Kenyataan dan Keadaan
Kenyataan berbeda dengan keadaan.
Kenyataan sisi luar, keadaan sisi dalam. Kenyataan merupakan
peristiwa-peristiwa yang berhamburan di luar pikiran dan perasaan kita. Sedang
keadaan ialah sikap kita atas kenyataan. Keadaan berada dalam pikiran dan hati
kita, yang masih di awang-awang alias belum dinyatakan, belum diwujudkan. Kondisi
luar adalah kenyataan, yang berarti pula takdir. Kondisi dalam itu adalah
keadaan, dan sering disebut sebagai nasib.
Nah, Tuhan pernah bersabda, bahwa
tak akan mengubah nasib atau keadaan seseorang, selagi orang itu tak mau
mengubah nasibnya. Ini berarti wujud otonom manusia. Sisi dalam manusia,
sepenuhnya diserahkan pada manusia untuk mengelolanya, hingga Tuhan pun tak
ingin ikut campur tangan. Sebagai contoh, pagi-pagi sembari menunggu matahari
terbit kita seduh teh manis. Teh manis itu kenyataan. Tetapi teh itu kita
rasakan manis atau tidaknya, sepenuhnya tergantung sikap batin kita. Kita bisa saja
menyebutnya manis, lantaran jiwa kita sedang berbunga-bunga. Sebaliknya kita
tak merasakan enak, tak merasa manis, lantaran hati ini sedang dilanda keruh. Sikap
batin atas kondisi teh, itulah keadaan atau nasib. Dan sepenuhnya tergantung
kita.
Jadi perbaiki nasib, perbaiki
keadaan. Hal itu merupakan seruan untuk menengok sisi dalam diri kita. Apa yang
sedang kita angankan, apa yang sedang kita pikirkan, apa yang sedang kita
rasakan. Yang kesemuanya belum berujud. Karena kalau sudah maujud, berarti
sudah jadi kenyataan, dan tak bisa diubah. Yang terjadi adalah kenyataan baru,
bukan mengubah kenyataan. Persis ketika kita mengatakan sesuatu. Perkataan atau
omongan tersebut tak mungkin ditarik lagi, karena sudah kadung keluar. Sehingga
kenyataan itu tetap. Memperbaiki keadaan, memperbaiki sikap atas kenyataan. Memperindah
cara kita menerima kenyataan.
Kenyataan bisa saja keruh, seperti
terik matahari yang sangat panas, atau cuaca yang sedang ekstrim, namun keadaan
itu keruh tidaknya, jadi prerogatif kita. Kita menerima kondisi ekstrim itu
dengan suka cita atau sebaliknya, kenyataan tetap saja begitu. Terik matahari
akan tetap panas, namun cara penerimaan kita atas terik itu yang berubah-ubah. Dan
perjuangan memanage sisi dalam, oleh
Nabi SAW, disebutkan sebagai perjuangan besar, perjuangan sepanjang hayat,
tanpa batas akhir, sebelum ruh pisah dengan raga. Singkat kata, perjuangan
sesungguhnya dalam kehidupan ini, tak lain ialah perjuangan mengelola keadaan. Ternyata,
hal ini tak semudah yang dibayangkan. Mensyaratkan kesadaran penuh, tak mudah
lalai, lengah, meski sesaat. Setiap detak waktu, adalah kesadaran untuk
senantiasa memperindah cara hati dan pikiran menghadapi kenyataan.
Bergerak Karena Kesadaran
Umat Islam bergerak karena
kesadaran, bukan berdasar kondisi material, suhu politik, maupun status sosial.
Disebutkan, “sesungguhnya amal itu tergantung niatnya…”. Niat itu kesadaran. Niat
sisi dalam yang tak bisa diindra. Niat adalah keadaan, bukan kenyataan. Dari sinilah
jelas, betapa orientasi pada sisi dalam, orientasi pada diri, jadi utama,
ketimbang ribut dengan kondisi luar, kondisi sosial. Tetapi bukan berarti tak
peduli dengan yang di luar. Yang di luar itu perlu tapi bukan yang utama. Yang di
luar itu alas atau baju, sehingga tetap kita perlukan, tetapi bukan yang inti. Ibarat
mau minum, pakai gelas itu perlu, tetapi yang utama tetaplah air minum.
Sisi dalam, kesadaran, lazim kita
kenal dengan istilah iman. Sesuatu yang tak terindra. Lha kita diharapkan dalam
menanggapi kenyataan hidup, tak berlepas darinya. Iman merupakan kesadaran
menghamba. Kesadaran yang menghadirkan Tuhan sebagai sesuatu yang tak terbandingkan.
Esa itu artinya bukan tunggal atau satu, melainkan ketakterbandingan. Tuhan
Yang Esa, Tuhan yang tak terhingga, sedang kita makhluk yang terhingga,
terbatas.
Bergerak karena kesadaran,
artinya berjalan yang senantiasa menghadirkan Tuhan. Lantaran Tuhan hadir, maka
sekiranya tidaklah patut menilai atau menvonis kenyataan dengan sesuka hati. Menilai
sesuka hati, seolah-olah bakal menyakiti Tuhan. Sehingga tidak sembarangan
membuat penilaian atas kenyataan. Kehati-hatian itu mengandaikan selalu dalam
kondisi sadar. Selalu dalam kontrol common
sense, akal sehat. Dus dengan demikian, iman, kesadaran, keadaan dan atau
sisi dalam, adalah upaya menghadirkan Tuhan dimana saja berada. “Wa huwa ma’akum aina maa kuntum” (Al Hadid:
4), bahwa Ia senantiasa membersamai dimana pun kita berada.
Akhir kata, hidup tak lain adalah
menumpang kenyataan. Dimana yang mengendalikan ialah keadaan. Keadaan merupakan
kesadaran, adalah cara kita menerima kenyataan. Itulah iman. “Tu’ minuuna billah”. Itulah transendensi, menggapai sesuatu yang lebih di atas
kita.
Super banget Kang.
BalasHapusKenyataan itu datangnya dari Tuhan. Respon kita atas kenyataan menjadi saksi akan kehadiran Kerajaan Tuhan dalam diri dan semesta.
https://www.youtube.com/watch?v=ejnvCxW6YRk