Jumat, 13 Maret 2015

Kampoeng Kopi Banaran yang Alami

Taman Bermain anak-anak

Hehehe....saya tuliskan ini. Saya coba menuliskan sesuatu yang sebetulnya saya tidak begitu menguasai, baik teknik penulisan maupun isi. Ya, adalah sahabat sekaligus guru, Dewi Rieka, yang memberikan tantangan buat saya dan kawan-kawan se-komunitas. Memang tantangan yang ia berikan tepat. Tepat karena memang sudah sepatutnya para genk komunitas itu biasa menorehkan coretan, apa pun itu dengan pelbagai konten. Saya menerima tantangannya. Meski, sekali lagi, saya tak menguasai bahan-bahan yang mesti dituliskan. Pekan ini, tulisan yang mesti disetorkan adalah seputar obyek wisata.


Saya tak memiliki hobby touring alias jalan-jalan yang beraroma fun, wisata, sehingga tak banyak tempat wisata yang berhasil saya kunjungi. Anak-anak, Ahimsa dan Rakhe, jarang saya ajak jalan-jalan. Terlebih lagi sang istri, Rahma, yang lebih asyik menggeluti asap dapur, kain pel, cucian, dan seterikaan baju-baju yang mengusut. Barangkali, kami sekeluarga, termasuk jenis golongan manusia-manusia rumahan, yang tak kreatif dalam urusan memaksimalkan waktu senggang. Padahal sehari-harinya, dari menit ke menit, lebih banyak senggangnya ketimbang padat kegiatan. Memang ada aktivitas sosial yang kami tekuni, seperti kegiatan TPQ, menghidupkan sanggar belajar di rumah, dan layanan perpustakaan berbasis rumah tangga, serta sesekali mengatasi masalah ke-RT-an. Tapi tetap saja, senggang waktu masih yang dominan.

Kembali ke perbincangan wisata. Lantaran tak punya bakat touring, paling banter, saya hanya mengajak anak istri ke museum, toko buku, dan pameran buku murah. Tempat-tempat yang murah meriah, terjangkau, dan yang jelas lumayan untuk melepas penat. Atau kalau tidak demikian, saya juga suka memanfaatkan acara-acara yang diselenggarakan komunitas dengan mengajak anak-istri. Mumpung, sekalian keluar rumah, pikirku. Seperti pada akhir bulan Januari 2015, persisnya tanggal 25 Januari, kawan-kawan di Forum TBM mengadakan rapat koordinasi di Kampoeng Kopi Banaran. Sekalian saja, saya ajak keluarga “piknik” ke wisata agro di Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang itu.

Kampoeng Kopi Banaran, wisata perkebunan kopi yang menjadi kebanggaan warga kecamatan Bawen persis berada di bibir jalan raya Solo – Semarang. Tepatnya di Jalan Raya Bawen – Solo Km 1,5 Bawen. Kampung wisata yang menjual nuansa alami, keintiman keluarga, dan area out bound. Dari Ungaran arah Bawen, cukup 45 menit dengan kendaraan sepeda motor. Terminal bus Bawen, maju sedikit arah Solo sekitar 5 menit, kanan jalan. Masuk gapura Selamat Datang Kampoeng Kopi Banaran, tak dikenai tiket masuk, parkir kendaraan gratis. Dari tanah lapang parkiran, kita sudah disuguhi dengan pemandangan perkebunan kopi yang hijau nan sejuk. Lalu lalang kereta wisata yang menyusuri jalan beraspal menuju kebun wisata. Dari arah depan, kita jalan menuju ‘pujasera’ kuliner yang menjajakan paket ekonomi hingga yang super lux kuliner khas wisata. Kita susuri  area kuliner, terus masuk ke dalam lewat lorong, yang selanjutnya akan berjumpa dengan taman bermain anak-anak beserta tebaran gasebo. Atas gasebo, ada flying fox anak yang menghubungkan gasebo utama yang berukuran besar, melintasi beberapa gasebo kecil menuju gubug lokasi kasir.
Terasiring ala Kampoeng Kopi


Tekstur tanah yang tak rata, layaknya terasiring, dari area bermain anak menuju gasebo utama, jalanan setapak berundak. Suasana ‘terasiring’ yang kian menambah eksotik bagi penggila wisata. Antar gasebo juga dhubungkan dengan jalanan setapak berpaving. Saat lirik mata diarahkan ke arah barat, akan terpampang area out bound, ruang meeting, dan kolam renang. Kedua jagoanku, Ahimsa dan Rakhe, saat itu lebih mengeksplorasi area taman bermain. Sedang saya dan istri beserta kawan-kawan Forum duduk manis di gasebo kecil samping gubug kasir, sembari menikmati cemilan khas kampoeng kopi: ketela goreng, pisang goreng, tempe mendoan.

Sebagai wisata keluarga, saya kira kampung kopi itu, cukup memadai untuk dijadikan rujukan tujuan kebersamaan keluarga. Selain tempatnya strategis, pinggir jalan raya, kampung kopi menempati area yang terhitung luas. Seharian tak akan puas untuk meratai paket wisata yang ditawarkan, dari wisata petualangan, out bound, hingga wisata edukasi. Wisata petualangan ada : flying fox dewasa dan anak, kereta wisata, berkuda, ATV of road, renang, dan taman bermain. Area Out bound menyediakan: lompatan tarzan, sepeda udara, perut ular, lompatan batu, tempat hip hop, area bridges ball, dan wood ball. Sedang di wisata edukasi, kita akan dimanjakan dengan area kebun coklat, area kebun kopi, dan kebun karet. Gasebo yang tertata apik besar maupun kecil yang mengitari taman bermain. Pun ada juga lapangan tenis, ruang meeting, ruang serba guna yang lumayan mencukupi untuk resepsi pernikahan ala petualang. 

Rakhe, Rahma, dan Ahimsa


Saya rasa wisata kampung kopi ini tak hanyut dalam trend sebagai wahana jajanan kuliner saja, sebab disini juga menyediakan paket edukasi, menyediakan sarana diskusi. Hal yang sangat berarti bagi saya dan istriku, yang tak begitu doyan dengan wisata kuliner. Adanya gasebo yang cukup dengan kocek Rp 15.000,00, kita bisa berdiskusi panjang lebar sampai habis bahan perbincangan, dan uang saku tetap irit. Karena cemilan snack bisa kita bawa dari rumah, tak harus membeli dalam lokasi. Adanya area bermain anak-anak yang gratis dan luas, jelas sangat memanjakan kebersamaan keluarga, khususnya yang tinggal di perkotaan, dimana area bermain kian menyempit, anak-anak terkurung dalam jeruji rumah.  Pendek kata, kampoeng kopi merupakan wisata agro yang menawarkan nuansa natural alami dan solusi bagi pelepas penat keluarga yang terlena dengan rutinitas. Kampoeng Kopi, selain keberadaan gasebo, adanya ruang meeting, jelas memanjakan bagi para aktivis sosial yang kesulitan mencari ruang untuk membangun kerumunan, menyolidkan barisan, dan mengokohkan program.

Meskipun teramat sayang, lantaran saya dan istri tak sampai menuntaskan seluruh kawasan wisata, namun benar-benar penat dan waktu senggang yang kami rasa serasa terbayarkan dengan keceriaan anak-anak yang optimal mengeksekusi taman bermain. Kami berangkat dari rumah pukul 06.30 pagi dan butuh waktu setengah jam untuk sampai lokasi, serta pukul 14.00 kami check out. Artinya setengah hari-an anak-anak mengumbar keceriaan, berlari-larian, main petak umpet, main prosotan, ayunan, dan menikmati jajanan. Namun dari kesemuanya, lantaran statusnya yang sebatas menumpang, maka hanya istri dan anak-anak saja yang maksimal dengan acara bermain-nya, sementara saya lebih sering berkerut kening lantaran terjebak dengan program kegiatan Forum...hehehe.....  

Diskusi olah pikir di gasebo....



1 komentar: