Kamis, 25 Desember 2014

10 Tahun Tsunami Aceh


Ternyata sudah 10 tahun. Tsunami Aceh yang dahsyat, yang meluluhlantakkan pemukiman, dan ratusan ribu nyawa manusia melayang. 26 Desember 2004, dan kini sudah 26 Desember 2014. Rentang waktu yang tidak pendek, namun serasa baru kemarin kejadian yang menghemparkan itu berlangsung. Saya ingat sekali, usai bencana tsunami Aceh, kemudian negeri seribu pulau ini secara beruntun bencana demi bencana terus mendera silih berganti. Tahun 2006 ada gempa di Yogyakarta, tahun yang sama lumpur lapindo. Gempa vulkanik di Padang, di Jawa Tengah dan Yogya. Banjir di Papua, dan sebagainya.

Tsunami besar yang melanda bumi serambi mekah, seakan awal dari runtutan bencana yang bakal melanda negeri ini. Sehingga memori dan trauma masih melekat pekat di benak. Bicara tsunami, diskusi tentang gempa, pasti pikiran akan langsung melayang pada Nangroe Aceh. Aceh yang merupakan pintu gerbang nusantara, seakan pula jadi pintu masuk bencana yang bikin ketar-ketir masyarakat. Aceh yang Serambi Mekah, daerah yang kini konsisten menerapkan syariat Islam, telah menandai abad XXI dengan gempa-nya. Gempa yang mengejutkan dan menelan korban. Gempa yang kini telah terukir dalam prasasti. 

Tsunami dan wujud bencana lainnya, tak lain adalah cara Tuhan untuk menghardik arogansi dan kepongahan manusia. Seruan-seruan moral lewat media massa, melalui khotbah-khotbah Jum’at, khotbah minggu pagi, tak lagi mempan bagi telinga manusia pasca-modern saat ini. Tokoh-tokoh agama, para budyawan yang setia pada moralitas, hanya dianggap ada namun sesungguhnya tak dibutuhkan kehadirannya oleh kebanyakan manusia yang   menghuni negeri ini. Manusia sudah terlampau jauh menyusuri lorong dirinya, sehingga malah asing dengan jati diri dan martabatnya yang autentik. Bukan lagi teosentris, yang menjadikan Tuhan sebagai pusat segalanya, namun jatuh dalam antroposentrisme. Mayoritas kita telah memerosokkan diri sebagai sesembahan, sebagai tumpuan dan tujuan mengarungi ruang waktu. Dalam diskusi, bercengkerama dengan keluarga, hingga guyonan-guyonan lawakan, tak lebih seputar kebendaan. Sentuhan transenden, yang melampaui ragawi, tak tersentuh sama sekali. 

Kondisi yang demikian, dimana kebendaan yang mendominasi hidup dan kehidupan, maka bencana demi bencana merupakan teguran Tuhan yang semestinya sudah tak bisa ditawar-tawar lagi. Teguran yang tak bisa diprotes. Suka tak suka bencana datang, dan itu dari Tuhan sebagai cara terakhir-Nya yang jengah dengan tingkah pongah manusia. Namun demikian, bencana yang semestinya bisa menarik umat manusia pada kondisi pertobatan masal, hanya ditanggapi dingin dan sudah sewajarnya sebagai musiman. Tsunami dan bencana longsor, putting beliung, dan yang lainnya, tidak dinalar sebagai teguran Tuhan, tetapi gejala wajar akhir tahun yang memang cuaca sedang ekstrim. Cuaca memang sedang ekstrim, sedang tidak bersahabat, lagi musim penghujan, dan umat manusia menangkapnya sebagai gejala objektif yang terlepas dari dimensi ketuhanan. Tidak ada lagi pemahaman bahwa kenyataan sebagai partisipasi Tuhan. Bencana dan lainnya, bukan lagi sebagai tegur sapa Tuhan, apalagi wajah Tuhan. 

“Kemana pun engkau menghadap, di sanalah wajah-Nya”, sudah tidak masuk dalam nalar sehat manusia postmo. Hal itu dianggapnya tidak logis, tidak natural, hanya pantas untuk alam pemikiran mitos. Sehingga cara manusia masa kini menanggapi bencana, terbelah dalam dua kutub berseberangan. Kutub manusia logis, menanggapinya dengan menelaah bencana dan cara mengatasinya. Mengebor magma, membuat dam penahan lumpur, bangunan tahan gempa, dan sebagainya, sebagai cara menanggapi bencana. Yaitu dengan pendekatan scientific, pendekatan ilmu pengetahuan, beradu kepintaran dengan Tuhan. Kutub yang berbeda, kelompok tradisi, yang percaya dengan mitologis, senantiasa menghubungkan bencana dengan peristiwa-peristiwa makhluk gaib, dengan kemarahan ratu selatan, kemarahan dari penunggu gunung, penjaga lembah dan sebagainya. Sehingga yang dilakukan dengan meruwat, sedekah bumi, dan menebar sesaji. 

Nah, berbeda dengan kita yang masih menghubungkan segenap peristiwa dengan tingkah Tuhan. Dan saya termasuk di dalamnya. Saya meyakini, peristiwa yang terjadi, entah yang kita sukai maupun yang tidak kita harapkan adalah sepenuhnya dari-Nya. Termasuk bencana tsunami 10 tahun silam itu, yang beruntun dengan bencana-bencana lainnya, besar maupun kecil yang terjadi hingga hari ini, tiada lain adalah partisipasi Tuhan untuk mengingatkan kita. Mengingatkan betapa tak siapnya kita andaikan Tuhan berlepas diri dari kita. Betapa tidak sanggupnya manusia, seorang diri berhadapan dengan alam, tanpa uluran kasih sayang Tuhan.
Tsunami Aceh yang telah 10 tahun, merupakan kasih sayang Tuhan, yang berkenan untuk mengembalikan citra ketuhanan dalam diri kita, yang kini nyaris hilang. Nyaris lenyap tertelan oleh arogansi kemanusiaan, kepongahan filsafat yang mematikan peran Tuhan. Bencana-bencana, termasuk yang di Banjarnegara, merupakan cara Tuhan untuk mengahdirkan kembali ajaran fitri teosentris, bahwa Tuhan pusat segalanya. Tuhan pusat dan penyebab kehidupan. Alam untuk manusia, bukan sebaliknya, kemudian dengan berpijak padanya, manusia mengagungkan Tuhan. 

Tsunami Aceh yang telah 10 tahun, dan bencana lainnya, merupakan wajah-Nya. Merupakan senyum Tuhan. Merupakan tutur sapa-Nya, yang hendak mengangkat martabat kita, mengembalikan fitrah sebagai “ahsani taqwim” bukan “asfala safilin”. Dan semoga…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar