| menyusuri setapak, merangkai cinta-Nya [dok: kebun durian montong Kalisidi] |
Saya terus termangu
dengan penggalan ayat “Kemanapun kamu menghadap di sanalah wajah Allah...” Sebuah
penggalan ayat yang menuntut konsekuensi logis pada perilaku yang mengarah
pada-Nya. Perilaku yang tentunya tidak bertentangan dengan aturan main-Nya. Perilaku
yang disukai-Nya, perilaku yang dalam perkenan-Nya. Perilaku yang lazim kita
kenal sebagai akhlaqul karimah. Saya termangu
sebab tak gampang menghadirkan rasa bertuhan. Menghadirkan kebertuhanan,
menghadirkan kesadaran bahwa kita sedang dikepung oleh Tuhan. Tidak ada lorong tersembunyi yang sanggup menyembunyikan
diri ini dari pandangan-Nya. Saya termangu, seakan ayat tersebut menggema keras di gendang telinga, menghardik
diriku yang tak kunjung membaik. Mengkritik proses ketuhanan yang tak selaras
dengan kemajuan zaman. Usia dunia yang kian mendekat pada penghancuran total
(kiamat), namun kesadaran bertuhan justru kian pudar.
Ya, rasa bertuhan kian
surut. Menghadirkan rasa ketuhanan ? Ah, memang kini bukan lagi perkara mudah. Saban
hari kita dijejali kemudahan, dikepung sarana yang meringankan kerja-kerja sosial
budaya. Sarana komunikasi telah
memudahkan kita untuk menjalin persahabatan, meski berada di ujung dunia. Mau
transfer uang ? Sudah tidak zamannya lagi via pos giro, kita mengantri di
kantor pos. Kirim naskah tulisan, bisa kita lakukan sembari tiduran di sofa di
samping anak-anak, plus aneka cemilan snack.
Pesan tiket pesawat maupun kereta api, sudah tidak perlu lagi kaki melangkah ke
Bandara dan stasiun kereta. Belanja buku, pakaian dan kebutuhan keluarga, cukup
melalui media sosial, keinginan-keinginan tersebut langsung di depan mata. Pendek
kata, hampir di semua aktivitas kehidupan, telah tersedia sarana teknisnya.
Kini kita benar-benar dimanjakan. Lantas bagaimana merasakan Tuhan ? Bagaimana
kita akan merasa butuh Tuhan, sementara tanpa khusyuk panjatkan doa-doa, semua
kebutuhan sudah antri berjajar di pelupuk menunggu giliran dipanggil.
Almarhum Cak Nur
mendefinisikan takwa sebagai kesadaran ketuhanan. Suatu kondisi batin yang
sanggup menghadirkan Tuhan seutuh waktu. Lagi-lagi pertanyaannya adalah
bagaimanakah hal itu terjadi ? Mungkinkah kita bisa menghadirkan rasa butuh
Tuhan, selagi sarana sedemikian mudahnya kita dapatkan ? Bukankah rasa butuh
atas Ia, ketika kita sudah kehilangan gantungan pada sarana dunia ?
Bagaimanakah kita akan khusyuk Shalat, menghiba-hiba penuh sesak tangis,
sementara harta melimpah menyelimuti pola hidup kita yang tak bakal habis
hingga tujuh turunan ? Lantas apakah mesti dengan kefakiran, supaya niatan
berdekatan dengan-Nya itu terkabul ? Apakah harus berkondisi miskin, papa tak
memiliki barang-barang, sekiranya kepingin
menghadirkan rasa “kemanapun menatap, yang tampil hanyalah wajah-Nya ?” Ah...memang
tak semudah angan !
Setidaknya kerap terjadi,
Tuhan serasa ada dan kita butuhkan, kala kita terpuruk. Saya masih ingat dengan
cerita-cerita yang menyertai gempa tektonik 2006 di Yogyakarta. Orang-orang
yang tertimpa bencana itu, mendadak bertuhan. Tiba-tiba saja mereka fasih
menyebut asma-Nya. Mereka merasa
ditinggal oleh Tuhan, padahal sebelum kejadian musibah, juga tak merasa dekat
dengan-Nya. Nah, akankah terus demikian ? Mesti ada musibah demi musibah, agar asma-asma-Nya yang terpaksa kita
lafalkan ? Apakah mesti menunggu sakit menahun, baru mendekat kepada-Nya ? Sebaliknya
dalam kondisi aman sentausa, badan segar bugar, kita acuh pada kehendak-Nya. Kita
merasa sanggup menuntaskan segalanya tanpa campur tangan-Nya. Ketika terserang
batuk flu, dokter dan obat-obatan apotik yang kita ingat bukan peringatan dan
kekuasaan-Nya. Usaha bisnis home industri
yang sedang seret, bukannya isyarat kuasa Tuhan yang kita telisik, melainkan
tetangga lingkungan yang dipersalahkan, dan anggapan atas hitung-hitungan angka
yang tak cermat.
Menghadirkan rasa
bertuhan, kiranya berbeda dengan pelajaran aqidah dan tauhid di bangku sekolah
dasar. Menghadirkan rasa, tidak dengan menghafalkan kata-kata pujangga. Tidak pula
dengan hafalan ayat-ayat suci. Menghadirkan rasa adalah menghayati, yaitu
mengalami dan merasakan. Maka jelaslah kenapa disebutkan bahwa pengalaman
merupakan guru terbaik. Pelajaran tentang baik-buruk, benar-salah terolah
menjadi kebijaksanaan hanya efektif dengan mengalaminya sendiri. Bukan sekadar
membaca teks pelajaran, pengetahuan dan pengalaman orang lain. Dengan mengalami
sendiri, mengerjakan langsung, niscaya kita dapatkan daya rasa.
| keriuhan alun-alun Bung Karno, menyadarkan betapa "sibuk"nya kita |
Penggalan ayat 115
surah Al-Baqarah di atas pun juga demikian. Akan berhenti sebatas teks mati,
jika tidak kita rasai dan alami sendiri. Bagaimanakah itu ? Tiada lain dengan
kesediaan diri untuk berlepas dari ikatan batin atas benda-benda yang dimiliki.
Kiranya demikian yang dituntut dari rukun Islam. Syahadat kita perbarui sebagai
ikrar hanya bertuhankan Allah, bukan tuhan-tuhan materi, popularitas dan
segenap ambisi. Shalat kita kerjakan, tak sebatas ikrar bertuhankan Allah,
tetapi sudah benar-benar menjauhkan diri dari ikatan duniawi, meski hanya
sesaat, tak lebih dari 5-10 menit. Shalat yang kita buka dengan takbiratulihram, membesarkan Tuhan,
mengandaikan bahwa bumi yang kita pijak, gelar pangkat kendaraan dan segala
atribut keduniaan kita kerdilkan. Yang besar, yang Maha Agung hanya Allah,
Tuhan semesta raya. Pengalaman bertuhan yang demikian itu terus kita jaga dengan
senantiasa mengagungkan Tuhan dalam setiap geraknya hingga usai shalat. Zakat,
tak sebatas 5-10 menit dengan mengecilkan gemerlap dunia, melainkan minimal 2,5
% harta milik yang dicintai itu mesti hilang dari genggaman. Harta dunia yang
kita kumpulkan, wajib dilepas dari ikatan hati yang cenderung ingin terus
memiliki selamanya. Zakat, sarana teknis Tuhan untuk memaksa bahwa tak
selamanya harta itu kita pegang erat. Ada hak untuk orang lain. Selanjutnya puasa.
Nah ini, tak cukup dengan ikrar, 5-10 menit memunggungi dunia, mengeluarkan
sebagian harta, melainkan selama kurang lebih 14 jam mesti sanggup mentalak
dunia. Mulai fajar Subuh hingga bedug Maghrib, diri ini mesti bercerai dengan
ambisi dan kebolehan atas dunia. Terakhir ibadah haji, sudah tak penting itu
apa-apa yang selama ini kita anggap sebagai harga diri. Status sosial yang kita
agungkan, harta yang kita pamerkan, kecintaan atas keluarga dan tanah air,
semuanya harus ditanggalkan. Cukup berbaju sehelai kain putih dan sepenuhnya
pasrah pada keagungan-Nya.
Dengan demikian “Kemanapun
kamu menghadap di sanalah wajah Allah,” tidak lagi bertengger sebagai teks kaku
yang tak berdampak, andai kita sedia menanggalkan ikatan hati atas duniawi yang
materi, serba wadag, serba daging dan permukaan itu. Segala merk terbaru HP, mobil keluaran terbaru,
dan bentuk rumah berhasil kita talak dari dominasinya atas hati ini, niscaya
Tuhan sebenarnya yaitu Allah yang mengendap dalam hati. Kesibukan kita berdunia, beriuh mengejar materi, berbanding lurus dengan kesibukan kita bertuhankan Allah. Syukur lebih. Tuhan Allah yang
mendominasi pikiran, perasaan dan perilaku, maka hiduplah ayat tersebut. Ayat tersebut
menjadi kenyataan, bukan lagi idiom mantra. So....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar