Ternyata sudah 10 tahun. Tsunami
Aceh yang dahsyat, yang meluluhlantakkan pemukiman, dan ratusan ribu nyawa
manusia melayang. 26 Desember 2004, dan kini sudah 26 Desember 2014. Rentang
waktu yang tidak pendek, namun serasa baru kemarin kejadian yang menghemparkan
itu berlangsung. Saya ingat sekali, usai bencana tsunami Aceh, kemudian negeri
seribu pulau ini secara beruntun bencana demi bencana terus mendera silih
berganti. Tahun 2006 ada gempa di Yogyakarta, tahun yang sama lumpur lapindo.
Gempa vulkanik di Padang, di Jawa Tengah dan Yogya. Banjir di Papua, dan
sebagainya.
Tsunami besar yang melanda bumi
serambi mekah, seakan awal dari runtutan bencana yang bakal melanda negeri ini.
Sehingga memori dan trauma masih melekat pekat di benak. Bicara tsunami, diskusi
tentang gempa, pasti pikiran akan langsung melayang pada Nangroe Aceh. Aceh
yang merupakan pintu gerbang nusantara, seakan pula jadi pintu masuk bencana
yang bikin ketar-ketir masyarakat.
Aceh yang Serambi Mekah, daerah yang kini konsisten menerapkan syariat Islam,
telah menandai abad XXI dengan gempa-nya. Gempa yang mengejutkan dan menelan
korban. Gempa yang kini telah terukir dalam prasasti.
Tsunami dan wujud bencana
lainnya, tak lain adalah cara Tuhan untuk menghardik arogansi dan kepongahan
manusia. Seruan-seruan moral lewat media massa, melalui khotbah-khotbah Jum’at,
khotbah minggu pagi, tak lagi mempan bagi telinga manusia pasca-modern saat
ini. Tokoh-tokoh agama, para budyawan yang setia pada moralitas, hanya dianggap
ada namun sesungguhnya tak dibutuhkan kehadirannya oleh kebanyakan manusia yang menghuni negeri ini. Manusia sudah terlampau
jauh menyusuri lorong dirinya, sehingga malah asing dengan jati diri dan
martabatnya yang autentik. Bukan lagi teosentris, yang menjadikan Tuhan sebagai
pusat segalanya, namun jatuh dalam antroposentrisme. Mayoritas kita telah
memerosokkan diri sebagai sesembahan, sebagai tumpuan dan tujuan mengarungi
ruang waktu. Dalam diskusi, bercengkerama dengan keluarga, hingga
guyonan-guyonan lawakan, tak lebih seputar kebendaan. Sentuhan transenden, yang
melampaui ragawi, tak tersentuh sama sekali.
Kondisi yang demikian, dimana
kebendaan yang mendominasi hidup dan kehidupan, maka bencana demi bencana
merupakan teguran Tuhan yang semestinya sudah tak bisa ditawar-tawar lagi.
Teguran yang tak bisa diprotes. Suka tak suka bencana datang, dan itu dari
Tuhan sebagai cara terakhir-Nya yang jengah dengan tingkah pongah manusia.
Namun demikian, bencana yang semestinya bisa menarik umat manusia pada kondisi
pertobatan masal, hanya ditanggapi dingin dan sudah sewajarnya sebagai musiman.
Tsunami dan bencana longsor, putting beliung, dan yang lainnya, tidak dinalar
sebagai teguran Tuhan, tetapi gejala wajar akhir tahun yang memang cuaca sedang
ekstrim. Cuaca memang sedang ekstrim, sedang tidak bersahabat, lagi musim
penghujan, dan umat manusia menangkapnya sebagai gejala objektif yang terlepas
dari dimensi ketuhanan. Tidak ada lagi pemahaman bahwa kenyataan sebagai
partisipasi Tuhan. Bencana dan lainnya, bukan lagi sebagai tegur sapa Tuhan,
apalagi wajah Tuhan.
“Kemana pun engkau menghadap, di
sanalah wajah-Nya”, sudah tidak masuk dalam nalar sehat manusia postmo. Hal itu
dianggapnya tidak logis, tidak natural, hanya pantas untuk alam pemikiran
mitos. Sehingga cara manusia masa kini menanggapi bencana, terbelah dalam dua
kutub berseberangan. Kutub manusia logis, menanggapinya dengan menelaah bencana
dan cara mengatasinya. Mengebor magma, membuat dam penahan lumpur, bangunan
tahan gempa, dan sebagainya, sebagai cara menanggapi bencana. Yaitu dengan
pendekatan scientific, pendekatan
ilmu pengetahuan, beradu kepintaran dengan Tuhan. Kutub yang berbeda, kelompok
tradisi, yang percaya dengan mitologis, senantiasa menghubungkan bencana dengan
peristiwa-peristiwa makhluk gaib, dengan kemarahan ratu selatan, kemarahan dari
penunggu gunung, penjaga lembah dan sebagainya. Sehingga yang dilakukan dengan
meruwat, sedekah bumi, dan menebar sesaji.
Nah, berbeda dengan kita yang
masih menghubungkan segenap peristiwa dengan tingkah Tuhan. Dan saya termasuk
di dalamnya. Saya meyakini, peristiwa yang terjadi, entah yang kita sukai
maupun yang tidak kita harapkan adalah sepenuhnya dari-Nya. Termasuk bencana
tsunami 10 tahun silam itu, yang beruntun dengan bencana-bencana lainnya, besar
maupun kecil yang terjadi hingga hari ini, tiada lain adalah partisipasi Tuhan
untuk mengingatkan kita. Mengingatkan betapa tak siapnya kita andaikan Tuhan
berlepas diri dari kita. Betapa tidak sanggupnya manusia, seorang diri
berhadapan dengan alam, tanpa uluran kasih sayang Tuhan.
Tsunami Aceh yang telah 10 tahun,
merupakan kasih sayang Tuhan, yang berkenan untuk mengembalikan citra ketuhanan
dalam diri kita, yang kini nyaris hilang. Nyaris lenyap tertelan oleh arogansi
kemanusiaan, kepongahan filsafat yang mematikan peran Tuhan. Bencana-bencana,
termasuk yang di Banjarnegara, merupakan cara Tuhan untuk mengahdirkan kembali
ajaran fitri teosentris, bahwa Tuhan pusat segalanya. Tuhan pusat dan penyebab
kehidupan. Alam untuk manusia, bukan sebaliknya, kemudian dengan berpijak padanya,
manusia mengagungkan Tuhan.
Tsunami Aceh yang telah 10 tahun,
dan bencana lainnya, merupakan wajah-Nya. Merupakan senyum Tuhan. Merupakan
tutur sapa-Nya, yang hendak mengangkat martabat kita, mengembalikan fitrah
sebagai “ahsani taqwim” bukan “asfala safilin”. Dan semoga…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar