Kamis, 25 Desember 2014

Bang-Bang Wetan


Bang-bang Wetan, cahaya merah dari timur. Sebuah nomor lagu dari Cak Nun dan Kiai Kanjeng, yang selalu menemani saya kala malam maupun pagi hari. Nomor lagu yang rancak, full “gaduh”, yang menyiratkan bakal terbit keagungan dari timur. Bang-bang Wetan, abang-abang dari wetan. Abang artinya merah. Semburat warna merah matahari yang hendak terbit. Semburat yang belum penuh menampilkan keseluruhan badan matahari, seolah masih mengintip malu, dan menandakan kehidupan pagi sebentar lagi tergelar. Warna merah juga mengisyaratkan suatu keberanian yang tiada tara dalam menghadapi onak dan aral kehidupan. Kehidupan bukan dijauhi atau dihindari, melainkan dihadapi. Aral melintang yang menghambat laju, pasti adanya, tak bisa dihindarkan.


Warna merah juga menunjukkan kesungguhan dalam berdunia. Memang di dunia ini ibarat “mampir ngombe”, sekadarnya saja, namun bukan berarti tanpa kesungguhan. Bukan berarti asal jalan. Dunia adalah sarana kita bertuhan. Martabat kita, terhitung justru di dunia ini, bukan kelak di akhirat. Harga diri kita kelihatan malah di dunia, bukan ketika sudah di akhirat. Akhirat adalah buah atau efek dari berdunia. Oleh karenanya, di akhirat akan mendapatkan ganjaran baik atau buruk, tergantung pada seberapa serius kita dalam berdunia. Seberapa matang kita merencanakan agenda hidup di muka bumi. Seberapa bersungguh-sungguh kita dalam memanage, mengelola kemakmuran mayapada ini.

Warna merah menunjukkan keseriusan tersebut. Maka bangsa, suku, dan ras mana pun yang memakai warna merah sebagai warna favourite, bangsa, suku dan ras tersebut terkenal gigih dalam berekonomi. Dan sukses menguasai roda perekonomian dunia. Sebut saja, China. China kini telah menjadi kampiun ekonomi yang disegani, bahkan oleh negeri adidaya Amerika Serikat. China hampir menguasai separuh lebih penduduk dunia. Pasar China ada dimana-mana.

Warna merah juga lazim dipakai sebagai simbol perang. Merah identik dengan warna darah. Darah itu menghidupkan. Tak ada darah, tak ada kehidupan. Darah tidak stabil, kondisi fisk pun oleng, tidak stabil. Ada tensi darah rendah, tensi darah tinggi. Merah adalah perang. Perang untuk menghidupkan, menstabilkan situasi kondisi. Pendek kata, warna merah itu adalah akumulasi kebajikan. Kebajikan yang berupa kesungguhan, keseriusan, keberanian, dan stabilitas hidup. Sehingga kebajikan itu tak lain adalah jiwa agama. Agama adalah pelembagaan kebajikan, pelembagaan nurani, pelembagaan iman, dan kearifan. Tetapi  kenapa dari timur ? Kenapa tidak dari barat ?

Kearifan dari timur, bukan dari barat. Catatan membenarkan itu. Agama-agama besar lahir di Timur Tengah. Kearifan-kearifan keyakinan dari China, India, dan Persia. Tokoh-tokoh ningrat peneguh nurani, para nabi, orang-orang suci, juga berasal dari belahan timur. Kalau timur menjadi ladang kelahiran nurani, maka barat menjadi wilayah akal. Timur adalah ranah situasional, ranah hati nurani. Barat adalah ranah struktural, dimensi akal. Timur menjadi rahim para nabi, biksu, dalai lama, pujangga nurani. Barat adalah ladang para filsuf, para pemuja akal.

Ketika barat menjadi tempat persemaian pemikiran-pemikiran struktural, pemahaman dunia objektif, di timur kita akan mendapatkan tradisi yang menghidupkan nurani, menghidupkan agama. Agama di barat dipandang sebatas ilmu pengetahuan, dipandang sebagai objek penelitian, maka di timur, agama adalah nilai kebajikan yang menghidupkan. Agama merupakan kearifan yang menghidupkan.

Bang-bang Wetan. Semburat kearifan dari timur. Semburat kebajikan dari timur. Dan beruntunglah kita yang menghuni belahan bumi bagian timur. Menghuni muka bumi yang merupakan wilayah persemaian nurani. Sumber kebajikan. Kita terlahir dari belahan bumi yang memuja dan memelihara tradisi menghayat. Kita ada dalam buaian doa-doa suci para nabi, mantra para pendeta, pandita, yang sudah “ngungkurke kadonyan”, yang tak larut dalam gemerlap dunia yang fana.

Bang-bang Wetan, nomor lagu yang mengingatkan kita akan tempat buaian yang adiluhung. Tempat buaian yang menghangatkan hati nurani, kebijaksanaan. Dan bersyukurlah kita !  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar