Tahun 2015 ! Kaki kita kini sudah
menjejakkan langkah di tahun 2015. Ada kisah yang sudah terlewat pada tahun
sebelumnya. Lenyap tak berbekas hingga memasuki tahun yang berbeda. Namun ada
juga yang terselip, masih terus mengekor, setia bertahan hingga sekarang. Saya mencatat
salah satu yang menyelip itu adalah “mitos”. Tahun-tahun sebelumnya, warna
budaya dan politik negeri ini tidak jauh dari mitos. Budaya naga dina, hari kurang baik, bercokol
kuat di benak masyarakat, terutama Jawa, lebih spesifik lagi Jawa Tengah, masuk
yang lebih khusus, Solo sekitarnya.
Masyarakat Solo sekitarnya,
termasuk di daerah Orangtua saya tinggal, Sragen, tradisi ruwatan, mengundang
masyarakat dengan menggelar Wayang Kulit semalam suntuk, dalam rangka untuk
mengusir hari sial, mengakar erat. Ada hitungan hari baik untuk selenggarakan
hajatan pernikahan, pindah rumah, dan khitan anak laki-laki. Sesaji di bawah
pohon besar, di makam-makam “suci”, untuk menghindar bencana, mendapatkan
barokah, kerap kita lihat jelang bulan Ramadhan. Acara padusan, mandi bersama di sendang jelang puasa ramadhan, juga masih
jadi acara “wajib” masyarakat kita hingga kini.
Demikian juga dengan kehidupan
politik. Mitos wong agung, ratu adil,
masih laku dalam politik. Soekarno, sosok kharisma, sang penyambung lidah
rakyat, bapak revolusi, kerap dijadikan ikon, yang gambarnya selalu bersanding
dengan kepala banteng lambang PDI P. Mitos tentang trah/keturunan, dimana
keluarga Soekarno-lah yang patut memimpin PDI P, tetap bertahan sampai
sekarang. Megawati belum tergantikan sebagai ketua partai. Pun, Soeharto, yang
mulai dibangkitkan kembali dari kubur, dengan gambar murah senyumnya dan
tulisan “isih penak jamanku tho”, menghias pada leaflet-leaflet yang ditempel
sepanjang jalan, juga tercetak jelas di dinding belakang mobil truk. Fenomena mitologis,
juga tidak hanya menimpa dua tokoh itu, Gus Dur, Abdurahman Wahid, juga masuk
daftar tokoh yang dimitoskan, dengan sebutan sebagai “bapak pluralisme”, “wali
Allah”, yang ngerti sak durunge winarah,
mengerti sebelum kejadian. Tak ketinggalan, SBY, disebutnya sebagai bapak
demokrasi, Amien Rais, tokoh reformasi, hingga Joko Widodo sebagai satrio piningit, yang dinanti untuk
menuntaskan masalah bangsa.
Kalau kita tidak hati-hati, akan
jatuh terjebak untuk terus memitoskan tokoh-tokoh tersebut yang sebenarnya
tetap sebagai manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Tampaknya perilaku
mitologi itu makin kentara dengan kehadiran sosok Joko Widodo itu. Joko Widodo
yang dielu-elukan oleh banyak pihak sebagai penyelesai benang kusut bangsa. Ia datang
ke panggung politik, dengan mitos sebagai jelata yang “apa adanya” dan “pekerja
keras”. Datang sebagai pemimpin yang rajin menyapa setiap orang yang berpapasan
dengannya. Datang dengan dukungan spontanitas para kawula muda yang merindukan
pemimpin baru. Sehingga nyaris hadir disetiap saat dan tempat, tanpa kritik
dari masyarakat. Orang enggan mengkritisi perilaku presiden ketujuh itu, karena
takut digeruduk massa bawah yang loyal padanya. Enggan berpikir beda tentang
ia, karena tak ingin dianggap pro status quo atau anti perubahan. Keengganan itu
saya menganggapnya sebagai bagian wujud mitos.
Hal ini mengingat bahwa mitos tak
lain adalah abstraksi dari kenyataan, abstraksi dari yang konkret. Menghindar dari
yang konkret menuju pada yang abstrak. Menghindari kenyataan dengan menggunakan
simbol-simbol, semisal ruwatan, hitungan hari baik, sesaji, dsb. Perilaku kita
mulai kalangan bawah hingga pucuk pimpinan, kerap menempuh cara-cara mitos. Seperti
pengkeramatan tempat-tempat suci, makam-makam “wali”, menganggap adanya tokoh
suci yang “ma’shum”, tak mungkin berbuat salah. KPK pasti benar, tidak mungkin
salah tangkap koruptor, Presiden baru itu juga. Tidak mungkin tidak bisa
menuntaskan masalah bangsa. Ia tokoh yang berasal dari kalangan biasa, sehingga
pasti mengerti dengan permasalahan krusial negeri ini. Pendek kata, perilaku mitos, masih subur
hingga akhir 2014.
Dr. Kuntowijoyo, sebelum
meninggal tahun 2005, jauh-jauh hari sudah mengingatkan hal itu. Dalam tulisannya
yang terkumpul dalam buku “Selamat Tinggal Mitos, Selamat Datang Realitas”
mendedahkan perihal laku mitologis tersebut. Meski konteks yang beliau paparkan
pada saat kepemimpinan Abdurahman Wahid, presiden keempat RI, namun terasa kian
relevan hingga kini. Perilaku mitos tak kunjung hilang, malah kian kentara
dengan membanjirnya tayangan-tayangan televisi yang kurang mendidik. Kuis-kuis
dengan banjir hadiah, dan tak perlu keahlian pikir, cukup modal “dengkul” dan
keberuntungan saja, diminati masyarakat. Budaya populer telah menggerus tradisi
adiluhung, etika sopan santun, dan mengikis otoritas orangtua atas anak-anak. Pendidikan
yang berpusat pada anak, memang tepat, tapi akan masalah kalau otoritas
orangtua “sengaja” dihilangkan.
Nah, 2015, kesempatan untuk
berbenah, sebelum memasuki pasar bebas 2020. 2015, awal kerja “rodi” untuk
menyiapkan diri agar tidak terombang-ambing tertelan zaman. Semoga....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar