Senin, 08 Desember 2014

Rahma, You're My Hero

dari kiri ke kanan: Ahimsa, Rahma, dan si bungsu Rakhe

Rahma, sang istri, selalu yang paling awal, mendahului segenap seisi rumah, kalau urusan bangun pagi. Seakan tak mau kalah, berlomba dengan sorot tajam cahaya matahari, ia selalu yang terdepan, bangun paling dini dan  menuntaskan pekerjaan-pekerjaan rutin pagi. Cuci piring, belanja sayuran, siapkan sarapan pagi, dan sesekali cuci baju. Ah, Rahma ! Tak mungkin saya akan menyepelekannya. Saya tak bakalan menganggap rutinitas pagi itu sebagai pekerjaan yang ringan dan remeh temeh. Tidak bakal saya demikian. Saya bayangkan, andaikan itu menimpa saya. Seandainya saya pelakunya, saya pastikan, saya tak bakal kuat mengerjakannya. Saya tak mungkin sanggup melakukan rutinitas, baik dari sisi waktu maupun pekerjaan.


Piring-piring yang menumpuk, gelas-gelas kotor, akan ia bilas dengan telaten, hingga tak menyisakan buat saya untuk turut membantu, membersihkan yang kotor. Belanja sayuran dan kebutuhan lainnya ? Nah itu, Rahma termasuk deretan kloter pertama dalam mengantri di warung sebelah yang sedari pagi, sebelum fajar telah menggelar dagangannya. Dagangan yang jadi kebutuhan untuk menjaga stabilitas tubuh dari serangan rasa lapar, serangan penyakit, maupun serangan dari keterlambatan sarapan pagi. Sayur-mayur yang masih segar, hingga aneka ragam jenis ikan untuk lauk, ada tersedia tinggal pilih. Dan istri saya, sekali lagi, termasuk salah satu dari sekian para ibu-ibu di komplek perumahan yang hadir antri dalam urutan lima terawal. Artinya, usai Subuh, sekitar pukul 04.15, ia sudah jalan-jalan pagi, keluar rumah, sembari hirup udara segar, agar tak ketinggalan untuk mendapatkan bahan-bahan terkini buat ritual sarapan pagi. Sungguh hal itu rutin, ia kerjakan saban pagi.

Pukul 04.30, ia sudah berjibaku dengan asap dapur. Sedang saya sendiri, dan dua jagoan, Ahimsa dan Rakhe, terkadang masih terlelap menimang mimpi. Enggan bangun di awal waktu. Sadisnya lagi, tatkala bangun, menu sarapan sudah tersedia. Tak ketinggalan secangkir kopi, sebagai pengantar saya menyambut ceria hari, penghilang rasa kantuk, telah ia siapkan. Ya, secangkir kopi panas yang menebar aroma khas, selalu menyulut semangat saya untuk secepatnya meninggalkan selimut. Secangkir kopi panas, yang ia sodorkan di atas meja yang dekat TV, tak pelak mengundang saya. Sebuah undangan untuk mengintip, dan menghikmahi berita korupsi maupun gosip-gosip murahan selebritis, sembari menyeruput kopi, menjadi ritus pagi. Aduhai…nikmatnya hari-hari ini.

Anak-anak masih tertidur. Rahma memang melarang saya, agar tidak cepat-cepat membangunkan mereka. “Kasihan anak-anak, biarkan mereka istirahat yang banyak !” seru Rahma, ketika saya hendak membangunkan mereka. Saya pikir, benar juga. Anak-anak biarkan saja tidur. Mereka, yang di waktu siang tak pernah mau untuk tidur siang, mereka seharian bermain. Malam, pun demikian, tak pernah tidur di awal waktu. Anak-anak berangkat tidur, selalu di atas pukul 21.00. Bahkan si bungsu, Rakhe, pernah ikut menemani saya begadang nonton sepakbola, hingga pukul 03.00, dini hari. Jadi saya membenarkan saran istri, agar tak membangunkan anak-anak untuk bangun pagi-pagi.

Usai menyiapkan sarapan, yang tak pernah ketinggalan dari istri saya, adalah bersih-bersih rumah. Membereskan tempat tidur, merapikan kain sprei, bantal, dan guling, meski anak-anak belum pada bangun. Kemudian menyapu lantai, dari mulai ruang kamar tidur, ruang tamu hingga teras rumah. Tak puas sekadar disapu, lantai-lantai itu pun, ia gosok dengan kain pel. Mengepel lantai ? Jelas tak mungkin bagi saya. Tak ada sejarahnya di rumah ini, saya mengepel lantai. Entahlah, kenapa demikian, saya tidak tahu. Nah, kalau sudah demikian, giliran saya yang tak tega, ketika ia hendak mencuci baju-baju yang menggunung. Apalagi, di rumah mungil ini, belum ada mesin cuci, sehingga untuk membereskan baju-baju tersebut, mesti dengan sigap tangan secara manual. Kadang, saya yang mengambil alih pekerjaan yang satu itu. Saya yang mencuci baju-baju. Baju-celana yang kadung menumpuk, bikin mata tak nyaman, bikin perasaan eneg dan capek, sebelum terendam di ember cucian. Sehingga tak mungkin terus-terusan menjadi tambahan menu pekerjaan sang istri. Saya tak mungkin tega, menambahkannya sebagai daftar rutinitas harian. Jadi saya yang mengambil peran sebagai tukang cuci, sebagai tukang laundry di rumah.

Pukul 06.15 pagi, giliran anak-anak, baik yang sulung maupun bungsu, yang mulai unjuk kebolehannya. Mereka bangun pagi. Yang sulung langsung mandi, karena ia mesti berangkat sekolah, sedang si bungsu, asyik menikmati acara kartun TV.  Pukul 06.30, kita semua sarapan pagi. Rahma menyuapi Rakhe, yang belum sedia makan sendiri. Sementara yang sulung, Ahimsa, sesekali minta saya yang menyuapinya. Terlebih lagi, pas dirasa, lauk-pauknya tak bersahabat dengan lidahnya.

Akhirnya, dari ritus pagi yang sedemikian, padat dari sisi aktivitas, dan singkat secara waktu, saya menganggap Rahma, sang istri tercinta, sebagai pahlawan. Setidaknya bagi saya dan anak-anak. Pahlawan, yang konon lahir, lantaran keberanian dan pengorbanannya. Pahlawan merupakan sosok yang menonjol dalam pengorbanan atau pengabdian. Pengorbanan, lantaran cintanya pada yang liyan. Pengabdian tanpa batas, karena tak menginginkan orang lain tidak bahagia. Ia sanggup menepis atau menangguhkan kebahagiaannya sendiri demi pihak lain. Itulah yang saya rasakan dari Rahma. Dialah pahlawan keluarga kecil bahagia ini. Dialah pahlawan kami. She's my hero

Rahma, you 're my hero. I love you full......        


2 komentar:

  1. salam buat Mbak Rahma, semooga kapan2 bisa bertemu..cuma sering denger ceritanya dari Bu Nuryati, hehehe

    BalasHapus
  2. ayoo, mas ardi dibantuin yaa herowatinyaaa...hihihi..

    BalasHapus