Kamis, 29 Januari 2015

Semoga BW Terbebas

Sebetulnya saya tak begitu menyukai perdebatan politik. Politik dan pelbagai intrik yang mengelilinginya, bukan ranah keseharianku. Saya bukan politisi, terlebih lagi seorang pejabat publik yang kental aroma trik dan permainan uangnya. Ayah dan ibu saya juga dari kalangan jelata, yang jelas sama sekali buta dengan isu-isu yang laris dalam pemberitaan. Terlebih istriku, malah eneg mendengarnya. Ringkasnya, kami sekeluarga bukan dari kalangan berada yang berasal dan menggemari politik. Tetapi, entah kenapa jluntrungannya, ketika akhir-akhir ini marak dalam pemberitaan tentang perseteruan KPK versus Polri, saya dan istri, tiba-tiba saja jadi mania mengikuti acara debat dan talk show yang mengetengahkan pertarungan dua institusi tersebut. Saya jadi intens menikmati sajian perbincangan yang mengupas sebab musabab “cicak vs buaya” jilid III. Acara “Satu Meja” Ira Koesno, “Mata Najwa” Najwa Shihab, “Kompasiana” Cindi Sistyarani, mendadak jadi program favorite istri. Sehingga anak-anak terpaksa mengalah dari kebiasaan melototi “On the Spot” Trans 7. Sebuah program acara yang menampilkan keunikan, keanehan, dan keajaiban-keajaiban alam maupun peristiwa.


Saya tergerak untuk mengikuti dinamika yang terjadi, sedari awal mula Bambang Widjojanto ditangkap oleh Bareskrim Mabes Polri, Jum’at, 23 Januari 2015. Saya merasa terusik, tidak siap menerima kenyataan, seandainya seorang BW, sebutan akrab Bambang Widjojanto, diperkarakan, hingga berstatus sebagai tersangka. Nalar sehat saya mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin. Mustahil seorang BW tega melakukan tindak pencurangan dengan merekayasa drama persaksian palsu. Memang dia bukan malaikat. Dia bukan sosok nabi yang ma’shum, yang terbebas dari perbuatan nista. Tapi setidaknya hal itu bisa terbaca dari background dan keseharian BW di tengah keluarganya. Bagaimana sosoknya di mata anak-anaknya, istrinya, dan para tetangga. Sebagaimana yang kita tahu, tentunya yang kelihatan dari media, istri BW senyatanya seorang jilbaber yang tegar dan siap menanggung resiko atas profesi yang diemban suaminya. Artinya ada kebanggaan yang sangat berarti dari seorang istri atas sosok suami yang bak pejuang penegak kebenaran. Begitu pula dengan anaknya. Salah satunya Izzat, putrinya yang nomor dua, dan yang menemani BW saat tragedi penangkapan berlangsung, menunjukkan kebanggaannya yang amat sangat atas diri sang abi atau ayah, yang tercermin dari acungan dua jempolnya, saat berpisah di Mabes Polri. Para tetangga mengenal sosok BW, sebagai individu yang sederhana, idealis. Individu yang tak neko-neko.

Mengacu kriteria “baik” dari Nabi SAW, yang kurang lebih maknanya, bahwa untuk mengetahui akhlak seseorang lihatlah siapa temannya. Dalam sabdanya yang lain, tanyalah tetangganya yang terdekat. Seakan mengisyaratkan bahwa sebetulnya tidak susah untuk menilai budi pekerti seseorang, cukup mengacu dari testimoni yang terdekat. Meski tidak bisa dipungkiri bahwa subjektivitas lah yang terjadi. Tetapi memang kenyataannya demikian. Kebajikan, kebaikan itu termasuk ranah subjektif, bukan objektif. Kasih sayang, keindahan, itu subjektif. Tentu saja bukan masalah subjektif-objektif yang terpenting, tetapi kemaslahatannya bagi kehidupan. Boleh lah kita mendaku diri sebagai yang terbaik, terpintar, jebolan kampus ternama atau apa lah, sepanjang tak berpengaruh bagi lingkungan terdekat, itu artinya kehadiran kita tak bermakna alias nihil kebajikan. Sebaliknya yang dari tampang kurang meyakinkan, ngomong kesulitan, hanya tamatan SD, tetapi sanggup membawa bahtera keluarga keluar dari stigma negatif, berarti kehadirannya telah menyandang predikat sebagai wakil-Nya. Keberadaannya tak mengundang tetangga untuk berprasangka negatif, kehadirannya senantiasa meringankan beban syak wasangka. Anak-anaknya tak pernah sepatah pun mengeluarkan kata-kata kotor, jorok dan sebagainya. Ringkasnya, sepak terjangnya senantiasa mengundang decak kagum, setidaknya bagi lingkungan terdekat, keluarga dan tetangga samping kanan kirinya. Nah, luar biasa kan !

Atas landasan itu, batin saya terusik  dengan kasus yang menimpa BW. Saya tidak mengenalnya lebih dekat, dan bagi saya hal itu tak akan mengurangi kekaguman saya terhadapnya. Ini masalah nurani. Nurani yang goncang ketika ada indikasi kriminalisasi. Nurani yang tak bisa menerima kenyataan dazlim merajalela. Kenyataan penegak anti korupsi yang dibungkam. BW yang dijadikan tersangka oleh institusi Polri, seolah pertanda bahwa genderang perang terhadap korupsi bakal lumpuh. Koruptor yang ketar-ketir dengan kerja KPK, bersorak dengan ambruknya BW yang terbelit kasus rekayasa pemalsuan saksi.

Tadi sudahlah ! Biarlah proses hukum yang membuktikannya. Saya hanya terus melirihkan doa buat keluarganya, buat institusi KPK dan negeri ini dari murka Tuhan, akibat dzalim dan tidak sungguh-sungguhnya kita dalam mengagungkan-Nya. Mengagungkan Tuhan sama artinya dengan memartabatkan diri sendiri dan keluarga serta lingkungan sekitar. Mengagungkan Tuhan adalah menginternalisasi dan mengobjektifkan rahman dan rahim-Nya. Ini perkara sederhana, mudah diucapkan, namun terampau berat untuk jadi gaya keseharian, lantaran jauh dari pikuk popularitas. Jangan korupsi dan ganyang koruptor bisa saja terus kita hamburkan ke udara, namun mustahil akan membekas dalam sanubari, jika masih silau dengan kekuasaan uang. Martabat diri mustahil maujud selagi masih gagap menapaki kebersahajaan hidup. Bersahaja, tidak neko-neko atas diri sendiri. Kejam, keras, dan disiplin terhadap diri, namun penuh welas asih terhadap pihak lain. Sedih tak terkira pada yang tersisih. Jadi rahman dan rahim, mesti terpatri terlebih dahulu dalam sanubari, sebelum teriak lawan korupsi. Sebab korupsi yang dari asal artinya busuk, rusak, menggoyahkan, memutar balik atau menyogok, jelas perbuatan yang jauh dari perasaan kasih sayang atas sesama. Bagaimana mungkin ada rasa kasih sayang, kalau yang kita lakukan bertentangan dengan nurani ? Sebagai contoh, di jalan raya kita melanggar lampu lalu lintas kemudian berhadapan dengan polisi. Seandainya, dengan alasan demi kemudahan proses, kita menyodorkan lembaran uang kepada aparat polisi, sama artinya kita telah menjerumuskan polisi, menjerumuskan anak dan istrinya yang bakal makan dari uang sogokan. Namun bayangkan seandainya yang kita lakukan adalah mendisiplinkan diri dengan tidak bersedia menikmati “kemudahan proses”, kita meminta surat tilang, maka hati pun tenteram. Kita bangga dan percaya diri di hadapan polisi karena tidak larut dalam budaya sogok-menyogok. Kita akan puas di hadapan anak-anak, saudara, dan terlebih Tuhan, karena telah menegakkan nurani.

Nabi SAW mendefinisikan dosa itu adalah perbuatan dimana kita merasa malu jika orang lain tahu apalagi melihatnya. Sebaliknya jikalau yang kita lakukan itu akan berdampak tenteramnya hati, dan membanggakan, niscaya hal itu sebuah kebajikan. Nah, akhirnya.....semoga BW terbebas...hehehe.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar