![]() |
| di alun-alun Bung Karno, Ungaran, 4 Desember 2014 |
Beberapa hari ini saya absen dari
dunia blog. Target yang saya pancangkan, setiap hari satu tulisan, kandas.
Tanggal 1-2 Desember, kedatangan seorang karib dari Sragen, yang minta ditemani
untuk keliling Kota Semarang. Tanggal 3-6 Desember, mengikuti Pelatihan
Peningkatan Kapasitas Pengelolaan TBM di Gedung PP PAUDNI, Jl. Diponegoro No.
120 Ungaran. Sehingga praktis, tak bisa bebas menyentuh layar laptop untuk
menuangkan uneg-uneg alias gerundelan. Dan kini, kesempatan itu ada. Kembali
saya bebas bermain kata. Saya ingin menyuarakan rasa mangkel yang sebelumnya
tersumbat, karena padatnya jadwal pelatihan. Saya ingin menghempaskan
kekesalan, yang ternyata akhirnya berujung pada pemantapan diri. Mantab untuk
berdamai dengan kelemahan, kekurangan, hingga kelebihan TBM.
Siang itu, Rabu, 3 Desember 2014,
Adalah Gol A Gong telepon saya, bahwa ia akan meluncur ke Ungaran. Ia dapat
undangan untuk jadi narasumber acara TBM di PP PAUDNI. Acara yang diprakarsai
oleh Direktorat Pendidikan Masyarakat (Dikmas) Kementerian Kebudayaan dan
Pendidikan Dasar Menengah RI, sebagai bekal bagi para pengelola TBM
se-nusantara. Acara yang konon, khusus diperuntukkan bagi para pengelola TBM
yang habis peroleh dana bantuan penguatan lembaga dari pemerintah. Pukul 16.00,
Gol A Gong check in di lokasi acara. Senang, sudah pasti, karena kedatangan penulis
beken, yang sebulan sebelumnya juga telah mampir dan memberi bekal kepenulisan
ke Komunitas Penulis Ungaran. Tapi, rasa senang sontak berubah jadi kaget, mangkel, alias jengkel, ketika ia mengatakan
bahwa saya mesti ikut jadi salah satu pengisi materi, menggantikan narasumber
yang berhalangan hadir, pada acara tersebut. “Ini sudah disetujui sama Pak Direktur Dikmas”, jelasnya pada saya,
yang masih bengong tak percaya. Ya, tak percaya, atas pertimbangan apa, yang
tiba-tiba saja, tanpa konfirmasi sebelumnya, saya mesti ngomong di hadapan 170
peserta dari utusan 33 propinsi. “Udah
Die, kamu bisa. Kamu kan Ketua Forum TBM Kabupaten Semarang !” kembali ia
coba yakinkan saya.
Rabu malam, saya temani ia
ngobrol di kamar, yang memang ia telah menyengaja agar saya satu kamar
dengannya. Tampak ia begitu antusias “menjerumuskan” saya, untuk jadi bintang
panggung. Hal yang selama ini saya hindari. Memang, saya biasa atau tak asing
dengan forum-forum diskusi atau bedah buku. Tapi jelas berbeda dengan saat itu.
Diskusi-diskusi yang biasa saya ikuti, entah sebagai peserta maupun pemrasaran,
jumlah peserta yang hadir tak lebih dari 50 orang. Dan meskipun sebagai pemrasaran, saya pun tak terbebani
untuk bikin tulisan presentasi. Sedangkan malam itu, seorang Gong berharap, agar
saya membuat tulisan dalam power point
untuk bisa meyakinkan peserta. Duuh….bakal berkucuran keringat dingin itu
besok.
Sekitar pukul 00.00, Kang Gong
ijin istirahat. Sendirian, saya melamunkan apa yang mesti saya tuliskan untuk
paparan esok. Dalam jadwal, saya akan memaparkan materi “TBM, sebagai
Sekolahnya Menulis”, Kamis, 4 Desember 2014, pukul 14.00 – 16.30. Sedang Kang
Gong, akan menyampaikan “orasi tur literasi” pada jam pagi, sebelum saya. Saya
buka laptop. Saya paksakan untuk berpikir keras, coba bikin coretan-coretan,
tentang apa saja yang pantas disampaikan. Namun, ampun tak kunjung ketemu, stressing
point yang patut untuk disampaikan. Hingga pukul 03.45, jelang Subuh, sembari
tetap mematung depan laptop, belum ada kepastian paparan yang saya tulis.
Setiap kali menorehkan kata, saat itu pula tombol delete, saya pencet, dan hilanglah. “Duuuh…pusiiing”, batin saya
mengutuk diri yang tiba-tiba tampak sangat bloon,
bodoh, minder, dan krisis akut percaya diri. Kepala pening, mata masih enggan dipejamkan,
padahal semalaman tak menyentuh ranjang dan bantal guling.
Usai salat subuh, kembali berjibaku
dengan layar laptop, agar materi yang bakal saya sampaikan dapat secepatnya
dituntaskan. Seakan berburu dengan terbit matahari, bahan paparan pun
terselesaikan. Saya baca ulang dan ulang, sembari membayangkan tatapan audiens
peserta pelatihan. Saya bayangkan para peserta itu nanti akan paham dan setuju
dengan setiap pilihan kata yang keluar dari lisan. Saya bayangkan mereka bakal
antusias mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Dirasa telah cukup, saya pergi mandi
dan bersiap mengikuti forum pelatihan.
Kamis pagi, saya mengikuti materi
pertama, yang disampaikan oleh pemangku PP PAUDNI, Dr. Ade Kusmiadi, M.Pd, yang
memaparkan “model layanan TBM untuk mengembangkan budaya baca”. Beliau
memaparkan perihal idealitas TBM dan kondisi kekinian masyarakat yang belum
bersahabat dengan budaya baca. Masyarakat masih mempertahankan tradisi tutur. Saya
yang duduk di kursi depan berdampingan dengan Gol A Gong, coba membandingkan
materi Dr. Ade dengan materi yang pagi sebelumnya telah saya siapkan. Dan
ternyata ada banyak persamaan, entah karena kesamaan rasa atau memang dari saya
sendiri yang belum sanggup menguasai materi yang hendak disampaikan. Belum
selesai Dr. Ade menuntaskan paparannya, saya ijin keluar untuk pergi ke kamar.
Saya berpikir, saya mesti merubah bahan materi yang telah tersusun, agar
selaras dan tak tumpang tindih atau hanya akan mengulang-ulang materi yang
sudah disampaikan pemateri sebelumnya.
Dalam kamar, seorang diri, coba
revisi tulisan yang akan saya tuturkan ke peserta. Saya hapus tulisan yang mengandung
pokok pikiran yang senada dengan yang telah dipaparkan oleh Dr. Ade Kusmiadi,
M.Pd. Saya tak berharap ada pengulangan, yang justru makin mengerdilkan diri
sendiri. Saya tak ingin dianggap amatir, bodoh, atau kurang pengalaman
dihadapan ratusan peserta itu. Peras otak, saya berpikir keras, agar tak
mengecewakan audiens, khususnya Gol A Gong. Edisi revisi pun selesai.
Saya kembali ke aula pelatihan.
Ternyata, Gol A Gong, sudah berdiri di mimbar sedang unjuk kebolehan. Ia cerita
seputar perjalanannya menyusuri Anyer-Panarukan, menaklukan kota demi kota
dengan senjata literasi, dengan aji-aji
kepenulisan. Meski sebelumnya, saya telah mengikuti kemana pun ia tur literasi,
tentu saja pas di Jawa Tengah, tetap saja rasa penasaran dan tak bosan ingin
selalu mendengar sang legend “Balada
Si Roy” itu berorasi. Terlebih lagi, usai Kang Gong memaparkan materinya,
adalah giliran saya yang maju ke panggung sebagai bintang baru. Gol A Gong
selesai pukul 13.00. Kemudian kita semua istirahat hingga pukul 14.00.
Detik-detik jelang pukul 14.00,
serasa berjalan cepat. Hati dag-dig-dug
tak karuan. Minder, takut tak diperhatikan, terus meneror perasaan. Bersama
peserta, saya ikut makan siang. Lauk bandeng presto, dan sayur asem-asem,
ternyata tak sanggup mengundang selera saya untuk menikmati acara makan siang
itu. Suasana makan siang yang cair dan penuh canda tawa, tak mengendorkan
syaraf grogi saya. Pikiran yang menggelayut, yang telah menenggelamkan selera
makan, tak lain masih seputar bahan presentasi yang sebentar lagi akan
dipaparkan. Salat Dhuhur, saya lakukan dengan khusyuk, sekhusyuk-khusyuknya,
tidak sebagaimana biasa saya lakukan. Salat Rawatib, salat sunah pengiring
salat wajib, pun tak lupa saya jalankan, untuk menambah rasa percaya diri.
Tepat pukul 14.00, saya sudah
mematut diri dalam aula, mendahului peserta yang sepertinya enggan untuk
cepat-cepat memasuki ruangan. Lafal-lafal doa, terus saya lantunkan.
Bacaan-bacaan yang tak biasa saya dendangkan, dalam aula itu, terus mengiring
perasaan yang kian kencang getaran dag-dig-dug-dernya. “Inilah
sejarah bagiku ! Ini hari kebangkitanku”, jerit hati yang saya sematkan,
untuk memotivasi diri. Saya duduk di deretan terdepan, kursi empuk yang memang
disediakan untuk narasumber. Satu demi satu peserta memasuki ruangan, dan butuh
setengah jam, seluruh peserta hadir dalam aula. Kemudian sosok asing masuk dan
duduk di sebelah saya. Saya masih kikuk untuk menyapanya, saya tak mengenalnya.
Bambang, moderator dari penyelenggara (dikmas pusat), membuka acara untuk masuk
ke session materi ketiga, yang dalam
jadwal adalah materi “TBM, sebagai Sekolahnya Menulis”, dan saya sebagai
pemrasarannya.
Detak jantung kian mengencang,
serasa sorot tajam mata peserta menguliti saya. “Bismillah saya bisa”, doa yang mengiring, sambil menunggu sang
moderator memanggil saya untuk maju ke panggung. Sang moderator, uluk salam,
memperkenalkan saya dan Gutama ke peserta. Ternyata seseorang yang duduk
disebelah itu, bukan orang sembarangan. Adalah Gutama. Ia mantan atau pensiunan
kepala PAUDNI Pusat, Jakarta. “Berhubung
di tengah-tengah kita ada Pak Gutama, maka kita persilakan beliau untuk
menceritakan pengelamannya.” Jelas moderator kemudian. “Beliau ini lama berkecimpung di dunia
pendidikan nonformal-informal. Jadi tidak salah kalau siang ini kita optimalkan
beliau ya !” tambah lagi, dan perasaan lega pun langsung menyusup ke
kedalaman relung jiwa saya. Saya tak jadi presentasi. Rasa kecewa juga turut
merayap, serasa sia-sia saya begadang semalam, senam jantung, mata tak sedia
dipejamkan. Saya coba bersikap tenang, tidak gusar, dan barangkali ini memang
takdir, karena sebelumnya terus terang saya memang merasa tidak siap. Dan Pak
Gutama lah jawabannya.
Saya ikuti paparan Gutama hingga
selesai, pukul 16.30. Sebelum ikut bubar istirahat sore, saya maju ke depan,
dekati Pak Bambang untuk minta kejelasan status narsum yang kadung melekat dan
mengganggu pikiran ini. Oleh beliau, saya tetap akan mengisi materi “sekolah
menulis”, tapi waktunya Jum’at pagi, karena Kamis malam jadwal Muhsin Kalida,
ketua Forum TBM Yogyakarta. “Duuuh, saya
tetap mengisi ya !!!” batin saya mengutuk.
Di kamar istirahat, Gol A Gong,
mengajak saya jalan-jalan sore. “Nanti
malam jadi kan teman-temanmu ke sini ?”
“Jadi Mas, nanti akan datang, Penulis Ungaran, dan Ambarawa.” Ya, dari
malam pertama injakkan kaki di Gedung PAUDNI, saya umumkan ke teman-teman
perihal kedatangan Gol A Gong. Saya berasa, agar kedatangannya, kian menambah
gairah semangat teman-teman untuk hasilkan karya tulis. Yang telah konfirmasi
untuk hadir ialah Maria Utami, Penulis Ambarawa, dan Aditya, dari Ungaran.
Kami jalan ke Alun-alun Bung
Karno, tempat keramaian Kota Ungaran, tepat persis pinggir Jalan Tol
Semarang-Bawen. Saya menganggap, jalan-jalan tersebut sebagai persiapan mental,
lantaran esok pagi, saya tetap diperlakukan sebagai narasumber. Panjang lebar,
kami ngobrol seputar FTBM, Rumah Dunia, dan tak ketinggalan pula tentang
alun-alun Ungaran yang dirasa eman,
karena luas tapi belum maksimal pemanfaatannya. Sontak terbayang, sebuah
gelaran buku-buku yang gratis dipinjam, dan dibaca di area alun-alun ini. Ya semisal
Minggu Membaca. Misalkan saya yang nantinya melakukan, kira-kira adakah
teman-teman penggiat lainnya yang akan menemani ? Apakah teman-teman Penulis
Ungaran, juga sedia nimbrung, dan meramaikan gelaran Minggu Membaca ? Ah,
pertanyaan-pertanyaan yang juga tiba-tiba menyelinap, sembari mendengarkan Gol
A Gong menuturkan kegiatan Rumah Dunia yang memaksimalkan area publik.
Kamis malam, 4 Desember 2014, Maria
Utami dan Aditya datang ke PP PAUDNI. Saya turut menemani mereka curhat tentang
novel yang layak baca, layak terbit. Gol A Gong, telaten menjelaskan, bahwa
sebagai pemula, tidak usah berpikir untuk buru-buru menerbitkan buku, selagi
bahan materinya belum matang. Kuatkan saja dulu karakter tokohnya, pilihan
kata, dan sebagainya. Ada tambahan wawasan, pikir saya. Meski dalam hati, saya
tetap gusar, lantaran posisi narasumber terus menghantui. Esok pagi, saya akan
presentasi. Bahan presentasi ? Harus saya tinjau lagi, supaya menarik. Saya berpikir,
kesetiaan menemani teman-teman itu, mendengarkan mereka curhat dengan Gol A
Gong, tak ada ruginya. Bisa saya jadikan bahan untuk materi esok pagi.
Sekitar pukul 21.30 acara curhat
selesai. Kawan-kawan penulis mohon diri, ijin pulang. Tak lama kemudian Gol A
Gong menyusul istirahat. Dan sendiri lagi. “Ah
mending saya pulang, istirahat di rumah..”, pikir saya.
Hanya butuh sepuluh menit
perjalanan, saya sampai rumah. Saya ingin cepat-cepat istirahat, badan terasa
capek, mata sudah tak kuat lagi untuk begadang. Tanpa kompromi tempat, saya
tertidur di atas sajadah, karena sudah kebiasaan untuk senantiasa sunah dua
rekaat sebelum berangkat tidur. Dini hari, saya terbangun. Saya melirik jam
dinding, ternyata sudah pukul 03.00. Ambil wudhu, biar segar, dan dua rekaat
tak ketinggalan, kemudian kembali menatap layar laptop. Saya ingin
menyempurnakan bahan presentasi, yang kemarin urung dipaparkan.
Tidak sebagaimana hari
sebelumnya, Jum’at dini hari itu, terasa hati siap jadi narasumber. Saya ingin
Gol A Gong melihat dan mengkritik kekurangan saya dalam memaparkan. Saya ingin
ia tak kecewa, karena telah mempertaruhkan saya dihadapan kepala dikmas, bahwa
saya juga layak jadi narasumber. Usai salat subuh, saya rubah semua materi di power point. Saya bikin materi baru. Saya
ingin menuturkan ada apa dengan menulis ? Kenapa mesti di TBM ? Dan bagaimana
peran pengelola ? Passion apa yang
mesti dikembangkan dalam diri pengelola, agar sekolah menulis itu sebuah
kenyataan, bukan angan.
Pukul 07.00, saya mengantar
Ahimsa sekolah, sekalian meluncur ke PP PAUDNI. Jum’at pagi, jum’at yang
bersejarah, hari yang membanggakan. Sesampai di lokasi, para peserta sedang
menikmati hidangan sarapan pagi, sebelum berhambur masuk ke aula pelatihan. Saya
pilih langsung ke kamar, untuk kembali menengok layar laptop, coba baca ulang
materi.
07.30, peserta sudah menyesaki
ruang aula. Bersama Gol A Gong, saya duduk di depan. Dan satu lagi, Reni,
pendongeng asal Bandung juga turut di deretan terdepan. Hati berdegup, berarti,
pagi ini saya kembali urung maju sebagai narasumber. Dan benar, si Bambang,
lagi-lagi yang jadi moderator, menjelaskan bahwa materi kelima adalah terampil
mendongeng. Materi yang sangat relevan bagi TBM, dimana mayoritas pembaca loyalnya
adalah anak-anak. Reni, ini kopdar perdana bagi saya dengannya, yang
sebelum-sebelumnya sebatas asyik bercengkerama di facebook. Saya kenal Reni, pendongeng centil, punya talent yang sanggup menyihir pendengar jadi
takjub dan menaruh kagum yang amat sangat kepadanya.
Saya kebagian jatah waktu,
setelah Reni, yaitu sekitar pukul 10.00 pagi. Dibanding hari sebelumnya, Kamis,
hari Jum’at ini, saya merasa lebih nyaman. Saya merasa sudah siap untuk tampil
ke depan sebagai narasumber. Saya perhatikan setiap gerik dan gestur wajah
Reni. Ya hitung-hitung untuk menambah referensi, menambah wawasan bagaimana
seorang narasumber yang sedang memainkan perannya di panggung. Pukul 09.45,
pesan singkat mampir ke hape jadul
saya. Dan ternyata si “Kos Dodol” Dedew, alias Dewi Rieka yang ingin jumpa
dengan Gol A Gong. Senang juga hati ini, Dewi Rieka, karib di Komunitas Penulis
Ungaran akan datang di PP PAUDNI. Artinya, selain Gol A Gong, akan ada Dewi
yang bakal ikut menyaksikan performance
saya di panggung pelatihan.
Dewi Rieka, yang “kece” datang. Saya
antar ia untuk ketemu dengan Gol A Gong, yang duluan ijin keluar untuk
istirahat di wisma narasumber. Sebagaimana biasa, Gol A Gong selalu
menyuntikkan asupan semangat ke teman-teman. Tips sehat sebagai penulis,
nutrisi yang menumbuhkan agar tak patah asa untuk terus-menerus menulis. Sekitar
pukul 10.00, Gol A Gong, meminta saya ajak Dewi ikut ke dalam arena pelatihan. Karena
waktu manggung saya sebentar lagi berlangsung. Di tengah perjalanan menuju
aula, berpapasan dengan Kikiy, rencana moderator yang akan mendampingi saya di
podium. Ia memberi tahu, kalau ada perubahan waktu bagi saya, yang sedianya
pukul 10.00 beralih ke pukul 14.00. “Duuuh,
kenapa nasibku selalu diundur ?!” rutuk batin saya kemudian.
Saya bakal kehilangan rasa,
karena otomatis Gol A Gong tak jadi ikut menyaksikan saya sebagai bintang
kejora baru dalam ranah pemateri. Gol A Gong, pukul 12.00 akan meluncur ke
Serang, Banten. Dewi Rieka pun juga pasti urung ikut melihat saya. Tapi sudahlah
! Tak jadi apa. Toh ini baru permulaan. Kemudian saya sama Dewi kembali ke
ruang istirahat untuk melanjutkan bincang-bincang yang terputus dengan Gol A
Gong. Jelang pukul 11an, Rani, salah satu penggiat Penulis Ungaran nongol dan
ikut nimbrung. “Jangan banyak tanya !
Langsung saja menulis…”, pesan Gong ke kami sebelum bubaran.
Akhirnya ! Jadilah Narasumber…
Dalam salat Jum’at, saya terus
melantunkan doa, agar saya bisa dan tak mengecewakan banyak pihak. Tepat pukul
14.00, panitia mengumumkan ke segenap peserta agar segera memasuki ruangan,
lantaran acara akan dimulai. Saya sudah berada dalam ruang bersama Pak Kiky,
menunggu peserta penuh.
Kikiy, sang moderator,
menjelaskan betapa pentingnya materi ini, dan kemudian menyerahkan waktu
sepenuhnya kepada saya. Saya mulai, dengan membacakan bait-bait puisi. Saya ingin
mengawali materi, dengan mencitrakan diri, bahwa menulis tak harus menjadi penulis,
tapi menuliskan bait-bait renungan pun bisa. Saya lanjutkan materi dengan
menjelaskan bahwa menulis itu merupakan upaya mendokumentasikan diri pribadi
agar dikenang sepanjang waktu. Seorang Kartini, yang hidup di zaman feudal Jawa
abad XIX, hingga sekarang kita kenal lantaran punya “habis gelap terbitlah
terang”. Pramoedya Ananta Toer, pun demikian, kita mengenalnya karena ia punya
karya Tetralogi Buru. Dan banyak lagi contoh.
Menulis bisa untuk menyambung
waktu. Masa lalu, masa kini, dan masa depan tak terputus, karena ada karya
tulis yang terbaca oleh setiap generasi dalam setiap kurun waktu. Menulis juga
menyehatkan, karena kita bisa menumpahkan uneg-uneg, menuangkan perasaan yang
menghimpit, menyuarakan gerundelan dan sebagainya.
Kenapa di TBM ? Itu pertanyakan
yang kemudian saya ajukan ke peserta. Kenapa mesti TBM ? TBM akronim Taman
Bacaan Masyarakat, jelas tak terpisahkan dengan tradisi menulis. Bacaan, yang
dari kata Baca mengandaikan ada karya tertulis. Jadi TBM itu hulunya baca, maka
mesti berhilir pada tulis. TBM, juga jadi pemangku tanggung jawab, karena
pendidikan formal kita gagal menumbuhkembangkan peserta didik agar akrab dengan
tradisi baca dan menulis. Peserta didik yang kita saksikan selama ini, hanya
pintar untuk menjawab pertanyaan soal-soal ujian, namun tidak dibiasakan untuk
menuliskan pertanyaan, tidak dibiasakan menuliskan kegelisahan, maupun
keinginannya. Pendek kata, lantaran sekolah formal gagal mengakomodir tradisi
menulis, dus otomatis TBM yang dicetak sebagai program maupun lembaga informal,
mesti menanggung amanat tersebut.
Paparan, saya tutup dengan
menegaskan passion sebagai pengelola,
agar si pengelola siap menjadi atmosfir inspiratif. Pengelola tidak patut
menuntut pemustaka agar rajin membaca dan mulai menulis, sementara dirinya
sendiri bukanlah pembaca yang tekun, bukan pula penulis yang gemar menuliskan
gerundelannya dalam diary. Pengelola tak
lain merupakan pemberi inspirasi. TBM juga mesti menyediakan sarana belajar
menulis. Ada program kegiatan semisal kelas menulis, atau bengkel menulis. Tidak
hanya itu, TBM juga merupakan pagelaran ide-ide. Artinya, koleksi bacaan yang
dimiliki TBM mesti mulai dibenahi dengan memperhatikan kualitas isi buku. Tak sekadar
asal banyak buku, namun abai dengan mutu, bukanlah tindakan yang patut di
pelihara, selagi tetap ingin menjadikan TBM sebagai sekolahnya menulis.
Sesi tanya jawab, dapat saya
atasi, tak ada aral yang berarti, karena rata-rata hanya berkutat masalah tips
menulis dan bagaimana membudayakannya ke anak-anak, terutama anak kandungnya
sendiri. Acara pun selesai. Tepat pukul 16.30, moderator menutup session saya. Syukur,
dan lega, saya telah tuntaskan amanat. Meski rada kecewa, karena sang Gong, tak
jadi ikut menilai kebolehan saya. Begitu pula Dewi Rieka, yang saya harap dapat
ikut mengkritik, ternyata mesti pulang awal sebelum saya memaparkan materi “TBM
sekolahnya menulis” itu. Tapi sudahlah…..
***
Jum’at malam, pelatihan resmi
ditutup oleh Direktorat Jenderal Dikmas, Dr Wartanto. Sabtu pagi, kita bubar,
saling sayonara, dan…….

Hihihi Alhamdulillah, ngga demam panggung kan Mas Ardi, kereeen..moga abis ini pada semangat yaa mulai menggiatkan menulis di TBM masing2, aamiin
BalasHapusDemam sih ga, cuma muatan materi yang sy ga siap...tapi btw, iya semoga virus menulis menyebar ke TBM-TBM....
HapusOiya kapan kita ngumpul ?
Wah,kopdar KPU besok narasumbernya Mas Ardi juga nih!!blognya udah canggih begini penampilannya..huhuhuh..pengen juga punyaku dibikiin lebih shopisticated!!
BalasHapuswaduuuh .....afida ini ayak-ayak wae..hehehe
Hapusalhamdulillah...enak mana mas jadi NST pa peserta???
BalasHapusKalo bisa foto NST nya di upload mas nambah bobot hehehe
BalasHapus