Dengan sepeda motor. Itulah yang
kami lakukan. Perjalanan liburan ke Sragen, Minggu pagi, 21 Desember 2014, kami
tempuh dengan kendaraan motor. Ahimsa, sang sulung, duduk di depan saya. Sedang
Rakhe di tengah diapit oleh diri saya dan istri. Istri kebagian paling buntut, menduduki sisa, dan kemungkinan
paling tidak nyaman juga karena mesti menjaga keseimbangan, memegangi kepala
Rakhe yang mulai gelang-geleng
lantaran kantuk menyerang. Sebenarnya saya kepingin anak-anak dan istri naik
bus, dan saya yang naik motor. Namun sang istri tak menyetujui. Ia beralasan,
naik motor lebih ekonomis, bisa istirahat sembarang tempat sesuai kebutuhan,
dan tentunya, uang yang sedianya untuk naik bus, bisa dipakai untuk kebutuhan
lain saat di Sragen. Saya setuju saja, meski dalam hati tetap tidak tega.
Kami ke luar rumah dari Ungaran
pukul 09.00. Perjalanan cukup lancar. Terik panas matahari, jadi tak terasa,
kalah sugesti dengan impian akan kebebasan setelah sampai di Sragen. Ahimsa yag
duduk di depan, separuh perjalanan bisa tidur. Jadi hal yang rada menyulitkan
bagi saya, karena tak bisa leluasa memegang setang motor, mesti gantian dengan
fokus pada kenyamanan si Ahimsa. Tangan kiri dan sesekali kanan, jadi
tumpuannya untuk meletakkan kepala yang memberat lantaran kantuk. Perjalanan yang
sebenarnya masih sepi kendaraan mudik, tak bisa melaju kencang, karena dua
jagoan sama-sama tertidur. Rakhe, telah tidur duluan dalam dekapan istri,
sebelum sang kakak ikut merebahkan kepala di tangan kiri saya. Saya terpaksa
jalan pelan. Terpaksa hati-hati...
Di pom bensin Salatiga, kami
istirahat. Melepas penat sejenak. Sembari mengisi BBM untuk kelancaran sepeda
motor, anak-anak bisa rebahan di tempat yang lebih nyaman. Cukup melelahkan
memang, namun rasa bahagia bisa berlibur telah mengalahkan segalanya. Capek
pegal, dan penat tak dirasa. Sebaliknya harapan untuk mengeksplor sepuasnya di
tempat tujuan, terus mengembang, mengalahkan badan yang telah lunglai di atas
jok motor. Sekitar satu jam, kami istirahat di pom bensin.
Perjalanan pun berlanjut. Giliran
Rakhe yang duduk di depan saya. Ahimsa yang berada di tengah, karena masih
pingin rebahan. Perjalanan ini terpaksa nekat diteruskan, karena berburu dengan
cuaca yang mulai ekstrim. Cuaca panas yang mengiring kepergian dari Ungaran
sampai Salatiga, sepertinya tak berlanjut, saat hari telah benar-benar menunjuk
waktu siang. Detak jarum jam telah menunjuk angka 12, namun terik matahari
justru sembunyi di balik awan yang mulai menghitam, sebagai tanda akan hujan.
Sebagaimana biasa, kami akan cepat-cepat melanjutkan perjalanan, ketika hari
akan hujan. Ingin cepat-cepat sampai tujuan sebelum turun hujan. Kalau pun
terpaksa turun hujan, setidaknya jarak tempuh untuk sampai tujuan sudah dekat.
Nah, begitulah ! Minggu siang itu kami berlari ingin mendahului turun hujan.
Awan hitam menggumpal, mengiring deru motor.
Rakhe yang duduk di depan, syukur
tak rewel dengan perjalanan yang rada tergesa. Dan puji Tuhan, hingga sampai
Gemolong, hujan tak kunjung datang. Awan yang menggumpal ternyata hanya jadi pemantik
kami agar segera mempercepat perjalanan. Tidak berleha-leha dengan waktu. Tidak
banyak mampir untuk istirahat, tidak banyak jajan di warung-warung pinggir
jalan. Pukul 14.00, sampai di Desa Girimargo, Kec. Miri, Kab. Sragen. Sang
nenek, bahagia salami anak-anak yang merupakan cucu laki-lakinya. Satu-persatu,
Rakhe dan Ahimsa menyalami kakek dan nenek, serta bibi, dan om.
Dengan kendaraan motor, kami
sampai tujuan. Dengan sepeda motor, uang pun bisa diirit. Rangkaian acara
liburan pun tersusun. Rencana mau mengajak anak-anak naik kereta api, mengajak
anak-anak keliling desa, dan anjangsana ke famili, keluarga besar. Malam hari,
saya sendiri mesti meluncur ke Sragen, untuk memenuhi undangan pemrasaran di
Masjid Raya Al-Falah Sragen. Pendek kata, sepeda motor butut ini telah
memudahkan kami untuk terus menyambung silaturahim. Menyambung tali kasih
sayang antar keluarga besar dan kawan-kawan masa kecil. Merajut tali kasih
Ilahi, yang tak lekang oleh terik matahari. Tak lapuk oleh desiran angin, dan
guyuran air hujan. Ya, silaturahim, menyambung kasih sayang Tuhan.
Sepeda motor, pergi sekeluarga ke
luar kota, dan merajut kasih antar sesama, serta menghiba diri di hadapan-Nya,
menjadi hal yang mungkin. Mungkin karena sarana terpenuhi. Biaya ngirit, agenda
liburan tertunaikan, dan kegembiraan yang meluap tersalurkan. Semua karena
wasilah dari sepeda butut itu, rajutan kasih sayang tetap lestari, harmoni
keluarga besar terjaga, dan dendangan puja-puji Tuhan terus terlantun. Sekali
lagi, kami tempuh dengan bersepeda motor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar