#Catatan 12
Meniru akhlak Tuhan itu terkait
dengan pemahaman tentang Tuhan dan tujuan penciptaan. Sekadar mengulang, tujuan
penciptaan manusia tak lain adalah ibadah. Sebagian kalangan memahami ibadah
sebagai praktik ritual. Sehingga totalitas ketundukan pada Tuhan diwujudkan
dalam bentuk praktik ritual. Semakin ketat dan sempurna dalam menjalankan
ritual, dianggap telah meraih kesempurnaan ibadah. Yang otomatis dekat dengan
Tuhan dan kelak bakal mendapatkan hadiah surga. Lantaran ketundukan pada Tuhan
bergantung pada praktik ritual yang benar, ketundukan tidak dimungkinkan bagi
orang-orang yang tidak menerima Islam. Oleh karenanya, hanya dengan menjadi
muslim, seseorang mendapatkan kesempatan untuk tunduk pada Tuhan.
Selain dalam bentuk praktik
ritual, kalangan “Islam” tersebut juga memahami hubungan manusia dengan Tuhan
bersifat formal dan berjarak. Hubungan kaku antara Yang Superior dan yang
inferior. Tuhan yang harus ditakuti dan ditaati. Ketakutan dan ketaatan
tercakup ke dalam hukum. Apa yang mesti dilakukan oleh seorang muslim ialah
mengkaji hukum dan mempraktikkan hukum Tuhan. Kalangan ini menyimpulkan bahwa
manusia tidak bertanggung jawab untuk ikut memikirkan atau merefleksikan
sifat-sifat Tuhan. Cukup dengan menaati hukum, teguh dalam menjalankan praktik
ritual, dinilai telah mendapatkan kesalehan sejati.
Saya termasuk yang tidak memahami
konsepsi kebertuhanan dengan cara demikian. Tuhan menganugerahi kita
rasionalitas dan kesanggupan untuk memilah antara benar dan salah. Tuhan menciptakan
manusia sebagai wakil Tuhan di muka bumi, yang bertanggung jawab untuk
memberadabkan bumi. Memberadabkan bumi tidak berarti dengan membangun
gedung-gedung pencakar langit, lantai berkeramik. Memberadabkan bumi adalah
upaya menyebarkan sifat-sifat Tuhan, semisal kasih sayang, adil, ke seluruh
permukaan bumi. Semakin bumi dipenuhi dengan keadilan, kasih sayang, dan
keindahan, semakin dekat bumi dengan cita-cita Tuhan.
Anugerah rasionalitas yang
diberikan kepada umat manusia adalah agar manusia menyelidiki makna nilai kebertuhanan.
Menyelidiki sifat dasar yang menyangkut standar objektif kebaikan, moralitas,
dan keindahan, serta berbagai keadaan dan konsekuensi jika nilai kebertuhanan
itu tak lagi bertahan. Memerintahkan kebaikan dan mencegah keburukan merupakan
kewajiban setiap kita untuk terus-menerus meneliti sifat dasar nilai
kebertuahan dan berusaha mengintegrasikan nilai-nilai ini, sebisa mungkin, ke
dalam realitas pergaulan sehari-hari. Berjuang tanpa putus asa untuk membumikan
nilai-nilai kebertuhanan. Membumikan nilai kebertuhanan berarti memberikan
kesaksian tentang keagungan Tuhan, saksi bahwa Tuhan ada. Menjadi saksi adalah
menginternalisasi sifat-sifat Tuhan, dan menyebarkannya ke lingkungan: keadilan,
kasih sayang, dan keindahan.
Ada tetangga yang sakit, ia
berdoa saban malam memohon kesembuhan pada Tuhan. kehadiran kita akan menjadi
saksi keberadaan Tuhan, jika kita sedia mengulurkan bantuan pada si sakit yang
saban malam mehohon itu. Kita telah mewujudkan cita-cita, atau angan orang
tersebut untuk mendapat pertolongan kesembuhan dari sakitnya. Kehadiran kita
telah mewujudkan nilai kebertuhanan, kasih sayang. Kehadiran kita adalah
menghidupkan sifat-sifat Tuhan yang Mahapengasih dan penyayang. Proses yang
demikian mengantar kita untuk memasuki ranah cinta. Mencintai Tuhan karena apa
yang Tuhan cintai. Tuhan mencintai mereka yang adil, jujur, pengasih, baik, dan
pemaaf, mereka yang terus-menerus membersihkan diri, dan seterusnya. Mencintai Tuhan,
sama artinya dengan mencintai semua yang Tuhan cintai. Akhirnya, mencintai Tuhan
sama dengan mencintai semua makhluk ciptaan-Nya. Mencintai semua umat manusia,
entah itu muslim atau bukan, dan mencintai
semua makhluk hidup serta segenap alam semesta ciptaan-Nya. Ringkasnya,
mustahil mencintai Tuhan atau dicintai Tuhan, jika tidak memperlihatkan nilai
kebertuhanan. Seseorang yang penuh kebencian, dendam terhadap manusia, kejam
terhadap binatang, maka sungguh bahwa cinta Tuhan tak akan memasuki hatinya.
Hadis yang terkenal: “Siapa yang
mengenali dirinya maka ia akan mengenali Tuhannya.” Menegaskan bahwa hanya
dengan mengenali diri sendiri, yang diupayakan dengan refleksi ke dalam,
perenungan-perenungan yang tiada putus, dan perjuangan melawan nafsu keinginan
dan egoistik, kiranya kita akan mengenali siapa atau apa yang sejujurnya dan
seseungguhnya kita sembah. Dengan refleksi ke dalam, dengan terlibat dalam
jihad batin yang kontinu, kita akan menyadari bahwa ternyata kita menyembah dan
telah tunduk bukan kepada siapa-siapa, melainkan pada diri sendiri. Yang kita
puja sesungguhnya tiada lain adalah hawa nafsu atau ambisi pribadi, bukan
Tuhan. Refleksi diri dan pengenalan diri diperlukan untuk mengatasi penipuan
diri hingga pemujaan diri. Seolah menyembah Tuhan, padahal tuhan yang disembah
adalah hasrat ego-sentris. Praktik ritual tidak pernah ketinggalan, seakan
penyembah Tuhan yang sejati, kalau tidak dikendalikan dengan introspeksi
kritis, akan menyeret kita pada rasa ingin cari perhatian, cinta akan perolehan
material, gila kekuasaan. Naudzu billah....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar