Senin, 09 Februari 2015

Dakwah MTA


Arus dakwah MTA (Majlis Tafsir Al-Qur’an) kian gencar saja. Sudah tak terbendung, terus meluas hampir seantero negeri. Binaan MTA dimana-mana. Siaran radio dakwahnya yang sebelumnya hanya bisa diperdengarkan untuk warga Solo Raya, kini sudah relay di kota-kota besar Indonesia. “Prestasi” yang patut diapresiasi. Nah, tak terkecuali dengan Rakhe. Sosok perantau yang tak pernah diam di satu tempat. Selalu berpindah dari majlis ke majlis, mazhab, dan terakhir kelompok keyakinan. Rakhe yang seorang perantau, dan kini ia merasa mantap telah menemukan pelabuhan terakhirnya, yaitu ikut berderet bersama kelompok muslim moderat.


Kembali mengulik fenomena MTA. Rakhe pernah mengikuti pengajian bahkan telah mendaftarkan diri sebagai warga MTA. Sebutan warga ini, untuk membedakan partisipan dan peserta tetap dalam aktivitas dakwahnya. Warga MTA berarti si Rakhe ini sejajar dengan jamaah tetap lainnya yang telah puluhan tahun mengikuti dinamika MTA. Rakhe masuk tahun 2008, dan hanya sanggup bertahan sampai setahun saja. Tahun 2009, ia resmi keluar. Selama satu tahun itu pula, ia mendapati kenyataan yang tak sejalan dengan garis pemikirannya, yang memang dari masa SMA dulu, ia menyukai gaya pemikiran yang condong liberal. Dalam memahami teks, kelompok ini cenderung literal atau apa adanya, yang menafikan perangkat ilmu-ilmu humaniora. MTA tak pernah memakai pendekatan sejarah dalam membaca teks Qur’an. Pendekatan sastra juga mereka nafikan. Filsafat, sosial dan politik tak tersentuh dan benar-benar dijauhkan dari setiap pembahasan pengajian rutin mereka.

Selama satu tahun, ia mencoba bertahan dan syukur harapannya sekiranya betah sampai tua. Namun “takdir” bicara lain. Ia tak betah. Ia meninggalkan barisan warga yang tiap Minggu berkumpul di gedung MTA, mengkaji literal ayat demi ayat Al-Qur’an bareng Ustadz Ahmad Sukino itu. Dengan tak ragu, ia mantap keluar. Benar-benar ia tak cocok dengan model penafsiran yang minus rasionalitas. Tetapi yang menarik dari Rakhe, meski ia telah keluar dan memang tak cocok dengan model penafsirannya, ia tak membenci kelompok ini. Ia tetap mengapresiasi positif gerakan puritan yang berkantor di Solo, samping Kasunanan Mangkunegaran itu. Menurutnya gerakan puritan yang diusung MTA, kini telah mendapati momentumnya yang pas dengan selera zaman. Tidak sebagaimana dengan Muhammadiyah, yang lahir awal abad XX, dan mendapat tantangan keras dari kaum tradisi. Muhammadiyah lahir pada saat situasi zaman yang sedang gandrung dengan mitologis, kehidupan masyarakat yang sarat dengan mistik, tahayul, dan pemuja hal-hal ghaib. Sebaliknya MTA, seakan malah didukung oleh mayoritas masyarakat yang sudah jengah dengan pola hidup feodal yang sarat mitos, tahayul dan rumit. MTA menawarkan pola keberagamaan yang sederhana dan tak neko-neko. Dalam memahami teks suci, tak harus pintar bahasa Arab, tidak mesti mahir nahwu sharaf, dsb. Lantaran kesederhanaannya, jamaah pengajian membludak. Masyarakat pinggiran dan perkotaan berbondong dari pelbagai daerah luar Solo, mengikuti pengajian Ahad pagi. Mereka merasa tercerahkan dengan model beragama yang tak ribet dengan ilmu alat. Cukup mendasarkan diri dengan terjemahan Depag Al-Qur’an dan kitab-kitab hadis,  mereka merasa telah beragama dengan benar.

Kelompok puritan itu kini kian berkibar, seiring dengan terpancarnya MTATV untuk wilayah Karesidenan Surakarta. Warga MTA, menyambut gembira dengan tayangnya televisi dakwah tersebut. Jika tak sempat datang ke pengajian Ahad pagi, mereka tetap bisa mengikuti live televisi di rumahnya masing-masing.  Tak hanya itu, acara ulang pengajian juga diputar saban waktu, seolah hendak memanjakan para warga agar tak sedetik pun beranjak dari pemikiran selain “Al-Qur’an dan Sunah”. Televisi itu, Rakhe pikir, memang benar-benar memanjakan mata pemirsa. Bayangkan seharian tayang tanpa kesandung dengan iklan. Sehingga mata dan perasaan tak terganggu dengan tayangan-tayangan produk industri yang tak perlu.

Ringkasnya Rakhe melihat, MTA berhasil merebut hati masyarakat yang demen dengan nuansa religious yang praktis. MTA menawarkan kepraktisan, kemudahan, dan tak perlu mengerutkan dahi dalam mendalami ayat-ayat Al-Qur’an. Cukup take it or leave it. Mudahkan !

Meski serasa mudah dan telah berhasil me-MTA-kan masyarakat Solo raya, malah kini jauh menyelusup hampir segenap wilayah Pulau Jawa, sebagian kota-kota besar Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara. Tetap saja, Rakhe tak kepincut  untuk kembali menjadi warga MTA. Agama Islam memang dari asalnya sederhana, karena ia ada untuk seluruh umat manusia hingga akhir zaman. Agamanya sederhana, tapi bukan berarti dalam beragama juga mesti sederhana. Agama bisa jadi berasal dari ruang hampa yang terbebas dari tarikan gravitasi, tetapi tidak dengan beragama. Beragama adalah hidup keseharian. Menjalani proses sehari-hari yang senantiasa menghadirkan Tuhan. Menurut Rakhe, jelas hal itu tak sesederhana doktrin yang termaktub dalam kitab. Teks suci memang sederhana dan dapat dipahami oleh setiap umat, tetapi dalam berinteraksi dengan teks, mustahil dapat berpisah dengan atmosfir nilai yang melingkupi situasi zaman. Tingkat kesadaran masing-masing kita juga tidak berbarengan, sehingga kecil kemungkinan dapat menilai atau memaknai teks secara seragam. Nah, keseragaman itulah yang sangat mengganggu kesadaran Rakhe, kala berinteraksi dengan MTA. Doktrin persatuan sangat kuat mengakar dibenak para “pembesar” MTA. Mereka tak mempercayai kesahihan hadis “Perbedaan itu rahmat.” Walau Rakhe juga tak mengerti pasti kebenaran hadis tersebut, namun akal sehatnya membenarkan. Sedari awal penciptaan, Tuhan tak pernah menyeragamkan makhluk-Nya. Pun begitu dengan manusia. Tak ada manusia kembar. Tak ada DNA yang bisa tertukar, sampai dengan isi kepala juga tak ada yang sama persis. Kalau pun ada yang hendak menyeragamkan pemahaman atas sesuatu, sesungguhnya yang terjadi adalah pura-pura sama.

“Tak mungkin isi otak kita ini persis sama!” kata Rakhe

“Lha terus kenapa kalau memang tak sama ? Masalah buatmu ?” tanya Isa , sang kakak.

“Masalah tak masalah sih. Masalah karena saya tak menyukai penyeragaman. Doktrin yang dipaksakan kepada orang lain, demi persatuan, jelas tak sesuai dengan nuraniku. Seperti yang berlaku di MTA itu. Mereka mengidamkan persatuan dan membenci perpecahan. Perbedaan bagi mereka adalah perpecahan.”

“Satu lagi, Kak” tambah Rakhe, “Muhammadiyah, NU, dan komunitas muslim lainnya itu, seolah kini iri dengan keberhasilan MTA. Sehingga fitnah kerap terlontar dari mereka ke MTA. Ini juga tak dibenarkan. Saya respek dengan NU yang memegang erat tradisi leluhur. Saya salut dengan Muhammadiyah yang tak alergi dengan budaya massa alias populer. Tetapi tetap saja salah, sekiranya enggan bersaing secara fair dengan MTA. Tidak pada tempatnya dengan sering menebar fitnah bahwa MTA menghalalkan daging anjing, menyebut Ustadz Sukino dengan panggilan ‘asu’-kino. Darah Sukino halal, dan sebagainya. “

“Iya, memang ironis. Mereka mendaku ahlussunah wal jamaah, Islam yang benar dan selaras dengan ajaran Nabi. Tetapi sangat membenci aktivitas dakwah MTA. Walaupun saya sendiri juga tak sreg dengan MTA, tetapi saya juga tak bisa sepenuhnya menyalahkan MTA yang memang sedari awal mengusung mazhab literal.”

“Persis Kak. Itulah kenapa saya tadi menyebutnya masalah, tapi juga tak masalah. Saya tak sepakat dengan MTA, tapi saya juga tak suka dengan cara-cara NU yang memblokade pengajian MTA. Mengusir pengajiannya, tak memberikan izin tempat untuk pertemuan akbar di daerah, dan banyak lagi contohnya. Yang pasti apa pun itu, entah NU maupun MTA, atau bahkan Muhammadiyah yang sok moderat itu, tetap saja tak bermakna, kalau masih menggunakan cara-cara primitif, menyebar fitnah teror, dan membenci agama lain atas nama teks.”

Telah sampai pada kesimpulan bagi Rakhe, bahwa beragama adalah privasi pribadi yang otomatis tak bisa dipamerkan pada yang lain. Sehingga beragama adalah laku subjektif, yang masing-masing berhak memaknai dan menghayati sesuai dengan seleranya, dan tak bisa meng-klaim, bahwa keyakinannya yang tepat dan pasti surga. Beragama adalah laku pribadi, hubungan intim individu dengan Tuhannya. Sudah semestinya masing-masing bisa saling menghargai nilai penghayatannya. Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, dan sebagainya itu sebatas nama wadah dalam ber-Tuhan. Masing-masing tak berhak saling menilai dengan landasan subjektivitasnya sendiri-sendiri. Namun yang diperintahkan oleh Tuhan adalah kerjasama dalam kebaikan. Kerjasama untuk memberadabkan bumi, mengagungkan Tuhan.

“Oiya Rakhe, katanya kemarin kamu lihat pengajian Ahad pagi di MTATV. Gimana menurutmu ?” tanya Isa kemudian.

“Hmmm.......entahlah...” Rakhe melenggang pergi menjauh dari kakaknya. Isa hanya bisa menghela napas  dan tak mengerti dengan benang ruwet yang mengganggu adiknya itu.    

   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar