Minggu, 11 Januari 2015

Awal Untuk Meniru Akhlak Allah

#Catatan 11

“Berakhlaklah kamu dengan akhlak Allah.” Begitulah sabda Nabi Muhammad SAW, yang seakan hendak menegaskan pertanyaan bagaimana dan apa rujukan akhlaqul karimah ? “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu dapat menyeru, karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (Asma’ul Husna)” (Al-Isra’ [17]: 110). Menyeru atau lazim diterjemahkan berdoa di sini adalah menarik sifat atau dapat juga suatu perbuatan Allah ke dalam diri kita. Mereplika perilaku Tuhan ke dalam diri untuk aktual menjadi orangnya Tuhan. Jadi meng-Allah. Dalam idiom Jawa disebutkan “Ngalah luhur wekasane”, yang konon kata ngalah bukan dari kata kalah, melainkan dari kata nga-Allah yang berarti menuju ke Allah. Yang berarti manunggal atau menyatu diri dengan perilaku Tuhan.


“Wani ngalah luhur wekasane”, yang artinya berani mengalah akhirnya mendapat keluhuran. Kalau ngalah di sini sebenarnya berasal dari nga-Allah, sehingga dapat kita tarik makna menjadi barang siapa berani mendedikasikan diri untuk menyatakan perilaku Tuhan, kiranya akan memperoleh keluhuran. Istilah lain, akan mendapat predikat sebagai insan kamil. Dalam idiom Jawa yang lain “Manunggaling kawula Gusti” menyatu seorang hamba dengan Tuhan. Perlu diingat, menyatu di sini bukan dalam dzat, sebab hal itu mustahil terjadi. Menyatu seorang hamba dengan Tuhan adalah selarasnya perilaku atau kehendak seorang hamba dengan kehendak Tuhan.

Bagaimana aktualisasi dari idiom manunggaling kawula Gusti  tersebut ? Untuk mudahnya, saya tarik ke idiom “wahdatul wujud”, istilah dalam khasanah Tasawuf yang sering digunakan untuk menyebut manunggaling kawula Gusti. Wahdah adalah jumbuh atau bersatu, sedang wujud adalah hamparan makrokosmos. Saya nukilkan kisah hikmah dari KH Muhammad Zuhri, dalam bukunya “Langit-langit Desa” (Mizan, 1993, hal. 117) untuk melukiskan makna wahdatul wujud.

Setelah sampai di depan rumahnya, seorang haji tua turun dari kereta kuda yang dikendarainya sewaktu pulang dari bepergian. Begitu kakinya menginjak tanah, ia segera naik ke atas kereta lagi sambil berkata:
“Kang Kusir, tolong antarkan saya kembali ke masjid tempat saya mampir shalat tadi. Nanti saya tambah lagi ongkosnya.”
“Ada sesuatu yang ketinggalan, Pak Haji?” tanya kusir.
“Kalau barang saya ketinggalan sih tidak jadi masalah. Tetapi seekor semut di lantai masjid tadi terbawa di sorban saya. Kalau tidak saya antarkan kembali ke tempatnya, kan bisa kacau anak-bininya,” jawab pak haji serius.
Sekarjalak, 24-5-1992
Dari kisah tersebut, jelaslah, wahdatul wujud merupakan kesadaran seseorang untuk senantiasa menyatu rasa dengan kenyataan, baik benda-benda material, tetumbuhan, hayawan, sesama manusia, fenomena, dan peristiwa-peristiwa. Mereka semua adalah wujud “pernyataan” Tuhan (Allah bertajalli), maka mesti direspon seakurat mungkin, sebagaimana merespon untuk diri sendiri. Memasukkan dalam kesadarannya, bahwa semua ciptaan-Nya itu adalah bagian dari dirinya, bukan pihak lain yang bisa sembarangan memperlakukannya. Sesama ciptaan tersebut seakan selalu menuntut kita untuk menempatkannya sesuai dengan tempat berlabuhnya. Merespon sesuai dengan kapasitasnya atau kalau tidak memungkinkan, setidaknya menyikapi kenyataan sebagaimana kita menyikapi diri kita sendiri. Melihat orang lain, seolah-olah sedang melihat langsung diri kita. Seandainya kita tidak mau dicurangi, begitu pula terhadap orang lain, kita tidak akan mencuranginya.

Yang demikian itu berarti kemampuan untuk menyelaraskan antara sikapnya terhadap kenyataan dengan kenyataan dirinya. Sikap kita atas kenyataan sepadan dengan kenyataan diri kita. Kita sanggup menahan diri untuk tidak menuntut pihak lain melakukan keutamaan, yang kita sendiri tidak sanggup mengerjakannya. Demikianlah wahdatul wujud. Demikian pula dengan manunggaling kawula Gusti. Gusti atau Tuhan yang bertajalli menjadi kenyataan, dan kemudian kita merespon kenyataan tersebut sebagaimana kita menkondisikan diri kita sendiri.


“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan ? (itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (As-Saff [61]: 2-3). Singkatnya, menuju pada perilaku yang berbudi pekerti luhur, berakhlaqul karimah, ialah dengan menyeimbangkan antara kenyataan diri kita dengan sikap kita terhadap kenyataan. Semakin seimbang kondisi wujudnya, semakin besar pula makna kehadiran, dan juga besar kepercayaan yang diberikan masyarakat kepada kita. Selanjutnya, keseimbangan kenyataan tersebut akan menjadi langkah awal upaya untuk meniru akhlak Tuhan.             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar