Kamis, 08 Januari 2015

Semesta Diri


#Catatan 6

Dalam serial epik Mahabharata, sering dibicarakan tentang harga diri. Seorang Bisma, demi menjaga martabat Santanu dan Hastinapura, rela membujang seumur hidup dan menarik diri dari kedudukan putra mahkota. Pandawa lima putra Pandu, juga demikian. Mereka selalu mengalah oleh perilaku curang saudara mereka Kurawa, rela mengasingkan diri ke hutan, membangun tahta Indraprasta. Karna, Raja Angga, tak kalah istimewa dengan Arjuna. Karna, meski berpihak pada Duryodhana, tetapi ia tahu betul bahwa memegang kata-kata, sekalipun harus bermusuhan dengan saudara-saudaranya, harus dijaga seutuh hidup hingga ajal menjemput. Itulah serial Mahabharata, yang versi asli India, jauh lebih menggugah ketimbang versi Jawa. Saya dan istri menuntaskan serial tersebut, tak jarang, kami sering kali terpaksa menitikkan air mata, lantaran haru dengan ceritanya yang menghentak perasaan. Ibu Kunti, yang bertahun-tahun menjaga rahasia, tentang identitas asli Karna, demi nama baik Pandawa, anaknya,  dan Pandu, suaminya. Ya, Ibu Kunti sedia bertahun-tahun dalam kesakitan sebagai pendosa.


Serial Mahabharata apik dalam menuturkan tentang martabat seorang ksatria, tentang anak manusia. Terkait harga diri yang mesti dibawa hingga ajal datang. Luar biasa. Serial yang lahir ribuan tahun itu, hingga kini masih menarik untuk dihikmahi, dikhidmati. Artinya persoalan harga diri, martabat manusia, persoalan moral, itu bisa jadi telah diketahui sebagai pelajaran hidup, seumuran umat manusia. Tak aneh, Mahabharata, Ramayana, yang lahir dari buah tangan seorang pujangga, filsuf India 500an SM, masih bertahan dan tetap menawan hati hingga kini. Bahkan para artis yang memerankan tokoh-tokoh Pandawa, Ibu Kunti, dan atau Drupadi, seakan telah menjadi bagian artis-artis Indonesia. Sebut saja, Shaheer Sheikh, sang Arjuna, telah menyedot perhatian terutama kaum hawa. Memang ganteng sih.. Atau Pooja Sharma, pemeran Drupadi, Shafaq Naaz, sang Ibu Kunti, berhasil mencuri perhatian ribuan mata permirsa negeri ini.

Saya menggandrungi kisah Mahabharata, lantaran perjuangannya menegakkan harga diri. Keteguhan mempertahankan martabat sebagai insan yang bermoral, teguh memegang sumpah setia, dan selaras antara ucapan dan perbuatan. Sungguh sebuah pelajaran yang menarik. Pengingat kala sendiri, meski dalam kerumunan sosial. Hiburan sehat, ketika gundah gulana tiba-tiba menyergap.

Saya percaya, membicarakan martabat atau harga diri tersebut tak akan ada habisnya. Setiap agama menawarkan konsep diri. Filsafat, kidung-kidung, dan karya sastra dari setiap zaman, akan selalu menyelipkan pesan terkait harga diri. Termasuk—kebetulan saya terlahir sebagai muslim—teks-teks suci Al-Qur’an berlimpah pesan tentang diri dan martabat sebagai muslim. Saya sering menyitir ayat 4-6 surat At-Tin, yang menyebutkan nilai diri manusia tak lain tak bukan adalah iman dan amal shalih. Apa itu iman, dan kebajikan yang bagaimana yang mesti ditegakkan ? Al-Qur’an dan Sunah Nabi, kaya akan penjelasan iman dan amal shalih tersebut. Iman yang merupakan sisi dalam, lorong diri itu abstrak tidak nyata dan mesti dinyatakan. Pernyataan iman adalah amal shalih, akhlak atau berbuat kebajikan, yang merupakan sisi luar, yang kelihatan, dapat dirasakan, dicontoh, dan sebagainya.

Dalam catatan sebelumnya, saya menyebutkan bahwa hamba dan wakil Tuhan itu tak terpisahkan sebagaimana dua sisi dari satu mata uang. Hamba perwujudan dari iman. Hamba yang senantiasa taat dan pasrah dengan kehendak-Nya, lantaran ada iman dalam hatinya. Sedang implementasi dari fungsi wakil Tuhan adalah akhlak, yaitu mewujudnyatakan perintah, atau harapan Tuhan atas kehidupan di muka bumi ini. Dua sisi ini, tidak bisa kita menyebutkan bahwa wakil lebih tinggi, lebih luhur ketimbang hamba, atau sebaliknya. Pun begitu, bahwa akhlak lebih utama ketimbang iman, atau iman lebih penting daripada akhlak. Tidak bisa demikian. Sebagaimana dua sisi mata uang, keduanya tak dipisahkan. Satu hilang, yang lain tak akan ada. Iman dan akhlak, tak beriman kalau tak berakhlak. Dan akhlak tak abadi, tanpa keyakinan iman.

Lantaran sisi dalam, yang abstrak berarti iman merupakan semesta diri. Ya, iman merupakan semesta diri atau dunia diri, yang hanya diri sendiri dan Tuhan saja yang mengetahui petanya. Orang lain tidak ada  mengetahui, entah itu wali, orang suci atau paranormal sekalipun. Semesta diri tak lain adalah lorong rahasia antara si pelaku dengan Tuhan. Nah…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar