Pagi terasa sibuk. Seakan berpacu
dengan mentari pagi, seisi rumah sudah memainkan peran masing-masing. Rahma,
berseru dengan dapur. Saya asyik mematung depan layar laptop. Ahimsa
bersiap-siap hendak sekolah. Sementara Rakhe, tak ketinggalan membersamai kereta
thomasnya. Inilah pagi. Masing-masing yang tanpa kodifikasi komitmen, namun
serasa ada peraturan yang mengikat, sehingga saban pagi otomatis akan
mengerjakan perannya sendiri-sendiri. Masing-masing serasa saling mengawasi,
padahal senyatanya tidak demikian. Masing-masing seolah akan saling tegur untuk
mengingatkan, padahal yang terjadi tak pernah ada tegur sapa yang saling
menghardik.
Pagi terasa sibuk. Masing-masing
kita berjalan terstruktur, namun wajar alias natural. Tak dibuat-buat, tanpa
tempelan jadwal yang kaku dan rigid. Berjalan otomatis. Entah sebab apa, hingga
kini, terus terang saya tidak tahu pasti. Saya tidak tahu, kenapa hal itu bisa
berjalan natur. Setidaknya, itu yang saya rasakan. Saya merasa tak pernah
menuntut istri agar selalu menyiapkan sajian menu sarapan pagi. Tak pernah
menyuruhnya agar senantiasa membikinkan kopi kental buat saya. Tak pernah. Saya
juga tak pernah menuntut anak-anak agar selalu bangun pagi-pagi. Tak pernah
meminta Ahimsa, agar bersiap-siap sekolah supaya tak ketinggalan waktu.
Terlebih lagi terhadap Rakhe, si bungsu, yang lagi demen dengan kartun kereta
thomas, saya tak pernah melarang atau memintanya agar rutin menonton layar TV.
Semua natur. Berjalan wajar,
tanpa beban dari eksternal. Sehingga, sekiranya tak mengerjakannya pun tak akan
ada sanksi. Rahma tak melarang saya, yang pernah tak bangun pagi. Pun, saya
juga tak menuntutnya agar tidak lupa dengan kebiasaannya. Semua berlangsung apa
adanya, tanpa keterpaksaan, tanpa rasa ingin dipuja sebagai yang terbaik. Lantaran
bukan kompetisi. Ya, istilah yang bisa mewakili di sini, adalah tanpa
kompetisi.
Secara pribadi, saya tak suka
dengan kompetisi. Saya tak menyukai perlombaan. Pernah iseng, saya bertanya
pada istri, Rahma, “kenapa sih di sekolah musti ada perlombaan ?”
“Ya, biar anak punya rasa
keberanian..”, jawab Rahma. Hehehe....benarkah demikian ? Saya berpikir beda. Ada
ekses negatif dari sebuah kompetisi, yang sepertinya luput dari perhatian dari
lembaga pendidikan, tempat istri bekerja. Kompetisi mengandaikan kawan-lawan. Ini
artinya, si anak terpaksa berpikir dan menganggap teman karibnya sebagai lawan
kompetisi. Kerangka pikir yang menggiring peserta didik atas “kawan vs lawan”,
itu yang menurut saya, tidak sehat. Saya memahami, satu-satunya kompetisi yang
dianjurkan cuma “fastabiqu ‘l-khairat” “maka berlomba-lombalah dalam kebaikan,”
(QS Al-Baqarah : 148).
Berbuat baik, satu-satunya
perlombaan yang disahkan oleh Tuhan. Tiada perbandingan, persaingan, perlombaan
dan sebagainya selain itu. Sebaik-baik manusia ialah yang sanggup menebar
manfaat bagi sesama. Dalam kebaikan pun tak ada puncaknya. Setiap kita
tertuntut untuk berbuat kebajikan, terus-menerus mendaki gunung kebaikan, dan tak ada yang menyentuh
puncaknya seutuh hidup hingga hari kemudian. Jadi berlomba dalam kebaikan,
artinya kurang lebih, sebagai upaya diri untuk senantiasa bermanfaat bagi pihak
lain. Dan sekali lagi, hal itu tiada puncak. Bermanfaat bagi yang lain itu
tiada habis-habis, tiap detik, tiap menit, seolah perintah untuk memberi
kemanfaatan itu terus meluncur dan menegur kita.
Kiranya itu yang tepat untuk
melukiskan fenomena keseharian dalam keluarga. Masing-masing tertuntut untuk
sanggup menerbitkan kebajikan yang tak pernah menagih kembali. Itulah! Tanpa
keinginan untuk mendapatkan balasan kebaikan dari yang lain. Dan syukur, hal
itu berlangsung secara wajar. Seolah bukan perintah Tuhan atau agama, namun
serasa begitu adanya dalam hidup, yaitu melahirkan kebajikan. Saya dengan
istri, sedang tidak bersaing untuk dapatkan pujian dari anak-anak. Dalam diri
ini, yang terpikir adalah sudahkah saya berbuat yang dapat membahagiakan
anak-anak dan istri. Pun demikian, kiranya dari Rahma, apa yang bisa diberikan
untuk menyenangkan hati anak dan suami.
So, dimanakah perlombaan atau
kompetisi berlangsung ? Yang manakah yang
dimaksudkan sebagai pertandingan, persaingan, atau perbandingan ? Hmmm...itu
yang saya maksudkan, bahwa saya tak menyukai perlombaan. Di sini tak ada kosakata
kawan-lawan. Tak ada yang diperbandingkan. Tak ada pekerjaan yang
dipersaingkan. Semua yang dihadapan adalah sesama hamba, sesama pengabdi. Yakni
mengabdi kepada kebajikan. Masing-masing berperan dalam kebajikannya
sendiri-sendiri, yang tak ada kembarannya. Dan sang Maha kebajikan tak lain
ialah Tuhan, maka tak pelak lagi bahwa hidup ini sesungguhnya adalah mengabdi
kepada Tuhan. Tuhan yang menyatakan diri ke masing-masing individu dalam
ketunggalan-Nya yang tak sama satu sama lainnya. “Lakum dinukum wali yadin”,
“bagimu agamamu, dan bagiku agamaku”, kiasan dari Tuhan, bahwa setiap kita
membawa jalan keyakinan kebertuhanan yang tak sama. Agama
boleh sama, namun peran kebertuhanan tak mungkin bisa sama. Dan keluarga
miniaturnya. Setidaknya itu yang saya rasakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar