![]() |
| berjuang untuk dapatkan buku...hehehe |
Adalah kebahagiaan tatkala masuk
rumah, sehabis bepergian, anak-anak berhamburan menyambut kedatangan kita.
Anak-anak, dengan canda ria, memeluk, dan menggelayut ke pundak kita. Mereka
menyalami dan mencium takdzim tangan kita. Berondongan pertanyaan pun meluncur
dari lisan mereka. Mempertanyakan perihal kepergian kita, tentang
ketidakhadiran kita, ketidakbersamaan kita. Rasa lelah, badan pegal, sontak
langsung buyar menghilang, ketika wajah-wajah polos itu menghardik kita. Penat
pun lenyap, kala anak-anak itu menggugat kita. Hmmmm…..setiap orangtua, siapa
pun itu, yang mengalami situasi demikian, saya yakin juga akan mendapati diri
dalam kerubungan perasaan yang membuncah.
Nah, itu yang saya rasakan kini,
ketika anak-anak begitu meributi tentang hal-hal “remeh”. Seakan banyak hal
yang ingin mereka ketahui. Entah paham atau tidak sebenarnya mereka, saat
mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu. “Yah,
kenapa perginya lama ? Kenapa Ayah
pergi terus ?”, gugat si bungsu. Tetapi
memang demikian anak-anak. “Sok” ingin tahu, terus bertanya, dan bertanya.
Pertanyaan-pertanyaan, dari yang sederhana hingga yang tak terduga. Beberapa
kali, saya sering dibikin kaget dengan materi-materi pertanyaan yang sempat
mengerutkan dahi. Ah, anak-anak. Ternyata sanggup juga berfilosofis. Merumuskan
pertanyaan yang bikin tertawa. Mengajukan pertanyaan yang menyulitkan para
dewasa untuk memberikan jawaban yang “pas”.
Anak-anak itu. Ahimsa dan Rakhe,
dua matahari, yang melenakan kami. Setiap rengekan mereka adalah perintah.
Setiap tangisan adalah isyarat. Raut muka mereka jadi pertanda kehadiran kita sebagai orangtua. Kebermaknaan kita oleh sebab mereka. Dengan demikian, kita tak bisa main-main, “asal mengasuh”. Anak-anak bukanlah kelinci percobaan.
Mereka itu pribadi utuh, meski usia masih kecil. Pikiran dan perasaan mereka,
tentu berbeda dengan kita. Bahkan masing-masing kita pun tidak sama. Saya beda
dengan Anda. Anda pun jelas beda dengan saya. Sebagai suami, jelas saya punya
peran yang tak sama dengan suami-suami lainnya, terlebih lagi dengan para ibu
atau istri.
“Dunia ini panggung sandiwara, masing-masing kita punya peran
sendiri-sendiri”, kira-kira begitu kata pujangga. Artinya, kita lahir sudah
menyandang keberbedaan. Terlahir dengan menanggung beban untuk berbeda, yang
kemudian kelak pas dimintai pertanggungjawaban juga sendiri-sendiri, tidak
rombongan, tidak kolektif. Lha selama menghirup udara di muka bumi, berarti
perayaan atau pesta ketidaksamaan. Sehingga akan naiflah, jika sekiranya ada
upaya-upaya yang cenderung memaksakan kehendak untuk menyeragamkan keunikan
tersebut. Termasuk dalam keluarga, adalah miniatur perbedaan. Suami, istri, dan
anak-anak, merupakan individu-individu unik, pribadi-pribadi utuh dalam
kesendiriannya.
Keluarga adalah miniatur kehidupan
sosial. Lantaran mini, keluarga adalah pendadaran masing-masing anggota
keluarga untuk mendewasa. Masing-masing pribadi, bertanggung jawab untuk memanage dirinya sendiri. Memang kita
bisa saling mendorong, saling meneguhkan. Tetapi keputusan untuk menjadi yang
terbaik, senantiasa berkembang yang selaras dengan cahya Ilahi, sepenuhnya
tergantung pada kemauan kita sendiri. Pihak lain sebatas mendorong, sekadar memotivasi, sehingga baik-buruk
bukan pada pihak lain, namun kitalah aktor utamanya.
Nah, alangkah beruntungnya kita
yang sanggup mengoptimalkan peran, yang telah tersematkan dari sononya,
terutama dalam kehidupan berkeluarga. Kasih dan sayang, bukan lagi wacana,
namun aplikatif dalam keseharian keluarga kita. Masing-masing, seakan berlomba,
untuk menampilkan diri jadi yang paling bermanfaat, paling berguna. “Fastabiqu ‘l-khairat” yang artinya, maka
berlomba-lombalah dalam kebaikan. Sepertinya, hal itu merupakan satu-satunya kompetisi yang
diperintahkan. Pertandingan yang dianjurkan oleh kitab suci. Dimana maksud dari
kebaikan, tak lain tak bukan adalah bermanfaat bagi pihak lain, bagi yang liyan. Seorang ayah, membawa damai, dan
berkah bagi anak-anak dan istri. Seorang ibu, seorang istri, juga demikian,
sangat perhatian bagi perkembangan anak-anak. Tak mau kalah, anak-anak juga
bisa menebar bahagia bagi kedua orangtua. Pendek kata, masing-masing kita bisa
membawa diri, jadi pribadi yang rahmatan
lil ‘alamin, menebar kasih dan sayang untuk sesama. Menyerap atau
menghidupkan sifat-sifat Ilahi ke dalam diri. Sehingga ahsani taqwim…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar