Minggu, 11 Januari 2015

Introspeksi Kritis Atas Diri

#Catatan 12

Meniru akhlak Tuhan itu terkait dengan pemahaman tentang Tuhan dan tujuan penciptaan. Sekadar mengulang, tujuan penciptaan manusia tak lain adalah ibadah. Sebagian kalangan memahami ibadah sebagai praktik ritual. Sehingga totalitas ketundukan pada Tuhan diwujudkan dalam bentuk praktik ritual. Semakin ketat dan sempurna dalam menjalankan ritual, dianggap telah meraih kesempurnaan ibadah. Yang otomatis dekat dengan Tuhan dan kelak bakal mendapatkan hadiah surga. Lantaran ketundukan pada Tuhan bergantung pada praktik ritual yang benar, ketundukan tidak dimungkinkan bagi orang-orang yang tidak menerima Islam. Oleh karenanya, hanya dengan menjadi muslim, seseorang mendapatkan kesempatan untuk tunduk pada Tuhan.


Selain dalam bentuk praktik ritual, kalangan “Islam” tersebut juga memahami hubungan manusia dengan Tuhan bersifat formal dan berjarak. Hubungan kaku antara Yang Superior dan yang inferior. Tuhan yang harus ditakuti dan ditaati. Ketakutan dan ketaatan tercakup ke dalam hukum. Apa yang mesti dilakukan oleh seorang muslim ialah mengkaji hukum dan mempraktikkan hukum Tuhan. Kalangan ini menyimpulkan bahwa manusia tidak bertanggung jawab untuk ikut memikirkan atau merefleksikan sifat-sifat Tuhan. Cukup dengan menaati hukum, teguh dalam menjalankan praktik ritual, dinilai telah mendapatkan kesalehan sejati.

Saya termasuk yang tidak memahami konsepsi kebertuhanan dengan cara demikian. Tuhan menganugerahi kita rasionalitas dan kesanggupan untuk memilah antara benar dan salah. Tuhan menciptakan manusia sebagai wakil Tuhan di muka bumi, yang bertanggung jawab untuk memberadabkan bumi. Memberadabkan bumi tidak berarti dengan membangun gedung-gedung pencakar langit, lantai berkeramik. Memberadabkan bumi adalah upaya menyebarkan sifat-sifat Tuhan, semisal kasih sayang, adil, ke seluruh permukaan bumi. Semakin bumi dipenuhi dengan keadilan, kasih sayang, dan keindahan, semakin dekat bumi dengan cita-cita Tuhan.

Anugerah rasionalitas yang diberikan kepada umat manusia adalah agar manusia menyelidiki makna nilai kebertuhanan. Menyelidiki sifat dasar yang menyangkut standar objektif kebaikan, moralitas, dan keindahan, serta berbagai keadaan dan konsekuensi jika nilai kebertuhanan itu tak lagi bertahan. Memerintahkan kebaikan dan mencegah keburukan merupakan kewajiban setiap kita untuk terus-menerus meneliti sifat dasar nilai kebertuahan dan berusaha mengintegrasikan nilai-nilai ini, sebisa mungkin, ke dalam realitas pergaulan sehari-hari. Berjuang tanpa putus asa untuk membumikan nilai-nilai kebertuhanan. Membumikan nilai kebertuhanan berarti memberikan kesaksian tentang keagungan Tuhan, saksi bahwa Tuhan ada. Menjadi saksi adalah menginternalisasi sifat-sifat Tuhan, dan menyebarkannya ke lingkungan: keadilan, kasih sayang, dan keindahan.

Ada tetangga yang sakit, ia berdoa saban malam memohon kesembuhan pada Tuhan. kehadiran kita akan menjadi saksi keberadaan Tuhan, jika kita sedia mengulurkan bantuan pada si sakit yang saban malam mehohon itu. Kita telah mewujudkan cita-cita, atau angan orang tersebut untuk mendapat pertolongan kesembuhan dari sakitnya. Kehadiran kita telah mewujudkan nilai kebertuhanan, kasih sayang. Kehadiran kita adalah menghidupkan sifat-sifat Tuhan yang Mahapengasih dan penyayang. Proses yang demikian mengantar kita untuk memasuki ranah cinta. Mencintai Tuhan karena apa yang Tuhan cintai. Tuhan mencintai mereka yang adil, jujur, pengasih, baik, dan pemaaf, mereka yang terus-menerus membersihkan diri, dan seterusnya. Mencintai Tuhan, sama artinya dengan mencintai semua yang Tuhan cintai. Akhirnya, mencintai Tuhan sama dengan mencintai semua makhluk ciptaan-Nya. Mencintai semua umat manusia, entah itu muslim atau bukan, dan mencintai  semua makhluk hidup serta segenap alam semesta ciptaan-Nya. Ringkasnya, mustahil mencintai Tuhan atau dicintai Tuhan, jika tidak memperlihatkan nilai kebertuhanan. Seseorang yang penuh kebencian, dendam terhadap manusia, kejam terhadap binatang, maka sungguh bahwa cinta Tuhan tak akan memasuki hatinya.


Hadis yang terkenal: “Siapa yang mengenali dirinya maka ia akan mengenali Tuhannya.” Menegaskan bahwa hanya dengan mengenali diri sendiri, yang diupayakan dengan refleksi ke dalam, perenungan-perenungan yang tiada putus, dan perjuangan melawan nafsu keinginan dan egoistik, kiranya kita akan mengenali siapa atau apa yang sejujurnya dan seseungguhnya kita sembah. Dengan refleksi ke dalam, dengan terlibat dalam jihad batin yang kontinu, kita akan menyadari bahwa ternyata kita menyembah dan telah tunduk bukan kepada siapa-siapa, melainkan pada diri sendiri. Yang kita puja sesungguhnya tiada lain adalah hawa nafsu atau ambisi pribadi, bukan Tuhan. Refleksi diri dan pengenalan diri diperlukan untuk mengatasi penipuan diri hingga pemujaan diri. Seolah menyembah Tuhan, padahal tuhan yang disembah adalah hasrat ego-sentris. Praktik ritual tidak pernah ketinggalan, seakan penyembah Tuhan yang sejati, kalau tidak dikendalikan dengan introspeksi kritis, akan menyeret kita pada rasa ingin cari perhatian, cinta akan perolehan material, gila kekuasaan. Naudzu billah....    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar