Jumat, 26 Desember 2014

Muhammadiyah : Filosofis & Aksi Sosial


Bicara Muhammadiyah, saya tak bisa jauh-jauh dari Dr Kuntowijoyo. Sekitar tahun 1989, ia telah menuliskan makalah tentang kekurangan gerakan tajdid itu. Tulisan yang bertutur tentang semestinya yang Muhammadiyah lakukan, kini telah berusia satu generasi. Bahkan Buya Syafi’i , mengamini tulisan tersebut. Dr Kuntowijoyo, memaparkan pentingnya Muhammadiyah untuk merumuskan gerakannya berdasar kelas dan kondisi sosial. Yang terjadi selama ini, Muhammadiyah itu antisosial, karena gerakannya hanya berdasar jenis kelamin dan usia. Nasyiatul Asyiah, Asyiah untuk remaja putri dan para ibu-ibu, menunjukkan kriteria yang berdasar jenis kelamin. Ada IRM, IMM, Pemuda Muhammadiyah, menunjukkan kriteria usia.


Dr. Kuntowijoyo, mengambil contoh SI yang pada awal abad XX, telah sukses mengantar umat Islam ke tangga sosial yang bermartabat. Tangga sosial yang mengundang decak kagum umat lain, bahwa umat Islam memang berkualitas, tak sekadar mayoritas secara jumlah, namun juga kualitas secara pemikiran dan aksi gerakan. SI sanggup membawa umat Islam yang berada pada level sosial rendah alias proletar, telah menduduki tangga kelas menengah dengan menguasai pos-pos perdagangan. Umat Islam sanggup bersaing dengan dominasi kaum non-pri (China) dalam perekonomian. China yang mendapat kemudahan fasilitas dari pemerintah kolonial Belanda, berhasil menguasai pasar ekonomi. Bahkan hingga sekarang, China adalah rajanya. Tidak hanya untuk belahan bumi nusantara, China kini telah mendunia.

Berkat perjuangan SI, umat Islam yang pedagang gurem, dapat bersaing dengan China. Pasar Batik, salah satu unggulan pedagang muslim saat itu. SI berhasil mengorganisir kelompok sosial itu. Sehingga ada persarikatan buruh muslim, kelompok nelayan muslim, kelompok tani, dan sebagainya. Pendek kata, SI telah berhasil merumuskan platform perjuangan yang berdasar pada kriteria objektif masyarakat. Sehingga SI bisa dikatakan pro-sosial.

Itu kejadian awal abad XX, dimana dalam kurun yang bersamaan, Muhammadiyah lahir sebagai gerakan tajdid, yang membawa gagasan tentang   rasionalisasi. Kalau SI berhasil mengangkat umat Islam dalam kerangka pikir  sistemik, maka Muhammadiyah yang menyorong umat ke arah rasionalisasi. Yang membedakan SI dengan Muhammadiyah, SI berhasil memadukan rasionalisasi dengan sistemasi. Sedang Muhammadiyah hanya berkutat pada upaya rasionalisasi, malah kini lebih menyempit dengan maraknya tradisi literalis/skripturalis. Skripturalis cenderung anti-rasional.

Saya sering mendapati diskusi-diskusi di tubuh Muhammadiyah tak lebih sebatas purifikasi. Jadi ini malah gejala kemunduran dari pakem Muhammadiyah yang pro rasionalisasi, pro pemikiran dan gagasan-gagasan besar. Puritan itu menyepelekan kerja-kerja intelektual. Merendahkan akal sehat. Sehingga saya beranggapan, Muhammadiyah yang di dalamnya telap disusupi pemikiran puritan, maka alamat suram atas masa depan gerakan tajdid tersebut. Tahun 1989, Dr. Kuntowijoyo telah menyebutkan bahwa Muhammadiyah itu antisosial, lantaran melandaskan diri pada jenis kelamin dan usia. Nah, saya tidak membayangkan, apa yang bakal beliau katakan saat ini, ketika menyaksikan Muhammadiyah telah bergemuruh dengan pemborosan takbir, menjadi gerakan skripturalis, literalis, dan anti filsafat serta sejarah. Terus terang, saya tidak sanggup membayangkannya.

Dengan demikian, Muhammadiyah kini mendapati diri dalam beban tanggung jawab yang tak ringan. Pertama, mesti sanggup membuktikan pada publik, bahwa Muhammadiyah merupakan gerakan sosial. Artinya, mesti berdasar pada stratifikasi sosial. Bahwa dalam tubuh umat Islam, jelas sekali, kelas sosial merupakan fakta objektif. Kemiskinan, kebodohan, dan kejumudan masih mendera umat Islam. Kelas marjinal, kaum miskin kota, kaum tani desa yang sudah tak memiliki tanah sendiri, kaum pedagang rendahan, adalah nyata adanya di dalam umat. Dan barangkali sebagian besar juga warga Muhammadiyah. Oleh karena itu, jangan sampai umat lari dan masuk dalam buaian kapitalisme, konsumerisme dan hedonism yang berkepanjangan.

Kedua, Muhammadiyah mesti akrab dengan pemikiran-pemikiran besar, dengan gagasan-gagasan yang paradigmatik. Ide-ide filosofis yang mencoba menurunkan gagasan-gagasan simbolik teks suci (Al-Qur’an dan Hadis), mesti digalakkan seiring zaman yang kini gandrung pada hal-hal yang radix. Hal-hal yang mengakar dan fundamen. Pertanyaan-pertanyaan yang melanda generasi muda, yang mempertanyakan doktrin normatif, mempertanyakan keabsahan ibadah mahdhah, mempertanyakan keagungan Tuhan, usah dipandang negatif atau keimanannya masih dangkal. Pertanyaan-pertanyaan kontroversi tersebut, bisa jadi merupakan pertanda zaman, yang menuntut gerakan sebesar Muhammadiyah agar familiar dengan gagasan-gagasan filosofis dan paradigma. Muhammadiyah tidak canggung untuk meminjam kerangka teori dari barat, dan itu bukti bahwa Muhammadiyah kosmopolit.

Akhir kata, saya membayangkan Muhammadiyah tidak lagi terjebak dengan teori konspirasi, melainkan keluar dengan teori SDM. Yaitu mobilisasi ide, gerakan wakaf buku, dan merumuskan teori sosial. Teori sosial itu untuk menjawab kewajiban pembelaan terhadap kelompok tersisih. Sehingga Muhammadiyah akan keluar sebagai gerakan intelektual sekaligus gerakan sosial. Keprihatinan Dr. Kuntowijoyo tidak berlarut dan berkepanjangan. Semoga….   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar