Jumat, 13 Februari 2015

Air Yang Tak Mengalir

Air sumur artetis komplek perumahan tempat Rakhe tinggal sudah dua hari ini tak mengalir. Petaka bagi segenap penghuni perumahan, terlebih lagi Rakhe, yang tak memiliki bak tandon air di rumahnya. Kalau Jakarta dan kota-kota besar lainnya saat ini sedang terkepung air banjir, tidak demikian di tempat Rakhe. Rakhe harus menghemat air di bak kamar mandinya. Ya, sebetulnya bagi Rakhe pribadi tidak begitu ribet, karena ia memang jarang mandi. Tapi bagaimana dengan Ahimsa, yang tak tahan keringat nempel, dan sehari mesti mandi dua kali ? Bagaimana pula dengan beberapa tetangganya yang senasib dengannya yang sama-sama tak memiliki bak tandon ?


Kalau sudah mengalami kasus seperti ini, sangat terasa betapa perlunya bak tandon air. Dulu waktu membenahi teras rumah, Rakhe sempat kepikiran untuk bikin bak tandon, tapi Ahimsa berpikir lain. Bak tandon belum perlu, lantaran pada saat itu, air lancar. Ahimsa melihat yang vital adalah membenahi dapur dan teras. Akhirnya sampai saat ini, tinggal tiga rumah yang belum ber-tandon. Tinggal tiga rumah yang kesulitan mendapatkan air, sedangkan rumah-rumah yang lain lancar.

“Gimana Kak ! Susah kan sekarang, kalau air tak mengalir !”

“Ya ...iya....”

Rakhe ingin mengadukan masalah air ini ke balai rapat RT, tapi ia sendiri sungkan. Masih teringat jelas di benaknya, bagaimana saat itu ia mesti bertengkar dengan tetangganya lantaran distribusi air yang tak lancar. Sejak saat itu, Rakhe tak mau ribut masalah air di forum rapat RT. Ia memilih diam, seolah tak punya masalah, meski dalam hatinya menjerit. Ia mulai mengerem, tak ingin memperpanjang keributan dalam forum rapat kalau sudah menyerempet urusan air, toh memang ia juga salah, karena tak memiliki tandon air. Tidak sebagaimana dengan para tetangganya yang jauh-jauh hari lebih dulu membangun tandon air sebelum yang lainnya.

“Harus kita akui, bahwa kita salah dalam mengkonstruksi rumah ini kok, Kak. Kita tak menganggap penting tandon.”

“Sudahlah ga usah dibahas. Nanti kalau ada rejeki kita bangun tandon.”

“Iya, tapi sekarang airnya ga ngalir. Mandi pakai apa coba. Apalagi Kakak tuh, kalau mandi lama dan habisin air...”

“Ya kita puasa mandi.”

“Puasa.....aahhhh...”

Rakhe sewot melihat kakaknya cuek. Seakan tak peduli dengan keadaan. Tapi memang demikian Ahimsa. Ia tak banyak omong. Hari-harinya selain urusan belajar, lebih banyak ia habiskan dengan ritual shalat. Selain yang wajib, ia rutin menjalankan shalat awwabin, 20 rekaat, usai shalat maghrib. Malam dini hari, ia juga bangun untuk tegakkan tahajud. Waktu dluha, tak ketinggalan 8 rekaat shalat dluha. Seperti masih kurang, ia juga selalu menyertai shalat wajib dengan shalat rawatib, dua rekaat sebelum dan atau sesudah yang wajib. Pokoknya urusan ritus ibadah, Ahimsa ahlinya. Ia telaten menindas diri. Barangkali termasuk urusan air yang tak mengalir, ia masukkan juga dalam deretan doa-doanya. Ia manjakan diri di hadapan Tuhan untuk segala urusan, terutama urusan budaya yang menyangkut hajat orang banyak. Rakhe tak sesabar Ahimsa. Ia lebih rasional dan mendekati setiap persoalan dengan nalar.   

“Udahlah... toh kamu juga ga bisa berbuat lebih. Mau bangun tandon, juga tak ada duit. Ngutang ke Bank, dah tak punya agunan untuk jaminan. Menuntut RT, jelas tak mungkin, lha wong kitanya yang salah. Ya udah serahin saja pada Tuhan.”

“Serahin gimana ? Urusan air dan tandon kok diserahkan pada Tuhan. Gimana tuh Kak ?

“Hehehe....itulah kelemahanmu Dik. Kamu yang rasional, tapi kalau sudah mentog, muaranya hanya uring-uringan. Gini...Tuhan tak pernah absen untuk mencipta. Setiap saat adalah penciptaan-Nya. Bahkan diskusi kita ini pun adalah rekayasa-Nya. Kita sekadar melakoni saja. Saya bukan jabariyah maupun qadariyah. Tapi kontekstual saja. Mana yang jadi urusan kita, mana yang mutlak urusan Tuhan, dan mana yang kita bisa kerjasama dengan-Nya. Tuhan mencipta semesta natural, itu murni urusan Tuhan. Sedangkan ranah budaya atau kultural itu diserahkan pada manusia selaku wakil-Nya. Nah, kala kita menangani dimensi kultural, dan kita kewalahan tak sanggup menuntaskannya sendirian, pada saat itulah konsep kerjasama kita dengan Tuhan jadi relevan. Seperti yang kakak bilang tadi, urusan tandon air, urusan air yang tak mengalir, kita bukan ahlinya. Sarana dan teknis untuk mewujudkan kesulitan akan air diluar kemampuan kita. Maka tak ada cara efektif selain kita menyapa Tuhan. Gitu lho.....”

Ahimsa masih menambahkan, “menyapa Tuhan bukan berarti apatis. Bukan pula kemalasan, tetapi upaya mendidik diri, upaya menyadarkan diri akan kelemahan dan kenaifan kita. Kita ini seringkali berlaku naif. Mengaku bertuhan, tapi tak pernah menyapa-Nya. Mengaku beragama, tapi enggan melibatkan Tuhan dalam setiap jejak langkah kita. Tuhan telah menciptakan alam natural dan gratis untuk kita, tapi giliran Tuhan meminta kita untuk selalu mengingat-Nya, kita pura-pura tak butuh pertolongan-Nya. Bukankah makna Islam yang sebenarnya adalah pasrah, artinya ketika kita diminta ber-Islam, sama dengan menundukkan diri dan pasrah, berserah diri sepenuhnya pada-Nya. Berserah diri bisa juga dimaknai, ketiadaan ambisi keinginan atas apapun selain hanya untuk Tuhan. Berserah diri adalah nrimo dengan setiap kucuran Tuhan yang hinggap di pangkuan kita. Tak sepatutnya kita membantah, merencanakan atas hidup dan penghidupan di panggung kenyataan ini. Kenyataan adalah wajah Tuhan. Air yang tak mengalir itu adalah wajah-Nya yang menghardik kita terutama aku pribadi, kenapa sampai berlaku boros dalam penggunaan air. Kenapa dalam saban harinya selalu menunda-nunda pekerjaan yang bisa diselesaikan saat itu juga, tanpa harus menunggu hingga menumpuk banyak. Sebagai misal, mencuci pakaian, sebetulnya kan bisa kita lakukan setiap hari. Tidak harus menunggu banyak dulu, baru kita tangani. Pendeknya, menyapa Tuhan adalah berdialog dengan sang penguasa ruang waktu. Berbaik sangka dengan setiap kebijakan-Nya. Gitu lho... Ealaaaahhhh, malah ditinggal tidur. Piye to ki ?”


Tanpa disadari oleh Ahimsa, Rakhe ternyata telah terlelap tidur. Sehingga ngomong panjang lebar Ahimsa serasa tak berarti karena ditinggal tidur oleh lawan bicara...Duhhh....Rakhe..[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar