Kamis, 30 April 2015

Merasakan Tuhan

menyusuri setapak, merangkai cinta-Nya [dok: kebun durian montong Kalisidi]


Saya terus termangu dengan penggalan ayat “Kemanapun kamu menghadap di sanalah wajah Allah...” Sebuah penggalan ayat yang menuntut konsekuensi logis pada perilaku yang mengarah pada-Nya. Perilaku yang tentunya tidak bertentangan dengan aturan main-Nya. Perilaku yang disukai-Nya, perilaku yang dalam perkenan-Nya. Perilaku yang lazim kita kenal sebagai akhlaqul karimah. Saya termangu sebab tak gampang menghadirkan rasa bertuhan. Menghadirkan kebertuhanan, menghadirkan kesadaran bahwa kita sedang dikepung oleh Tuhan. Tidak ada  lorong tersembunyi yang sanggup menyembunyikan diri ini dari pandangan-Nya. Saya termangu, seakan ayat tersebut  menggema keras di gendang telinga, menghardik diriku yang tak kunjung membaik. Mengkritik proses ketuhanan yang tak selaras dengan kemajuan zaman. Usia dunia yang kian mendekat pada penghancuran total (kiamat), namun kesadaran bertuhan justru kian pudar.  


Ya, rasa bertuhan kian surut. Menghadirkan rasa ketuhanan ? Ah, memang kini bukan lagi perkara mudah. Saban hari kita dijejali kemudahan, dikepung sarana yang meringankan kerja-kerja sosial budaya.  Sarana komunikasi telah memudahkan kita untuk menjalin persahabatan, meski berada di ujung dunia. Mau transfer uang ? Sudah tidak zamannya lagi via pos giro, kita mengantri di kantor pos. Kirim naskah tulisan, bisa kita lakukan sembari tiduran di sofa di samping anak-anak, plus aneka cemilan snack. Pesan tiket pesawat maupun kereta api, sudah tidak perlu lagi kaki melangkah ke Bandara dan stasiun kereta. Belanja buku, pakaian dan kebutuhan keluarga, cukup melalui media sosial, keinginan-keinginan tersebut langsung di depan mata. Pendek kata, hampir di semua aktivitas kehidupan, telah tersedia sarana teknisnya. Kini kita benar-benar dimanjakan. Lantas bagaimana merasakan Tuhan ? Bagaimana kita akan merasa butuh Tuhan, sementara tanpa khusyuk panjatkan doa-doa, semua kebutuhan sudah antri berjajar di pelupuk menunggu giliran dipanggil.

Almarhum Cak Nur mendefinisikan takwa sebagai kesadaran ketuhanan. Suatu kondisi batin yang sanggup menghadirkan Tuhan seutuh waktu. Lagi-lagi pertanyaannya adalah bagaimanakah hal itu terjadi ? Mungkinkah kita bisa menghadirkan rasa butuh Tuhan, selagi sarana sedemikian mudahnya kita dapatkan ? Bukankah rasa butuh atas Ia, ketika kita sudah kehilangan gantungan pada sarana dunia ? Bagaimanakah kita akan khusyuk Shalat, menghiba-hiba penuh sesak tangis, sementara harta melimpah menyelimuti pola hidup kita yang tak bakal habis hingga tujuh turunan ? Lantas apakah mesti dengan kefakiran, supaya niatan berdekatan dengan-Nya itu terkabul ? Apakah harus berkondisi miskin, papa tak memiliki barang-barang, sekiranya kepingin menghadirkan rasa “kemanapun menatap, yang tampil hanyalah wajah-Nya ?” Ah...memang tak semudah angan !

Setidaknya kerap terjadi, Tuhan serasa ada dan kita butuhkan, kala kita terpuruk. Saya masih ingat dengan cerita-cerita yang menyertai gempa tektonik 2006 di Yogyakarta. Orang-orang yang tertimpa bencana itu, mendadak bertuhan. Tiba-tiba saja mereka fasih menyebut asma-Nya. Mereka merasa ditinggal oleh Tuhan, padahal sebelum kejadian musibah, juga tak merasa dekat dengan-Nya. Nah, akankah terus demikian ? Mesti ada musibah demi musibah, agar asma-asma-Nya yang terpaksa kita lafalkan ? Apakah mesti menunggu sakit menahun, baru mendekat kepada-Nya ? Sebaliknya dalam kondisi aman sentausa, badan segar bugar, kita acuh pada kehendak-Nya. Kita merasa sanggup menuntaskan segalanya tanpa campur tangan-Nya. Ketika terserang batuk flu, dokter dan obat-obatan apotik yang kita ingat bukan peringatan dan kekuasaan-Nya. Usaha bisnis home industri yang sedang seret, bukannya isyarat kuasa Tuhan yang kita telisik, melainkan tetangga lingkungan yang dipersalahkan, dan anggapan atas hitung-hitungan angka yang tak cermat.

Menghadirkan rasa bertuhan, kiranya berbeda dengan pelajaran aqidah dan tauhid di bangku sekolah dasar. Menghadirkan rasa, tidak dengan menghafalkan kata-kata pujangga. Tidak pula dengan hafalan ayat-ayat suci. Menghadirkan rasa adalah menghayati, yaitu mengalami dan merasakan. Maka jelaslah kenapa disebutkan bahwa pengalaman merupakan guru terbaik. Pelajaran tentang baik-buruk, benar-salah terolah menjadi kebijaksanaan hanya efektif dengan mengalaminya sendiri. Bukan sekadar membaca teks pelajaran, pengetahuan dan pengalaman orang lain. Dengan mengalami sendiri, mengerjakan langsung, niscaya kita dapatkan daya rasa.

keriuhan alun-alun Bung Karno, menyadarkan betapa "sibuk"nya kita 


Penggalan ayat 115 surah Al-Baqarah di atas pun juga demikian. Akan berhenti sebatas teks mati, jika tidak kita rasai dan alami sendiri. Bagaimanakah itu ? Tiada lain dengan kesediaan diri untuk berlepas dari ikatan batin atas benda-benda yang dimiliki. Kiranya demikian yang dituntut dari rukun Islam. Syahadat kita perbarui sebagai ikrar hanya bertuhankan Allah, bukan tuhan-tuhan materi, popularitas dan segenap ambisi. Shalat kita kerjakan, tak sebatas ikrar bertuhankan Allah, tetapi sudah benar-benar menjauhkan diri dari ikatan duniawi, meski hanya sesaat, tak lebih dari 5-10 menit. Shalat yang kita buka dengan takbiratulihram, membesarkan Tuhan, mengandaikan bahwa bumi yang kita pijak, gelar pangkat kendaraan dan segala atribut keduniaan kita kerdilkan. Yang besar, yang Maha Agung hanya Allah, Tuhan semesta raya. Pengalaman bertuhan yang demikian itu terus kita jaga dengan senantiasa mengagungkan Tuhan dalam setiap geraknya hingga usai shalat. Zakat, tak sebatas 5-10 menit dengan mengecilkan gemerlap dunia, melainkan minimal 2,5 % harta milik yang dicintai itu mesti hilang dari genggaman. Harta dunia yang kita kumpulkan, wajib dilepas dari ikatan hati yang cenderung ingin terus memiliki selamanya. Zakat, sarana teknis Tuhan untuk memaksa bahwa tak selamanya harta itu kita pegang erat. Ada hak untuk orang lain. Selanjutnya puasa. Nah ini, tak cukup dengan ikrar, 5-10 menit memunggungi dunia, mengeluarkan sebagian harta, melainkan selama kurang lebih 14 jam mesti sanggup mentalak dunia. Mulai fajar Subuh hingga bedug Maghrib, diri ini mesti bercerai dengan ambisi dan kebolehan atas dunia. Terakhir ibadah haji, sudah tak penting itu apa-apa yang selama ini kita anggap sebagai harga diri. Status sosial yang kita agungkan, harta yang kita pamerkan, kecintaan atas keluarga dan tanah air, semuanya harus ditanggalkan. Cukup berbaju sehelai kain putih dan sepenuhnya pasrah pada keagungan-Nya.

Dengan demikian “Kemanapun kamu menghadap di sanalah wajah Allah,” tidak lagi bertengger sebagai teks kaku yang tak berdampak, andai kita sedia menanggalkan ikatan hati atas duniawi yang materi, serba wadag, serba daging dan permukaan itu. Segala merk terbaru HP, mobil keluaran terbaru, dan bentuk rumah berhasil kita talak dari dominasinya atas hati ini, niscaya Tuhan sebenarnya yaitu Allah yang mengendap dalam hati. Kesibukan kita berdunia, beriuh mengejar materi, berbanding lurus dengan kesibukan kita bertuhankan Allah. Syukur lebih. Tuhan Allah yang mendominasi pikiran, perasaan dan perilaku, maka hiduplah ayat tersebut. Ayat tersebut menjadi kenyataan, bukan lagi idiom mantra. So....

   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar