Bicara Muhammadiyah, saya tak
bisa jauh-jauh dari Dr Kuntowijoyo. Sekitar tahun 1989, ia telah menuliskan
makalah tentang kekurangan gerakan tajdid itu. Tulisan yang bertutur tentang
semestinya yang Muhammadiyah lakukan, kini telah berusia satu generasi. Bahkan
Buya Syafi’i , mengamini tulisan tersebut. Dr Kuntowijoyo, memaparkan
pentingnya Muhammadiyah untuk merumuskan gerakannya berdasar kelas dan kondisi
sosial. Yang terjadi selama ini, Muhammadiyah itu antisosial, karena gerakannya
hanya berdasar jenis kelamin dan usia. Nasyiatul Asyiah, Asyiah untuk remaja
putri dan para ibu-ibu, menunjukkan kriteria yang berdasar jenis kelamin. Ada
IRM, IMM, Pemuda Muhammadiyah, menunjukkan kriteria usia.
Dr. Kuntowijoyo, mengambil contoh
SI yang pada awal abad XX, telah sukses mengantar umat Islam ke tangga sosial
yang bermartabat. Tangga sosial yang mengundang decak kagum umat lain, bahwa
umat Islam memang berkualitas, tak sekadar mayoritas secara jumlah, namun juga
kualitas secara pemikiran dan aksi gerakan. SI sanggup membawa umat Islam yang
berada pada level sosial rendah alias proletar, telah menduduki tangga kelas
menengah dengan menguasai pos-pos perdagangan. Umat Islam sanggup bersaing
dengan dominasi kaum non-pri (China) dalam perekonomian. China yang mendapat kemudahan
fasilitas dari pemerintah kolonial Belanda, berhasil menguasai pasar ekonomi.
Bahkan hingga sekarang, China adalah rajanya. Tidak hanya untuk belahan bumi
nusantara, China kini telah mendunia.
Berkat perjuangan SI, umat Islam
yang pedagang gurem, dapat bersaing dengan China. Pasar Batik, salah satu
unggulan pedagang muslim saat itu. SI berhasil mengorganisir kelompok sosial
itu. Sehingga ada persarikatan buruh muslim, kelompok nelayan muslim, kelompok
tani, dan sebagainya. Pendek kata, SI telah berhasil merumuskan platform
perjuangan yang berdasar pada kriteria objektif masyarakat. Sehingga SI bisa
dikatakan pro-sosial.
Itu kejadian awal abad XX, dimana
dalam kurun yang bersamaan, Muhammadiyah lahir sebagai gerakan tajdid, yang
membawa gagasan tentang rasionalisasi. Kalau SI berhasil mengangkat
umat Islam dalam kerangka pikir
sistemik, maka Muhammadiyah yang menyorong umat ke arah rasionalisasi.
Yang membedakan SI dengan Muhammadiyah, SI berhasil memadukan rasionalisasi
dengan sistemasi. Sedang Muhammadiyah hanya berkutat pada upaya rasionalisasi,
malah kini lebih menyempit dengan maraknya tradisi literalis/skripturalis.
Skripturalis cenderung anti-rasional.
Saya sering mendapati
diskusi-diskusi di tubuh Muhammadiyah tak lebih sebatas purifikasi. Jadi ini
malah gejala kemunduran dari pakem Muhammadiyah yang pro rasionalisasi, pro
pemikiran dan gagasan-gagasan besar. Puritan itu menyepelekan kerja-kerja
intelektual. Merendahkan akal sehat. Sehingga saya beranggapan, Muhammadiyah
yang di dalamnya telap disusupi pemikiran puritan, maka alamat suram atas masa
depan gerakan tajdid tersebut. Tahun 1989, Dr. Kuntowijoyo telah menyebutkan
bahwa Muhammadiyah itu antisosial, lantaran melandaskan diri pada jenis kelamin
dan usia. Nah, saya tidak membayangkan, apa yang bakal beliau katakan saat ini,
ketika menyaksikan Muhammadiyah telah bergemuruh dengan pemborosan takbir,
menjadi gerakan skripturalis, literalis, dan anti filsafat serta sejarah. Terus
terang, saya tidak sanggup membayangkannya.
Dengan demikian, Muhammadiyah
kini mendapati diri dalam beban tanggung jawab yang tak ringan. Pertama, mesti
sanggup membuktikan pada publik, bahwa Muhammadiyah merupakan gerakan sosial.
Artinya, mesti berdasar pada stratifikasi sosial. Bahwa dalam tubuh umat Islam,
jelas sekali, kelas sosial merupakan fakta objektif. Kemiskinan, kebodohan, dan
kejumudan masih mendera umat Islam. Kelas marjinal, kaum miskin kota, kaum tani
desa yang sudah tak memiliki tanah sendiri, kaum pedagang rendahan, adalah
nyata adanya di dalam umat. Dan barangkali sebagian besar juga warga
Muhammadiyah. Oleh karena itu, jangan sampai umat lari dan masuk dalam buaian
kapitalisme, konsumerisme dan hedonism yang berkepanjangan.
Kedua, Muhammadiyah mesti akrab
dengan pemikiran-pemikiran besar, dengan gagasan-gagasan yang paradigmatik.
Ide-ide filosofis yang mencoba menurunkan gagasan-gagasan simbolik teks suci
(Al-Qur’an dan Hadis), mesti digalakkan seiring zaman yang kini gandrung pada
hal-hal yang radix. Hal-hal yang mengakar dan fundamen. Pertanyaan-pertanyaan
yang melanda generasi muda, yang mempertanyakan doktrin normatif,
mempertanyakan keabsahan ibadah mahdhah, mempertanyakan keagungan Tuhan, usah
dipandang negatif atau keimanannya masih dangkal. Pertanyaan-pertanyaan
kontroversi tersebut, bisa jadi merupakan pertanda zaman, yang menuntut gerakan
sebesar Muhammadiyah agar familiar dengan gagasan-gagasan filosofis dan
paradigma. Muhammadiyah tidak canggung untuk meminjam kerangka teori dari
barat, dan itu bukti bahwa Muhammadiyah kosmopolit.
Akhir kata, saya membayangkan
Muhammadiyah tidak lagi terjebak dengan teori konspirasi, melainkan keluar
dengan teori SDM. Yaitu mobilisasi ide, gerakan wakaf buku, dan merumuskan
teori sosial. Teori sosial itu untuk menjawab kewajiban pembelaan terhadap
kelompok tersisih. Sehingga Muhammadiyah akan keluar sebagai gerakan
intelektual sekaligus gerakan sosial. Keprihatinan Dr. Kuntowijoyo tidak
berlarut dan berkepanjangan. Semoga….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar