“Dan sekiranya penduduk negeri beriman
dan bertakwa,
pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…..” (QS
Al-A’raf [7] : 96). Ayat tersebut menuturkan, bahwa berkah, kemenangan, dan
pertolongan Tuhan, itu mungkin dengan bersyarat. Keberkahan, bukan dengan
sendirinya terlimpah kepada setiap orang atau bangsa, jika tanpa diiringi
dengan upaya menggarap diri jadi insan yang beriman dan bertakwa. Apa itu iman
? Apa itu takwa ?
Mengadaptasi dari pemikiran Dr.
Muhammad Shahrur, pemikir Islam kontemporer asal Damaskus, lewat buku “Islam
dan Iman”, saya menarik kesimpulan bahwa iman itu merupakan ranah pribadi, sisi
dalam, alias persinggungan hamba dengan Tuhan. Islam merupakan out put dari
iman. Artinya Islam adalah sisi luar, persinggungan antar sesama makhluk. Kalau
Iman adalah upaya untuk menggapai kesadaran ketuhanan, menggapai predikat hamba
Tuhan. Memahami ketakterbandingan Tuhan. Maka, Islam merupakan upaya menggapai
kesadaran kemanusiaan. Memahami diri sebagai keserupaan Tuhan, memahami diri
sebagai wakil-Nya.
Iman merupakan transendensi,
melongok ke belakang, memahami asal muasal. Maka Iman tak lain adalah
perjalanan internal. Memasuki lorong diri, yang praktis tak ada kembarannya
dengan yang lain. Dari pemahaman yang demikian, maka Shahrur, menegaskan bahwa
rukun iman adalah ritus-ritus ibadah mahdhah. Ritus ibadah yang dikerjakan
dalam rangka menyambung hubungan mesra dengan Tuhan. Dalam istilah lain, iman
adalah hablum minallah, urusan
ketuhanan, ukhrowi. Perjalanan internal
ini, mesti dilakukan terlebih dahulu sebelum melangkah ke luar. Artinya, sisi
dalam mendahului sisi luar.
Islam adalah transformasi atau
perubahan sosial. Perjalanan eksternal, guna mengambil peran sebagai wakil
Tuhan di muka bumi. Sebagai wakil-Nya, meniscayakan hubungan yang harmoni antar
sesama (hablum minannas), urusan duniawi. Hubungan harmoni, mensyaratkan
kepemahaman yang memadai tentang pihak lain. Kalau iman dalam rangka memahami
diri sendiri yang otentik, maka islam untuk memahami orang lain. Seberapa tinggi
kemampuan kita dalam memanage atau berfungsi secara sosial, tergantung pada
keluasan wawasan kita tentang pihak lain. Sehingga berislam itu sama artinya
dengan berilmu. Dengan berilmu, keterlibatan kita di lingkungan akan semakin
memadai, dan berdampak positif pada pengembangan orang lain dan lingkungan. Oleh Shahrur, Rukun Islam adalah keyakinan akan Tuhan, hari Akhir, dan amal kebajikan. Ia mengacu pada QS Al-Baqarah [2] : 62, dan Al-Maidah [5] : 69.
“Inna akramakun ‘indallahi atqokum”, “sungguh yang paling mulia di
antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa” (QS Al-Hujurat
[49] : 13). Kemudian hadis nabi menyebutkan, “sebaik-baik manusia, ialah yang
paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Nah, menyambungkan dua teks itu, jadi
bermakna bahwa takwa, tak lain adalah kebermanfaatan kita pada pihak lain. Kebermanfaatan
berarti persinggungan dengan orang lain yang sanggup mengulurkan nilai
kebajikan. Dan itu pula makna Islam. Artinya, bertakwa adalah berislam.
Bertakwa ialah berilmu.
Kembali pada ayat 96 surat Al A’raf
tersebut, berarti keberkahan dari Tuhan akan mengucur kepada umat manusia,
selagi ia sanggup memerankan diri sebagai hamba-Nya (manifestasi iman),
sekaligus wakil-Nya (manifestasi Islam atau takwa). Iman selalu disandingkan
dengan Islam. Iman dengan takwa, iman dengan amal shalih, dan iman dengan ilmu.
“Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu” QS Al-Mujadalah [58] : 11.
Iman yang merupakan upaya untuk
menumbuhkembangkan kesadaran ketuhanan, tiada lain ialah fi sabilillah. Dengan demikian, Islam yang dimaksudkan untuk
mengembangkan kesadaran kemanusiaan adalah fi
sabilil mustadh’afin. Sebagaimana Tuhan tegaskan dalam surat An-Nisa’ [4] :
75, “Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang
yang lemah…” Dalam ranah filosofis, Iman dimaksudkan untuk mendalami waktu. Menyibak
waktu. Sedangkan Islam untuk mengungkap masalah ruang. Sehingga beriman itu
berarti menempuh jalan sunyi, yang hanya dirinya sendiri dengan Tuhan. Sementara
bertakwa adalah menyusuri ruang, berjalan dalam keramaian, menawarkan nilai. Menjadikan
sesuatu secara objektif. Dan demikian itu rahmat bagi alam semesta.
Itulah nilai diri kita dihadapan
Tuhan dan makhluk hidup lainnya. “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam
bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang
serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan
kebajikan..”, QS At-Tin [95] : 4 – 6.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar