![]() |
| naik kereta api..tuuut...tuuuut, siapa mau ikut.... |
Anak-anak begitu menikmati waktu
liburan ini. Seharian tanpa jeda istirahat, terus saja bermain menikmati
kebebasan. Seolah-olah kebebasan jadi hal yang langka dan mahal, sehingga
begitu kini di dapat, tak mau melewatkannya. Sebagai orangtua, tentunya ingin
menciptakan surprise bagi anak-anak.
Ingin memberi kesan mendalam tentang liburan akhir tahun ini. Kesempatan pun
datang. Pada hari kedua, liburan di Sragen, Selasa, 23 Desember 2014, saya ajak
anak-anak untuk mengisi hari dengan
menikmati perjalanan bersama kereta api, Salem-Solo. Si bungsu Rakhe, selalu
menagih untuk bisa naik kereta api beneran, bukan imitasi seperti kereta
kelinci, atau kereta putar di alun-alun.
Si sulung Ahimsa, bukan lagi
kereta api yang menjadi impian besarnya. Ia sudah bisa menikmati hal-hal yang
abstrak, yaitu corat-coret tentang hal yang istimewa di buku tulisnya. Sedang
Rakhe, masih butuh hal-hal yang konkret, bisa dilihat, bisa diraba, dan
dirasakan. Saban malam, termasuk ketika masih di rumah Ungaran, selalu meminta
kami, ayah bundanya, untuk mengajak naik kereta api. Ia bayangkan bagaimana
enaknya naik kereta api. Bagaimana asyiknya kereta api betulan. Bukan hanya
membayang tentang Thomas, James, Edward, dan Gordon, nama-nama kereta api yang
ia hapal, baik dari buku Thomas N Friends maupun melalui televisi.
Syukurlah, kesempatan untuk
merasakan naik kereta api keturutan. Hari kedua liburan, hari Selasa, kami
menikmati perjalanan ke Solo dengan kendaraan berkapasitas masal itu. Kereta
api Kalijaga, kereta eksekutif lokal Semarang-Solo, dengan tarif jauh dekat Rp
10.000,- /orang. Sehingga cukup dengan uang Rp 40.000,- kami bisa mewujudkan
impian si Rakhe. Dan memang benar, di dalam kereta api, rona bahagia, jelas
terpancar dari wajah imutnya. Meski sang Kakak, sudah biasa dengan kereta api,
tetap saja, larut dalam kegembiraan, sebagaimana sang Adik. Duh bahagianya...
Dengan kaca jendela kereta yang
masih cling, karena Kereta api Kalijaga terhitung baru beropersi ketika lebaran
tahun ini, Agustus, sehingga masih kelihatan baru. Kaca-kaca jendela masih
normal, dan jelas untuk melihat panorama di luar kereta. Dan hal ini sangat
membantu kedua jagoan itu untuk mengeksplorasi pandangan sepuasnya sepanjang
jalan. Persawahan yang menghijau segar, jembatan sungai dan pepohonan yang
seolah ikut jalan mengiring laju kereta api, makin menambah semarak dan binar
mata anak-anak.
Selaku ayah, saya tak bisa
memendam rasa haru bahagia. Ternyata sederhana saja untuk membikin anak-anak
bahagia. Memang perlu biaya, tetapi sepanjang masih terjangkau, kenapa tidak
untuk menyegerakan wujudkan impian anak-anak. Termasuk impian Rakhe untuk naik
kereta api. Bukan hal yang sulit dan menyusahkan orangtua, untuk merealisasikan
keinginannya. Saya sangat haru, begitu melihat mata beningnya tak pernah lepas
dari kaca jendela kereta. Mulutnya nerocos “berorasi” tak kenal lelah untuk
menjelaskan tentang rel kereta yang saling sambung, tentang jembatan sungai
yang dibelah kereta sehingga menimbulkan dengus suara kendaraan masal itu
semakin berisik. Tentang kendaraan-kendaraan lainnya di jalan raya, seperti
bus-bus, dan mobil-mobil pribadi, serta kendaraan motor, yang ternata kalah cepat dibandingkan laju
kereta api. “Yah, keretanya cepat sekali”.
Amboi, senangnya hati ini.
Anak-anak riang gembira menghikmahi hari. Anak-anak seakan menemukan sesuatu
yang hilang, sesuatu yang kini telah diraihnya. Barangkali memang iya begitu.
Mereka kini baru saja menikmati kebebasannya yang sesungguhnya. Menikmati kedua
orangtuanya yang juga sedang memanusia. Dan itu terasa oleh mereka. Pancaran
kemanusiaan kami, orangtua, dirasakan oleh anak-anak. Sehingga mereka pun juga
lepas dalam mengekspresikan kebahagiaannya yang tak dibuat-buat. Kebahagiaan
yang natur, apa adanya.
Himpitan kerja, tuntutan untuk
menselaraskan kebutuhan ekonomi, telah mencetak monster dalam diri kita, dan
itu yang anak-anak rasakan. Anak-anak merasakan benar, betapa kita orangtua,
sering lupa sebagai layaknya manusia yang penuh empati, full simpati pada
anak-anak. Dengan gampang, lantaran capek seharian menggeluti dunia kerja, kita
bentak mereka. Dengan mudahnya, kita putus harapan-harapan lucu mereka. Kita
tangkis tanpa rasa bersalah, impian-impian mereka. Sehingga liburan, yang
hakikatnya sebenarnya untuk merelaksasi diri kita sendiri, ternyata berdampak
positif juga terhadap anak-anak. Anak-anak bisa bebas dan merasakan sisi
humanis kita.
Liburan, kita temukan sisi
manusiawi. Liburan jadi hadiah terindah bagi anak-anak. Dan kereta api salah
satunya. Ahimsa, Rakhe, dan kami orangtua, moga bisa mengabadikan rasa bahagia,
dan detak kemanusiaan ini. Sisi manusiawi yang kadang kalah saing dengan
kebutuhan jasmani, kebutuhan bendawi. Memanusia sering tenggelam di balik
ragawi. Dan semoga tak berlarut dalam keterjebakan materi....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar