#Catatan 11
“Berakhlaklah kamu dengan akhlak
Allah.” Begitulah sabda Nabi Muhammad SAW, yang seakan hendak menegaskan
pertanyaan bagaimana dan apa rujukan akhlaqul
karimah ? “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja
kamu dapat menyeru, karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (Asma’ul Husna)” (Al-Isra’ [17]: 110).
Menyeru atau lazim diterjemahkan berdoa di sini adalah menarik sifat atau dapat
juga suatu perbuatan Allah ke dalam diri kita. Mereplika perilaku Tuhan ke
dalam diri untuk aktual menjadi orangnya Tuhan. Jadi meng-Allah. Dalam idiom
Jawa disebutkan “Ngalah luhur wekasane”, yang konon kata ngalah bukan dari kata
kalah, melainkan dari kata nga-Allah yang berarti menuju ke Allah. Yang berarti
manunggal atau menyatu diri dengan perilaku Tuhan.
“Wani ngalah luhur wekasane”,
yang artinya berani mengalah akhirnya mendapat keluhuran. Kalau ngalah di sini
sebenarnya berasal dari nga-Allah, sehingga dapat kita tarik makna menjadi
barang siapa berani mendedikasikan diri untuk menyatakan perilaku Tuhan,
kiranya akan memperoleh keluhuran. Istilah lain, akan mendapat predikat sebagai
insan kamil. Dalam idiom Jawa yang lain “Manunggaling kawula Gusti” menyatu
seorang hamba dengan Tuhan. Perlu diingat, menyatu di sini bukan dalam dzat,
sebab hal itu mustahil terjadi. Menyatu seorang hamba dengan Tuhan adalah
selarasnya perilaku atau kehendak seorang hamba dengan kehendak Tuhan.
Bagaimana aktualisasi dari idiom manunggaling kawula Gusti tersebut ? Untuk mudahnya, saya tarik ke
idiom “wahdatul wujud”, istilah dalam khasanah Tasawuf yang sering digunakan
untuk menyebut manunggaling kawula Gusti.
Wahdah adalah jumbuh atau bersatu, sedang wujud adalah hamparan makrokosmos.
Saya nukilkan kisah hikmah dari KH Muhammad Zuhri, dalam bukunya “Langit-langit
Desa” (Mizan, 1993, hal. 117) untuk melukiskan makna wahdatul wujud.
Setelah sampai di depan
rumahnya, seorang haji tua turun dari kereta kuda yang dikendarainya sewaktu
pulang dari bepergian. Begitu kakinya menginjak tanah, ia segera naik ke atas
kereta lagi sambil berkata:
“Kang Kusir, tolong antarkan
saya kembali ke masjid tempat saya mampir shalat tadi. Nanti saya tambah lagi
ongkosnya.”
“Ada sesuatu yang ketinggalan,
Pak Haji?” tanya kusir.
“Kalau barang saya ketinggalan
sih tidak jadi masalah. Tetapi seekor semut di lantai masjid tadi terbawa di
sorban saya. Kalau tidak saya antarkan kembali ke tempatnya, kan bisa kacau
anak-bininya,” jawab pak haji serius.
Sekarjalak,
24-5-1992
Dari kisah tersebut, jelaslah,
wahdatul wujud merupakan kesadaran seseorang untuk senantiasa menyatu rasa
dengan kenyataan, baik benda-benda material, tetumbuhan, hayawan, sesama
manusia, fenomena, dan peristiwa-peristiwa. Mereka semua adalah wujud
“pernyataan” Tuhan (Allah bertajalli), maka mesti direspon seakurat mungkin,
sebagaimana merespon untuk diri sendiri. Memasukkan dalam kesadarannya, bahwa
semua ciptaan-Nya itu adalah bagian dari dirinya, bukan pihak lain yang bisa
sembarangan memperlakukannya. Sesama ciptaan tersebut seakan selalu menuntut
kita untuk menempatkannya sesuai dengan tempat berlabuhnya. Merespon sesuai
dengan kapasitasnya atau kalau tidak memungkinkan, setidaknya menyikapi
kenyataan sebagaimana kita menyikapi diri kita sendiri. Melihat orang lain,
seolah-olah sedang melihat langsung diri kita. Seandainya kita tidak mau
dicurangi, begitu pula terhadap orang lain, kita tidak akan mencuranginya.
Yang demikian itu berarti
kemampuan untuk menyelaraskan antara sikapnya
terhadap kenyataan dengan kenyataan
dirinya. Sikap kita atas kenyataan sepadan dengan kenyataan diri kita. Kita
sanggup menahan diri untuk tidak menuntut pihak lain melakukan keutamaan, yang
kita sendiri tidak sanggup mengerjakannya. Demikianlah wahdatul wujud. Demikian pula dengan manunggaling kawula Gusti. Gusti atau Tuhan yang bertajalli menjadi
kenyataan, dan kemudian kita merespon kenyataan tersebut sebagaimana kita menkondisikan
diri kita sendiri.
“Wahai orang-orang yang beriman!
Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan ? (itu) sangatlah
dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”
(As-Saff [61]: 2-3). Singkatnya, menuju pada perilaku yang berbudi pekerti
luhur, berakhlaqul karimah, ialah dengan menyeimbangkan antara kenyataan diri
kita dengan sikap kita terhadap kenyataan. Semakin seimbang kondisi wujudnya,
semakin besar pula makna kehadiran, dan juga besar kepercayaan yang diberikan
masyarakat kepada kita. Selanjutnya, keseimbangan kenyataan tersebut akan menjadi
langkah awal upaya untuk meniru akhlak Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar