Arus dakwah MTA (Majlis Tafsir
Al-Qur’an) kian gencar saja. Sudah tak terbendung, terus meluas hampir seantero
negeri. Binaan MTA dimana-mana. Siaran radio dakwahnya yang sebelumnya hanya
bisa diperdengarkan untuk warga Solo Raya, kini sudah relay di kota-kota besar Indonesia. “Prestasi” yang patut
diapresiasi. Nah, tak terkecuali dengan Rakhe. Sosok perantau yang tak pernah
diam di satu tempat. Selalu berpindah dari majlis ke majlis, mazhab, dan
terakhir kelompok keyakinan. Rakhe yang seorang perantau, dan kini ia merasa
mantap telah menemukan pelabuhan terakhirnya, yaitu ikut berderet bersama
kelompok muslim moderat.
Kembali mengulik fenomena MTA.
Rakhe pernah mengikuti pengajian bahkan telah mendaftarkan diri sebagai warga
MTA. Sebutan warga ini, untuk membedakan partisipan dan peserta tetap dalam
aktivitas dakwahnya. Warga MTA berarti si Rakhe ini sejajar dengan jamaah tetap
lainnya yang telah puluhan tahun mengikuti dinamika MTA. Rakhe masuk tahun
2008, dan hanya sanggup bertahan sampai setahun saja. Tahun 2009, ia resmi
keluar. Selama satu tahun itu pula, ia mendapati kenyataan yang tak sejalan
dengan garis pemikirannya, yang memang dari masa SMA dulu, ia menyukai gaya
pemikiran yang condong liberal. Dalam memahami teks, kelompok ini cenderung
literal atau apa adanya, yang menafikan perangkat ilmu-ilmu humaniora. MTA tak
pernah memakai pendekatan sejarah dalam membaca teks Qur’an. Pendekatan sastra
juga mereka nafikan. Filsafat, sosial dan politik tak tersentuh dan benar-benar
dijauhkan dari setiap pembahasan pengajian rutin mereka.
Selama satu tahun, ia mencoba
bertahan dan syukur harapannya sekiranya betah sampai tua. Namun “takdir”
bicara lain. Ia tak betah. Ia meninggalkan barisan warga yang tiap Minggu
berkumpul di gedung MTA, mengkaji literal ayat demi ayat Al-Qur’an bareng Ustadz
Ahmad Sukino itu. Dengan tak ragu, ia mantap keluar. Benar-benar ia tak cocok
dengan model penafsiran yang minus rasionalitas. Tetapi yang menarik dari
Rakhe, meski ia telah keluar dan memang tak cocok dengan model penafsirannya,
ia tak membenci kelompok ini. Ia tetap mengapresiasi positif gerakan puritan
yang berkantor di Solo, samping Kasunanan Mangkunegaran itu. Menurutnya gerakan
puritan yang diusung MTA, kini telah mendapati momentumnya yang pas dengan
selera zaman. Tidak sebagaimana dengan Muhammadiyah, yang lahir awal abad XX,
dan mendapat tantangan keras dari kaum tradisi. Muhammadiyah lahir pada saat
situasi zaman yang sedang gandrung dengan mitologis, kehidupan masyarakat yang
sarat dengan mistik, tahayul, dan pemuja hal-hal ghaib. Sebaliknya MTA, seakan
malah didukung oleh mayoritas masyarakat yang sudah jengah dengan pola hidup
feodal yang sarat mitos, tahayul dan rumit. MTA menawarkan pola keberagamaan
yang sederhana dan tak neko-neko. Dalam
memahami teks suci, tak harus pintar bahasa Arab, tidak mesti mahir nahwu sharaf, dsb. Lantaran kesederhanaannya,
jamaah pengajian membludak. Masyarakat pinggiran dan perkotaan berbondong dari
pelbagai daerah luar Solo, mengikuti pengajian Ahad pagi. Mereka merasa tercerahkan
dengan model beragama yang tak ribet dengan ilmu alat. Cukup mendasarkan diri
dengan terjemahan Depag Al-Qur’an dan kitab-kitab hadis, mereka merasa telah beragama dengan benar.
Kelompok puritan itu kini kian
berkibar, seiring dengan terpancarnya MTATV untuk wilayah Karesidenan
Surakarta. Warga MTA, menyambut gembira dengan tayangnya televisi dakwah
tersebut. Jika tak sempat datang ke pengajian Ahad pagi, mereka tetap bisa
mengikuti live televisi di rumahnya
masing-masing. Tak hanya itu, acara
ulang pengajian juga diputar saban waktu, seolah hendak memanjakan para warga
agar tak sedetik pun beranjak dari pemikiran selain “Al-Qur’an dan Sunah”. Televisi
itu, Rakhe pikir, memang benar-benar memanjakan mata pemirsa. Bayangkan seharian
tayang tanpa kesandung dengan iklan. Sehingga mata dan perasaan tak terganggu
dengan tayangan-tayangan produk industri yang tak perlu.
Ringkasnya Rakhe melihat, MTA
berhasil merebut hati masyarakat yang demen dengan nuansa religious yang
praktis. MTA menawarkan kepraktisan, kemudahan, dan tak perlu mengerutkan dahi
dalam mendalami ayat-ayat Al-Qur’an. Cukup take
it or leave it. Mudahkan !
Meski serasa mudah dan telah
berhasil me-MTA-kan masyarakat Solo raya, malah kini jauh menyelusup hampir
segenap wilayah Pulau Jawa, sebagian kota-kota besar Sumatera, Kalimantan, Nusa
Tenggara. Tetap saja, Rakhe tak kepincut untuk kembali menjadi warga MTA. Agama Islam
memang dari asalnya sederhana, karena ia ada untuk seluruh umat manusia hingga
akhir zaman. Agamanya sederhana, tapi bukan berarti dalam beragama juga mesti
sederhana. Agama bisa jadi berasal dari ruang hampa yang terbebas dari tarikan
gravitasi, tetapi tidak dengan beragama. Beragama adalah hidup keseharian. Menjalani
proses sehari-hari yang senantiasa menghadirkan Tuhan. Menurut Rakhe, jelas hal
itu tak sesederhana doktrin yang termaktub dalam kitab. Teks suci memang
sederhana dan dapat dipahami oleh setiap umat, tetapi dalam berinteraksi dengan
teks, mustahil dapat berpisah dengan atmosfir nilai yang melingkupi situasi
zaman. Tingkat kesadaran masing-masing kita juga tidak berbarengan, sehingga
kecil kemungkinan dapat menilai atau memaknai teks secara seragam. Nah,
keseragaman itulah yang sangat mengganggu kesadaran Rakhe, kala berinteraksi
dengan MTA. Doktrin persatuan sangat kuat mengakar dibenak para “pembesar” MTA.
Mereka tak mempercayai kesahihan hadis “Perbedaan itu rahmat.” Walau Rakhe juga
tak mengerti pasti kebenaran hadis tersebut, namun akal sehatnya membenarkan. Sedari
awal penciptaan, Tuhan tak pernah menyeragamkan makhluk-Nya. Pun begitu dengan
manusia. Tak ada manusia kembar. Tak ada DNA yang bisa tertukar, sampai dengan
isi kepala juga tak ada yang sama persis. Kalau pun ada yang hendak
menyeragamkan pemahaman atas sesuatu, sesungguhnya yang terjadi adalah
pura-pura sama.
“Tak mungkin isi otak kita ini
persis sama!” kata Rakhe
“Lha terus kenapa kalau memang
tak sama ? Masalah buatmu ?” tanya Isa , sang kakak.
“Masalah tak masalah sih. Masalah
karena saya tak menyukai penyeragaman. Doktrin yang dipaksakan kepada orang
lain, demi persatuan, jelas tak sesuai dengan nuraniku. Seperti yang berlaku di
MTA itu. Mereka mengidamkan persatuan dan membenci perpecahan. Perbedaan bagi
mereka adalah perpecahan.”
“Satu lagi, Kak” tambah Rakhe, “Muhammadiyah,
NU, dan komunitas muslim lainnya itu, seolah kini iri dengan keberhasilan MTA. Sehingga
fitnah kerap terlontar dari mereka ke MTA. Ini juga tak dibenarkan. Saya respek
dengan NU yang memegang erat tradisi leluhur. Saya salut dengan Muhammadiyah
yang tak alergi dengan budaya massa alias populer. Tetapi tetap saja salah, sekiranya
enggan bersaing secara fair dengan
MTA. Tidak pada tempatnya dengan sering menebar fitnah bahwa MTA menghalalkan
daging anjing, menyebut Ustadz Sukino dengan panggilan ‘asu’-kino. Darah Sukino
halal, dan sebagainya. “
“Iya, memang ironis. Mereka
mendaku ahlussunah wal jamaah, Islam
yang benar dan selaras dengan ajaran Nabi. Tetapi sangat membenci aktivitas
dakwah MTA. Walaupun saya sendiri juga tak sreg
dengan MTA, tetapi saya juga tak bisa sepenuhnya menyalahkan MTA yang memang
sedari awal mengusung mazhab literal.”
“Persis Kak. Itulah kenapa saya tadi
menyebutnya masalah, tapi juga tak masalah. Saya tak sepakat dengan MTA, tapi
saya juga tak suka dengan cara-cara NU yang memblokade pengajian MTA. Mengusir pengajiannya,
tak memberikan izin tempat untuk pertemuan akbar di daerah, dan banyak lagi
contohnya. Yang pasti apa pun itu, entah NU maupun MTA, atau bahkan
Muhammadiyah yang sok moderat itu, tetap saja tak bermakna, kalau masih
menggunakan cara-cara primitif, menyebar fitnah teror, dan membenci agama lain
atas nama teks.”
Telah sampai pada kesimpulan bagi
Rakhe, bahwa beragama adalah privasi pribadi yang otomatis tak bisa dipamerkan
pada yang lain. Sehingga beragama adalah laku subjektif, yang masing-masing
berhak memaknai dan menghayati sesuai dengan seleranya, dan tak bisa
meng-klaim, bahwa keyakinannya yang tepat dan pasti surga. Beragama adalah laku
pribadi, hubungan intim individu dengan Tuhannya. Sudah semestinya
masing-masing bisa saling menghargai nilai penghayatannya. Islam, Kristen,
Yahudi, Hindu, dan sebagainya itu sebatas nama wadah dalam ber-Tuhan.
Masing-masing tak berhak saling menilai dengan landasan subjektivitasnya
sendiri-sendiri. Namun yang diperintahkan oleh Tuhan adalah kerjasama dalam
kebaikan. Kerjasama untuk memberadabkan bumi, mengagungkan Tuhan.
“Oiya Rakhe, katanya kemarin kamu
lihat pengajian Ahad pagi di MTATV. Gimana menurutmu ?” tanya Isa kemudian.
“Hmmm.......entahlah...” Rakhe
melenggang pergi menjauh dari kakaknya. Isa hanya bisa menghela napas dan tak mengerti dengan benang ruwet yang
mengganggu adiknya itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar