![]() |
| oleh sebab humanisme, saya ber-Islam |
Masih seputar keberagamaan. Awal
tahun 2015, saya ingin mengukir prestasi, untuk diri sendiri, yaitu memantabkan
doktrin humanisme dalam ber-Islam.
Entah apakah ini nanti akan bersinggungan dengan JIL (Jaringan Islam Liberal) dan
kelompok Islam moderat lainnya, atau tidak, saya tidak ambil pusing.
Teman-teman dan handai tolan akan beramai-ramai menghujat dan mencemooh, biar
saja, toh keberagamaan adalah masalah pribadi, bukan urusan publik. Beragama
adalah menyatu rasa, berempati dengan realitas objektif. Beragama ialah
bersentuhan dengan keseharian yang dianggap sepele, lumrah, dan wajar. Beragama
merupakan cara memanusiakan yang lain, terutama dengan yang berbeda keyakinan.
Kalau berbaikan dengan sesama agama, dengan sesama Islam, terlebih yang sesama
madzab, sudah semestinya. Tetapi kini yang masih terasa kurang, apalagi dalam
nuansa Natal, dan nanti menuju angka tahun 2015, berkoeksistensi dengan sesama
manusia, entah yang sealiran, sesama madzab, sesama agama, dengan non-muslim,
sesama anak bangsa, dan sesama anak manusia, mesti jadi dogma bersama.
Dogma yang saya maksudkan adalah
humanisasi. Memanusiakan manusia, menyapa yang tersisih, yang marjinal, dan tak
diperhatikan oleh kebanyakan. Rasa sebagai manusia, yang penuh simpatik dan
empati, peka terhadap kesulitan, dan saling ulurkan nilai kebajikan, sebenarnya
merupakan nilai klasik, nilai kemanusiaan yang lahir bersamaan kelahiran
manusia itu sendiri. Meskipun demikian, di sana-sini, masih saja kita dijejali
tindak dehumanisasi, diskriminasi, saling hujat, saling tuduh “kafir” dan
sesat, sampai pengusiran dari kampung halaman. Masih terngiang jelas bagaimana
teman-teman Syiah di Madura, mesti mengungsi , terusir dari tempat tinggal.
Saudara-saudara Ahmadiyah juga mengalami nasib serupa, tidak diakui sebagai
sesama muslim, hanya lantaran ingin menjalankan keyakinan bahwa ada pewarta
atau nabi setelah Nabi Muhammad. Syiah dan Ahmadiyah, tidak mendapat tempat di
hati mayoritas muslim. Padahal jelas mereka itu juga umat manusia, bukan setan,
golongan Jin, dan kerumunan binatang.
Hukum rimba, yang pantas dan jadi
gaya keseharian kawanan binatang, masih berlaku di dalam corak pemikiran
mayoritas. Mayoritas yang mendaku Islam, merasa berhak untuk menyingkirkan
“duri” Ahmadiyah dan Syiah dari tubuh Islam. Begitu pula terhadap non-muslim,
terutama umat Kristiani. Saya sering mendapati kata-kata ketus dan keengganan
kawan-kawan Muslim untuk menyapa mereka yang Kristen. Saudara-saudara kristiani
ini seolah barang najis, yang tak boleh disentuh, tak elok disapa, hingga
pengharaman untuk mengucapkan selamat hari Natal. Saudara-saudara yang merasa
muslim itu, latah memplesetkan “Selamat
Hari Natal” dengan “Selamat Dari Natal”. Duh, betapa sakit
telinga ini mendengar guyonan rendah itu. Saya bingung dan tak habis pikir, apa
yang salah dengan Natal. Kenapa Natal, sekadar mengucapkan sebagai tanda empati
sesama manusia, masih dianggap sebagai biang kemusryrikan. Mengucapkan Natal,
dinilai kafir. Sehingga merubah kata “hari” menjadi “dari”, seolah tiket sorga
telah menanti.
Apakah sedemikian jadulnya Tuhan,
sehingga untuk menentukan baik buruknya, layak tidaknya menghuni sorga, hanya
dengan cara mengucapkan vonis sesat terhadap yang beda keyakinan, terhadap umat
kristen. Sedemikian kunokah Tuhan ? Kalau memang Tuhan yang sesungguhnya itu
yang kuno, yang gemar mengeksklusifkan, yang bertindak tidak objektif, detik
ini pula, saya nyatakan keluar dari dogma kebertuhanan. Saya tak akan bertuhan
alias ateis. Bertuhan saja tidak apalagi beragama. Namun, syukur saja, hingga
kini saya masih bertuhan. Saya masih meyakini Islam sebagai jendela saya
menyapa semesta. Artinya, Tuhan dan Islam yang saya yakini berbeda dengan
mayoritas itu. Tuhan yang saya yakini itu penuh rahmat, penuh kasih dan full
penyayang. Demikian juga dengan Islam, saya masih mempercayainya sebagai agama
yang menegakkan kasih sayang terhadap sesama. Islam adalah perjuangan membela
kaum tersisih (sabilil mustadh’afin),
agama humanis. Agama yang hadir untuk menegakkan rahmat bagi segenap semesta
kehidupan, tidak hanya sesama muslim yang sealiran saja, melainkan keseluruhan
umat manusia dan makhluk hidup lainnya.
Demikianlah, membela yang
dimarjinalkan, rahmat untuk sesama, yang telah terpatri dalam sanubari. Dan
kini, jelang akhir tahun 2014, kembali saya tandaskan bahwa Islam saya adalah
Islam yang humanis, yang anti vonis sesat dan fatwa murahan MUI, serta anti
kekerasan ala FPI. Islam humanis, tidak bakal merendahkan kaum wanita, yang
menganggapnya komoditi, yang seakan banyak istri makin dekat Tuhan, berpoligami
adalah tiket sorga. Pendek kata, jiwa Islam adalah kebajikan dan kemenangan
bagi semua. Martabat manusia terdapat pada kesanggupannya menyebar kebajikan,
mengulurkan nilai kemanfaatan terhadap sesama. Bukan menebar teror, menabuh genderang
horor, dan menghembuskan ketakutan pada yang minoritas. So.....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar