Senin, 29 Desember 2014

Semua Agama itu Benar

Perjalanan liburan saya dari Solo ke Kebumen, dengan bersepeda motor, sedang istri dan anak-anak naik shuttle Sumber Alam, masih menyisakan rasa yang berbekas hingga kini. Saya tidak bisa menghindari perasaan dan pikiran ini. Sepanjang jalan, nuansa natal, sangat berasa. Penjagaan ketat dari aparat polisi dan TNI di sepanjang gereja yang saya temui, kentara sekali, bahwa rasa was-was masih menghinggapi para jemaah gereja.  Tentu saja bukan tanpa alasan, penjagaan tersebut dilakukan. Dan sebagai muslim, rasa malu terus berkecamuk. Kenapa sedemikian khawatirnya ? Saya malu pada para jemaah gereja itu. Saya malu, lantaran saya muslim, dimana oleh sebagian kelompok muslim, masih enggan menyapa umat kristiani itu. Lebih dari itu, saudara-saudara saya yang seagama Islam, masih gemar menabuh genderang permusuhan dengan menyematkan sebutan “kafir” dan “musyrik” pada saudara-saudara Kristiani.


Doktrin “al-yauma akmaltu lakum dinakum.....”, “hari ini Aku (Allah) sempurnakan agama kalian....” (QS 5: 3), seakan jadi pembenar atas sebutan kafir untuk non-muslim.  Kalam Tuhan tersebut, dipahami untuk menghakimi bahwa agama-agama di luar Islam tidak sempurna. Yang sempurna hanya satu yaitu Islam, sementara yang di luar Islam tidak. Yang benar hanya Islam, sedang yang bukan Islam tidak benar. Terus terang, saya memang bukan ahli agama, kemampuan baca saya atas teks pun tidak sehebat teman-teman yang “islamis”. Tetapi, rasa kemanusiaan saya tidak menerima klaim-klaim kebenaran yang sepihak. Klaim kebenaran yang mengarah pada penyesatan terhadap yang lain.

Saya kok tidak bisa untuk mengatakan bahwa saudara-saudara yang sedang merayakan Natal itu kafir dan sesat. Saya tidak bisa! Saya tidak sanggup menyebut, bahwa agama nasrani itu tidak benar. Hati kecil ini berteriak, bahwa semua agama itu benar. Saya meyakini itu. Semua agama benar. Entah Islam, Yahudi, Kristen, Hindu, Budha, Khonghucu, kejawen, mereka semua itu benar.  Begitu pula dengan Syiah, Ahmadiyah, itu juga benar. Artinya apa ? Saya memahami bahwa kebenaran itu tidak mutlak milik satu agama, dalam hal ini hanya milik Islam, melainkan kebenaran itu milik semua. Semuanya benar, tapi beda alias tidak sama.

Dengan demikian, ketika membaca teks “telah disempurnakan agama Islam”, sempurna itu sebagai fakta objektif atau impian. Fakta bahwa Islam memang sempurna atau cita-cita dengan kerja keras untuk mewujudkan Islam lebih baik menuju kesempurnaan ?  Sempurna itu dalam ranah kenyataan ataukah rencana menggapai ? Kenyataan sejarah, tidak menunjukkan kesempurnaan itu. Dan sepertinya memang tidak bakal ada “kenyataan yang sempurna”. Kenyataan itu dinamis, terus berkembang hingga akhir waktu. Kenyataan Rasulullah Muhammad dan para sahabatnya, bukan kesempurnaan, tetapi kesungguhan. Mereka bersungguh-sungguh untuk mengaktualkan cita-cita Islam. Generasi kini menangkap kesungguhan kanjeng Nabi beserta sahabat, semestinya tidak dengan mereplika tingkah pola mereka dalam menerjemahkan Islam, melainkan sebagai referensi, sebagai inspirasi moral, yang jelas tak mungkin bisa diulang. Tidak ada kenyataan kembar. Masa lalu yang telah terjadi, tidak bisa ditarik menjadi masa kini. Kebenaran saat itu, hanya akan menjadi kenyataan saat itu saja. Kenyataan kini, ya hanya saat sekarang, dan tidak akan terulang untuk esok.

Selanjutnya, dalam memahami sejarah, bukan sebagai papan luncur, yang akan terus meluncur kepada kebinasaan. Kesepemahaman saya, sejarah adalah siklus dari Allah dan kembali ke Allah. Inna lillahi wa inna ilaihi. Bisa juga sebagai gerak linear, yang berawal dari Allah dan akan berakhir kepada Allah, hulu dan hilir berpusat pada Tuhan. Nah, teman-teman “Islamis”, memandang sejarah bak papan luncur, dari sempurna akan merosot menjadi tidak sempurna. Nabi SAW dan sahabat utama khalafaur rasyidin, dianggapnya generasi paling sempurna. Mereka ini disebut sebagai shalafus shalih, generasi baik, makin jauh suatu generasi dari Nabi, maka makin jeleklah generasi itu. Dan kini disebutnya sebagai jahiliah modern, lebih jahiliah dan tak beradab ketimbang jahiliah sebelum Nabi.

Berbeda dengan penalaran kelompok “Islamis” yang cenderung literal, sehingga ingin memutar jarum jam, abad XXI ditarik ke abad VII. Saya lebih tertarik untuk menelaah sejarah sebagai gerak maju (linear) yang terus bertumbuh, untuk membesar dan melebar, mendekati sempurna. Islam lahir pada abad ke-7, yang agraris, mengalami dinamika naik turun, kemunduran dan pembaruan, hingga sekarang abad ke-21, yang post-industri.  Berarti situasi sosial awal kelahiran Islam berbeda 180 dengan kini, dan ternyata tidak menuju pada kebinasaan, melainkan dinamika pembaruan yang terus-menerus. Gerakan pembaruan pemikiran, menyegarkan kembali pemikiran Islam terus berlangsung.

Nah, pembaruan pemikiran itulah, yang mengantar saya pada pemahaman bahwa kebenaran itu milik semua. Semua agama benar, tidak sekadar benar menurut pemeluknya masing-masing, tetapi secara faktual, realitas objektif memang agama-agama itu ada. Tidak hanya satu keyakinan, tapi banyak keyakinan. Tak hanya satu jalan, tetapi banyak jalan menuju Tuhan. Itu kenyataan. Kalau kenyataan itu tak lain adalah wajah Ilahi, berarti banyak keyakinan, banyaknya agama adalah kebenaran.   


Akhirnya perjalanan liburan jelang tahun baru 2015, kian menegaskan keberislaman saya yang berseberangan dengan kelompok puritan, wahabi, maupun salafi. Saya berdiri pada kutub yang berbeda dengan kelompok muslim yang memahami Islam secara skripturalis, tekstual, dan anti penalaran.   Saya berseberangan dengan kutub Islam yang gemar teriak takbir sembari melempari masjid Ahmadiyah, mengharamkan selamat hari Natal, dan merendahkan kaum non-muslim sebagai ahli neraka. So.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar