Minggu, 28 Desember 2014

Liburan Naik Kereta Api

naik kereta api..tuuut...tuuuut, siapa mau ikut....
Anak-anak begitu menikmati waktu liburan ini. Seharian tanpa jeda istirahat, terus saja bermain menikmati kebebasan. Seolah-olah kebebasan jadi hal yang langka dan mahal, sehingga begitu kini di dapat, tak mau melewatkannya. Sebagai orangtua, tentunya ingin menciptakan surprise bagi  anak-anak. Ingin memberi kesan mendalam tentang liburan akhir tahun ini. Kesempatan pun datang. Pada hari kedua, liburan di Sragen, Selasa, 23 Desember 2014, saya ajak anak-anak untuk mengisi hari  dengan menikmati perjalanan bersama kereta api, Salem-Solo. Si bungsu Rakhe, selalu menagih untuk bisa naik kereta api beneran, bukan imitasi seperti kereta kelinci, atau kereta putar di alun-alun. 


Si sulung Ahimsa, bukan lagi kereta api yang menjadi impian besarnya. Ia sudah bisa menikmati hal-hal yang abstrak, yaitu corat-coret tentang hal yang istimewa di buku tulisnya. Sedang Rakhe, masih butuh hal-hal yang konkret, bisa dilihat, bisa diraba, dan dirasakan. Saban malam, termasuk ketika masih di rumah Ungaran, selalu meminta kami, ayah bundanya, untuk mengajak naik kereta api. Ia bayangkan bagaimana enaknya naik kereta api. Bagaimana asyiknya kereta api betulan. Bukan hanya membayang tentang Thomas, James, Edward, dan Gordon, nama-nama kereta api yang ia hapal, baik dari buku Thomas N Friends maupun melalui televisi.

Syukurlah, kesempatan untuk merasakan naik kereta api keturutan. Hari kedua liburan, hari Selasa, kami menikmati perjalanan ke Solo dengan kendaraan berkapasitas masal itu. Kereta api Kalijaga, kereta eksekutif lokal Semarang-Solo, dengan tarif jauh dekat Rp 10.000,- /orang. Sehingga cukup dengan uang Rp 40.000,- kami bisa mewujudkan impian si Rakhe. Dan memang benar, di dalam kereta api, rona bahagia, jelas terpancar dari wajah imutnya. Meski sang Kakak, sudah biasa dengan kereta api, tetap saja, larut dalam kegembiraan, sebagaimana sang Adik. Duh bahagianya...

Dengan kaca jendela kereta yang masih cling, karena Kereta api Kalijaga terhitung baru beropersi ketika lebaran tahun ini, Agustus, sehingga masih kelihatan baru. Kaca-kaca jendela masih normal, dan jelas untuk melihat panorama di luar kereta. Dan hal ini sangat membantu kedua jagoan itu untuk mengeksplorasi pandangan sepuasnya sepanjang jalan. Persawahan yang menghijau segar, jembatan sungai dan pepohonan yang seolah ikut jalan mengiring laju kereta api, makin menambah semarak dan binar mata anak-anak.

Selaku ayah, saya tak bisa memendam rasa haru bahagia. Ternyata sederhana saja untuk membikin anak-anak bahagia. Memang perlu biaya, tetapi sepanjang masih terjangkau, kenapa tidak untuk menyegerakan wujudkan impian anak-anak. Termasuk impian Rakhe untuk naik kereta api. Bukan hal yang sulit dan menyusahkan orangtua, untuk merealisasikan keinginannya. Saya sangat haru, begitu melihat mata beningnya tak pernah lepas dari kaca jendela kereta. Mulutnya nerocos “berorasi” tak kenal lelah untuk menjelaskan tentang rel kereta yang saling sambung, tentang jembatan sungai yang dibelah kereta sehingga menimbulkan dengus suara kendaraan masal itu semakin berisik. Tentang kendaraan-kendaraan lainnya di jalan raya, seperti bus-bus, dan mobil-mobil pribadi, serta kendaraan motor,  yang ternata kalah cepat dibandingkan laju kereta api. “Yah, keretanya cepat sekali”.

Amboi, senangnya hati ini. Anak-anak riang gembira menghikmahi hari. Anak-anak seakan menemukan sesuatu yang hilang, sesuatu yang kini telah diraihnya. Barangkali memang iya begitu. Mereka kini baru saja menikmati kebebasannya yang sesungguhnya. Menikmati kedua orangtuanya yang juga sedang memanusia. Dan itu terasa oleh mereka. Pancaran kemanusiaan kami, orangtua, dirasakan oleh anak-anak. Sehingga mereka pun juga lepas dalam mengekspresikan kebahagiaannya yang tak dibuat-buat. Kebahagiaan yang natur, apa adanya.

Himpitan kerja, tuntutan untuk menselaraskan kebutuhan ekonomi, telah mencetak monster dalam diri kita, dan itu yang anak-anak rasakan. Anak-anak merasakan benar, betapa kita orangtua, sering lupa sebagai layaknya manusia yang penuh empati, full simpati pada anak-anak. Dengan gampang, lantaran capek seharian menggeluti dunia kerja, kita bentak mereka. Dengan mudahnya, kita putus harapan-harapan lucu mereka. Kita tangkis tanpa rasa bersalah, impian-impian mereka. Sehingga liburan, yang hakikatnya sebenarnya untuk merelaksasi diri kita sendiri, ternyata berdampak positif juga terhadap anak-anak. Anak-anak bisa bebas dan merasakan sisi humanis kita.


Liburan, kita temukan sisi manusiawi. Liburan jadi hadiah terindah bagi anak-anak. Dan kereta api salah satunya. Ahimsa, Rakhe, dan kami orangtua, moga bisa mengabadikan rasa bahagia, dan detak kemanusiaan ini. Sisi manusiawi yang kadang kalah saing dengan kebutuhan jasmani, kebutuhan bendawi. Memanusia sering tenggelam di balik ragawi. Dan semoga tak berlarut dalam keterjebakan materi....       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar