa pemikiran terkait
perubahan sosial pada level empiris yang tercipta melalui ilmu-ilmu sosial
Islam, merupakan jawaban Umat Islam atas kondisi masyarakat industrial. Kondisi
masyarakat yang gandrung dengan ilmu, serba ilmiah, serba terjelaskan secara
filosofis. Dengan ilmu pula, perubahan sosial akan tersaji secara objektif,
bukan lagi subjektif normatif. Nilai-nilai Islam bisa bersanding dengan
pemikiran dan umat lain secara damai, tanpa syak prasangka. Lantaran sifat dan
karakter ilmu yang ilmiah dan objektif, harapan Kunto, Islam juga bakal tampil
dengan objektifikasi. Huuhu...berat !
Pukul 00.30 (Minggu
dini hari), obrolan selesai. Saya persilakan teman-teman istirahat. Yang cewek
(Zully dan Meta) istirahat di kamar depan, sedang yang cowok (Hasan dan Rohman)
tidur di ruang tamu. Saya sendiri ! Masih belum bisa tidur. Buka layar laptop,
buka sosia media, saya layangkan informasi reading group ke publik. Ya reading
group Kuntowijoyo. Reading group yang telah kami langsungkan secara beruntun
empat kali. Semoga kami istiqomah, semoga pula Kuntowijoyo kian terjelaskan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar