Rabu, 07 Januari 2015

Martabat Kita: Iman dan Amal

#Catatan 5

Sachiko Murata dalam bukunya “The Tao of Islam” memaparkan secara apik perihal peran dan fungsi hamba dan wakil Tuhan. Dijelaskannya bahwa Tuhan Yang Esa dapat dilihat dari dua sudut pandang, pertama, kejauhan dan ketakterbandingan Tuhan. Kedua, keserupaan dan kedekatan-Nya. Dalam kejauhan dan ketakterbandingan Tuhan, manusia beserta seluruh makhluk yang menghuni jagad raya itu adalah hamba-hamba-Nya dan mesti tunduk pada kehendak-Nya. Sementara berkaitan dengan keserupaan dan kedekatan-Nya, manusia memiliki peran khusus yang harus dimainkan. Manusia diciptakan dalam citra Allah, sehingga hanya manusia saja yang mempunyai kualitas ciptaan sekaligus pencipta. Manusia memiliki sifat-sifat seperti semesta, tetapi juga memiliki kehendak layaknya Tuhan. Oleh karenanya, hanya manusia sajalah yang sanggup menjadi wakil (khalifah) Allah di muka bumi.


Peran khusus dan unik yang dimiliki manusia sebagai wakil Allah, tertuntut tanggung jawab atas dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya. Seseorang mesti bertindak sebagaimana Allah bertindak, sebagaimana wakil Allah bertindak. Sebuah tanggung jawab yang berat kan ? Dan belum tentu kita bisa lulus mengemban amanah tersebut. Peran wakil ini dalam bahasa agama disebut takwa, yaitu sedia mengambil tugas Tuhan di muka bumi. Sehingga pantas saja oleh Tuhan, tinggi rendahnya kualitas seseorang dilihat dari ketakwaannya (Al-Hujurat [49]: 13). Akan tetapi bukan berarti peran penghambaan tidak memiliki nilai dihadapan-Nya. Penghambaan dan kekhalifahan adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Penghambaan mempunyai keutamaan tertentu atas kekhalifahan, sebagaimana halnya Akal memiliki keutamaan tertentu atas Pena. Pena baru bisa digunakan untuk menulis jika Akal beroleh anugerah dari-Nya. Begitu pula, manusia baru bisa menjadi wakil-Nya yang benar bila ia telah memasrahkan diri pada kehendak Tuhan, kualitas hamba.

Ibn Al-‘Arabi, sebagaimana dikutip oleh Sachiko Murata, menyebutkan, “Manusia mempunyai dua transkripsi: transkripsi lahiriah dan transkripsi batiniah. Transkripsi lahiriah sama dengan makrokosmos secara keseluruhan, sementara transkripsi batiniah sama dengan Allah.” Hal ini senada sekaligus memperjelas paparan catatan 4, posisi manusia berada di antara semesta dan Tuhan. Dimensi lahiriah manusia berkaitan dengan penghambaan, sementara dimensi batiniah bertalian dengan ketuhanan dan kekhalifahan.  Dimensi lahiriah mencerminkan kejauhan dari Allah dan –karena itu—mengingatkan pada ketakterbandingan-Nya. Dimensi batiniah mencerminkan kedekatan dan berkaitan dengan keserupaan Allah. Dengan demikian, kedua dimensi itu mencerminkan dua tangan Allah yang menciptakan manusia.

Makin gamblanglah bahwa prinsip hamba dan wakil Tuhan, tak bisa kita hindarkan. Prinsip tersebut melekat dan terbawa mulai sejak kita hadir ke muka bumi ini. Tentu saja kita bisa menafikannya. Kita tidak ambil pusing, entah sebagai hamba Tuhan yang mesti taat, pasrah pada kehendak-Nya, maupun fungsi khalifah, yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidup diri sendiri dan lingkungan. Kita bisa saja meninggalkan keduanya, dan sontak derajat atau martabat kita dengan sendirinya melorot jatuh setara dengan hewan-hewan, bahkan lebih rendah lagi. Sebagai contoh, seseorang yang tak bisa mengendalikan diri dari hasrat terhadap lawan jenis dan nekat melakukannya akan disebut sebagai kumpul kebo.

Martabat kita terkait pada kesungguhan dalam berhamba dan sekaligus mengemban amanah untuk turut berdarma bakti terhadap kehidupan. Berhamba merupakan wujud iman, sedang mengemban amanah sebagai khalifah merupakan makna lain dari islam, yaitu berbuat kebajikan, memberikan kemanfaatan terhadap pihak lain. Hal ini jelas tertera dalam surat At-Tiin [95]: 4-6, “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan...”


Nah, dalam lingkup kecil keluarga, saya rasakan sekali, bahwa prinsip hamba sekaligus wakil Tuhan itu, bikin hati tenteram. Saya melihat istriku, Rahma, sudah terbebas dari perasaan gundah, galau atas situasi kondisi kami yang tak mapan. Pola hidup spekulatif, yang tak tentu masa depannya, hanya bisa dijalani dengan rasa nyaman, kalau sekiranya telah berhasil menggenggam prinsip tersebut. Itulah Iman dan Islam. Itulah martabat sesungguhnya manusia.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar