Minggu, 29 Maret 2015

Reading Group Kuntowijoyo


reading group kuntowijoyo (II)



Berangkat dari omong-omong dengan seorang kawan, Hasan Fuady, tentang kecenderungan minat baca dan diskusi yang kurang terawat di kalangan mahasiswa, terutama yang aktivis, maka lahirlah komunitas ini. Kenapa mesti Kuntowijoyo ? Ada beberapa alasan yang melatarbelakanginya. Pertama, minat saya yang lumayan cukup terhadap tokoh Muhammadiyah yang satu ini. Kuntowijoyo, konon dikatakan sebagai sosok yang komplet, multitalenta. Ia dikenal sejarawan. Juga budayawan. Sastrawan, serta cendekiawan muslim. Banyak buku yang telah ia lahirkan. Dari yang riset ilmiah; analis politik, agama, sosial, dan budaya. Ia juga membuat novel, naskah drama, cerpen, puisi, dan fabel.


Kedua, dari sekian tokoh-tokoh yang mengemuka, sebut saja ada Goenawan Mohamad, Rendra, Cak Nur, dan sebagainya, kiranya hanya Kuntowijoyo, yang belum mendapat apresiasi meluas. Kuntowijoyo tak punya “pasukan” yang bakal melanjutkan ide gagasannya. Seakan karya-karya agungnya bakal menguap dan tak lagi dikenal oleh kalangan muda. Di Muhammadiyah, gagasan-gagasannya tentang kemajuan ormas itu, belum mendapat respon yang berarti, atau malah belum ada yang mengetahuinya, terutama yang di barisan Pemuda Muhammadiyah, Pelajar Muhammadiyah. Ketiga, ide pemikiran Kuntowijoyo termasuk genuine. Meski ia meminjam teori-teori Barat dalam menganalisa masalah, tapi ia berpijak pada kondisi nyata masyarakat Indonesia. Ia membagi zaman yang melingkupi negeri ini jadi tiga: mitos, ideologi, dan ilmu. Dan kini ia sebut telah memasuki periode ilmu. Ia pula yang menggulirkan perlunya umat Islam memiliki basis filsafat gerakan sendiri yang merupakan turunan dari grand teori Al-Qur’an. Ia menyebutnya Ilmu Sosial Profetik.

Keempat, karena orisinalitasnya, dan disertai dengan basis teori yang matang, maka tak ada cendekiawan yang membantah setiap analisanya yang ia tuangkan dalam banyak tulisan. Ia masuk tokoh yang tak punya “musuh”, namun tetap disegani lantaran keluasan dan kematangan ilmunya. Saya menilai, justru yang demikian ini yang layak mendapat gelar begawan Indonesia. Namun demikian, saya mengendus, Indonesia belum melirik ketokohan Kuntowijoyo. Yang mendapat gelar guru bangsa alias begawan justru yang suka kontroversial (kasus yang menimpa Cak Nur, dan Gus Dur, menjelaskan hal itu). Sedang Kuntowijoyo, setiap lontaran kritisnya, selalu menghindar hal-hal yang berbau kontroversial. Ia menggunakan diksi yang bisa diterima semua kalangan. Ia mengeliminir yang bakal menuai konflik. Baginya, yang kontroversial itu tak mendidik masyarakat bawah, jsutru membingungkan dan tak mendewasakan. Bukankah yang demikian itu, sifat dan pembawaan seorang begawan ?

Oleh karenanya, rasanya kita perlu menjaga dan syukur bisa melanjutkan proyek ilmiahnya. Maka kita ingin serius mendalami pemikiran Kuntowijoyo. Lantas kenapa metodenya Reading Group ? Saya memilih metode ini untuk mengenal lebih dekat pemikiran Kuntowijoyo, lantaran metode ini, selain masih jarang digunakan sebagai metode diskusi, ialah lebih mendalam menggali pemikiran yang tersembunyi dalam teks. Saya mencuri metode ini dari pengalaman kawan, sastrawan asli Boja Kabupaten Kendal, Sigit Susanto, yang tinggal di Swiss. Ia mencatatkan pengalamannya dalam buku “Menyusuri Lorong-lorong Dunia”. Dalam salah satu artikel catatannya, ia menceritakan tentang metode membaca karya sastra di belahan Eropa, Swiss, yang bak siput sawah. Ia sebut demikian, karena metode Reading Group, dalam catatannya diceritakan buku yang dibaca adalah novel Ulysses karya James Joyce yang dibaca selama tiga tahun. Pembacaan yang sangat teliti dan jeli. Dari kalimat ke kalimat dikupas. Kalau diperinci seperti ini; pertama mendengarkan cerita dari CD, kedua dibaca teksnya, ketiga dibahas kembali secara detail.

Saya mencuri metode dari Mas Sigit, yang saya cobakan untuk membaca teks Kuntowijoyo. Buku Kuntowijoyo pertama yang dipilih untuk dikupas adalah “Paradigma Islam: interpretasi untuk aksi”. Saya memilihnya, karena buku tersebut dianggap sebagai karya masterpiece-nya. Saya tidak tahu akan memakan waktu berapa bulan atau bahkan tahun untuk tuntas menyelesaikannya. Sejak saya menulis disini, Reading Group Kuntowijoyo telah berjalan dua kali, yaitu tanggal 6 dan 28 Maret 2015. Pembacaan dilakukan 1,5 jam dan hanya menjangkau tak lebih dari tiga halaman. Dengan metode ini, seolah kita diajari untuk bisa menghargai karya besar seseorang. Kuntowijoyo, yang hingga akhir hayatnya tak pernah berhenti untuk menghasilkan karya tulis berbobot, kita imbangi dengan pembacaan yang pelan, dalam dan tak bergegas untuk cepat menyelesaikannya. Selama satu setengah jam, yang berjalan adalah membaca, mendengarkan, menyimak, dan coba memahami. 

RGK yg pertama (I)


Reading Group Kuntowijoyo, kiranya jadi upaya untuk merawat tradisi diskusi yang kita impikan itu. Reading Group Kuntowijoyo merupakan cara untuk menjaga hidangan perjamuan ide agar tetap lestari. Dan syukur terhaturkan, lantaran komunitas-komunitas pemikiran, institut-institut diskusi telah bertebaran mewarnai kota kita Semarang. Sehingga, bukan maksud untuk bersaing, Reading Group Kuntowijoyo ada untuk bersanding, menjaga irama dendang tradisi pemikiran. Gayung sambut, saling jabat tangan untuk menghalau gejala hedonis yang meminggirkan pentingnya membaca, dan pentingnya menulis, serta utamanya menjaga asupan gizi akal pemikiran. Sebab yang kita tahu, gaya hidup hedonis hanya peduli pada pemenuhan kebutuhan jasmani. Hanya galau manakala asupan nutrisi gizi makanan tubuh kurang memadai. Sementara bagaimana dengan asupan gizi bagi otak, bagaimana nutrisi vitamin akal serta ruhani, terabaikan.

So, Reading Group menjadi penting adanya. Kuntowijoyo; sejarawan, budayawan, dan sastrawan yang perlu dihayati serta dialami. Singkatnya Reading Group Kuntowijoyo merupakan cara menghayati dan mengalami. Reading Group Kuntowijoyo (RGK) wahana penghayatan dan pengalaman. Semoga......

Itu mereka; Rina ma Zuli..srikandi buku yg gigih


Tidak ada komentar:

Posting Komentar