![]() |
| objektifikasi adalah......... |
Di masjid itu, Masjid Raya
Al-Falah Sragen, Minggu sore, 21 Desember 2014. Saya berkesempatan untuk
berbagi pemahaman tentang sedikit pemikiran Dr. Kuntowijoyo, dalam sebuah
halaqoh, Majlis Selikuran. Halaqoh ini terselenggara rutin setiap bulan, tiap tanggal
21, atas prakarsa saudara Ikhwanushofa. Pas giliran saya, terhitung sudah 16
pertemuan, artinya sudah 1 tahun lebih 4 bulan, Kang Ikhwan, sapaan saya untuk
Ikhwanushoffa, berhasil selamatkan tradisi diskusi, tradisi mengais hikmah. Tidak
banyak yang saya sampaikan. Hanya berkisar tentang objektifikasi. Namun
demikian, bahasan objektifikasi, tak sederhana sebagaimana yang terbayangkan.
Saya membayangkan, bakal mudah untuk presentasi ke audiens, tapi ternyata
tidak. Objektifikasi masih terlampau berat untuk menjadi tema perbincangan.
Masih asing dan langka, bagi telinga kita yang kadung termakan oleh isu-isu
popularisme.
Saya menandaskan objektifikasi
dengan memakai penjelasan Dr. Kuntowijoyo tentang strategi perubahan atau
dakwah. Berdasar hadis Nabi SAW, ketika ada kemungkaran, hendaknya kita
mengubahnya dengan tangan. Jika tidak bisa, maka kita gunakan lisan. Jika
ternyata lisan pun juga tidak bisa, maka kita pakai hati, dimana hal ini
sebagai selemah-lemahnya iman. Ada tangan, lisan, kemudian hati. Kalau kita
runut sabda tersebut, perubahan sosial melalui tangan menjadi yang utama,
sebelum yang lainnya. Berarti, realitas objektif, adalah tujuan utama kita
berislam, tujuan utama kita berinteraksi sosial. Realitas objektif adalah hidup
sehari-hari. Seperti berjalan ke tempat kerja, bercengkerama dengan keluarga,
hingga urusan makro yang berupa sistem sosial Islam, sistem politik Islam, dan
sebagainya.
Mengubah dengan tangan, adalah
memasyarakatkan Islam sebagai pola dan gaya hidup keseharian. Islam hidup dalam
keluarga, dalam pranata sosial, hingga tata aturan kenegaraan. Itu artinya pola
struktural. Islam telah menjadi sistem kehidupan, sehingga objektif, fakta
keseharian.
![]() |
| majlis selikuran, upaya kecil-kecilan demi harmoni negeri |
Jika perubahan struktural atau
realitas objektif yang tercipta dengan “tangan”, tidak bisa kita wujudkan, maka
hendaknya kita menempuh jalur kultural. Jalur kultural adalah realitas
simbolik, melalui lisan, dimana dalam perjalanan hidup kita, tidak lepas dari
aktifitas refleksi-refleksi tentang pertautan antara doktrin normatif dengan
realitas sehari-hari. Menginterpretasikan nilai-nilai normatif, kita hadapkan
dengan nilai-nilai duniawi, pada hidup sehari-hari, atau pada realitas
objektif, merupakan laku untuk melahirkan realitas simbolik. Menciptakan
sesuatu yang baru yang bersifat konseptual, atau yang berupa
pemikiran-pemikiran. Merumuskan konsepsi-konsepsi pemikiran, filsafat dan teori
sosial tentang pranata Islam. Nilai normatif Islam, kita turunkan menjadi
konsep pemikiran, menjadi realitas simbolik yang akan terus berkembang dan
selalu mengalami perubahan-perubahan. Ide gagasan, dan atau teori sosial itu
tidak pernah mandek.
Kemudian, jika ternyata, kita tak
sanggup menjalankan tugas untuk merumuskan realitas simbolik, maka upaya
terakhir yang mesti kita tempuh adalah menciptakan realitas subjektif, melalui
hati. Menciptakan sistem itu hidup dalam hati kita. Menghayati nilai-nilai
normatif dalam diri sendiri. Jadi, realitas subjektif ialah nilai-nilai
Al-Qur’an dan Hadits yang menimbulkan kepribadian, personality. Kepribadian inilah yang menjadi tolok ukur Tuhan
menilai kehadiran kita. Kita dinilai, apakah diri kita sesuai dengan
perintah-perintah Tuhan, selaras dengan sabda Nabi, adalah dengan menilik
kepribadian atau realitas subjektif kita. Realitas subjektif tak lain adalah keimanan,
ihsan, takwa, dan tawakal kita. Kemampuan menginternalisasi nilai-nilai dalam
diri, kemampuan menangkap dan membaca tanda-tanda atau ayat-ayat Allah.
Demikianlah, Tuhan akan selalu
menilai realitas subjektif kita, tetapi juga dianjurkan supaya kita sanggup
menghadirkan realitas objektif, kalau tidak bisa, baru yang simbolik, dan
minimal kembali ke realitas subjektif, ke kepribadian kita. Hal itu berarti,
aktualisasi diri itu pertama-tama dalam realitas subjektif kita, tetapi juga
harus disertai realitas yang objektif, setidaknya yang simbolik. Iman mesti
disertai dengan konsep dan amal yang
konkret. Lantaran hanya hal-hal yang simbolik dan konkretlah yang dapat
berkomunikasi, yang dapat dirasakan oleh orang lain, yang dapat dinikmati oleh
pihak lain.
So, disamping keberimanan, konsep
berpikir, dan terlebih lagi yang konkret objektiflah, adalah cara
merealisasikan Islam. Dan semoga, seiring 21 Desember 2014 itu, bersama Majlis
Selikuran, bersama kemegahan Masjid Raya Al-Falah Sragen, kita benar-benar akan
beroleh kemenangan, beroleh kemudahan untuk mengaktualisasikan diri,
mengaktualkan Islam. Isya Allah...


Tidak ada komentar:
Posting Komentar