Selasa, 09 Desember 2014

Berlomba, Jadi yang Terbaik

berjuang untuk dapatkan buku...hehehe

Adalah kebahagiaan tatkala masuk rumah, sehabis bepergian, anak-anak berhamburan menyambut kedatangan kita. Anak-anak, dengan canda ria, memeluk, dan menggelayut ke pundak kita. Mereka menyalami dan mencium takdzim tangan kita. Berondongan pertanyaan pun meluncur dari lisan mereka. Mempertanyakan perihal kepergian kita, tentang ketidakhadiran kita, ketidakbersamaan kita. Rasa lelah, badan pegal, sontak langsung buyar menghilang, ketika wajah-wajah polos itu menghardik kita. Penat pun lenyap, kala anak-anak itu menggugat kita. Hmmmm…..setiap orangtua, siapa pun itu, yang mengalami situasi demikian, saya yakin juga akan mendapati diri dalam kerubungan perasaan yang membuncah.


Nah, itu yang saya rasakan kini, ketika anak-anak begitu meributi tentang hal-hal “remeh”. Seakan banyak hal yang ingin mereka ketahui. Entah paham atau tidak sebenarnya mereka, saat mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu. “Yah, kenapa perginya lama ? Kenapa Ayah pergi terus ?”, gugat si bungsu.  Tetapi memang demikian anak-anak. “Sok” ingin tahu, terus bertanya, dan bertanya. Pertanyaan-pertanyaan, dari yang sederhana hingga yang tak terduga. Beberapa kali, saya sering dibikin kaget dengan materi-materi pertanyaan yang sempat mengerutkan dahi. Ah, anak-anak. Ternyata sanggup juga berfilosofis. Merumuskan pertanyaan yang bikin tertawa. Mengajukan pertanyaan yang menyulitkan para dewasa untuk memberikan jawaban yang “pas”.

Anak-anak itu. Ahimsa dan Rakhe, dua matahari, yang melenakan kami. Setiap rengekan mereka adalah perintah. Setiap tangisan adalah isyarat. Raut muka mereka jadi pertanda kehadiran kita sebagai orangtua. Kebermaknaan kita oleh sebab mereka. Dengan demikian, kita tak bisa main-main, “asal mengasuh”. Anak-anak bukanlah kelinci percobaan. Mereka itu pribadi utuh, meski usia masih kecil. Pikiran dan perasaan mereka, tentu berbeda dengan kita. Bahkan masing-masing kita pun tidak sama. Saya beda dengan Anda. Anda pun jelas beda dengan saya. Sebagai suami, jelas saya punya peran yang tak sama dengan suami-suami lainnya, terlebih lagi dengan para ibu atau istri.

Dunia ini panggung sandiwara, masing-masing kita punya peran sendiri-sendiri”, kira-kira begitu kata pujangga. Artinya, kita lahir sudah menyandang keberbedaan. Terlahir dengan menanggung beban untuk berbeda, yang kemudian kelak pas dimintai pertanggungjawaban juga sendiri-sendiri, tidak rombongan, tidak kolektif. Lha selama menghirup udara di muka bumi, berarti perayaan atau pesta ketidaksamaan. Sehingga akan naiflah, jika sekiranya ada upaya-upaya yang cenderung memaksakan kehendak untuk menyeragamkan keunikan tersebut. Termasuk dalam keluarga, adalah miniatur perbedaan. Suami, istri, dan anak-anak, merupakan individu-individu unik, pribadi-pribadi utuh dalam kesendiriannya.

Keluarga adalah miniatur kehidupan sosial. Lantaran mini, keluarga adalah pendadaran masing-masing anggota keluarga untuk mendewasa. Masing-masing pribadi, bertanggung jawab untuk memanage dirinya sendiri. Memang kita bisa saling mendorong, saling meneguhkan. Tetapi keputusan untuk menjadi yang terbaik, senantiasa berkembang yang selaras dengan cahya Ilahi, sepenuhnya tergantung pada kemauan kita sendiri. Pihak lain sebatas  mendorong, sekadar memotivasi, sehingga baik-buruk bukan pada pihak lain, namun kitalah aktor utamanya.

Nah, alangkah beruntungnya kita yang sanggup mengoptimalkan peran, yang telah tersematkan dari sononya, terutama dalam kehidupan berkeluarga. Kasih dan sayang, bukan lagi wacana, namun aplikatif dalam keseharian keluarga kita. Masing-masing, seakan berlomba, untuk menampilkan diri jadi yang paling bermanfaat, paling berguna. “Fastabiqu ‘l-khairat” yang artinya, maka berlomba-lombalah dalam kebaikan. Sepertinya, hal itu merupakan satu-satunya kompetisi yang diperintahkan. Pertandingan yang dianjurkan oleh kitab suci. Dimana maksud dari kebaikan, tak lain tak bukan adalah bermanfaat bagi pihak lain, bagi yang liyan. Seorang ayah, membawa damai, dan berkah bagi anak-anak dan istri. Seorang ibu, seorang istri, juga demikian, sangat perhatian bagi perkembangan anak-anak. Tak mau kalah, anak-anak juga bisa menebar bahagia bagi kedua orangtua. Pendek kata, masing-masing kita bisa membawa diri, jadi pribadi yang rahmatan lil ‘alamin, menebar kasih dan sayang untuk sesama. Menyerap atau menghidupkan sifat-sifat Ilahi ke dalam diri. Sehingga ahsani taqwim…

*****
Anak-anak itu, Ahimsa dan Rakhe. Kalian telah menyudutkan orangtua ini untuk terus berpacu dengan waktu agar terus bertumbuh. Kian melebar fungsi sosialnya, kian meninggi martabat diri, dan makin mantab peran kehambaan, fungsi kekhalifahan...Dan terima kasih.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar