Senin, 05 Januari 2015

2015 Tanpa Mitos

Tahun 2015 ! Kaki kita kini sudah menjejakkan langkah di tahun 2015. Ada kisah yang sudah terlewat pada tahun sebelumnya. Lenyap tak berbekas hingga memasuki tahun yang berbeda. Namun ada juga yang terselip, masih terus mengekor, setia bertahan hingga sekarang. Saya mencatat salah satu yang menyelip itu adalah “mitos”. Tahun-tahun sebelumnya, warna budaya dan politik negeri ini tidak jauh dari mitos. Budaya naga dina, hari kurang baik, bercokol kuat di benak masyarakat, terutama Jawa, lebih spesifik lagi Jawa Tengah, masuk yang lebih khusus, Solo sekitarnya.  


Masyarakat Solo sekitarnya, termasuk di daerah Orangtua saya tinggal, Sragen, tradisi ruwatan, mengundang masyarakat dengan menggelar Wayang Kulit semalam suntuk, dalam rangka untuk mengusir hari sial, mengakar erat. Ada hitungan hari baik untuk selenggarakan hajatan pernikahan, pindah rumah, dan khitan anak laki-laki. Sesaji di bawah pohon besar, di makam-makam “suci”, untuk menghindar bencana, mendapatkan barokah, kerap kita lihat jelang bulan Ramadhan. Acara padusan, mandi bersama di sendang jelang puasa ramadhan, juga masih jadi acara “wajib” masyarakat kita hingga kini.

Demikian juga dengan kehidupan politik. Mitos wong agung, ratu adil, masih laku dalam politik. Soekarno, sosok kharisma, sang penyambung lidah rakyat, bapak revolusi, kerap dijadikan ikon, yang gambarnya selalu bersanding dengan kepala banteng lambang PDI P. Mitos tentang trah/keturunan, dimana keluarga Soekarno-lah yang patut memimpin PDI P, tetap bertahan sampai sekarang. Megawati belum tergantikan sebagai ketua partai. Pun, Soeharto, yang mulai dibangkitkan kembali dari kubur, dengan gambar murah senyumnya dan tulisan “isih penak jamanku tho”, menghias pada leaflet-leaflet yang ditempel sepanjang jalan, juga tercetak jelas di dinding belakang mobil truk. Fenomena mitologis, juga tidak hanya menimpa dua tokoh itu, Gus Dur, Abdurahman Wahid, juga masuk daftar tokoh yang dimitoskan, dengan sebutan sebagai “bapak pluralisme”, “wali Allah”, yang ngerti sak durunge winarah, mengerti sebelum kejadian. Tak ketinggalan, SBY, disebutnya sebagai bapak demokrasi, Amien Rais, tokoh reformasi, hingga Joko Widodo sebagai satrio piningit, yang dinanti untuk menuntaskan masalah bangsa.

Kalau kita tidak hati-hati, akan jatuh terjebak untuk terus memitoskan tokoh-tokoh tersebut yang sebenarnya tetap sebagai manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Tampaknya perilaku mitologi itu makin kentara dengan kehadiran sosok Joko Widodo itu. Joko Widodo yang dielu-elukan oleh banyak pihak sebagai penyelesai benang kusut bangsa. Ia datang ke panggung politik, dengan mitos sebagai jelata yang “apa adanya” dan “pekerja keras”. Datang sebagai pemimpin yang rajin menyapa setiap orang yang berpapasan dengannya. Datang dengan dukungan spontanitas para kawula muda yang merindukan pemimpin baru. Sehingga nyaris hadir disetiap saat dan tempat, tanpa kritik dari masyarakat. Orang enggan mengkritisi perilaku presiden ketujuh itu, karena takut digeruduk massa bawah yang loyal padanya. Enggan berpikir beda tentang ia, karena tak ingin dianggap pro status quo atau anti perubahan. Keengganan itu saya menganggapnya sebagai bagian wujud mitos.

Hal ini mengingat bahwa mitos tak lain adalah abstraksi dari kenyataan, abstraksi dari yang konkret. Menghindar dari yang konkret menuju pada yang abstrak. Menghindari kenyataan dengan menggunakan simbol-simbol, semisal ruwatan, hitungan hari baik, sesaji, dsb. Perilaku kita mulai kalangan bawah hingga pucuk pimpinan, kerap menempuh cara-cara mitos. Seperti pengkeramatan tempat-tempat suci, makam-makam “wali”, menganggap adanya tokoh suci yang “ma’shum”, tak mungkin berbuat salah. KPK pasti benar, tidak mungkin salah tangkap koruptor, Presiden baru itu juga. Tidak mungkin tidak bisa menuntaskan masalah bangsa. Ia tokoh yang berasal dari kalangan biasa, sehingga pasti mengerti dengan permasalahan krusial negeri ini.  Pendek kata, perilaku mitos, masih subur hingga akhir 2014.

Dr. Kuntowijoyo, sebelum meninggal tahun 2005, jauh-jauh hari sudah mengingatkan hal itu. Dalam tulisannya yang terkumpul dalam buku “Selamat Tinggal Mitos, Selamat Datang Realitas” mendedahkan perihal laku mitologis tersebut. Meski konteks yang beliau paparkan pada saat kepemimpinan Abdurahman Wahid, presiden keempat RI, namun terasa kian relevan hingga kini. Perilaku mitos tak kunjung hilang, malah kian kentara dengan membanjirnya tayangan-tayangan televisi yang kurang mendidik. Kuis-kuis dengan banjir hadiah, dan tak perlu keahlian pikir, cukup modal “dengkul” dan keberuntungan saja, diminati masyarakat. Budaya populer telah menggerus tradisi adiluhung, etika sopan santun, dan mengikis otoritas orangtua atas anak-anak. Pendidikan yang berpusat pada anak, memang tepat, tapi akan masalah kalau otoritas orangtua “sengaja” dihilangkan.

Nah, 2015, kesempatan untuk berbenah, sebelum memasuki pasar bebas 2020. 2015, awal kerja “rodi” untuk menyiapkan diri agar tidak terombang-ambing tertelan zaman. Semoga....



Tidak ada komentar:

Posting Komentar