Minggu, 14 Desember 2014

Kompetisi Dalam Mengabdi


Pagi terasa sibuk. Seakan berpacu dengan mentari pagi, seisi rumah sudah memainkan peran masing-masing. Rahma, berseru dengan dapur. Saya asyik mematung depan layar laptop. Ahimsa bersiap-siap hendak sekolah. Sementara Rakhe, tak ketinggalan membersamai kereta thomasnya. Inilah pagi. Masing-masing yang tanpa kodifikasi komitmen, namun serasa ada peraturan yang mengikat, sehingga saban pagi otomatis akan mengerjakan perannya sendiri-sendiri. Masing-masing serasa saling mengawasi, padahal senyatanya tidak demikian. Masing-masing seolah akan saling tegur untuk mengingatkan, padahal yang terjadi tak pernah ada tegur sapa yang saling menghardik.


Pagi terasa sibuk. Masing-masing kita berjalan terstruktur, namun wajar alias natural. Tak dibuat-buat, tanpa tempelan jadwal yang kaku dan rigid. Berjalan otomatis. Entah sebab apa, hingga kini, terus terang saya tidak tahu pasti. Saya tidak tahu, kenapa hal itu bisa berjalan natur. Setidaknya, itu yang saya rasakan. Saya merasa tak pernah menuntut istri agar selalu menyiapkan sajian menu sarapan pagi. Tak pernah menyuruhnya agar senantiasa membikinkan kopi kental buat saya. Tak pernah. Saya juga tak pernah menuntut anak-anak agar selalu bangun pagi-pagi. Tak pernah meminta Ahimsa, agar bersiap-siap sekolah supaya tak ketinggalan waktu. Terlebih lagi terhadap Rakhe, si bungsu, yang lagi demen dengan kartun kereta thomas, saya tak pernah melarang atau memintanya agar rutin menonton layar TV.

Semua natur. Berjalan wajar, tanpa beban dari eksternal. Sehingga, sekiranya tak mengerjakannya pun tak akan ada sanksi. Rahma tak melarang saya, yang pernah tak bangun pagi. Pun, saya juga tak menuntutnya agar tidak lupa dengan kebiasaannya. Semua berlangsung apa adanya, tanpa keterpaksaan, tanpa rasa ingin dipuja sebagai yang terbaik. Lantaran bukan kompetisi. Ya, istilah yang bisa mewakili di sini, adalah tanpa kompetisi.

Secara pribadi, saya tak suka dengan kompetisi. Saya tak menyukai perlombaan. Pernah iseng, saya bertanya pada istri, Rahma, “kenapa sih di sekolah musti ada perlombaan ?”

“Ya, biar anak punya rasa keberanian..”, jawab Rahma. Hehehe....benarkah demikian ? Saya berpikir beda. Ada ekses negatif dari sebuah kompetisi, yang sepertinya luput dari perhatian dari lembaga pendidikan, tempat istri bekerja. Kompetisi mengandaikan kawan-lawan. Ini artinya, si anak terpaksa berpikir dan menganggap teman karibnya sebagai lawan kompetisi. Kerangka pikir yang menggiring peserta didik atas “kawan vs lawan”, itu yang menurut saya, tidak sehat. Saya memahami, satu-satunya kompetisi yang dianjurkan cuma “fastabiqu ‘l-khairat” “maka berlomba-lombalah dalam kebaikan,” (QS Al-Baqarah : 148).

Berbuat baik, satu-satunya perlombaan yang disahkan oleh Tuhan. Tiada perbandingan, persaingan, perlombaan dan sebagainya selain itu. Sebaik-baik manusia ialah yang sanggup menebar manfaat bagi sesama. Dalam kebaikan pun tak ada puncaknya. Setiap kita tertuntut untuk berbuat kebajikan, terus-menerus mendaki gunung  kebaikan, dan tak ada yang menyentuh puncaknya seutuh hidup hingga hari kemudian. Jadi berlomba dalam kebaikan, artinya kurang lebih, sebagai upaya diri untuk senantiasa bermanfaat bagi pihak lain. Dan sekali lagi, hal itu tiada puncak. Bermanfaat bagi yang lain itu tiada habis-habis, tiap detik, tiap menit, seolah perintah untuk memberi kemanfaatan itu terus meluncur dan menegur kita.

Kiranya itu yang tepat untuk melukiskan fenomena keseharian dalam keluarga. Masing-masing tertuntut untuk sanggup menerbitkan kebajikan yang tak pernah menagih kembali. Itulah! Tanpa keinginan untuk mendapatkan balasan kebaikan dari yang lain. Dan syukur, hal itu berlangsung secara wajar. Seolah bukan perintah Tuhan atau agama, namun serasa begitu adanya dalam hidup, yaitu melahirkan kebajikan. Saya dengan istri, sedang tidak bersaing untuk dapatkan pujian dari anak-anak. Dalam diri ini, yang terpikir adalah sudahkah saya berbuat yang dapat membahagiakan anak-anak dan istri. Pun demikian, kiranya dari Rahma, apa yang bisa diberikan untuk menyenangkan hati anak dan suami.

So, dimanakah perlombaan atau kompetisi berlangsung ? Yang manakah yang  dimaksudkan sebagai pertandingan, persaingan, atau perbandingan ? Hmmm...itu yang saya maksudkan, bahwa saya tak menyukai perlombaan. Di sini tak ada kosakata kawan-lawan. Tak ada yang diperbandingkan. Tak ada pekerjaan yang dipersaingkan. Semua yang dihadapan adalah sesama hamba, sesama pengabdi. Yakni mengabdi kepada kebajikan. Masing-masing berperan dalam kebajikannya sendiri-sendiri, yang tak ada kembarannya. Dan sang Maha kebajikan tak lain ialah Tuhan, maka tak pelak lagi bahwa hidup ini sesungguhnya adalah mengabdi kepada Tuhan. Tuhan yang menyatakan diri ke masing-masing individu dalam ketunggalan-Nya yang tak sama satu sama lainnya. “Lakum dinukum wali yadin”, “bagimu agamamu, dan bagiku agamaku”, kiasan dari Tuhan, bahwa setiap kita membawa jalan keyakinan kebertuhanan yang tak sama.   Agama boleh sama, namun peran kebertuhanan tak mungkin bisa sama. Dan keluarga miniaturnya. Setidaknya itu yang saya rasakan.    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar