Bang-bang Wetan, cahaya merah
dari timur. Sebuah nomor lagu dari Cak Nun dan Kiai Kanjeng, yang selalu
menemani saya kala malam maupun pagi hari. Nomor lagu yang rancak, full
“gaduh”, yang menyiratkan bakal terbit keagungan dari timur. Bang-bang Wetan, abang-abang
dari wetan. Abang artinya merah. Semburat warna merah matahari yang hendak
terbit. Semburat yang belum penuh menampilkan keseluruhan badan matahari,
seolah masih mengintip malu, dan menandakan kehidupan pagi sebentar lagi
tergelar. Warna merah juga mengisyaratkan suatu keberanian yang tiada tara
dalam menghadapi onak dan aral kehidupan. Kehidupan bukan dijauhi atau
dihindari, melainkan dihadapi. Aral melintang yang menghambat laju, pasti
adanya, tak bisa dihindarkan.
Warna merah juga menunjukkan kesungguhan
dalam berdunia. Memang di dunia ini ibarat “mampir ngombe”, sekadarnya saja,
namun bukan berarti tanpa kesungguhan. Bukan berarti asal jalan. Dunia adalah
sarana kita bertuhan. Martabat kita, terhitung justru di dunia ini, bukan kelak
di akhirat. Harga diri kita kelihatan malah di dunia, bukan ketika sudah di
akhirat. Akhirat adalah buah atau efek dari berdunia. Oleh karenanya, di
akhirat akan mendapatkan ganjaran baik atau buruk, tergantung pada seberapa
serius kita dalam berdunia. Seberapa matang kita merencanakan agenda hidup di
muka bumi. Seberapa bersungguh-sungguh kita dalam memanage, mengelola kemakmuran mayapada ini.
Warna merah menunjukkan
keseriusan tersebut. Maka bangsa, suku, dan ras mana pun yang memakai warna
merah sebagai warna favourite, bangsa, suku dan ras tersebut terkenal gigih
dalam berekonomi. Dan sukses menguasai roda perekonomian dunia. Sebut saja,
China. China kini telah menjadi kampiun ekonomi yang disegani, bahkan oleh
negeri adidaya Amerika Serikat. China hampir menguasai separuh lebih penduduk
dunia. Pasar China ada dimana-mana.
Warna merah juga lazim dipakai
sebagai simbol perang. Merah identik dengan warna darah. Darah itu
menghidupkan. Tak ada darah, tak ada kehidupan. Darah tidak stabil, kondisi
fisk pun oleng, tidak stabil. Ada
tensi darah rendah, tensi darah tinggi. Merah adalah perang. Perang untuk
menghidupkan, menstabilkan situasi kondisi. Pendek kata, warna merah itu adalah
akumulasi kebajikan. Kebajikan yang berupa kesungguhan, keseriusan, keberanian,
dan stabilitas hidup. Sehingga kebajikan itu tak lain adalah jiwa agama. Agama
adalah pelembagaan kebajikan, pelembagaan nurani, pelembagaan iman, dan
kearifan. Tetapi kenapa dari timur ?
Kenapa tidak dari barat ?
Kearifan dari timur, bukan dari
barat. Catatan membenarkan itu. Agama-agama besar lahir di Timur Tengah.
Kearifan-kearifan keyakinan dari China, India, dan Persia. Tokoh-tokoh ningrat
peneguh nurani, para nabi, orang-orang suci, juga berasal dari belahan timur. Kalau
timur menjadi ladang kelahiran nurani, maka barat menjadi wilayah akal. Timur
adalah ranah situasional, ranah hati nurani. Barat adalah ranah struktural,
dimensi akal. Timur menjadi rahim para nabi, biksu, dalai lama, pujangga
nurani. Barat adalah ladang para filsuf, para pemuja akal.
Ketika barat menjadi tempat
persemaian pemikiran-pemikiran struktural, pemahaman dunia objektif, di timur
kita akan mendapatkan tradisi yang menghidupkan nurani, menghidupkan agama.
Agama di barat dipandang sebatas ilmu pengetahuan, dipandang sebagai objek penelitian,
maka di timur, agama adalah nilai kebajikan yang menghidupkan. Agama merupakan
kearifan yang menghidupkan.
Bang-bang Wetan. Semburat
kearifan dari timur. Semburat kebajikan dari timur. Dan beruntunglah kita yang
menghuni belahan bumi bagian timur. Menghuni muka bumi yang merupakan wilayah
persemaian nurani. Sumber kebajikan. Kita terlahir dari belahan bumi yang
memuja dan memelihara tradisi menghayat. Kita ada dalam buaian doa-doa suci
para nabi, mantra para pendeta, pandita, yang sudah “ngungkurke kadonyan”, yang
tak larut dalam gemerlap dunia yang fana.
Bang-bang Wetan, nomor lagu yang
mengingatkan kita akan tempat buaian yang adiluhung. Tempat buaian yang
menghangatkan hati nurani, kebijaksanaan. Dan bersyukurlah kita !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar