Perjalanan liburan saya dari Solo
ke Kebumen, dengan bersepeda motor, sedang istri dan anak-anak naik shuttle
Sumber Alam, masih menyisakan rasa yang berbekas hingga kini. Saya tidak bisa
menghindari perasaan dan pikiran ini. Sepanjang jalan, nuansa natal, sangat
berasa. Penjagaan ketat dari aparat polisi dan TNI di sepanjang gereja yang
saya temui, kentara sekali, bahwa rasa was-was masih menghinggapi para jemaah
gereja. Tentu saja bukan tanpa alasan,
penjagaan tersebut dilakukan. Dan sebagai muslim, rasa malu terus berkecamuk. Kenapa
sedemikian khawatirnya ? Saya malu pada para jemaah gereja itu. Saya malu,
lantaran saya muslim, dimana oleh sebagian kelompok muslim, masih enggan
menyapa umat kristiani itu. Lebih dari itu, saudara-saudara saya yang seagama
Islam, masih gemar menabuh genderang permusuhan dengan menyematkan sebutan “kafir”
dan “musyrik” pada saudara-saudara Kristiani.
Doktrin “al-yauma akmaltu lakum dinakum.....”, “hari ini Aku (Allah)
sempurnakan agama kalian....” (QS 5: 3), seakan jadi pembenar atas sebutan
kafir untuk non-muslim. Kalam Tuhan
tersebut, dipahami untuk menghakimi bahwa agama-agama di luar Islam tidak
sempurna. Yang sempurna hanya satu yaitu Islam, sementara yang di luar Islam
tidak. Yang benar hanya Islam, sedang yang bukan Islam tidak benar. Terus terang,
saya memang bukan ahli agama, kemampuan baca saya atas teks pun tidak sehebat
teman-teman yang “islamis”. Tetapi, rasa kemanusiaan saya tidak menerima klaim-klaim
kebenaran yang sepihak. Klaim kebenaran yang mengarah pada penyesatan terhadap
yang lain.
Saya kok tidak bisa untuk
mengatakan bahwa saudara-saudara yang sedang merayakan Natal itu kafir dan
sesat. Saya tidak bisa! Saya tidak sanggup menyebut, bahwa agama nasrani itu
tidak benar. Hati kecil ini berteriak, bahwa semua agama itu benar. Saya meyakini
itu. Semua agama benar. Entah Islam, Yahudi, Kristen, Hindu, Budha, Khonghucu,
kejawen, mereka semua itu benar. Begitu pula
dengan Syiah, Ahmadiyah, itu juga benar. Artinya apa ? Saya memahami bahwa
kebenaran itu tidak mutlak milik satu agama, dalam hal ini hanya milik Islam,
melainkan kebenaran itu milik semua. Semuanya benar, tapi beda alias tidak
sama.
Dengan demikian, ketika membaca
teks “telah disempurnakan agama Islam”, sempurna itu sebagai fakta objektif
atau impian. Fakta bahwa Islam memang sempurna atau cita-cita dengan kerja
keras untuk mewujudkan Islam lebih baik menuju kesempurnaan ? Sempurna itu dalam ranah kenyataan ataukah
rencana menggapai ? Kenyataan sejarah, tidak menunjukkan kesempurnaan itu. Dan sepertinya
memang tidak bakal ada “kenyataan yang sempurna”. Kenyataan itu dinamis, terus
berkembang hingga akhir waktu. Kenyataan Rasulullah Muhammad dan para
sahabatnya, bukan kesempurnaan, tetapi kesungguhan. Mereka bersungguh-sungguh
untuk mengaktualkan cita-cita Islam. Generasi kini menangkap kesungguhan
kanjeng Nabi beserta sahabat, semestinya tidak dengan mereplika tingkah pola
mereka dalam menerjemahkan Islam, melainkan sebagai referensi, sebagai
inspirasi moral, yang jelas tak mungkin bisa diulang. Tidak ada kenyataan
kembar. Masa lalu yang telah terjadi, tidak bisa ditarik menjadi masa kini. Kebenaran
saat itu, hanya akan menjadi kenyataan saat itu saja. Kenyataan kini, ya hanya
saat sekarang, dan tidak akan terulang untuk esok.
Selanjutnya, dalam memahami
sejarah, bukan sebagai papan luncur, yang akan terus meluncur kepada
kebinasaan. Kesepemahaman saya, sejarah adalah siklus dari Allah dan kembali ke
Allah. Inna lillahi wa inna ilaihi. Bisa
juga sebagai gerak linear, yang berawal dari Allah dan akan berakhir kepada
Allah, hulu dan hilir berpusat pada Tuhan. Nah, teman-teman “Islamis”,
memandang sejarah bak papan luncur, dari sempurna akan merosot menjadi tidak
sempurna. Nabi SAW dan sahabat utama khalafaur
rasyidin, dianggapnya generasi paling sempurna. Mereka ini disebut sebagai shalafus shalih, generasi baik, makin
jauh suatu generasi dari Nabi, maka makin jeleklah generasi itu. Dan kini
disebutnya sebagai jahiliah modern, lebih jahiliah dan tak beradab ketimbang
jahiliah sebelum Nabi.
Berbeda dengan penalaran kelompok
“Islamis” yang cenderung literal, sehingga ingin memutar jarum jam, abad XXI
ditarik ke abad VII. Saya lebih tertarik untuk menelaah sejarah sebagai gerak
maju (linear) yang terus bertumbuh, untuk membesar dan melebar, mendekati
sempurna. Islam lahir pada abad ke-7, yang agraris, mengalami dinamika naik
turun, kemunduran dan pembaruan, hingga sekarang abad ke-21, yang
post-industri. Berarti situasi sosial awal
kelahiran Islam berbeda 180 dengan kini, dan ternyata tidak menuju pada
kebinasaan, melainkan dinamika pembaruan yang terus-menerus. Gerakan pembaruan
pemikiran, menyegarkan kembali pemikiran Islam terus berlangsung.
Nah, pembaruan pemikiran itulah,
yang mengantar saya pada pemahaman bahwa kebenaran itu milik semua. Semua agama
benar, tidak sekadar benar menurut pemeluknya masing-masing, tetapi secara
faktual, realitas objektif memang agama-agama itu ada. Tidak hanya satu
keyakinan, tapi banyak keyakinan. Tak hanya satu jalan, tetapi banyak jalan
menuju Tuhan. Itu kenyataan. Kalau kenyataan itu tak lain adalah wajah Ilahi,
berarti banyak keyakinan, banyaknya agama adalah kebenaran.
Akhirnya perjalanan liburan
jelang tahun baru 2015, kian menegaskan keberislaman saya yang berseberangan
dengan kelompok puritan, wahabi, maupun salafi. Saya berdiri pada kutub yang
berbeda dengan kelompok muslim yang memahami Islam secara skripturalis,
tekstual, dan anti penalaran. Saya berseberangan dengan kutub Islam yang
gemar teriak takbir sembari melempari masjid Ahmadiyah, mengharamkan selamat
hari Natal, dan merendahkan kaum non-muslim sebagai ahli neraka. So.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar