Minggu, 28 Desember 2014

Liburan, Ber-Sepeda Motor

Dengan sepeda motor. Itulah yang kami lakukan. Perjalanan liburan ke Sragen, Minggu pagi, 21 Desember 2014, kami tempuh dengan kendaraan motor. Ahimsa, sang sulung, duduk di depan saya. Sedang Rakhe di tengah diapit oleh diri saya dan istri. Istri kebagian paling buntut, menduduki sisa, dan kemungkinan paling tidak nyaman juga karena mesti menjaga keseimbangan, memegangi kepala Rakhe yang mulai gelang-geleng lantaran kantuk menyerang. Sebenarnya saya kepingin anak-anak dan istri naik bus, dan saya yang naik motor. Namun sang istri tak menyetujui. Ia beralasan, naik motor lebih ekonomis, bisa istirahat sembarang tempat sesuai kebutuhan, dan tentunya, uang yang sedianya untuk naik bus, bisa dipakai untuk kebutuhan lain saat di Sragen. Saya setuju saja, meski dalam hati tetap tidak tega.

Kami ke luar rumah dari Ungaran pukul 09.00. Perjalanan cukup lancar. Terik panas matahari, jadi tak terasa, kalah sugesti dengan impian akan kebebasan setelah sampai di Sragen. Ahimsa yag duduk di depan, separuh perjalanan bisa tidur. Jadi hal yang rada menyulitkan bagi saya, karena tak bisa leluasa memegang setang motor, mesti gantian dengan fokus pada kenyamanan si Ahimsa. Tangan kiri dan sesekali kanan, jadi tumpuannya untuk meletakkan kepala yang memberat lantaran kantuk. Perjalanan yang sebenarnya masih sepi kendaraan mudik, tak bisa melaju kencang, karena dua jagoan sama-sama tertidur. Rakhe, telah tidur duluan dalam dekapan istri, sebelum sang kakak ikut merebahkan kepala di tangan kiri saya. Saya terpaksa jalan pelan. Terpaksa hati-hati...

Di pom bensin Salatiga, kami istirahat. Melepas penat sejenak. Sembari mengisi BBM untuk kelancaran sepeda motor, anak-anak bisa rebahan di tempat yang lebih nyaman. Cukup melelahkan memang, namun rasa bahagia bisa berlibur telah mengalahkan segalanya. Capek pegal, dan penat tak dirasa. Sebaliknya harapan untuk mengeksplor sepuasnya di tempat tujuan, terus mengembang, mengalahkan badan yang telah lunglai di atas jok motor. Sekitar satu jam, kami istirahat di pom bensin.

Perjalanan pun berlanjut. Giliran Rakhe yang duduk di depan saya. Ahimsa yang berada di tengah, karena masih pingin rebahan. Perjalanan ini terpaksa nekat diteruskan, karena berburu dengan cuaca yang mulai ekstrim. Cuaca panas yang mengiring kepergian dari Ungaran sampai Salatiga, sepertinya tak berlanjut, saat hari telah benar-benar menunjuk waktu siang. Detak jarum jam telah menunjuk angka 12, namun terik matahari justru sembunyi di balik awan yang mulai menghitam, sebagai tanda akan hujan. Sebagaimana biasa, kami akan cepat-cepat melanjutkan perjalanan, ketika hari akan hujan. Ingin cepat-cepat sampai tujuan sebelum turun hujan. Kalau pun terpaksa turun hujan, setidaknya jarak tempuh untuk sampai tujuan sudah dekat. Nah, begitulah ! Minggu siang itu kami berlari ingin mendahului turun hujan. Awan hitam menggumpal, mengiring deru motor.

Rakhe yang duduk di depan, syukur tak rewel dengan perjalanan yang rada tergesa. Dan puji Tuhan, hingga sampai Gemolong, hujan tak kunjung datang. Awan yang menggumpal ternyata hanya jadi pemantik kami agar segera mempercepat perjalanan. Tidak berleha-leha dengan waktu. Tidak banyak mampir untuk istirahat, tidak banyak jajan di warung-warung pinggir jalan. Pukul 14.00, sampai di Desa Girimargo, Kec. Miri, Kab. Sragen. Sang nenek, bahagia salami anak-anak yang merupakan cucu laki-lakinya. Satu-persatu, Rakhe dan Ahimsa menyalami kakek dan nenek, serta bibi, dan om.

Dengan kendaraan motor, kami sampai tujuan. Dengan sepeda motor, uang pun bisa diirit. Rangkaian acara liburan pun tersusun. Rencana mau mengajak anak-anak naik kereta api, mengajak anak-anak keliling desa, dan anjangsana ke famili, keluarga besar. Malam hari, saya sendiri mesti meluncur ke Sragen, untuk memenuhi undangan pemrasaran di Masjid Raya Al-Falah Sragen. Pendek kata, sepeda motor butut ini telah memudahkan kami untuk terus menyambung silaturahim. Menyambung tali kasih sayang antar keluarga besar dan kawan-kawan masa kecil. Merajut tali kasih Ilahi, yang tak lekang oleh terik matahari. Tak lapuk oleh desiran angin, dan guyuran air hujan. Ya, silaturahim, menyambung kasih sayang Tuhan.


Sepeda motor, pergi sekeluarga ke luar kota, dan merajut kasih antar sesama, serta menghiba diri di hadapan-Nya, menjadi hal yang mungkin. Mungkin karena sarana terpenuhi. Biaya ngirit, agenda liburan tertunaikan, dan kegembiraan yang meluap tersalurkan. Semua karena wasilah dari sepeda butut itu, rajutan kasih sayang tetap lestari, harmoni keluarga besar terjaga, dan dendangan puja-puji Tuhan terus terlantun. Sekali lagi, kami tempuh dengan bersepeda motor.    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar