#Catatan 3
Perilaku individualis, yang
mementingkan diri sendiri, tidak memperdulikan kondisi orang lain, praktis
menggejala di komplek Perumahan Bukit Asri II, dua tahun setelah saya tinggal
menjadi salah satu penghuni tetapnya. Memang plus minus, sebagaimana sebelumnya
saya katakan. Individualis, kata sifat yang berarti ‘perorangan’, ‘pribadi’,
yang mengandaikan perorangan memiliki kedudukan utama. Setiap kepentingannya
merupakan urusan yang tertinggi. Sekali lagi, tidak hitam putih, tetapi yang
tepat adalah plus minus. Ada kelebihan sekaligus kekurangan yang
menghinggapinya.
Kelebihan dari sifat
individualis, menumbuhkan kesadaran bahwa setiap orang adalah unik, tak ada
duanya. Setiap orang berharga, apa pun latar belakang profesi kerjanya,
seberapa pun penghasilan yang diperolehnya. Setiap orang merupakan pribadi yang
otonom, berdiri sendiri. Sehingga tidak mengganggu yang lain. Setiap orang
berhak menjadi dirinya sendiri, tanpa canggung dengan tatapan minus orang lain.
Oleh sebab itu setiap orang berhak menggunakan kebebasan dan inisiatifnya.
Prinsip otonom, bebas mengekspresikan
apa yang menjadi pikirannya, serasa mengakar di perumahan, padahal letak
geografisnya tidaklah berada di tengah kota. Prinsip individualis tersebut
senada dengan egois. Egois dari kata latin ego,
yang berarti ‘aku’, ‘saya’. Egois yang melandasi pemikiran bahwa kepentingan diri
perorangan musti diakomodir, musti dihargai, tidak dimatikan. Penghargaan akan
kepentingan pribadi, mendorong setiap diri agar bisa menghargai diri sendiri,
tidak menderita penyakit minder, berpenampilan wajar, penuh percaya diri, dan
normal sesuai kemampuan yang dimilikinya. Kemampuan yang tak dibuat-buat ,
kemampuan yang bukan “seakan” atau “seolah”.
Selain memuat nilai positif,
individualis dan egois juga bisa mengantar si pelaku pada sikap hidup yang mendewakan
pemenuhan kebutuhan ego dan penghargaan. Sikap demikian yang tidak sehat, alias
minus. Lantaran berpusat pada diri sendiri, yang mementingkan diri sendiri, dan
terus mencari kepentingan diri tanpa memperhatikan kepentingan orang lain. Akibatnya
akan bermuara pada peniadaan orang lain. Orang lain selain diri dan
keluarganya, dianggap tidak ada. Meskipun berada dan hidup dengan orang lain. Rumah
berjejer, berhimpitan dengan tetangga, tetapi keberadaannya bukanlah
kebersamaan, bukan solidaritas, melainkan sekadar berdampingan. Kita berhubungan
satu sama yang lain, seakan-akan kebetulan saja, yang hakikatnya sama sekali
tidak diinginkan.
Perilaku egois yang minus, tidak
sebatas menyangkut ranah ekonomi sosial, tetapi juga bisa melanda pada gaya
kebertuhanan. Seorang agamawan, yang berpikir individualis dan egois, akan
meniadakan orang lain yang juga sedang menempuh jalan menuju Tuhan. Orang tersebut
tidak rela kalau selain dirinya bisa masuk surga. Tiket surga hanya pantas
untuk dirinya saja, sedang orang lain kalau pun dapat surga, harapannya tetap
berada di bawah tingkat kelas dengan dirinya. Kalau perlu yang lain cukup di neraka
saja. Surga hanya berhak bagi dirinya.
Keberagamaan yang egois, yang
mengutamakan pemahamannya sendiri, telah melahirkan corak beragama yang
antisosial. Memang beragama, rajin menjalankan ritual ibadah, namun perilaku
kesehariannya senantiasa menganggap remeh pihak lain. Orang tersebut akan
senang, kalau yang lain terjebak pada lembah dosa yang penuh nista. Akan senang
kalau yang “liyan” difitnah sebagai pendosa. Dianggap sebagai penganut ajaran
sesat, ajaran dajjal. Prinsip egois, melahirkan kebanggaan pada diri sendiri
yang cenderung menegasikan peran orang lain. Melahirkan sikap, bahwa hanya
dirinya saja yang dekat dengan Tuhan. Sedemikian hingga, ia tak akan merasa
bersalah jika menumpahkan vonis sesat pada yang berbeda. Vonis kafir sedemikian
gampang ia timpakan pada yang minoritas, terhadap yang berbeda keyakinan.
Jadi kembali ke plus minus egois
dan individualis, baik yang dengan maupun tanpa “isme”, saya hanya kepingin
mengetengahkan bahwa kita tidak bisa semudah mengklaim, sifat egois dan
individualis itu pasti jelek, pasti buruk dan pembawa petaka. Ada gejala
individualisme yang sehat, semisal penghargaan atas keunikan setiap individu. Ada
prinsip egoisme yang bagus, seperti kesanggupannya untuk berprestasi sesuai
kemampuan, berpenampilan wajar dan mantap, tidak krisis diri. Artinya,
keperluan yang hendak saya selipkan disini adalah kesungguhan meneruskan suara
nurani. Kesungguhan dalam memegang bara api common
sense. Demikian !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar