Senin, 29 Desember 2014

Pantai Petanahan

hujan tak kunjung reda
Hujan tak kunjung reda.  Semalaman air hujan terus mengguyur tanah Petanahan, Kebumen hingga detik ini. Kami tidak bisa kemana-mana. Kecewa. Terutama, si sulung Ahimsa yang semestinya hari ini menjadi hari kedua untuk bermain pasir di Pantai Petanahan. Bermain pasir di pantai merupakan agenda favourit kala berliibur di Kebumen. Hal ini wajar saja, lantaran di Ungaran, daerah gunung, yang asing dengan hamparan pasir yang berlimpah sebagaimana pantai. Berlibur di Kebumen, bermain ke pantai, merupakan paket wajib. Tidak hanya di Pantai Petanahan. Biasanya berlanjut dengan menyusuri Pantai Puring, Pantai Suwuk.


Kemarin, Senin, 29 Desember 2014, adalah kesempatan hari pertama, meski di Kebumen sudah 3 (tiga) hari, saya beroleh waktu longgar untuk mengantar anak-anak dan istri ke pantai. Dan Pantai Petanahan tujuan perdana. Pantai Petanahan ini, layaknya Parangtritis-nya Kebumen. Ada ritus rutin yang bertahun-tahun terselenggara, sepekan pesta rakyat warga Kebumen, usai lebaran, Hari Raya Iedul Fitri. Seakan belum melakukan hari raya, bagi para tetua sekitar pantai, seperti Petanahan, Puring, Klirong, hingga Kota Kebumen yang kerap datang berbondong dengan mobil truk, sebelum berjemur di bibir pantai, menghirup hembusan angin pantai.

Nah, kini bukan Hari Raya Iedul Fitri. Sekarang adalah liburan anak sekolah. Liburan jelang Natal dan tahun baru 2015. Sehingga bibir pantai tak seramai waktu lebaran, tak ada pesta rakyat, tiada pesta tradisi. Lantaran tidak ramai sebagaimana Iedul Fitri, kemarin, sebelum meluncur ke pantai, saya megumpulkan imajinasi yang indah-indah atas pantai. Saya bayangkan akan lebih khidmat untuk menikmati udara pantai. Saya bayangkan pasir-pasir yang menghampar luas, berlarian kejar-kejaran yang diiring dengan deburan ombak. Istri, Rahma, akan duduk bersama limpahan pasir, dengan si bungsu Rakhe, sebagaimana yang sudah-sudah, enggan berbasah-basahan dengan air laut. Saya bayangkan...

Pukul 05.30 pagi, berlomba dengan terbit mentari, kami tiba di Pantai Petanahan. Dan ternyata. Pantai yang konon tersohor di tlatah Kebumen, kini sudah kehilangan daya tarik. Bibir pantai, pasir yang landai menunggu terjangan gelombang samudera, sudah tidak menarik untuk kongkow dan merajut kisah kasih keluarga. Selain kotor tak terawat, bukan lagi hamparan pasir yang landai, yang asyik buat bercengkerama, melainkan bibir pantai yang layaknya jurang. Curam dan tidak bisa lagi digunakan main kejar-kejaran, saling lempar pasir saya, istri dan anak-anak. Saya lihat istri merengut kecewa dengan keadaan pantai yang tak lagi memiliki daya magis, kehilangan pesona untuk mengukir album harian. Hanya Ahimsa, yang sepertinya, entah terpaksa atau tidak, masih bisa berlarian jungkir balik di sela deburan ombak. Sedang lainnya, saya dan istri tambah Rakhe, sebatas duduk-duduk menunggu cahaya matahari meninggi.

Hanya sekitar 1 jam, kami berjemur di pantai, tidak sebagaimana biasa, terutama pas liburan lebaran, bisa hampir 2-3 jam. Sudahlah ! Esok akan dicoba pantai selain Pantai Petanahan, kiranya demikian rencana untuk hari kedua, yang sedianya hari ini. Namun Tuhan berkehendak lain. Hujan turun tak kenal reda. Anak-anak masih enggan menyingkap selimut pagi yang terasa dingin. Matahari belum sanggup menunjukkan keperkasaannya, untuk mengusir dingin. Padahal waktu terus merangkak hingga jelang zuhur, pukul 11.45.

Ya, hari ini, jadwal di rumah. Rebahan memanjakan tubuh bersama empuk kasur dan acara televisi. Pantai Puring dan Suwuk, entah kondisinya sekarang, bagian untuk esok hari, Rabu, 31 Desember 2014. Barangkali akan ramai, karena jelang awal tahun. Kalau tidak salah, akan ada pagelaran pesta kembang api bersama orkes melayu di Pantai Suwuk. Pesta kembang api ! Ah, klise...tidak menarik.


   

1 komentar: