Jumat, 09 Januari 2015

Kiblat Shalat Humanisasi

#Catatan 8

Adalah teks suci Al-Isra’ [17] : 1, “Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami.”, merupakan penegasan akan perlunya melakukan safari internal. “Allah memperjalankan hamba-Nya”, menunjukkan subjek kehidupan ini adalah Allah. Allah sebab segala sesuatu di alam semesta. Allah yang memperjalankan, dan kita (segenap para hamba) diperjalankan. Allah subjek, kita adalah objek. Pada “malam hari”, artinya dunia tempat kita berpijak dalam kondisi gelap, tidak jelas petanya. Sebagai objek tiada cara yang patut dilakukan selain menurut dengan kehendak sang subjek, agar selamat sampai tujuan.


Dari “Masjidilharam”, masjid sama dengan rumah, haram sebagai akal, artinya rumah akal, ruang semesta. Mengarungi ruang semesta, mengalami dimensi ruang adalah perjalanan eksternal, safari eksternal. Safari eksternal merupakan perjalanan kita menyentuh realitas sosial, menunaikan tugas karir, dan mengemban amanah dari masyarakat. Ke “Masjidil Aqsa”, masjid yang sudah kami artikan rumah, sedang aqsa sama artinya dengan kesucian. Masjidil Aqsa artinya rumah hati, suara nurani, atau lorong waktu. Menempuh lorong waktu adalah menyusuri semesta diri, melakukan perjalanan internal. Yang dalam catatan sebelumnya, telah diulas sebagai aktivitas menelaah isyarat-isyarat atau tanda kebertuhanan. Perjalanan dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa, berarti perjalanan kembali ke belakang. Perjalanan dari “akal” menuju “hati nurani”. Perjalanan dari menangani profesi karir pribadi, sebagai upaya mengokohkan status sosial pribadi, mendapatkan tangga material yang mapan, menuju ke lorong diri yang hendak menangani masalah-masalah keumatan. Sebuah perjalanan yang hendak mengukuhkan pijakan kakinya dengan memiliki dunia, menuju dunia diri yang tak lagi menginginkan ambisi pribadi.

“Kami berkahi sekelilingnya” menandakan bahwa perjalanan yang dimulai dari ambisi pribadi yang hendak memiliki pernak-pernik duniawi, beralih pada ambisi untuk ikut mengatasi persoalan umat, persoalan orang banyak, akan mendapatkan berkah baik untuk dirinya sendiri maupun lingkungan sekitarnya. Kehadiran seseorang yang telah mematikan ambisi pribadi, dan menghidupkan ego orang banyak dalam kesadaran dirinya, niscaya akan berdampak positif bagi tetangga kanan kirinya. Jadi berbahagialah suatu wilayah, dimana di dalamnya terdapat individu-individu yang tak lagi mementingkan diri sendiri. Bahagialah suatu daerah, yang terdapat pribadi-pribadi yang rela menanggalkan kesenangan pribadi demi kemenangan dan kebahagiaan bersama. Sedia menunda kesenangannya sendiri demi memberi kesempatan yang lain duluan.

“Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami”, merupakan anugerah Tuhan yang bakal diberikan kepada siapa pun saja, yang sedia menempuh laku semesta diri. Seseorang yang menjalani lelaku “fana fi iradatillah”, niscaya akan diberi anugerah kemampuan membaca isyarah, membaca makna di balik fenomena. Sanggup menyaksikan wajah Tuhan yang tampil di balik setiap yang hadir. Kemampuan tersebut tak lain merupakan buah atau bonus, lantaran sedia mengambil peran Tuhan, menunaikan hak-Nya. Keseharian seseorang tersebut selalu mentradisikan kebiasaan Tuhan yang senantiasa memberi tanpa menagih kembalian.

Kemudian, kalau kita tilik keseluruhan ayat 1 tersebut, ialah informasi tentang peristiwa Isra’ Mi’raj. Peristiwa yang menjadi tonggak perintah untuk menjalankan ibadah wajib shalat lima kali. Nabi Muhammad meneruskan perolehan dari perjalanan ego pribadi menggapai ego umat, disimbolkan menjadi ritual shalat. Yang lantas beliau wariskan buat kita semua, sebagai teknis untuk menghamba sekaligus sebagai khalifah-Nya. Shalat, dibuka dengan mengucap takbiratulihram “Allahu Akbar” sembari mengangkat dua telapak tangan yang menghadap ke depan, memunggungi diri kita dan sejajar dengan daun telinga. Telapak tangan yang menghadap ke depan sembari mengucap takbir, mengandaikan bahwa dalam menatap kenyataan mesti senantiasa membesarkan Tuhan. Dalam melihat fenomena, terlintas kesadaran bahwa di baliknya adalah Allah Yang Mahabesar. Punggung tangan menghadap ke belakang, menandakan kita ini kecil, kerdil, bukan apa-apa, dan tak sanggup berbuat tanpa-Nya. Yang besar adalah yang berada di depan kita, yakni wajah-Nya. Tangan sejajar dengan daun telinga, seolah memerintahkan agar pengerdilan diri dan membesarkan wajah-Nya itu terlebih dahulu menjadi pemahaman “realitas subjektif”, “ilmul yaqin”. Telinga adalah indra untuk mendengarkan informasi sehingga kita dapat meresponnya secara akurat. Merespon situasi dan kondisi kehidupan tersebut berupa penghayatan nilai-nilai dalam hati, sehingga bersifat subjektif, namun membentuk kepribadian.


Dibuka dengan takbiratulihram dan ditutup dengan salam. Dibuka dengan “ilmul yaqin” berlanjut menjadi “ainul yaqin” yang diperagakan dalam berdiri, rukuk, sujud, dan duduk. Ditutup dengan mengucapkan salam, sambil memalingkan muka ke kanan dan ke kiri, pertanda bahwa pemahaman “ilmul yaqin” dan “ainul yaqin” tersebut mesti bersambung dengan “haqqul yaqin”. “Haqqul yaqin” adalah realitas objektif, realisasi pemahaman menjadi gejala objektif. Mengagungkan Tuhan yang sebelumnya masih terpendam dalam penghayatan hati maupun konsep-konsep ilmiah, mesti berlanjut menjadi kenyataan sehari-hari. Kenyataan mengagungkan Tuhan adalah meneruskan peran hamba menjadi wakil-Nya, yaitu menyelamatkan semesta kehidupan (salam). Hal itu seakan pertanda, tujuan yang diutamakan dalam shalat adalah salam. Sehingga kiblat shalat, selain hakikatnya memang mengarah pada Tuhan, namun aktual sebagai humanisasi. Jadi humanisasi juga merupakan kiblat shalat.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar