Jelang Natal dan Tahun Baru 2015,
akan jadi ritus tahunan yang tak bisa dielakkan. Pulang ke kampung halaman,
jadi pilihan setiap kita. Termasuk di komplek perumahan dimana saya tinggal. Mulai
hari-hari ini, komplek perumahan mendadak sunyi, sudah kehilangan penghuni. Hampir
semua yang menghuni perumahan adalah para rantauan, dus otomatis, sebagaimana
hari raya iedul fitri, jelang akhir tahun ini, rumah-rumah untuk sesaat pada
ditinggalkan. Seolah telah menjadi momentum yang ditunggu oleh semua warga,
kidung damai dan pesta perayaan awal tahun pun telah disiapkan. Paket hiburan
akhir tahun telah dipamerkan. Acara-acara di televisi tak urung ikut latah
dengan pagelaran aneka ragam pesta konyol, yang mengumbar keseronokan, yang mengeksploitasi
kesenangan.
Ya, pesta kembang api telah
menanti. Kompetisi suara petasan, akan berebut dengan dentuman knalpot motor,
suara serak dan seksi para biduan di panggung-panggung. Akhir tahun adalah suka
cita dan pesta pora artis dangdut dari segenap kalangan. Entah yang papan atas,
kelas menengah, hingga kelas teri yang hanya modalkan tarian vulgar dan kain penutup
super minim, telah memadati jadwal akhir 2014.
Jelang Natal dan akhir tahun
2014, telah di depan mata. Penghuni perumahan telah menyemut, memadati jalanan.
Demikian juga, bersama keluarga, saya berlibur ke Sragen. Hitung-hitung untuk
ikut meramaikan tradisi…hehehe. Sebetulnya dari saya sendiri, tak punya niatan
untuk berlibur. Saya ingin menghabiskan angka tahun 2014 di Ungaran saja. Namun,
anak-anak dan istri, berkehendak lain. Mereka ingin suasana beda. Suasana Ungaran
seperti sudah kehilangan pamor, sehingga tak lagi mengundang selera anak-anak
dan istri untuk mengkhidmatinya. Barangkali karena saban hari bertatap muka
dengan gunung Ungaran, menghirup panas udara yang tak senyaman awal
menginjakkan kaki, sehingga memaksimalkan liburan ke luar daerah, jadi impian
yang wajib diwujudkan. Dan saya merasa, perasaan itu juga melanda para tetangga,
para bapak, emak, dan anak-anak, yang pengap dengan rutinitas. Seindah dan
sebagus apa pun tempat hunian saat ini, seakan tak akan mengendorkan semangat
untuk menghabiskan waktu di luar pagar Ungaran.
Istri telah bersiap. Baju ganti
dan perlengkapan lainnya telah di packing.
Rona bahagia, terpancar jelas dari wajah dua matahari saya itu. Ahimsa, tak
ketinggalan dengan buku tulis dan gambarnya. Sementara Rakhe, juga tak mau
kalah, buku gambar dan mainan kereta api, ikut masuk memenuhi tas ransel.
Jelang Natal dan pesta tahun baru
2015, akan kami tempuh di desa kecil, Girimargo, Kecamatan Miri, Kabupaten
Sragen. Di sana, sebagaimana yang sudah-sudah, anak-anak akan berjibaku dengan
suasana sawah, lumpur pedesaan, dan teman main yang khas desa. Meskipun di
Ungaran, juga sebetulnya belum kota metropolis. Di Ungaran, tempat saya
tinggal, persawahan, dan sungai masih jadi pemandangan yang tak asing. Namun
entahlah, serasa hawa kota yang telah menyelimuti badan ini. Raungan kendaraan,
tak putus-putus memadati pikiran dan perasaan. Perasaan hidup menyendiri, yang
egoistis, sendiri-sendiri, mewarnai keseharian. Komplek perumahan, rumah-rumah
berpagar rapat, tertutup, jelas telah menutup budaya kunjung. Tradisi saling
tengok yang menawarkan nilai persahabatan, nilai yang memanusiakan, jarang kita
temukan, dan kita rasakan. Sehingga wajar, kesempatan berlibur, menjadi menu
utama oleh setiap keluarga.
Ungaran yang “mengkota”, hanya
nyaman untuk mengais dan melapangkan ekonomi. Tetapi kurang untuk mengakrabkan
diri dan anak-anak dengan alam natural. Oleh karenanya, berlibur ke kampung halaman,
disamping untuk menyambung keintiman keluarga besar, juga sekaligus untuk
menengok “kebesaran” alam. Saya berpikir, pemahaman anak-anak atas alam, mesti
didapat dengan persinggungan secara langsung, tidak melalui teks diktat buku
pelajaran. Maka, berlibur jadi penting, setidaknya untuk saya dan keluarga
kecil ini.
Akhirnya, jelang Natal, dan akhir
tahun 2014, semoga akan berlangsung aman, damai, dan lestari. Perdebatan klasik
tentang sah tidaknya mengucapkan “selamat natal”, seyogianya dihentikan. Kini sudah
tak relevan memperdebatkan urusan privat, ranah pribadi. Urusan atau musuh
kita, bukan lagi “saya versus dia”, “kami musuh mereka”, tetapi “saya musuh
permasalahan bersama”. Musuh kita kini, tak lain adalah kemiskinan, kebodohan,
kejumudan, puritanisme, dan sebagainya. Musuh agama adalah dogmatisme kaku,
tertutup, dan antisosial.
Pendek kata, jelang Natal, adalah
pengingat tentang kasih pada sesama. Pengingat tentang betapa berartinya
anak-anak yang merupakan amanat Tuhan dan lingkungan. Akhir tahun 2014, ialah
cara untuk mengubur kesadaran yang antibudaya kearifan. Akhir 2014, peneguhan
untuk senantiasa bersyukur atas kehadiran-Nya. Kemudian awal tahun 2015, adalah
tonggak untuk terus memahasucikan Tuhan. Semoga….
Met holiday yaaa Mas Ardi and the crew, happy happyy...
BalasHapushehehe makasih Mbak Dedew.....
BalasHapus