Senin, 29 Desember 2014

Berlibur : Decak Kagum Sekaligus Prihatin

Jum’at, 26 Desember 2014, liburan pun berlanjut ke Kebumen. Shuttle Sumber Alam, jadi pilihan untuk transportasi perjalanan. Memang harus menguras isi dompet, namun cukup nyaman ketimbang naik bus reguler. Naik shuttle, semi travel itu, serasa lebih aman, dan cepat sampai tujuan. Sedang naik bus, biaya murah, tetapi kenyamanan penumpang kurang diperhatikan. Sudah jalannya merayap lambat, bising dengan suara pengamen, dan aneka ragam penjaja makanan, dari yang mulai sopan hingga yang kasar, penuh ancaman. Sehingga naik bus, lambat laun bukan lagi alternatif pilihan untuk bepergian. Malah pernah, juga pas perjalanan dari Kebumen ke Semarang, mencoba peruntungan dengan naik bus, jalan lambat, kondisi bus rusak berat, dan—ini yang paling tidak mengenakkan—mesti oper ganti bus 3 (tiga) kali sebelum sampai Ungaran, Semarang.


Saya memastikan, bukan maksud mendoakan, armada bus angkutan antar kota, cepat atau lambat bakal ditinggalkan oleh para konsumen. Setidaknya, saya, seakan bersumpah, tidak bakal lagi naik bus. Mending travel atau kereta api. Biarpun biaya perjalanan jadi membengkak, namun perasaan was-was, ketar-ketir, nyaris tidak ada.

Termasuk Jum’at itu, 26 Desember 2014, shuttle jadi pilihan yang paling logis, demi kenyamanan perjalanan. Entahlah, apakah keluhan yang begini ini, akan jadi masukan yang bakal memperbaiki keadaan. Saya tidak tahu. Saya yakin perasaan tidak nyaman, tidak hanya melanda saya dan keluarga, namun juga menghinggap di benak setiap calon penumpang. Sehingga alternatif-alternatif jasa layanan transportasi, pengganti bus, ramai diserbu konsumen.

Perjalanan ke Kebumen, perjalanan yang mengundang decak kagum sekaligus prihatin. Kagum kala menyaksikan deretan kendaraan yang tak putus-putus. Padahal ini bukan lebaran, namun jalanan sudah menyemut. Mobil-mobil luar kota Jawa Tengah, yang banyak menyesaki jalanan. Yang dari Bandung, Jakarta, Malang, dsb, turut andil bikin perjalanan anak-anak dan istri tersendat, tidak segera sampai tujuan. Melihat deretan mobil dan sepeda motor yang panjang, menghipnotis pikiran saya tentang perjuangan setiap kita untuk mendapatkan, meski sesaat, rasa kebebasan. Berlibur adalah cara untuk mengartikulasikan makna kebebasan sebagai manusia. Berlibur merupakan teknis untuk keluar dari penjara rutinitas. Keluar dari jebakan perangkap bendawi, serba ragawi.

Semangat untuk mendapatkan nilai kebebasan tersebut terpancar dari raut muka para pengguna jalan yang sabar merayap. Tiada emosi, meski kemacetan jelas di depan mata. Tiada umpatan, padahal lalu lalang kendaraan terus tanpa henti. Itulah yang mengagumkan dari masyarakat kita. Bersabar demi sesuatu yang bermakna. Rela menderita demi yang lebih. Perjalanan ini juga mengundang rasa prihatin.  Prihatin lantaran derita masyarakat yang mengejar makna kebebasan, demi menemukan rasa manusiawinya, tidak diimbangi dengan infrastruktur yang mengamankan. Entah kesengajaan atau apa, tidak jelas, pemerintah selalu saja menunda-nunda untuk memperbaiki fisik jalan raya. Jalan raya dari Solo ke Kebumen, hanya lintasan ringroad Yogya, saya mendapatkan kondisi jalan yang nyaman. Selain itu, lubang-lubang dan jalanan bergelombang, menjadi pemandangan yang menyesakkan dada sepanjang jalan.

Hal itu jelas memprihatinkan. Kondisi cuaca bulan Desember, dengan intensitas turun hujan yang meninggi, namun kondisi jalan tidak memadai bagi kendaraan motor. Menghindari lubang-lubang, seakan bertaruh dengan maut. Setidaknya, kondisi kendaraan mesti dalam keadaan benar-benar sempurna untuk perjalanan. Jalanan rusak, banyak lubang di sana-sini, mesti jadi tanggung jawab pemerintah, selaku abdi rakyat. Pemerintah itu bukan rakyat. Hidup nyaman bergaji dari pajak rakyat, namun tidak becus untuk menjaga jalan raya agar senantiasa berkondisi prima.


Nah, dari Jum’at, tanggal 26 Desember 2014, saya mendapatkan penegasan, bahwa rakyat atau masyarakat kita itu benar-benar berhati mulia. Prihatin yang terus menerus, tanpa mengeluh dan menagih hak kenyamanan. Mereka legowo, dengan kondisi apa pun. Memang sesekali menuangkan kemarahan dan ketidakpuasan, namun tetap setia membayar pajak, memberi penghidupan pada para pemegang otoritas negeri ini. Akhirnya, liburan saya dan keluarga, tetap berlangsung dalam kegembiraan, menikmati kebebasan, menghikmahi setiap tingkah polah. Termasuk rasa menerima, rasa syukur yang tiada habis, dan bersabar tanpa ujung akhir....hadeuuuhhhh.

2 komentar: