Situasi politik yang mengelilingi
kehidupan negeri ini makin panas. Dan ini yang akan jadi test case bagi Jokowi dalam memimpin Indonesia, baik sebagai kepala
negara maupun kepala pemerintahan. Bila ia gagal bertindak tegas mengatasi
kisruh KPK Vs Polri, maka kepercayaan surplus publik sebelum ia menduduki
istana akan berbalik jadi surplus ketidakpercayaan. Publik yang sebelum pemilu
menaruh harapan besar ke pundaknya, nanti berbalik akan mencabut kepercayaannya.
Kisruh yang membelit dua institusi penegak hukum itu telah menyita perhatian
Rakhe akhir-akhir ini. Rakhe meyakini kasus yang kini mendera KPK adalah
rekayasa sistematis untuk menghancurkan aparat hukum yang teguh melawan mafia
koruptor. Bagaimana pun, KPK adalah yang terpercaya ketimbang Polri maupun
kejaksaan dalam melawan perilaku koruptif. Tradisi suap dan gratifikasi telah
jadi rahasia umum, tumbuh subur di tubuh polri dan kejaksaan, tapi tidak
demikian dengan KPK.
“Kakak Isa pernah kena tilang
dari polisi ?” berkata Rakhe pada Isa.
“Iya pernah. Sering malah. Macam-macam
kesalahan yang kakak lakukan, sengaja maupun tak sengaja. Lampu depan tak nyala
di siang hari, menerobos trafic light,
salah jalur, dan banyak lah...”
“Terus Kak.. Kakak nyuap ke
Polisi ?”
“Bukan nyuap, tapi uang
damai...hehehe”
“Iya berdamai dengan kemunkaran. Berdamai
dengan kejahatan korupsi. Berdamai dengan.....”
“Dengan setan.” Tambah Isa,
memutus omongan Rakhe yang mulai meninggi nadanya.
Telah jadi rahasia umum, uang
damai yang kerap dilakukan para pelanggar lalu lintas merupakan perilaku
koruptif. Orang-orang menyadari itu. Suap, titip uang ke polisi adalah salah. Tapi
dari polisinya sendiri seringkali yang mengawali perilaku korup. Mereka sering
mengadakan razia di tempat-tempat yang tak lazim. Polisi acapkali mencari-cari
kesalahan pengguna jalan. Berbeda dengan institusi KPK. Pernah suatu hari,
Rakhe mengadakan diskusi “Anti korupsi berbasis TBM.” Ia mengundang KPK. Yang
luar biasa dari KPK, dan barangkali satu-satunya di negeri ini, KPK bersedia
datang dengan cuma-cuma, gratis-tis. Panitia tak keluar sepeser pun kala
berhubungan dengan KPK. Dari mulai menelepon, jasa jemputan, hingga transport
pulang pembicara KPK, semuanya tertanggung oleh KPK.
Kenangan dengan KPK. Kenangan mendalam
tentang integritas aparat hukum. Sehingga Rakhe serasa terpukul dengan
kasus-kasus yang menimpa para pimpinan KPK. Bambang Widjojanto telah meminta
untuk non aktif dari KPK lantaran di-tersangka-kan Polri. Abraham Samad, terus
dikipas-kipas dengan isu tak sedap. Zulkarnain, Adnan Pandu Praja, telah
dilaporkan ke Bareskrim atas kasus-kasus masa lalu. Dan terakhir, tak
ketinggalan Johan Budi juga ikut dilaporkan atas tindakan tak etisnya. Dari kesemuanya
itu, makin menguatkan Rakhe, bahwa sistematisasi dalam menghancurkan KPK jelas
gamblang, terang benderang. Teror yang menimpa staf-staf KPK, makin memperjelas
keyakinan Rakhe, seolah para pemimpin negeri ini, tak menginginkan Indonesia
terbebas dari bahaya laten korupsi.
“Kenapa ya Kak, Jokowi tak segera
menentukan sikap soal kisruh ini? Kenapa Jokowi mesti membentuk Tim 9, kalau
toh akhirnya rekomendasinya juga tak segera ditindaklanjuti...”
“Ya ga tahulah aku. Itu mungkin
aslinya Jokowi, Dik. Jokowi itu seolah ingin menunjukkan ke kita bahwa orang
Solo, orang Jawa adalah orang-orang yang tak bisa tegas dan cepat dalam mengambil
keputusan.”
“Ya bukan begitulah. Jokowi tak
bisa membiarkan rakyat Indonesia terkatung-katung, yang saban hari hanya dipertontonkan
dengan kisruh yang tak perlu. Jokowi mesti tegas. Jangan hanya pada saat
kampanye saja, sok tegas. Hanya taat dengan kehendak rakyat, kehendak
konstitusi. Tapi kini membiarkan kita-kita dalam ketidakpastian nasib KPK.”
“Sebagai orang Solo,” tambah lagi
Rakhe, “Saya malu benar dengan sok merakyatnya Jokowi. Sebelum jadi presiden,
saat memimpin Jakarta, kita ditipu habis-habisan dengan blusukannya. Sampai-sampai
saya pun meniru gaya blusukan Jokowi saat dolan
mendadak ke teman-teman TBM se-Kabupaten Semarang. Iya, Kak Isa, saya gemas
dengan sok ndesonya itu, sok lugu. Saya
merasa tertipu...”
“Udahlah Khe, tak perlu segitunya
dalam menyikapi keadaan. Kita mesti bisa arif dalam membaca kenyataan. Jokowi
sekarang jelas beda keadaannya dengan sebelumnya, baik saat di Jakarta maupun
di Solo. Jokowi sekarang sedang dikepung oleh ratusan ribu ambisi kepentingan.
Kita juga mesti kasihan dengan beliau, tak hanya dengan nasib Bambang
Widjojanto, Abraham Samad dan pimpinan KPK lainnya. Jokowi itu kini seolah
sedang bermain sendirian. Ia masih mencari pola yang tepat untuk keluar dari
tekanan partai pendukungnya. Kalau saya begitu dalam melihat kelambanan Jokowi.
Sepenuhnya murni bukan kesalahannya.”
“Aahhh...entahlah, Kak. Yang
jelas kini KPK sedang diujung tanduk. Dan itu tak terjadi jika presiden kita
itu tak lamban dalam memutuskan keberpihakannya. Tak salah atau terus
memaksakan kehendak untuk mengangkat Budi Gunawan sebagai kapolri. Begitulah Kak...”
Geram Rakhe kian menjadi, saat
menyaksikan live TV yang menayangkan
sidang praperadilan BG. Para kuasa hukum BG, nampak kentara kepingin meluaskan masalah, dari masalah
kewenangan penetapan tersangka diluaskan menjadi ketidaksterilan KPK dari
kesalahan. Saksi ahli yang didatangkan kubu BG, menyudutkan KPK yang tak tepat dalam
menetapkan BG sebagai tersangka, lantaran pimpinan KPK tak lengkap, mestinya lima
tapi cuma empat. Rakhe yang bukan ahli hukum, tak mengerti logika yang dipakai
para kuasa hukum BG yang menghadirkan saksi-saksi yang tak relevan dengan maksud
praperadilan BG. Semangat yang terlihat dari para saksi adalah ingin
mempertontonkan pada publik bahwa KPK dari awal ada memang tak lepas dari
pelanggaran wewenang. Rakhe makin tak mengerti dengan para pakar hukum yang berbeda
pendapat dalam menanggapi kasus yang menyeret KPK. Para pakar itu jadi
kelihatan tak objektif dalam memahami teks undang-undang, menyangkut angka 5
pimpinan KPK. Margarito Kamis, misalnya, yang dari awal kisruh KPK vs Polri,
tegas meminta Jokowi segera melantik BG. Kasus tersangka BG tak menghalangi
Jokowi untuk melantiknya, karena KPK telah menyalahi wewenang.
Rakhe gemas dengan
pernyataan-pernyataan miring dari para ahli hukum itu. Pernyataan yang
menyudutkan kinerja KPK. Pernyataan yang tak menunjukkan empati pada upaya
pemberantasan korupsi dari bumi pertiwi. Pernyataan yang malah membingungkan
masyarakat yang tulus tanpa tendensi dalam mendukung KPK. Dari kesemuanya itu, Rakhe
tetap melihat, bahwa kisruh hukum akan selesai kalau Jokowi tak ragu. “Jokowi
jangan kau ragu untuk membendung arus korupsi” rintih Rakhe kemudian. Giliran Isa
sang kakak yang mulai cemas dengan keseriusan Rakhe yang tiba-tiba saja intes
menyimak perilaku korupsi, mengikuti berita-berita politisasi KPK. Cemas dengan
darah tingginya...[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar