Senin, 29 Desember 2014

Islam Humanis

oleh sebab humanisme, saya ber-Islam
Masih seputar keberagamaan. Awal tahun 2015, saya ingin mengukir prestasi, untuk diri sendiri, yaitu memantabkan doktrin humanisme dalam ber-Islam. Entah apakah ini nanti akan bersinggungan dengan JIL (Jaringan Islam Liberal) dan kelompok Islam moderat lainnya, atau tidak, saya tidak ambil pusing. Teman-teman dan handai tolan akan beramai-ramai menghujat dan mencemooh, biar saja, toh keberagamaan adalah masalah pribadi, bukan urusan publik. Beragama adalah menyatu rasa, berempati dengan realitas objektif. Beragama ialah bersentuhan dengan keseharian yang dianggap sepele, lumrah, dan wajar. Beragama merupakan cara memanusiakan yang lain, terutama dengan yang berbeda keyakinan. Kalau berbaikan dengan sesama agama, dengan sesama Islam, terlebih yang sesama madzab, sudah semestinya. Tetapi kini yang masih terasa kurang, apalagi dalam nuansa Natal, dan nanti menuju angka tahun 2015, berkoeksistensi dengan sesama manusia, entah yang sealiran, sesama madzab, sesama agama, dengan non-muslim, sesama anak bangsa, dan sesama anak manusia, mesti jadi dogma bersama.


Dogma yang saya maksudkan adalah humanisasi. Memanusiakan manusia, menyapa yang tersisih, yang marjinal, dan tak diperhatikan oleh kebanyakan. Rasa sebagai manusia, yang penuh simpatik dan empati, peka terhadap kesulitan, dan saling ulurkan nilai kebajikan, sebenarnya merupakan nilai klasik, nilai kemanusiaan yang lahir bersamaan kelahiran manusia itu sendiri. Meskipun demikian, di sana-sini, masih saja kita dijejali tindak dehumanisasi, diskriminasi, saling hujat, saling tuduh “kafir” dan sesat, sampai pengusiran dari kampung halaman. Masih terngiang jelas bagaimana teman-teman Syiah di Madura, mesti mengungsi , terusir dari tempat tinggal. Saudara-saudara Ahmadiyah juga mengalami nasib serupa, tidak diakui sebagai sesama muslim, hanya lantaran ingin menjalankan keyakinan bahwa ada pewarta atau nabi setelah Nabi Muhammad. Syiah dan Ahmadiyah, tidak mendapat tempat di hati mayoritas muslim. Padahal jelas mereka itu juga umat manusia, bukan setan, golongan Jin, dan kerumunan binatang.

Hukum rimba, yang pantas dan jadi gaya keseharian kawanan binatang, masih berlaku di dalam corak pemikiran mayoritas. Mayoritas yang mendaku Islam, merasa berhak untuk menyingkirkan “duri” Ahmadiyah dan Syiah dari tubuh Islam. Begitu pula terhadap non-muslim, terutama umat Kristiani. Saya sering mendapati kata-kata ketus dan keengganan kawan-kawan Muslim untuk menyapa mereka yang Kristen. Saudara-saudara kristiani ini seolah barang najis, yang tak boleh disentuh, tak elok disapa, hingga pengharaman untuk mengucapkan selamat hari Natal. Saudara-saudara yang merasa muslim itu, latah memplesetkan “Selamat Hari Natal” dengan “Selamat Dari Natal”. Duh, betapa sakit telinga ini mendengar guyonan rendah itu. Saya bingung dan tak habis pikir, apa yang salah dengan Natal. Kenapa Natal, sekadar mengucapkan sebagai tanda empati sesama manusia, masih dianggap sebagai biang kemusryrikan. Mengucapkan Natal, dinilai kafir. Sehingga merubah kata “hari” menjadi “dari”, seolah tiket sorga telah menanti.

Apakah sedemikian jadulnya Tuhan, sehingga untuk menentukan baik buruknya, layak tidaknya menghuni sorga, hanya dengan cara mengucapkan vonis sesat terhadap yang beda keyakinan, terhadap umat kristen. Sedemikian kunokah Tuhan ? Kalau memang Tuhan yang sesungguhnya itu yang kuno, yang gemar mengeksklusifkan, yang bertindak tidak objektif, detik ini pula, saya nyatakan keluar dari dogma kebertuhanan. Saya tak akan bertuhan alias ateis. Bertuhan saja tidak apalagi beragama. Namun, syukur saja, hingga kini saya masih bertuhan. Saya masih meyakini Islam sebagai jendela saya menyapa semesta. Artinya, Tuhan dan Islam yang saya yakini berbeda dengan mayoritas itu. Tuhan yang saya yakini itu penuh rahmat, penuh kasih dan full penyayang. Demikian juga dengan Islam, saya masih mempercayainya sebagai agama yang menegakkan kasih sayang terhadap sesama. Islam adalah perjuangan membela kaum tersisih (sabilil mustadh’afin), agama humanis. Agama yang hadir untuk menegakkan rahmat bagi segenap semesta kehidupan, tidak hanya sesama muslim yang sealiran saja, melainkan keseluruhan umat manusia dan makhluk hidup lainnya.


Demikianlah, membela yang dimarjinalkan, rahmat untuk sesama, yang telah terpatri dalam sanubari. Dan kini, jelang akhir tahun 2014, kembali saya tandaskan bahwa Islam saya adalah Islam yang humanis, yang anti vonis sesat dan fatwa murahan MUI, serta anti kekerasan ala FPI. Islam humanis, tidak bakal merendahkan kaum wanita, yang menganggapnya komoditi, yang seakan banyak istri makin dekat Tuhan, berpoligami adalah tiket sorga. Pendek kata, jiwa Islam adalah kebajikan dan kemenangan bagi semua. Martabat manusia terdapat pada kesanggupannya menyebar kebajikan, mengulurkan nilai kemanfaatan terhadap sesama. Bukan menebar teror, menabuh genderang horor, dan menghembuskan ketakutan pada yang minoritas. So..... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar