Minggu, 03 Mei 2015

Reading Group yang Keempat

reading group di Alun-alun lama Ungaran


Reading group Kuntowijoyo keempat kembali digelar, Sabtu 2 Mei 2015, di Ungaran. Mundur 1 minggu dari jadwal semestinya, Sabtu 25 April 2015. Terpaksa diundur, sebab saya masih ada acara dolan di Yogyakarta. Barangkali karena diundur, maka gelaran reading kemarin pun hanya dihadiri 5 orang inti (saya sendiri, Hasan Fuady, Zully, Noor Rahman, dan Meta alias Zahratunnisa), sebab yang lain juga bertabrakan dengan agenda lain. Meskipun yang hadir tak banyak sebagaimana yang kedua dan ketiga, kiranya tak mengurangi kualitas pembacaan, dan pemaknaan. Malah serasa lebih intens. Hal itu terlihat, durasi waktu yang kami lakukan sangat panjang, hampir 3,5 jam. Kami bisa berefleksi panjang lebar terkait urgensinya cara pandang, dan tahapan sistematis Kunto tentang  kesinambungan Iman-Ilmu-Amal.


Reading group yang keempat jadi berasa, teman-teman menginginkan dilangsungkan di tempat terbuka. Dan Alun-alun (lama) Ungaran pilihannya. Mumpung kondisi malam yang cerah, sekaligus alun-alun merupakan simbol jantung kota, pusat keramaian. Reading group dimulai pukul 21.00 ditengah sorot pandang mata aneh dari para pengguna alun-alun. Aneh, karena lazimnya, apalagi malam Minggu, alun-alun dipadati oleh orang-orang yang melepas penat, bergerombol ngobrol ngalor-ngidul, seiring sorongan pelbagai penganan kuliner malam khas Ungaran. Dengan fasilitas penerangan lampu HP, deretan huruf-huruf teks Kuntowijoyo dibacakan. Meta yang kebagian jatah untuk membacakan meneruskan subbab “Cita-cita transformasi Islam”. Per alinea terbaca, kami kupas semampunya, lagi-lagi di tengah keriuhan malam alun-alun yang padat manusia. Sekitar 1,5 jam pembacaan dan pemaknaan selesai. Diskusi berlanjut dengan pendalaman pemikiran terkait perubahan sosial yang mengacu pada cita-cita transformasi Islam yang dipaparkan Kunto. Kami berlima ditambah dua orang sahabat yang datang telat, mencoba mengorek lebih dalam maksud  paparan Kunto. Kami diskusi, ngobrol serius, sembari seruput kopi kaki lima ala alun-alun.

peserta bertambah dua orang


Di tengah asyik diskusi, ini yang menegangkan, ada dua orang mabuk yang beradu mulut dan nyaris baku hantam. Kami coba tak mempedulikannya. Kami tahu dua orang tersebut memang sedang mabuk. Dari ocehannya yang ngawur, berdiri sempoyongan, jelas mereka dalam kondisi tak terkendali. Kami terus saja ngobrol serius tentang “perubahan sosial”, seakan tidak ada yang terjadi di tengah riuh rendah malam jantung kota Ungaran itu. Namun keseriusan tak berlanjut. Ocehan kasar dua pemabuk yang tak kunjung reda, cukup menyita perhatian. Tengok kanan kiri, orang-orang pun sudah pada beringsut pergi. Bulu kuduk kami, terutama saya mulai siaga. Saya tak ingin dua pemabuk itu merusak harmoni diskusi rutin. Lagian suasana alun-alun, seiring malam yang kian menepi menuju pagi, mulai lengang. Keriuhan manusia berkurang. Tenda-tenda penjaja kuliner banyak yang sudah bongkar istirahat. Akhirnya saya putuskan untuk pindah tempat. Persis pukul 23.45, reading group pindah tempat ke gubug mungilku.

Sesampai di rumah, Rahma istriku sudah istirahat. Sebelumnya ia memang tidak ikut ke alun-alun, karena dua jagoanku sudah pada tidur, kasihan kalau ditinggal pergi. Saya bangunkan istri. Saya minta kepadanya untuk bersiap bikin sajian teh manis sebagai pendukung diskusi yang tertunda. Kami lanjutkan obrolan. Kami lanjutkan berefleksi atas Kunto yang sepertinya kian merangsek ke sungsum. Metode transformasi yang tertuang: teologi—filsafat sosial—teori sosial—perubahan sosial, serasa berat kami sangga. Perdebatan teologi hingga kini, kami rasa tak kunjung usai, malah kian seram dengan maraknya kelompok radikal. Kelompok yang menjunjung teks suci secara literal minus rasionalitas. Kelompok yang tak menginginkan wacana filsafat berkembang.

akhirnya pindah ke gubugku......


Kami berkesimpulan, proyek besar Kunto mesti diteruskan. Memikirkan metode transformasi nilai Islam yang berbasis teori sosial. Sebuah teori yang diturunkan dari filsafat sosial. Filsafat yang mengacu pada paradigma Al-Qur’an dan Sunah. Filsafat yang coba menggali makna-makna dari teks suci umat Islam. Kunto mendesak, bahwa pemikiran terkait perubahan sosial pada level empiris yang tercipta melalui ilmu-ilmu sosial Islam, merupakan jawaban Umat Islam atas kondisi masyarakat industrial. Kondisi masyarakat yang gandrung dengan ilmu, serba ilmiah, serba terjelaskan secara filosofis. Dengan ilmu pula, perubahan sosial akan tersaji secara objektif, bukan lagi subjektif normatif. Nilai-nilai Islam bisa bersanding dengan pemikiran dan umat lain secara damai, tanpa syak prasangka. Lantaran sifat dan karakter ilmu yang ilmiah dan objektif, harapan Kunto, Islam juga bakal tampil dengan objektifikasi. Huuhu...berat !

Pukul 00.30 (Minggu dini hari), obrolan selesai. Saya persilakan teman-teman istirahat. Yang cewek (Zully dan Meta) istirahat di kamar depan, sedang yang cowok (Hasan dan Rohman) tidur di ruang tamu. Saya sendiri ! Masih belum bisa tidur. Buka layar laptop, buka sosia media, saya layangkan informasi reading group ke publik. Ya reading group Kuntowijoyo. Reading group yang telah kami langsungkan secara beruntun empat kali. Semoga kami istiqomah, semoga pula Kuntowijoyo kian terjelaskan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar