#Catatan 5
Sachiko Murata dalam bukunya “The
Tao of Islam” memaparkan secara apik perihal peran dan fungsi hamba dan wakil
Tuhan. Dijelaskannya bahwa Tuhan Yang Esa dapat dilihat dari dua sudut pandang,
pertama, kejauhan dan ketakterbandingan Tuhan. Kedua, keserupaan dan kedekatan-Nya.
Dalam kejauhan dan ketakterbandingan Tuhan, manusia beserta seluruh makhluk
yang menghuni jagad raya itu adalah hamba-hamba-Nya dan mesti tunduk pada
kehendak-Nya. Sementara berkaitan dengan keserupaan dan kedekatan-Nya, manusia
memiliki peran khusus yang harus dimainkan. Manusia diciptakan dalam citra
Allah, sehingga hanya manusia saja yang mempunyai kualitas ciptaan sekaligus
pencipta. Manusia memiliki sifat-sifat seperti semesta, tetapi juga memiliki
kehendak layaknya Tuhan. Oleh karenanya, hanya manusia sajalah yang sanggup
menjadi wakil (khalifah) Allah di
muka bumi.
Peran khusus dan unik yang
dimiliki manusia sebagai wakil Allah, tertuntut tanggung jawab atas dirinya
sendiri dan lingkungan sekitarnya. Seseorang mesti bertindak sebagaimana Allah
bertindak, sebagaimana wakil Allah bertindak. Sebuah tanggung jawab yang berat
kan ? Dan belum tentu kita bisa lulus mengemban amanah tersebut. Peran wakil
ini dalam bahasa agama disebut takwa, yaitu sedia mengambil tugas Tuhan di muka
bumi. Sehingga pantas saja oleh Tuhan, tinggi rendahnya kualitas seseorang
dilihat dari ketakwaannya (Al-Hujurat [49]: 13). Akan tetapi bukan berarti
peran penghambaan tidak memiliki nilai dihadapan-Nya. Penghambaan dan kekhalifahan
adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Penghambaan mempunyai keutamaan
tertentu atas kekhalifahan, sebagaimana halnya Akal memiliki keutamaan tertentu
atas Pena. Pena baru bisa digunakan untuk menulis jika Akal beroleh anugerah
dari-Nya. Begitu pula, manusia baru bisa menjadi wakil-Nya yang benar bila ia
telah memasrahkan diri pada kehendak Tuhan, kualitas hamba.
Ibn Al-‘Arabi, sebagaimana
dikutip oleh Sachiko Murata, menyebutkan, “Manusia mempunyai dua transkripsi:
transkripsi lahiriah dan transkripsi batiniah. Transkripsi lahiriah sama dengan
makrokosmos secara keseluruhan, sementara transkripsi batiniah sama dengan
Allah.” Hal ini senada sekaligus memperjelas paparan catatan 4, posisi manusia
berada di antara semesta dan Tuhan. Dimensi lahiriah manusia berkaitan dengan
penghambaan, sementara dimensi batiniah bertalian dengan ketuhanan dan
kekhalifahan. Dimensi lahiriah
mencerminkan kejauhan dari Allah dan –karena itu—mengingatkan pada
ketakterbandingan-Nya. Dimensi batiniah mencerminkan kedekatan dan berkaitan
dengan keserupaan Allah. Dengan demikian, kedua dimensi itu mencerminkan dua
tangan Allah yang menciptakan manusia.
Makin gamblanglah bahwa prinsip
hamba dan wakil Tuhan, tak bisa kita hindarkan. Prinsip tersebut melekat dan
terbawa mulai sejak kita hadir ke muka bumi ini. Tentu saja kita bisa
menafikannya. Kita tidak ambil pusing, entah sebagai hamba Tuhan yang mesti
taat, pasrah pada kehendak-Nya, maupun fungsi khalifah, yang bertanggung jawab
atas kelangsungan hidup diri sendiri dan lingkungan. Kita bisa saja
meninggalkan keduanya, dan sontak derajat atau martabat kita dengan sendirinya
melorot jatuh setara dengan hewan-hewan, bahkan lebih rendah lagi. Sebagai contoh,
seseorang yang tak bisa mengendalikan diri dari hasrat terhadap lawan jenis dan
nekat melakukannya akan disebut sebagai kumpul
kebo.
Martabat kita terkait pada
kesungguhan dalam berhamba dan sekaligus mengemban amanah untuk turut berdarma
bakti terhadap kehidupan. Berhamba merupakan wujud iman, sedang mengemban
amanah sebagai khalifah merupakan makna lain dari islam, yaitu berbuat
kebajikan, memberikan kemanfaatan terhadap pihak lain. Hal ini jelas tertera
dalam surat At-Tiin [95]: 4-6, “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam
bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang
serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan
kebajikan...”
Nah, dalam lingkup kecil
keluarga, saya rasakan sekali, bahwa prinsip hamba sekaligus wakil Tuhan itu,
bikin hati tenteram. Saya melihat istriku, Rahma, sudah terbebas dari perasaan
gundah, galau atas situasi kondisi kami yang tak mapan. Pola hidup spekulatif,
yang tak tentu masa depannya, hanya bisa dijalani dengan rasa nyaman, kalau sekiranya
telah berhasil menggenggam prinsip tersebut. Itulah Iman dan Islam. Itulah martabat
sesungguhnya manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar