Minggu, 07 Desember 2014

Kenyataan Bukan Keadaan


Kenyataan dan Keadaan

Kenyataan berbeda dengan keadaan. Kenyataan sisi luar, keadaan sisi dalam. Kenyataan merupakan peristiwa-peristiwa yang berhamburan di luar pikiran dan perasaan kita. Sedang keadaan ialah sikap kita atas kenyataan. Keadaan berada dalam pikiran dan hati kita, yang masih di awang-awang alias belum dinyatakan, belum diwujudkan. Kondisi luar adalah kenyataan, yang berarti pula takdir. Kondisi dalam itu adalah keadaan, dan sering disebut sebagai nasib.


Nah, Tuhan pernah bersabda, bahwa tak akan mengubah nasib atau keadaan seseorang, selagi orang itu tak mau mengubah nasibnya. Ini berarti wujud otonom manusia. Sisi dalam manusia, sepenuhnya diserahkan pada manusia untuk mengelolanya, hingga Tuhan pun tak ingin ikut campur tangan. Sebagai contoh, pagi-pagi sembari menunggu matahari terbit kita seduh teh manis. Teh manis itu kenyataan. Tetapi teh itu kita rasakan manis atau tidaknya, sepenuhnya tergantung sikap batin kita. Kita bisa saja menyebutnya manis, lantaran jiwa kita sedang berbunga-bunga. Sebaliknya kita tak merasakan enak, tak merasa manis, lantaran hati ini sedang dilanda keruh. Sikap batin atas kondisi teh, itulah keadaan atau nasib. Dan sepenuhnya tergantung kita.

Jadi perbaiki nasib, perbaiki keadaan. Hal itu merupakan seruan untuk menengok sisi dalam diri kita. Apa yang sedang kita angankan, apa yang sedang kita pikirkan, apa yang sedang kita rasakan. Yang kesemuanya belum berujud. Karena kalau sudah maujud, berarti sudah jadi kenyataan, dan tak bisa diubah. Yang terjadi adalah kenyataan baru, bukan mengubah kenyataan. Persis ketika kita mengatakan sesuatu. Perkataan atau omongan tersebut tak mungkin ditarik lagi, karena sudah kadung keluar. Sehingga kenyataan itu tetap. Memperbaiki keadaan, memperbaiki sikap atas kenyataan. Memperindah cara kita menerima kenyataan.

Kenyataan bisa saja keruh, seperti terik matahari yang sangat panas, atau cuaca yang sedang ekstrim, namun keadaan itu keruh tidaknya, jadi prerogatif kita. Kita menerima kondisi ekstrim itu dengan suka cita atau sebaliknya, kenyataan tetap saja begitu. Terik matahari akan tetap panas, namun cara penerimaan kita atas terik itu yang berubah-ubah. Dan perjuangan memanage sisi dalam, oleh Nabi SAW, disebutkan sebagai perjuangan besar, perjuangan sepanjang hayat, tanpa batas akhir, sebelum ruh pisah dengan raga. Singkat kata, perjuangan sesungguhnya dalam kehidupan ini, tak lain ialah perjuangan mengelola keadaan. Ternyata, hal ini tak semudah yang dibayangkan. Mensyaratkan kesadaran penuh, tak mudah lalai, lengah, meski sesaat. Setiap detak waktu, adalah kesadaran untuk senantiasa memperindah cara hati dan pikiran menghadapi kenyataan.

Bergerak Karena Kesadaran

Umat Islam bergerak karena kesadaran, bukan berdasar kondisi material, suhu politik, maupun status sosial. Disebutkan, “sesungguhnya amal itu tergantung niatnya…”. Niat itu kesadaran. Niat sisi dalam yang tak bisa diindra. Niat adalah keadaan, bukan kenyataan. Dari sinilah jelas, betapa orientasi pada sisi dalam, orientasi pada diri, jadi utama, ketimbang ribut dengan kondisi luar, kondisi sosial. Tetapi bukan berarti tak peduli dengan yang di luar. Yang di luar itu perlu tapi bukan yang utama. Yang di luar itu alas atau baju, sehingga tetap kita perlukan, tetapi bukan yang inti. Ibarat mau minum, pakai gelas itu perlu, tetapi yang utama tetaplah air minum.

Sisi dalam, kesadaran, lazim kita kenal dengan istilah iman. Sesuatu yang tak terindra. Lha kita diharapkan dalam menanggapi kenyataan hidup, tak berlepas darinya. Iman merupakan kesadaran menghamba. Kesadaran yang menghadirkan Tuhan sebagai sesuatu yang tak terbandingkan. Esa itu artinya bukan tunggal atau satu, melainkan ketakterbandingan. Tuhan Yang Esa, Tuhan yang tak terhingga, sedang kita makhluk yang terhingga, terbatas.

Bergerak karena kesadaran, artinya berjalan yang senantiasa menghadirkan Tuhan. Lantaran Tuhan hadir, maka sekiranya tidaklah patut menilai atau menvonis kenyataan dengan sesuka hati. Menilai sesuka hati, seolah-olah bakal menyakiti Tuhan. Sehingga tidak sembarangan membuat penilaian atas kenyataan. Kehati-hatian itu mengandaikan selalu dalam kondisi sadar. Selalu dalam kontrol common sense, akal sehat. Dus dengan demikian, iman, kesadaran, keadaan dan atau sisi dalam, adalah upaya menghadirkan Tuhan dimana saja berada. “Wa huwa ma’akum aina maa kuntum” (Al Hadid: 4), bahwa Ia senantiasa membersamai dimana pun kita berada.

Akhir kata, hidup tak lain adalah menumpang kenyataan. Dimana yang mengendalikan ialah keadaan. Keadaan merupakan kesadaran, adalah cara kita menerima kenyataan. Itulah iman. “Tu’ minuuna billah”. Itulah transendensi, menggapai sesuatu yang lebih di atas kita.
  

1 komentar:

  1. Super banget Kang.
    Kenyataan itu datangnya dari Tuhan. Respon kita atas kenyataan menjadi saksi akan kehadiran Kerajaan Tuhan dalam diri dan semesta.
    https://www.youtube.com/watch?v=ejnvCxW6YRk

    BalasHapus