#Catatan 6
Dalam serial epik Mahabharata,
sering dibicarakan tentang harga diri. Seorang Bisma, demi menjaga martabat
Santanu dan Hastinapura, rela membujang seumur hidup dan menarik diri dari
kedudukan putra mahkota. Pandawa lima putra Pandu, juga demikian. Mereka selalu
mengalah oleh perilaku curang saudara mereka Kurawa, rela mengasingkan diri ke
hutan, membangun tahta Indraprasta. Karna, Raja Angga, tak kalah istimewa
dengan Arjuna. Karna, meski berpihak pada Duryodhana, tetapi ia tahu betul bahwa
memegang kata-kata, sekalipun harus bermusuhan dengan saudara-saudaranya, harus
dijaga seutuh hidup hingga ajal menjemput. Itulah serial Mahabharata, yang
versi asli India, jauh lebih menggugah ketimbang versi Jawa. Saya dan istri
menuntaskan serial tersebut, tak jarang, kami sering kali terpaksa menitikkan
air mata, lantaran haru dengan ceritanya yang menghentak perasaan. Ibu Kunti,
yang bertahun-tahun menjaga rahasia, tentang identitas asli Karna, demi nama
baik Pandawa, anaknya, dan Pandu,
suaminya. Ya, Ibu Kunti sedia bertahun-tahun dalam kesakitan sebagai pendosa.
Serial Mahabharata apik dalam
menuturkan tentang martabat seorang ksatria, tentang anak manusia. Terkait harga
diri yang mesti dibawa hingga ajal datang. Luar biasa. Serial yang lahir ribuan
tahun itu, hingga kini masih menarik untuk dihikmahi, dikhidmati. Artinya persoalan
harga diri, martabat manusia, persoalan moral, itu bisa jadi telah diketahui
sebagai pelajaran hidup, seumuran umat manusia. Tak aneh, Mahabharata,
Ramayana, yang lahir dari buah tangan seorang pujangga, filsuf India 500an SM,
masih bertahan dan tetap menawan hati hingga kini. Bahkan para artis yang
memerankan tokoh-tokoh Pandawa, Ibu Kunti, dan atau Drupadi, seakan telah
menjadi bagian artis-artis Indonesia. Sebut saja, Shaheer Sheikh, sang Arjuna,
telah menyedot perhatian terutama kaum hawa. Memang ganteng sih.. Atau Pooja Sharma,
pemeran Drupadi, Shafaq Naaz, sang Ibu Kunti, berhasil mencuri perhatian ribuan
mata permirsa negeri ini.
Saya menggandrungi kisah
Mahabharata, lantaran perjuangannya menegakkan harga diri. Keteguhan mempertahankan
martabat sebagai insan yang bermoral, teguh memegang sumpah setia, dan selaras
antara ucapan dan perbuatan. Sungguh sebuah pelajaran yang menarik. Pengingat kala
sendiri, meski dalam kerumunan sosial. Hiburan sehat, ketika gundah gulana
tiba-tiba menyergap.
Saya percaya, membicarakan
martabat atau harga diri tersebut tak akan ada habisnya. Setiap agama
menawarkan konsep diri. Filsafat, kidung-kidung, dan karya sastra dari setiap
zaman, akan selalu menyelipkan pesan terkait harga diri. Termasuk—kebetulan saya
terlahir sebagai muslim—teks-teks suci Al-Qur’an berlimpah pesan tentang diri
dan martabat sebagai muslim. Saya sering menyitir ayat 4-6 surat At-Tin, yang
menyebutkan nilai diri manusia tak lain tak bukan adalah iman dan amal shalih. Apa
itu iman, dan kebajikan yang bagaimana yang mesti ditegakkan ? Al-Qur’an dan
Sunah Nabi, kaya akan penjelasan iman dan amal shalih tersebut. Iman yang
merupakan sisi dalam, lorong diri itu abstrak tidak nyata dan mesti dinyatakan.
Pernyataan iman adalah amal shalih, akhlak atau berbuat kebajikan, yang
merupakan sisi luar, yang kelihatan, dapat dirasakan, dicontoh, dan sebagainya.
Dalam catatan sebelumnya, saya
menyebutkan bahwa hamba dan wakil Tuhan itu tak terpisahkan sebagaimana dua
sisi dari satu mata uang. Hamba perwujudan dari iman. Hamba yang senantiasa
taat dan pasrah dengan kehendak-Nya, lantaran ada iman dalam hatinya. Sedang implementasi
dari fungsi wakil Tuhan adalah akhlak, yaitu mewujudnyatakan perintah, atau harapan
Tuhan atas kehidupan di muka bumi ini. Dua sisi ini, tidak bisa kita
menyebutkan bahwa wakil lebih tinggi, lebih luhur ketimbang hamba, atau
sebaliknya. Pun begitu, bahwa akhlak lebih utama ketimbang iman, atau iman
lebih penting daripada akhlak. Tidak bisa demikian. Sebagaimana dua sisi mata
uang, keduanya tak dipisahkan. Satu hilang, yang lain tak akan ada. Iman dan
akhlak, tak beriman kalau tak berakhlak. Dan akhlak tak abadi, tanpa keyakinan
iman.
Lantaran sisi dalam, yang abstrak
berarti iman merupakan semesta diri. Ya, iman merupakan semesta diri atau dunia
diri, yang hanya diri sendiri dan Tuhan saja yang mengetahui petanya. Orang lain
tidak ada mengetahui, entah itu wali,
orang suci atau paranormal sekalipun. Semesta diri tak lain adalah lorong
rahasia antara si pelaku dengan Tuhan. Nah…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar