Minggu, 28 Desember 2014

Upaya Objektifikasi

objektifikasi adalah.........
Di masjid itu, Masjid Raya Al-Falah Sragen, Minggu sore, 21 Desember 2014. Saya berkesempatan untuk berbagi pemahaman tentang sedikit pemikiran Dr. Kuntowijoyo, dalam sebuah halaqoh, Majlis Selikuran. Halaqoh ini terselenggara rutin setiap bulan, tiap tanggal 21, atas prakarsa saudara Ikhwanushofa. Pas giliran saya, terhitung sudah 16 pertemuan, artinya sudah 1 tahun lebih 4 bulan, Kang Ikhwan, sapaan saya untuk Ikhwanushoffa, berhasil selamatkan tradisi diskusi, tradisi mengais hikmah. Tidak banyak yang saya sampaikan. Hanya berkisar tentang objektifikasi. Namun demikian, bahasan objektifikasi, tak sederhana sebagaimana yang terbayangkan. Saya membayangkan, bakal mudah untuk presentasi ke audiens, tapi ternyata tidak. Objektifikasi masih terlampau berat untuk menjadi tema perbincangan. Masih asing dan langka, bagi telinga kita yang kadung termakan oleh isu-isu popularisme.


Saya menandaskan objektifikasi dengan memakai penjelasan Dr. Kuntowijoyo tentang strategi perubahan atau dakwah. Berdasar hadis Nabi SAW, ketika ada kemungkaran, hendaknya kita mengubahnya dengan tangan. Jika tidak bisa, maka kita gunakan lisan. Jika ternyata lisan pun juga tidak bisa, maka kita pakai hati, dimana hal ini sebagai selemah-lemahnya iman. Ada tangan, lisan, kemudian hati. Kalau kita runut sabda tersebut, perubahan sosial melalui tangan menjadi yang utama, sebelum yang lainnya. Berarti, realitas objektif, adalah tujuan utama kita berislam, tujuan utama kita berinteraksi sosial. Realitas objektif adalah hidup sehari-hari. Seperti berjalan ke tempat kerja, bercengkerama dengan keluarga, hingga urusan makro yang berupa sistem sosial Islam, sistem politik Islam, dan sebagainya.

Mengubah dengan tangan, adalah memasyarakatkan Islam sebagai pola dan gaya hidup keseharian. Islam hidup dalam keluarga, dalam pranata sosial, hingga tata aturan kenegaraan. Itu artinya pola struktural. Islam telah menjadi sistem kehidupan, sehingga objektif, fakta keseharian.

majlis selikuran, upaya kecil-kecilan demi harmoni negeri
Jika perubahan struktural atau realitas objektif yang tercipta dengan “tangan”, tidak bisa kita wujudkan, maka hendaknya kita menempuh jalur kultural. Jalur kultural adalah realitas simbolik, melalui lisan, dimana dalam perjalanan hidup kita, tidak lepas dari aktifitas refleksi-refleksi tentang pertautan antara doktrin normatif dengan realitas sehari-hari. Menginterpretasikan nilai-nilai normatif, kita hadapkan dengan nilai-nilai duniawi, pada hidup sehari-hari, atau pada realitas objektif, merupakan laku untuk melahirkan realitas simbolik. Menciptakan sesuatu yang baru yang bersifat konseptual, atau yang berupa pemikiran-pemikiran. Merumuskan konsepsi-konsepsi pemikiran, filsafat dan teori sosial tentang pranata Islam. Nilai normatif Islam, kita turunkan menjadi konsep pemikiran, menjadi realitas simbolik yang akan terus berkembang dan selalu mengalami perubahan-perubahan. Ide gagasan, dan atau teori sosial itu tidak pernah mandek.

Kemudian, jika ternyata, kita tak sanggup menjalankan tugas untuk merumuskan realitas simbolik, maka upaya terakhir yang mesti kita tempuh adalah menciptakan realitas subjektif, melalui hati. Menciptakan sistem itu hidup dalam hati kita. Menghayati nilai-nilai normatif dalam diri sendiri. Jadi, realitas subjektif ialah nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadits yang menimbulkan kepribadian, personality. Kepribadian inilah yang menjadi tolok ukur Tuhan menilai kehadiran kita. Kita dinilai, apakah diri kita sesuai dengan perintah-perintah Tuhan, selaras dengan sabda Nabi, adalah dengan menilik kepribadian atau realitas subjektif kita. Realitas subjektif tak lain adalah keimanan, ihsan, takwa, dan tawakal kita. Kemampuan menginternalisasi nilai-nilai dalam diri, kemampuan menangkap dan membaca tanda-tanda atau ayat-ayat Allah.

Demikianlah, Tuhan akan selalu menilai realitas subjektif kita, tetapi juga dianjurkan supaya kita sanggup menghadirkan realitas objektif, kalau tidak bisa, baru yang simbolik, dan minimal kembali ke realitas subjektif, ke kepribadian kita. Hal itu berarti, aktualisasi diri itu pertama-tama dalam realitas subjektif kita, tetapi juga harus disertai realitas yang objektif, setidaknya yang simbolik. Iman mesti disertai dengan konsep dan  amal yang konkret. Lantaran hanya hal-hal yang simbolik dan konkretlah yang dapat berkomunikasi, yang dapat dirasakan oleh orang lain, yang dapat dinikmati oleh pihak lain.


So, disamping keberimanan, konsep berpikir, dan terlebih lagi yang konkret objektiflah, adalah cara merealisasikan Islam. Dan semoga, seiring 21 Desember 2014 itu, bersama Majlis Selikuran, bersama kemegahan Masjid Raya Al-Falah Sragen, kita benar-benar akan beroleh kemenangan, beroleh kemudahan untuk mengaktualisasikan diri, mengaktualkan Islam. Isya Allah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar