| panggilan hidup...semangat hidup...laku pelayanan |
Ada yang menggembirakan dalam
pertemuan Kopdar V KPU, Senin, 16 Maret 2015 di rumah Hani Widya.
Menggembirakan pertama, karena ternyata kawan-kawan di komunitas penulis itu
masih bersemangat untuk berkumpul. Berkumpul untuk melestarikan canda ria,
saling tukar motivasi. Berkumpul yang tak lagi tebar gunjingan, dan gosip
murahan ala artis ibukota, melainkan saling meneguh untuk serius menggarap
diri. Saya suka istilah menggarap diri untuk menelisik denyut aktivitas para
kawan di KPU, lantaran subjek dan objek komunitas adalah diri-diri yang
tergabung dalam group. Menggarap diri, karena fokus pada pengembangan kualitas
masing-masing diri sendiri, yang unik, tiada kembaran. Dalam KPU itu, seakan
haram kalau sampai ada upaya penyeragaman. Penyeragaman hanya berlaku, agar
masing-masing kita bisa menulis, tetapi kadar muatan karya tulis diserahkan
kepada masing-masing kepala.
Kedua, tak sebagaimana
kopdar-kopdar sebelumnya yang tak sampai lebih dari enam orang, bahkan pernah
hanya empat orang, tetapi kopdar yang di tempat Hani itu yang hadir delapan
orang. Saya tak menampik betapa gembiranya hati ini. Peserta yang hadir
bertambah. Walaupun, saya sendiri tak ingin terjebak pada angka. Ketiga, sudah
dua kali kopdar dilaksanakan di kediaman rumah anggota KPU, yang tiga kopdar sebelumnya dilaksanakan di kantor
perpustakaan. Entah, untuk yang ini pun, diam-diam saya mengagungkan asma-Nya.
Saya gembira, KPU belum memiliki basecamp
permanen, sehingga bisa kumpul dari rumah ke rumah. Saya mendambakan bahwa
panggung KPU tak terfokus pada satu tempat yang tetap. KPU yang bukan
organisasi massa, kelompok penekan, maupun yayasan sosial, hidup tanpa pagar.
Bebas bergerak dari rumah satu ke rumah yang lain, berbagi dan menularkan
virus-virus positif.
Keempat, ini yang sangat menggembirakan,
terbit kesepahaman bahwa KPU, harus dipertahankan. Tak peduli puting beliung
mengamuk, asalkan komunitas ini tetap eksis untuk menjaga tradisi baca dan
menyemarakkan perlunya menulis. Saya terharu dengan pernyataan Hani, yang
mengungkapkan betapa eman kalau acara
kopdar dan terlebih lagi KPU kalau harus sampai bubar. Kopdar mesti terus
dilangsungkan seberapa pun yang hadir. KPU mesti dipertahankan, meski
masyarakat belum menganggapnya penting. Saya menganggap KPU bak oase di tengah gurun ketidakpedulian
kebanyakan orang terhadap buku. Terhadap pandangan minor tentang karir menulis.
Saya memahami, kita hidup di tengah masyarakat kolektif, yang hanya menganggap
bahwa yang disebut bekerja adalah yang meniti karir sebagai dokter, guru, dan
pegawai negeri. Sedangkan penulis, sastrawan, belum dianggap profesi. Tapi
sudahlah, apa pun keadaan lingkungan masyarakat kita itu, kenyataannya kini
kita telah bergiat di KPU.
Saya coba menyelami, bergiat
bersama KPU tak lain adalah upaya “turut serta” melakukan perubahan sosial.
Kata turut serta, karena dalam transformasi sosial, KPU tak sendirian. KPU bersanding dengan elemen gerakan lain yang sesama
pengusung isu hak-hak masyarakat akan buku, hak untuk baca, hak menulis. Dalam
KPU, saya bisa memupuk kesadaran “AS ME”, yaitu tingkat kesadaran bahwa “saya
adalah perubahan itu sendiri.” Lazimnya, kita hanya berpuas diri sebagai “BY
ME”, artinya “saya membuat perubahan, tapi pihak lain, bukan saya yang
berubah.”
Sebagai “AS ME”, mesti bertolak
dari kemauan bukan kemampuan. Kemauan merupakan awal dari
suatu tindakan. Seseorang yang mampu melakukan sesuatu, namun tak mau
bertindak, niscaya mustahil terjadi tindakan. Sebaliknya, meski belum mampu
namun mau, kiranya orang tersebut akan belajar, dan selanjutnya dapat
menghasilkan tindakan. Lebih gampangnya, kemauan adalah suatu panggilan hidup.
Kemauan adalah semangat hidup, dan kemauan merupakan karya pelayanan.
Nah, kini kita tengok ke dalam
diri, benarkah menulis merupakan panggilan hidup ? Dari situ ketahuan, spirit
yang menggerakkan kita yang mau memilih dan berani menjalani laku sebagai
penulis. Tidak semua terpanggil untuk itu, lebih tepatnya tidak semua sedia
menjawab ya pada panggilan itu. Bagi yang
berani, maka menulis menjadi semangat hidup. Selanjutnya jadi karya pelayanan. Kemauan
kita menulis adalah ujud peyanan kita pada masyarakat. Kita ada untuk melayani.
Hal ini persis sebagaimana termaktub dalam kitab, “iyyaka na’budu” hanya kepada-Mu kami mengabdi. Peran kita
sebagai pengabdi. Mengabdi pada Tuhan yang aktual dengan melayani kebutuhan siapa
pun. Dalam keseharian menunjukkan sikap
pelayanan kepada siapa saja tanpa
membedakan ras, golongan, maupun agama. Obsesi yang mendalam bahwa “aku ada
karena aku melayani”.
Setelah kemauan baru kemudian
kemampuan, yaitu kegiatan profesional. Berpikir kritis, kemampuan membaca,
kemampuan menulis, hingga kemampuan kewirausahaan adalah target seorang penulis
profesional. Dari mau menuju mampu, tiada lain ialah upaya mencapai
hidup yang sejahtera dan cerdas. So.....
Setuju mas ardi, berapapun jumlahnya, kita maju terus..Inshaa Allah dari yang seuprit ini kita bisa berbunyi, berkarya..ingat banget kata Kang GG, kalian itu udah termasuk banyak lho..pas aku bilang kita berlima eh berenam ya? hehe..semangaat...
BalasHapusTerima kasih mbakyu Dewi...semangat...ayo semangat....
HapusIya AKU semangat !!!
berapapun yang penting berkomitmen dan bergembira :)
BalasHapushehehe..... nggih leres Bu Dosen...
Hapus