| hujan tak kunjung reda |
Hujan tak kunjung reda. Semalaman air hujan terus mengguyur tanah
Petanahan, Kebumen hingga detik ini. Kami tidak bisa kemana-mana. Kecewa.
Terutama, si sulung Ahimsa yang semestinya hari ini menjadi hari kedua untuk
bermain pasir di Pantai Petanahan. Bermain pasir di pantai merupakan agenda
favourit kala berliibur di Kebumen. Hal ini wajar saja, lantaran di Ungaran,
daerah gunung, yang asing dengan hamparan pasir yang berlimpah sebagaimana
pantai. Berlibur di Kebumen, bermain ke pantai, merupakan paket wajib. Tidak
hanya di Pantai Petanahan. Biasanya berlanjut dengan menyusuri Pantai Puring,
Pantai Suwuk.
Kemarin, Senin, 29 Desember 2014,
adalah kesempatan hari pertama, meski di Kebumen sudah 3 (tiga) hari, saya
beroleh waktu longgar untuk mengantar anak-anak dan istri ke pantai. Dan Pantai
Petanahan tujuan perdana. Pantai Petanahan ini, layaknya Parangtritis-nya
Kebumen. Ada ritus rutin yang bertahun-tahun terselenggara, sepekan pesta
rakyat warga Kebumen, usai lebaran, Hari Raya Iedul Fitri. Seakan belum
melakukan hari raya, bagi para tetua sekitar pantai, seperti Petanahan, Puring,
Klirong, hingga Kota Kebumen yang kerap datang berbondong dengan mobil truk,
sebelum berjemur di bibir pantai, menghirup hembusan angin pantai.
Nah, kini bukan Hari Raya Iedul
Fitri. Sekarang adalah liburan anak sekolah. Liburan jelang Natal dan tahun
baru 2015. Sehingga bibir pantai tak seramai waktu lebaran, tak ada pesta
rakyat, tiada pesta tradisi. Lantaran tidak ramai sebagaimana Iedul Fitri, kemarin,
sebelum meluncur ke pantai, saya megumpulkan imajinasi yang indah-indah atas
pantai. Saya bayangkan akan lebih khidmat untuk menikmati udara pantai. Saya
bayangkan pasir-pasir yang menghampar luas, berlarian kejar-kejaran yang
diiring dengan deburan ombak. Istri, Rahma, akan duduk bersama limpahan pasir,
dengan si bungsu Rakhe, sebagaimana yang sudah-sudah, enggan berbasah-basahan
dengan air laut. Saya bayangkan...
Pukul 05.30 pagi, berlomba dengan
terbit mentari, kami tiba di Pantai Petanahan. Dan ternyata. Pantai yang konon
tersohor di tlatah Kebumen, kini sudah kehilangan daya tarik. Bibir pantai,
pasir yang landai menunggu terjangan gelombang samudera, sudah tidak menarik
untuk kongkow dan merajut kisah kasih keluarga. Selain kotor tak terawat, bukan
lagi hamparan pasir yang landai, yang asyik buat bercengkerama, melainkan bibir
pantai yang layaknya jurang. Curam dan tidak bisa lagi digunakan main
kejar-kejaran, saling lempar pasir saya, istri dan anak-anak. Saya lihat istri
merengut kecewa dengan keadaan pantai yang tak lagi memiliki daya magis,
kehilangan pesona untuk mengukir album harian. Hanya Ahimsa, yang sepertinya,
entah terpaksa atau tidak, masih bisa berlarian jungkir balik di sela deburan
ombak. Sedang lainnya, saya dan istri tambah Rakhe, sebatas duduk-duduk menunggu
cahaya matahari meninggi.
Hanya sekitar 1 jam, kami
berjemur di pantai, tidak sebagaimana biasa, terutama pas liburan lebaran, bisa
hampir 2-3 jam. Sudahlah ! Esok akan dicoba pantai selain Pantai Petanahan,
kiranya demikian rencana untuk hari kedua, yang sedianya hari ini. Namun Tuhan
berkehendak lain. Hujan turun tak kenal reda. Anak-anak masih enggan menyingkap
selimut pagi yang terasa dingin. Matahari belum sanggup menunjukkan
keperkasaannya, untuk mengusir dingin. Padahal waktu terus merangkak hingga
jelang zuhur, pukul 11.45.
Ya, hari ini, jadwal di rumah.
Rebahan memanjakan tubuh bersama empuk kasur dan acara televisi. Pantai Puring
dan Suwuk, entah kondisinya sekarang, bagian untuk esok hari, Rabu, 31 Desember
2014. Barangkali akan ramai, karena jelang awal tahun. Kalau tidak salah, akan
ada pagelaran pesta kembang api bersama orkes melayu di Pantai Suwuk. Pesta
kembang api ! Ah, klise...tidak menarik.
iyaa, hujan terus, enaknya meringkuk di rumah hihihi...
BalasHapus