Selasa, 06 Januari 2015

Melakoni Ketidakwajaran

#Catatan 1

Kacamata disini, saya maksudkan sebagai catatan yang mencoba menekuni apa-apa yang sudah dan sedang terjadi, dengan perangkat lensa cara pandang yang menormalkan atau mempertajam penglihatan. Tentu saja, lensa cara pandang ini bersifat subjektif. Tidak bisa dijadikan acuan objektif sebagai teori yang tepat untuk semua. Subjektif tersebut, sebagai wujud keterbatasan saya dalam memandang persoalan, sehingga, barangkali hanya tepat untuk saya dan keluarga, bahkan bisa jadi hanya pas untuk diri saya sendiri. Semoga dalam keterbatasan ini, secara ilmu maupun cara pemaparan, tetap ada manfaatnya. Kalau pun tidak bermanfaat, semoga saja tidak mengundang masalah. 

Ayo, nikmati saja, sembari nongkrong dimana pun saja kita berada. Sembari menikmati sajian keadaan maupun kenyataan yang melanda masing-masing kita. Usah risau dengan yang akhir, apa pun itu, termasuk dalam mencandai catatan ini. 
*******


Tahun 2008, saya menempati petak rumah sederhana, hasil cicilan dengan agunan BPKB, dan lainnya—saya lupa menyebutkannya satu per satu, saking banyaknya. Komplek perumahan wilayah Kota kecil Ungaran, perbatasan dengan Kota Semarang, yang kini telah menoreh cerita. Banyak kisah duka maupun suka yang terekam rapi di benak. Dengan kemampuan ala kadarnya, kemampuan otodidak, yang bukan olahan kampus dan lembaga pendidikan mana pun, saya memberanikan diri untuk merajut rekaman dalam benak itu sebagai album catatan. Ya inilah album harian. Album keseharian seorang ayah bagi anak-anak, Ahimsa dan Rakhe. Album seorang suami bagi Rahma, istriku tercinta. Album sebagai hamba Tuhan, yang selalu merajuk ingin selalu diperhatikan kebutuhannya. Sebagai khalifatullah, yang minta ampun ternyata tak segampang yang dibayangkan fungsi sebagai wakil-Nya itu.

Terus terang, saya bukan pencatat yang baik. Bukan pencatat yang telaten dan sabar, yang selalu menuliskan lintasan perasaan dan pikiran dalam bait yang rapi. Barangkali hal ini, lantaran saya tak memiliki basis pendidikan yang memadai. Perjalanan akademis saya tidak lancar. Saat duduk di bangku Sekolah Dasar, SD Girimargo II, Kec. Miri, Kab. Sragen, saya termasuk siswa yang membanggakan orangtua. Rangking 1, peringkat kemampuan belajar yang kini sudah tak relevan, selalu teraih dari mulai kelas 1 hingga kelas 6. Jelas hal ini sangat membanggakan kedua orangtua, yang tak memiliki kejelasan latar belakang pendidikan. Ibu saya, SD tidak tamat, sehingga di usianya sampai sekarang tidak bisa membaca dan menulis. Sedang ayah, hanya tamatan SD, dan mengabdi sebagai tukang kebun di SMP Negeri 1 Miri, Sragen.

Selalu mendapatkan peringkat tertinggi dalam belajar, masih dapat saya pertahankan hingga tamat SMP, di SMP Negeri 1 Miri, tempat ayah bekerja sebagai penjaga atau tukang kebun itu. Saya memperoleh NEM tertinggi, 45, yang kemudian bisa mengantarkan untuk memasuki gerbang SMA paling favourit se-kabupaten, SMA Negeri 1 Sragen. Selalu yang terbaik, selalu mendapatkan nilai yang memuaskan, dan membanggakan orangtua, kemudian tidak berlangsung lagi saat menempati bangku sekolah paling top di Sragen tersebut. Kelas satu, masih dapat mengikuti setiap pelajaran, meski bukan lagi yang terbaik. Mulai kelas dua, kalau sekarang kelas XI, saya berkenalan dengan pemikiran bebas Emha Ainun Nadjib, yang kemudian menggiring saya untuk tidak lagi menseriusi jenjang pendidikan formal. Bolos sekolah, tidak mengikuti ulangan harian, hingga ujian semesteran, kerapkali saya lakukan. Yang lantas memaksa sang Ayah sering datang ke sekolah memenuhi panggilan pihak BP. Jenjang SMA, bukan lagi masa yang membanggakan. Pendar terang cahaya, lenyap, beralih pada kesuraman. Sebelum kelulusan, pihak sekolah, meminta dengan sangat, agar saya bersedia mengikuti ujian akhir. Pihak sekolah berharap, yang penting saya datang, bisa atau tidak bisa mengerjakan soal-soal ujian tidak penting. Kemudian saya dinyatakan lulus tahun 1996 bersama teman-teman seangkatan. Ya, akhirnya saya lulus SMA, meskipun saya tahu betul, bahwa kelulusan itu sarat aroma politis. Sebab pihak sekolah, tidak mau menerima kehadiran saya untuk berlama-lama. Pihak sekolah malu, kalau sampai ada satu siswa saja, yang tidak lulus.

Usai lulus SMA, saya mendaftar ke STIK, Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi, perguruan tinggi swasta yang melahirkan banyak jurnalis dan pekerja berita lainnya di Semarang. Saya masuk jurusan jurnalistik, besar harapan ingin menjadi wartawan. Menyuarakan keprihatinan masyarakat, membela dan menyapa orang-orang yang jauh dari kehidupan layak. Tetapi idealitas itu kabur, seiring ketidakbetahan saya menekuni mata pelajaran kampus. Saya berpikir, bahwa memasuki kampus tersebut adalah keinginan untuk menjadi juru warta, menyuarakan ketidakadilan, bukan untuk menjadi kacung pemerintah. Belum genap satu semester, saya keluar, lantaran di dalamnya saya mendapati orang-orang yang pro status quo. Di kampus tersebut, bercokol orang-orang yang pragmatis, bukan sosok idealis yang hendak mengubah haluan kapal negeri. Jiwa berontak dan bebas saya saat itu tidak nyaman berlama-lama dengan atmosfir kampus.

Tahun 1997, saya mencoba peruntungan dengan mengikuti UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri), dan saya diterima di kampus Undip, Fakultas Sastra jurusan sejarah. Di kampus Undip pun, saya juga tidak bisa menuntaskan hingga akhir kuliah. Hanya bertahan dua tahun. Tahun 1999, saya lebih enjoy mengikuti gemuruh orang jalanan, alias parlemen jalanan. Dan kampus mentereng kebanggaan warga Semarang itu pun saya tinggalkan. Sekali lagi, saat itu, saya berpikir bahwa ternyata kampus hanya layak untuk mereka-mereka yang mengangankan sebagai tukang atau pekerja pabrik, perusahaan dan abdi negara. Kampus bukan habitat orang-orang yang merindukan kebebasan berpikir, kebebasan bereskpresi. Saya pemuja kebebasan, dan kampus terasa mengurung kebebasan berpikir.

Lantaran kepongahan masa silam dalam menempuh jenjang belajar tersebut, kini sangat saya rasakan, bahwa segalanya musti saya usahakan sendiri. Dalam memahami sesuatu, musti mengais pengetahuan dari banyak buku. Saya tidak memiliki basis teori yang mapan atas sesuatu. Tidak memiliki konsep filsafat yang baku, yang dapat saya gunakan untuk menganalisa masalah. Akhirnya buku, dan buku, yang jadi kompensasi karib seiring dalam bersaing pemahaman dengan banyak kalangan. Akibat kepongahan itu pula, saya tidak dapat berkompetisi untuk mendapatkan karir kerja yang pasti. Jelas tidak ada perusahaan, apalagi instansi pemerintah yang siap menampung saya. Selain tidak memiliki keahlian khusus, ijazah terakhir hanya SMA, sehingga orang-orang pun praktis banyak yang enggan melirik kehadiran saya.


Jenjang pendidikan yang tak memadai, kemampuan yang minim, telah mengantar saya pada jalur kehidupan yang spekulatif. Bagi kebanyakan, jelas sangat tidak diinginkan pola sepekulatif itu. Pola yang tak memiliki kejelasan masa depan. Tidak ada kepastian budget yang tersimpan. Namun inilah yang hingga kini saya lakoni bersama istri dan anak-anak. Hanya orang-orang yang tak waras saja, barangkali yang mau menempuh pola yang tak linear itu. Hanya orang-orang gendeng, yang sedia menjalani laku tak wajar. Sekali lagi, hingga kini saya melakoni ketidakwajaran tersebut. Dan ternyata masih mendapatkan jatah penghidupan dari-Nya.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar