Sebetulnya saya tak begitu
menyukai perdebatan politik. Politik dan pelbagai intrik yang mengelilinginya,
bukan ranah keseharianku. Saya bukan politisi, terlebih lagi seorang pejabat
publik yang kental aroma trik dan permainan uangnya. Ayah dan ibu saya juga
dari kalangan jelata, yang jelas sama sekali buta dengan isu-isu yang laris
dalam pemberitaan. Terlebih istriku, malah eneg mendengarnya. Ringkasnya, kami
sekeluarga bukan dari kalangan berada yang berasal dan menggemari politik.
Tetapi, entah kenapa jluntrungannya, ketika akhir-akhir ini marak dalam
pemberitaan tentang perseteruan KPK versus Polri, saya dan istri, tiba-tiba saja
jadi mania mengikuti acara debat dan talk show yang mengetengahkan pertarungan
dua institusi tersebut. Saya jadi intens menikmati sajian perbincangan yang
mengupas sebab musabab “cicak vs buaya” jilid III. Acara “Satu Meja” Ira
Koesno, “Mata Najwa” Najwa Shihab, “Kompasiana” Cindi Sistyarani, mendadak jadi
program favorite istri. Sehingga anak-anak terpaksa mengalah dari kebiasaan melototi
“On the Spot” Trans 7. Sebuah program acara yang menampilkan keunikan,
keanehan, dan keajaiban-keajaiban alam maupun peristiwa.
Saya tergerak untuk mengikuti
dinamika yang terjadi, sedari awal mula Bambang Widjojanto ditangkap oleh
Bareskrim Mabes Polri, Jum’at, 23 Januari 2015. Saya merasa terusik, tidak siap
menerima kenyataan, seandainya seorang BW, sebutan akrab Bambang Widjojanto,
diperkarakan, hingga berstatus sebagai tersangka. Nalar sehat saya mengatakan
bahwa hal itu tidak mungkin. Mustahil seorang BW tega melakukan tindak
pencurangan dengan merekayasa drama persaksian palsu. Memang dia bukan malaikat.
Dia bukan sosok nabi yang ma’shum, yang terbebas dari perbuatan nista. Tapi
setidaknya hal itu bisa terbaca dari background
dan keseharian BW di tengah keluarganya. Bagaimana sosoknya di mata
anak-anaknya, istrinya, dan para tetangga. Sebagaimana yang kita tahu, tentunya
yang kelihatan dari media, istri BW senyatanya seorang jilbaber yang tegar dan
siap menanggung resiko atas profesi yang diemban suaminya. Artinya ada
kebanggaan yang sangat berarti dari seorang istri atas sosok suami yang bak
pejuang penegak kebenaran. Begitu pula dengan anaknya. Salah satunya Izzat,
putrinya yang nomor dua, dan yang menemani BW saat tragedi penangkapan
berlangsung, menunjukkan kebanggaannya yang amat sangat atas diri sang abi atau
ayah, yang tercermin dari acungan dua jempolnya, saat berpisah di Mabes Polri. Para
tetangga mengenal sosok BW, sebagai individu yang sederhana, idealis. Individu
yang tak neko-neko.
Mengacu kriteria “baik” dari Nabi
SAW, yang kurang lebih maknanya, bahwa untuk mengetahui akhlak seseorang
lihatlah siapa temannya. Dalam sabdanya yang lain, tanyalah tetangganya yang
terdekat. Seakan mengisyaratkan bahwa sebetulnya tidak susah untuk menilai budi
pekerti seseorang, cukup mengacu dari testimoni yang terdekat. Meski tidak bisa
dipungkiri bahwa subjektivitas lah yang terjadi. Tetapi memang kenyataannya
demikian. Kebajikan, kebaikan itu termasuk ranah subjektif, bukan objektif. Kasih
sayang, keindahan, itu subjektif. Tentu saja bukan masalah subjektif-objektif
yang terpenting, tetapi kemaslahatannya bagi kehidupan. Boleh lah kita mendaku
diri sebagai yang terbaik, terpintar, jebolan kampus ternama atau apa lah,
sepanjang tak berpengaruh bagi lingkungan terdekat, itu artinya kehadiran kita
tak bermakna alias nihil kebajikan. Sebaliknya yang dari tampang kurang
meyakinkan, ngomong kesulitan, hanya tamatan SD, tetapi sanggup membawa bahtera
keluarga keluar dari stigma negatif, berarti kehadirannya telah menyandang
predikat sebagai wakil-Nya. Keberadaannya tak mengundang tetangga untuk
berprasangka negatif, kehadirannya senantiasa meringankan beban syak wasangka. Anak-anaknya
tak pernah sepatah pun mengeluarkan kata-kata kotor, jorok dan sebagainya. Ringkasnya,
sepak terjangnya senantiasa mengundang decak kagum, setidaknya bagi lingkungan
terdekat, keluarga dan tetangga samping kanan kirinya. Nah, luar biasa kan !
Atas landasan itu, batin saya
terusik dengan kasus yang menimpa BW.
Saya tidak mengenalnya lebih dekat, dan bagi saya hal itu tak akan mengurangi
kekaguman saya terhadapnya. Ini masalah nurani. Nurani yang goncang ketika ada
indikasi kriminalisasi. Nurani yang tak bisa menerima kenyataan dazlim
merajalela. Kenyataan penegak anti korupsi yang dibungkam. BW yang dijadikan
tersangka oleh institusi Polri, seolah pertanda bahwa genderang perang terhadap
korupsi bakal lumpuh. Koruptor yang ketar-ketir dengan kerja KPK, bersorak
dengan ambruknya BW yang terbelit kasus rekayasa pemalsuan saksi.
Tadi sudahlah ! Biarlah proses
hukum yang membuktikannya. Saya hanya terus melirihkan doa buat keluarganya,
buat institusi KPK dan negeri ini dari murka Tuhan, akibat dzalim dan tidak
sungguh-sungguhnya kita dalam mengagungkan-Nya. Mengagungkan Tuhan sama artinya
dengan memartabatkan diri sendiri dan keluarga serta lingkungan sekitar. Mengagungkan
Tuhan adalah menginternalisasi dan mengobjektifkan rahman dan rahim-Nya. Ini
perkara sederhana, mudah diucapkan, namun terampau berat untuk jadi gaya
keseharian, lantaran jauh dari pikuk popularitas. Jangan korupsi dan ganyang
koruptor bisa saja terus kita hamburkan ke udara, namun mustahil akan membekas
dalam sanubari, jika masih silau dengan kekuasaan uang. Martabat diri mustahil
maujud selagi masih gagap menapaki kebersahajaan hidup. Bersahaja, tidak
neko-neko atas diri sendiri. Kejam, keras, dan disiplin terhadap diri, namun
penuh welas asih terhadap pihak lain. Sedih tak terkira pada yang tersisih. Jadi
rahman dan rahim, mesti terpatri terlebih dahulu dalam sanubari, sebelum
teriak lawan korupsi. Sebab korupsi yang dari asal artinya busuk, rusak,
menggoyahkan, memutar balik atau menyogok, jelas perbuatan yang jauh dari
perasaan kasih sayang atas sesama. Bagaimana mungkin ada rasa kasih sayang,
kalau yang kita lakukan bertentangan dengan nurani ? Sebagai contoh, di jalan
raya kita melanggar lampu lalu lintas kemudian berhadapan dengan polisi. Seandainya,
dengan alasan demi kemudahan proses, kita menyodorkan lembaran uang kepada
aparat polisi, sama artinya kita telah menjerumuskan polisi, menjerumuskan anak
dan istrinya yang bakal makan dari uang sogokan. Namun bayangkan seandainya
yang kita lakukan adalah mendisiplinkan diri dengan tidak bersedia menikmati “kemudahan
proses”, kita meminta surat tilang, maka hati pun tenteram. Kita bangga dan
percaya diri di hadapan polisi karena tidak larut dalam budaya sogok-menyogok. Kita
akan puas di hadapan anak-anak, saudara, dan terlebih Tuhan, karena telah
menegakkan nurani.
Nabi SAW mendefinisikan dosa itu
adalah perbuatan dimana kita merasa malu jika orang lain tahu apalagi
melihatnya. Sebaliknya jikalau yang kita lakukan itu akan berdampak tenteramnya
hati, dan membanggakan, niscaya hal itu sebuah kebajikan. Nah,
akhirnya.....semoga BW terbebas...hehehe.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar