#Catatan 8
Adalah teks suci Al-Isra’ [17] :
1, “Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam
hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya
agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami.”,
merupakan penegasan akan perlunya melakukan safari internal. “Allah
memperjalankan hamba-Nya”, menunjukkan subjek kehidupan ini adalah Allah. Allah
sebab segala sesuatu di alam semesta. Allah yang memperjalankan, dan kita
(segenap para hamba) diperjalankan. Allah subjek, kita adalah objek. Pada “malam
hari”, artinya dunia tempat kita berpijak dalam kondisi gelap, tidak jelas
petanya. Sebagai objek tiada cara yang patut dilakukan selain menurut dengan
kehendak sang subjek, agar selamat sampai tujuan.
Dari “Masjidilharam”, masjid sama
dengan rumah, haram sebagai akal, artinya rumah akal, ruang semesta. Mengarungi
ruang semesta, mengalami dimensi ruang adalah perjalanan eksternal, safari
eksternal. Safari eksternal merupakan perjalanan kita menyentuh realitas
sosial, menunaikan tugas karir, dan mengemban amanah dari masyarakat. Ke
“Masjidil Aqsa”, masjid yang sudah kami artikan rumah, sedang aqsa sama artinya
dengan kesucian. Masjidil Aqsa artinya rumah hati, suara nurani, atau lorong
waktu. Menempuh lorong waktu adalah menyusuri semesta diri, melakukan
perjalanan internal. Yang dalam catatan sebelumnya, telah diulas sebagai
aktivitas menelaah isyarat-isyarat atau tanda kebertuhanan. Perjalanan dari
Masjidilharam ke Masjidil Aqsa, berarti perjalanan kembali ke belakang.
Perjalanan dari “akal” menuju “hati nurani”. Perjalanan dari menangani profesi
karir pribadi, sebagai upaya mengokohkan status sosial pribadi, mendapatkan
tangga material yang mapan, menuju ke lorong diri yang hendak menangani
masalah-masalah keumatan. Sebuah perjalanan yang hendak mengukuhkan pijakan
kakinya dengan memiliki dunia, menuju dunia diri yang tak lagi menginginkan
ambisi pribadi.
“Kami berkahi sekelilingnya”
menandakan bahwa perjalanan yang dimulai dari ambisi pribadi yang hendak
memiliki pernak-pernik duniawi, beralih pada ambisi untuk ikut mengatasi
persoalan umat, persoalan orang banyak, akan mendapatkan berkah baik untuk
dirinya sendiri maupun lingkungan sekitarnya. Kehadiran seseorang yang telah
mematikan ambisi pribadi, dan menghidupkan ego orang banyak dalam kesadaran dirinya,
niscaya akan berdampak positif bagi tetangga kanan kirinya. Jadi berbahagialah
suatu wilayah, dimana di dalamnya terdapat individu-individu yang tak lagi
mementingkan diri sendiri. Bahagialah suatu daerah, yang terdapat
pribadi-pribadi yang rela menanggalkan kesenangan pribadi demi kemenangan dan
kebahagiaan bersama. Sedia menunda kesenangannya sendiri demi memberi
kesempatan yang lain duluan.
“Kami perlihatkan kepadanya
sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami”, merupakan anugerah Tuhan yang bakal
diberikan kepada siapa pun saja, yang sedia menempuh laku semesta diri. Seseorang
yang menjalani lelaku “fana fi iradatillah”, niscaya akan diberi anugerah
kemampuan membaca isyarah, membaca makna di balik fenomena. Sanggup menyaksikan
wajah Tuhan yang tampil di balik setiap yang hadir. Kemampuan tersebut tak lain
merupakan buah atau bonus, lantaran sedia mengambil peran Tuhan, menunaikan hak-Nya.
Keseharian seseorang tersebut selalu mentradisikan kebiasaan Tuhan yang senantiasa
memberi tanpa menagih kembalian.
Kemudian, kalau kita tilik
keseluruhan ayat 1 tersebut, ialah informasi tentang peristiwa Isra’ Mi’raj. Peristiwa
yang menjadi tonggak perintah untuk menjalankan ibadah wajib shalat lima kali. Nabi
Muhammad meneruskan perolehan dari perjalanan ego pribadi menggapai ego umat,
disimbolkan menjadi ritual shalat. Yang lantas beliau wariskan buat kita semua,
sebagai teknis untuk menghamba sekaligus sebagai khalifah-Nya. Shalat, dibuka
dengan mengucap takbiratulihram “Allahu Akbar” sembari mengangkat dua telapak
tangan yang menghadap ke depan, memunggungi diri kita dan sejajar dengan daun
telinga. Telapak tangan yang menghadap ke depan sembari mengucap takbir,
mengandaikan bahwa dalam menatap kenyataan mesti senantiasa membesarkan Tuhan. Dalam
melihat fenomena, terlintas kesadaran bahwa di baliknya adalah Allah Yang
Mahabesar. Punggung tangan menghadap ke belakang, menandakan kita ini kecil,
kerdil, bukan apa-apa, dan tak sanggup berbuat tanpa-Nya. Yang besar adalah
yang berada di depan kita, yakni wajah-Nya. Tangan sejajar dengan daun telinga,
seolah memerintahkan agar pengerdilan diri dan membesarkan wajah-Nya itu terlebih
dahulu menjadi pemahaman “realitas subjektif”, “ilmul yaqin”. Telinga adalah
indra untuk mendengarkan informasi sehingga kita dapat meresponnya secara
akurat. Merespon situasi dan kondisi kehidupan tersebut berupa penghayatan
nilai-nilai dalam hati, sehingga bersifat subjektif, namun membentuk
kepribadian.
Dibuka dengan takbiratulihram dan
ditutup dengan salam. Dibuka dengan “ilmul yaqin” berlanjut menjadi “ainul
yaqin” yang diperagakan dalam berdiri, rukuk, sujud, dan duduk. Ditutup dengan
mengucapkan salam, sambil memalingkan muka ke kanan dan ke kiri, pertanda bahwa
pemahaman “ilmul yaqin” dan “ainul yaqin” tersebut mesti bersambung dengan “haqqul
yaqin”. “Haqqul yaqin” adalah realitas objektif, realisasi pemahaman menjadi
gejala objektif. Mengagungkan Tuhan yang sebelumnya masih terpendam dalam
penghayatan hati maupun konsep-konsep ilmiah, mesti berlanjut menjadi kenyataan
sehari-hari. Kenyataan mengagungkan Tuhan adalah meneruskan peran hamba menjadi
wakil-Nya, yaitu menyelamatkan semesta kehidupan (salam). Hal itu seakan pertanda,
tujuan yang diutamakan dalam shalat adalah salam. Sehingga kiblat shalat,
selain hakikatnya memang mengarah pada Tuhan, namun aktual sebagai humanisasi. Jadi
humanisasi juga merupakan kiblat shalat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar