Air sumur artetis komplek
perumahan tempat Rakhe tinggal sudah dua hari ini tak mengalir. Petaka bagi
segenap penghuni perumahan, terlebih lagi Rakhe, yang tak memiliki bak tandon
air di rumahnya. Kalau Jakarta dan kota-kota besar lainnya saat ini sedang terkepung
air banjir, tidak demikian di tempat Rakhe. Rakhe harus menghemat air di bak
kamar mandinya. Ya, sebetulnya bagi Rakhe pribadi tidak begitu ribet, karena ia
memang jarang mandi. Tapi bagaimana dengan Ahimsa, yang tak tahan keringat
nempel, dan sehari mesti mandi dua kali ? Bagaimana pula dengan beberapa
tetangganya yang senasib dengannya yang sama-sama tak memiliki bak tandon ?
Kalau sudah mengalami kasus
seperti ini, sangat terasa betapa perlunya bak tandon air. Dulu waktu membenahi
teras rumah, Rakhe sempat kepikiran untuk bikin bak tandon, tapi Ahimsa
berpikir lain. Bak tandon belum perlu, lantaran pada saat itu, air lancar.
Ahimsa melihat yang vital adalah membenahi dapur dan teras. Akhirnya sampai
saat ini, tinggal tiga rumah yang belum ber-tandon. Tinggal tiga rumah yang
kesulitan mendapatkan air, sedangkan rumah-rumah yang lain lancar.
“Gimana Kak ! Susah kan sekarang,
kalau air tak mengalir !”
“Ya ...iya....”
Rakhe ingin mengadukan masalah
air ini ke balai rapat RT, tapi ia sendiri sungkan. Masih teringat jelas di
benaknya, bagaimana saat itu ia mesti bertengkar dengan tetangganya lantaran distribusi
air yang tak lancar. Sejak saat itu, Rakhe tak mau ribut masalah air di forum
rapat RT. Ia memilih diam, seolah tak punya masalah, meski dalam hatinya
menjerit. Ia mulai mengerem, tak ingin memperpanjang keributan dalam forum
rapat kalau sudah menyerempet urusan air, toh memang ia juga salah, karena tak
memiliki tandon air. Tidak sebagaimana dengan para tetangganya yang jauh-jauh
hari lebih dulu membangun tandon air sebelum yang lainnya.
“Harus kita akui, bahwa kita
salah dalam mengkonstruksi rumah ini kok, Kak. Kita tak menganggap penting
tandon.”
“Sudahlah ga usah dibahas. Nanti
kalau ada rejeki kita bangun tandon.”
“Iya, tapi sekarang airnya ga
ngalir. Mandi pakai apa coba. Apalagi Kakak tuh, kalau mandi lama dan habisin
air...”
“Ya kita puasa mandi.”
“Puasa.....aahhhh...”
Rakhe sewot melihat kakaknya cuek.
Seakan tak peduli dengan keadaan. Tapi memang demikian Ahimsa. Ia tak banyak
omong. Hari-harinya selain urusan belajar, lebih banyak ia habiskan dengan
ritual shalat. Selain yang wajib, ia rutin menjalankan shalat awwabin, 20
rekaat, usai shalat maghrib. Malam dini hari, ia juga bangun untuk tegakkan
tahajud. Waktu dluha, tak ketinggalan 8 rekaat shalat dluha. Seperti masih
kurang, ia juga selalu menyertai shalat wajib dengan shalat rawatib, dua rekaat
sebelum dan atau sesudah yang wajib. Pokoknya urusan ritus ibadah, Ahimsa
ahlinya. Ia telaten menindas diri. Barangkali termasuk urusan air yang tak
mengalir, ia masukkan juga dalam deretan doa-doanya. Ia manjakan diri di
hadapan Tuhan untuk segala urusan, terutama urusan budaya yang menyangkut hajat
orang banyak. Rakhe tak sesabar Ahimsa. Ia lebih rasional dan mendekati setiap
persoalan dengan nalar.
“Udahlah... toh kamu juga ga bisa
berbuat lebih. Mau bangun tandon, juga tak ada duit. Ngutang ke Bank, dah tak punya
agunan untuk jaminan. Menuntut RT, jelas tak mungkin, lha wong kitanya yang
salah. Ya udah serahin saja pada Tuhan.”
“Serahin gimana ? Urusan air dan
tandon kok diserahkan pada Tuhan. Gimana tuh Kak ?
“Hehehe....itulah kelemahanmu
Dik. Kamu yang rasional, tapi kalau sudah mentog, muaranya hanya uring-uringan.
Gini...Tuhan tak pernah absen untuk mencipta. Setiap saat adalah
penciptaan-Nya. Bahkan diskusi kita ini pun adalah rekayasa-Nya. Kita sekadar
melakoni saja. Saya bukan jabariyah maupun qadariyah. Tapi kontekstual saja. Mana
yang jadi urusan kita, mana yang mutlak urusan Tuhan, dan mana yang kita bisa
kerjasama dengan-Nya. Tuhan mencipta semesta natural, itu murni urusan Tuhan.
Sedangkan ranah budaya atau kultural itu diserahkan pada manusia selaku
wakil-Nya. Nah, kala kita menangani dimensi kultural, dan kita kewalahan tak
sanggup menuntaskannya sendirian, pada saat itulah konsep kerjasama kita dengan
Tuhan jadi relevan. Seperti yang kakak bilang tadi, urusan tandon air, urusan
air yang tak mengalir, kita bukan ahlinya. Sarana dan teknis untuk mewujudkan
kesulitan akan air diluar kemampuan kita. Maka tak ada cara efektif selain kita
menyapa Tuhan. Gitu lho.....”
Ahimsa masih menambahkan, “menyapa
Tuhan bukan berarti apatis. Bukan pula kemalasan, tetapi upaya mendidik diri,
upaya menyadarkan diri akan kelemahan dan kenaifan kita. Kita ini seringkali
berlaku naif. Mengaku bertuhan, tapi tak pernah menyapa-Nya. Mengaku beragama,
tapi enggan melibatkan Tuhan dalam setiap jejak langkah kita. Tuhan telah
menciptakan alam natural dan gratis untuk kita, tapi giliran Tuhan meminta kita
untuk selalu mengingat-Nya, kita pura-pura tak butuh pertolongan-Nya. Bukankah makna
Islam yang sebenarnya adalah pasrah, artinya ketika kita diminta ber-Islam,
sama dengan menundukkan diri dan pasrah, berserah diri sepenuhnya pada-Nya. Berserah
diri bisa juga dimaknai, ketiadaan ambisi keinginan atas apapun selain hanya
untuk Tuhan. Berserah diri adalah nrimo
dengan setiap kucuran Tuhan yang hinggap di pangkuan kita. Tak sepatutnya kita
membantah, merencanakan atas hidup dan penghidupan di panggung kenyataan ini. Kenyataan
adalah wajah Tuhan. Air yang tak mengalir itu adalah wajah-Nya yang menghardik
kita terutama aku pribadi, kenapa sampai berlaku boros dalam penggunaan air. Kenapa
dalam saban harinya selalu menunda-nunda pekerjaan yang bisa diselesaikan saat
itu juga, tanpa harus menunggu hingga menumpuk banyak. Sebagai misal, mencuci
pakaian, sebetulnya kan bisa kita lakukan setiap hari. Tidak harus menunggu
banyak dulu, baru kita tangani. Pendeknya, menyapa Tuhan adalah berdialog
dengan sang penguasa ruang waktu. Berbaik sangka dengan setiap kebijakan-Nya.
Gitu lho... Ealaaaahhhh, malah ditinggal tidur. Piye to ki ?”
Tanpa disadari oleh Ahimsa, Rakhe
ternyata telah terlelap tidur. Sehingga ngomong panjang lebar Ahimsa serasa tak
berarti karena ditinggal tidur oleh lawan bicara...Duhhh....Rakhe..[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar