Rabu, 07 Januari 2015

Bara Api Common Sense

#Catatan 3

Perilaku individualis, yang mementingkan diri sendiri, tidak memperdulikan kondisi orang lain, praktis menggejala di komplek Perumahan Bukit Asri II, dua tahun setelah saya tinggal menjadi salah satu penghuni tetapnya. Memang plus minus, sebagaimana sebelumnya saya katakan. Individualis, kata sifat yang berarti ‘perorangan’, ‘pribadi’, yang mengandaikan perorangan memiliki kedudukan utama. Setiap kepentingannya merupakan urusan yang tertinggi. Sekali lagi, tidak hitam putih, tetapi yang tepat adalah plus minus. Ada kelebihan sekaligus kekurangan yang menghinggapinya.


Kelebihan dari sifat individualis, menumbuhkan kesadaran bahwa setiap orang adalah unik, tak ada duanya. Setiap orang berharga, apa pun latar belakang profesi kerjanya, seberapa pun penghasilan yang diperolehnya. Setiap orang merupakan pribadi yang otonom, berdiri sendiri. Sehingga tidak mengganggu yang lain. Setiap orang berhak menjadi dirinya sendiri, tanpa canggung dengan tatapan minus orang lain. Oleh sebab itu setiap orang berhak menggunakan kebebasan dan inisiatifnya.

Prinsip otonom, bebas mengekspresikan apa yang menjadi pikirannya, serasa mengakar di perumahan, padahal letak geografisnya tidaklah berada di tengah kota. Prinsip individualis tersebut senada dengan egois. Egois dari kata latin ego, yang berarti ‘aku’, ‘saya’. Egois yang melandasi pemikiran bahwa kepentingan diri perorangan musti diakomodir, musti dihargai, tidak dimatikan. Penghargaan akan kepentingan pribadi, mendorong setiap diri agar bisa menghargai diri sendiri, tidak menderita penyakit minder, berpenampilan wajar, penuh percaya diri, dan normal sesuai kemampuan yang dimilikinya. Kemampuan yang tak dibuat-buat , kemampuan yang bukan “seakan” atau “seolah”.

Selain memuat nilai positif, individualis dan egois juga bisa mengantar si pelaku pada sikap hidup yang mendewakan pemenuhan kebutuhan ego dan penghargaan. Sikap demikian yang tidak sehat, alias minus. Lantaran berpusat pada diri sendiri, yang mementingkan diri sendiri, dan terus mencari kepentingan diri tanpa memperhatikan kepentingan orang lain. Akibatnya akan bermuara pada peniadaan orang lain. Orang lain selain diri dan keluarganya, dianggap tidak ada. Meskipun berada dan hidup dengan orang lain. Rumah berjejer, berhimpitan dengan tetangga, tetapi keberadaannya bukanlah kebersamaan, bukan solidaritas, melainkan sekadar berdampingan. Kita berhubungan satu sama yang lain, seakan-akan kebetulan saja, yang hakikatnya sama sekali tidak diinginkan.

Perilaku egois yang minus, tidak sebatas menyangkut ranah ekonomi sosial, tetapi juga bisa melanda pada gaya kebertuhanan. Seorang agamawan, yang berpikir individualis dan egois, akan meniadakan orang lain yang juga sedang menempuh jalan menuju Tuhan. Orang tersebut tidak rela kalau selain dirinya bisa masuk surga. Tiket surga hanya pantas untuk dirinya saja, sedang orang lain kalau pun dapat surga, harapannya tetap berada di bawah tingkat kelas dengan dirinya. Kalau perlu yang lain cukup di neraka saja. Surga hanya berhak bagi dirinya.

Keberagamaan yang egois, yang mengutamakan pemahamannya sendiri, telah melahirkan corak beragama yang antisosial. Memang beragama, rajin menjalankan ritual ibadah, namun perilaku kesehariannya senantiasa menganggap remeh pihak lain. Orang tersebut akan senang, kalau yang lain terjebak pada lembah dosa yang penuh nista. Akan senang kalau yang “liyan” difitnah sebagai pendosa. Dianggap sebagai penganut ajaran sesat, ajaran dajjal. Prinsip egois, melahirkan kebanggaan pada diri sendiri yang cenderung menegasikan peran orang lain. Melahirkan sikap, bahwa hanya dirinya saja yang dekat dengan Tuhan. Sedemikian hingga, ia tak akan merasa bersalah jika menumpahkan vonis sesat pada yang berbeda. Vonis kafir sedemikian gampang ia timpakan pada yang minoritas, terhadap yang berbeda keyakinan.


Jadi kembali ke plus minus egois dan individualis, baik yang dengan maupun tanpa “isme”, saya hanya kepingin mengetengahkan bahwa kita tidak bisa semudah mengklaim, sifat egois dan individualis itu pasti jelek, pasti buruk dan pembawa petaka. Ada gejala individualisme yang sehat, semisal penghargaan atas keunikan setiap individu. Ada prinsip egoisme yang bagus, seperti kesanggupannya untuk berprestasi sesuai kemampuan, berpenampilan wajar dan mantap, tidak krisis diri. Artinya, keperluan yang hendak saya selipkan disini adalah kesungguhan meneruskan suara nurani. Kesungguhan dalam memegang bara api common sense. Demikian ! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar